Keesokan harinya pagi-pagi sekali Sera sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka di dapur. Iya ... ia sengaja bangun pagi-pagi sekali karena ia takut mendadak canggung kalau Steve bangun ketika ia masih berada di tempat tidur. Sungguh ia masih belum terbiasa dengan hal itu. Ia masih belum terbiasa tidur dengan orang lain karena seumur hidupnya ia selalu tidur sendiri. Jangankan tidur dengan orang lain, berkencan saja ia belum pernah. Seumur hidupnya ia tidak pernah memiliki kekasih, bahkan rasanya tidak pernah sekalipun ia berpikir memiliki kekasih. Tapi semalam untuk pertama kali dalam hidupnya ia dipeluk sepanjang malam oleh Steve, hingga membuat jantungnya terus-menerus berdegup dengan sangat kencang. Sampai ... ia yang sudah sangat lelah karena seharian berpesta pun tidak juga bisa memejamkan matanya sampai menjelang dini hari.
Beruntunglah Steve tidak langsung membahas prihal malam pertama, dia juga semalam tidak memintanya sama sekali. Sungguh ia sangat beruntung akan hal itu, lelaki itu juga sepertinya sangat peka dengan keadaannya yang belum siap dengan semua hal itu. Steve seperti mencoba mengerti dirinya yang masih belum bisa menerima lelaki itu sepenuhnya.
“Loh ... Sera. Sudah bangun? Mana Steve?” Feronica yang berjalan ke arahnya. Ia menoleh kearah perempuan paruh baya itu kemudian tersenyum tipis.
“Sudah Ma, Sera harus memasak untuk sarapan, kebetulan Steve bilang hari ini dia masih ke kantor belum bisa mengambil cuti. Steve mungkin masih tidur, atau mungkin sudah siap-siap ke kantor. Tapi tadi begitu bangun Sera sudah siapkan keperluan Steve kok.”
Feronica terkekeh pelan mendengar penjelasannya, membuatnya tersenyum canggung dengan tangan yang masih sibuk dengan bahan waffles. “Sera ... kau harus tahu.” Feronica membelai kepalanya dan punggungnya sesaat. “Mama kemarin tidak benar-benar membencimu. Mama hanya ... ingin melatihmu. Mama ingin kau siap terlebih dulu sebelum kalian menikah. Mama ingin yang terbaik untuk kalian. Jadi mulai sekarang jangan takut ya ... Sebenarnya Mama tidak jahat kok.”
Sera mengerjapkan matanya beberapa saat. Jadi Feronica tidak benar-benar jahat kepadanya? Berarti termasuk pada Nana? Dia tidak benar-benar membencinya? Jika begitu ... berarti Feronica benar-benar bukan pelaku dari kejahatan itu? Tapi kalau begitu ... siapa pelakunya? Tidak mungkin benar-benar Amanda ‘kan? Karena jika memang benar, dasar apa dia mencelakai Nana? Dia memiliki motif apa menjahati kekasih Steve?
“Kalian sedang apa? Mama apakan lagi Sera sampai melamun seperti itu?” tanya Steve yang tiba-tiba datang dan segera merangkulnya.
Sera mengerjapkan mata kemudian mengalihkan pandangannya pada Steve yang sudah sangat rapih dengan pakaian kerjanya. Ia menarik kedua ujung bibirnya, “Bukan apa-apa Steve. Kami hanya mengobrol. Hm ... Pagi ... .”
Tangan Steve terangkat membali kepalanya kemudian mengecup keningnya sesaat. “Pagi juga sayang. Seharusnya kau bangunkan aku tadi. Aku juga kan ingin bermanja dulu.”
Sera melirik kearah Feronica dengan ekor matanya, wajahnya mendadak panas mendengar penuturan suaminya itu, ia malu tanpa sebab. Padahal sebelumnya mereka tidak melakukan apapun, tapi penuturan Steve berhasil membuatnya sangat malu di depan ibu mertuanya sendiri. Apalagi setelah mendengar Feronica berdehem pelan kemudian berpamitan meninggalkan mereka berdua.
“Steve kau membuatku malu.”
Steve terkekeh pelan. “Malu kenapa sayang? Hm?” tanya Steve seraya mencuri satu ciuman ringan di atas permukaan bibirnya. “Morning kiss.” Ujar lelaki itu seraya tersenyum lebar.
“Steve ... .” seru Sera tertahan. Sungguh ia belum terbiasa sama sekali dengan kebiasaan yang selalu di lakukan Steve. Ia masih belum terbiasa dengan sikap romantis Steve ... dengan semua sikapnya yang juga tiba-tiba. Meskipun dadanya selalu berdesir, selalu bergetar hebat. Namun ia masih belum terbiasa dengan semua itu.
“Sera ... .” Steve membelai kepalanya lagi kemudian mengecup keningnya beberapa kali. “Berhentilah canggung begini. Kita sudah berkencan sangat lama, hubungan kita pun sudah sangat dekat seharusnya kau berhenti bersikap canggung, apalagi sekarang kita sudah menikah. Kau tak perlu canggung lagi hm? Apalagi sekarang Mama sudah merestui kita. Tak ada lagi yang perlu kau takutkan. Kau mengerti sayang?”
Sera mengerjapkan matanya. Ia merasa aneh dengan penuturan Steve. Apakah itu artinya Nana juga canggung dengan Steve? Jadi itu alasan mengapa Steve tidak curiga dengannya yang sangat kaku ini?
“Sayang ... mengerti?”
Sera mengerjapkan matanya lagi lalu menatap Steve seraya menyunggingkan senyumannya. “Aku mengerti ... suami.”
Senyuman Steve merekah sempurna kemudian memeluknya lagi dengan sangat erat. “Terimakasih sayang. Terimakasih ... dan ingat ... malam nanti ya ... aku akan menagihnya.”
“Hm?”
Steve terkekeh pelan. “Sudah ... lanjutkan kegiatanmu. Aku akan mengambil beberapa berkas di ruang kerja.” Ujar lelaki itu seraya meninggalkannya seorang diri yang masih terpaku dengan wajah yang memanas.
***
Sejak Steve pergi ke kantor hingga hampir makan siang, Sera benar-benar gundah. Pikirannya benar-benar sangat kacau. Bukan karena kegiatan malam yang akan ia hadapi. Tapi karena Amanda. Karena tingkah Amanda yang masih sangat amat ia curigai. Sampai saat ini Sera masih belum menemukan jawaban atas kecurigaannya itu. Karena ketika perempuan itu bertingkah demikian, hanya ada dua kemungkinan. Pertama karena Amanda sangat mengenal Nana, yang kedua ... Amanda pelaku utama atas semua kejadian yang menimpa Nana.
Lalu ... mana jawaban yang benar?
“Sera kau melamun? Ada masalah?” Feronica duduk di sampingnya, membelai surainya dengan lembut.
Sera menatap Feronica. “Ma ... Tentang Amanda ... Sera ... mendadak cemburu.” Dustanya, ia tak mungkin bertanya tentang siapa Amanda pada Feronica bukan? Karena itu pasti akan membuat perempuan itu sangat mencurigainya.
Feronica mengulas senyumannya. “Kau tak perlu cemburu sayang ... seperti yang Mama katakan, mereka hanya teman baik, hanya rekan kerja. Kenapa ... kau tumben sekali membicarakan Amanda? Padahal sebelumnya kau biasa saja kan?”
Sera meneguk ludahnya, berarti Nana dan Amanda tidak akrab?
Sera menggelengkan kepalanya perlahan. “Apakah Sera harus berteman dengan Amanda agar tidak cemburu Ma?” ia menatap Feronica. “Sera tidak mau terus cemburu.”
“Terserahmu saja ... apapun yang kau rasa baik. Lakukan saja Sera. Mama tak akan menghalangimu.” Feronica mengulas senyumannya. “Tapi kau jangan berpikir buruk ya? Mama sudah sangat menyukaimu sekarang. Jadi tenang saja ... Mama tidak akan menjodoh-jodohkan lagi Amanda pada Steve. Lagipula kalian sudah menikah. Seharusnya tak ada yang kau takutkan lagi sayang. Steve sudah menjadi milikmu.”
Sera menghembuskan nafasnya pelan, lalu mendongak menatap Feronica lalu menyunggingkan senyuman. “Iya Ma ... benar. Kalau begitu Sera akan ke kantor Steve. Sera akan mengantar makan siang. Mama ingin menitip untuk Papa?”
***
Sera melangkahkan kakinya memasuki perkantoran itu dengan langkah yang sangat tenang. Banyak yang menyapanya, ia pun hanya memberikan senyuman tipis sebagai tanggapan. Ketika ia melewati penjaga, ia pun tak perlu kesulitan, ia bisa masuk begitu saja melewati orang-orang itu tanpa kendala sama sekali.
Langkah kakinya benar-benar lurus menuju ruangan Steve setelah lift yang ditumpanginya berhenti di lantai empat belas. Saat mengabari ia akan datang Steve mengatakan sedang melakukan rapat dengan dewan direksi sehingga ia diminta untuk menunggu suaminya itu di dalam ruang kerja. Namun sebelum memasuki ruangan itu iris matanya bertemu dengan iris mata Amanda yang baru saja keluar dari ruangan Steve. Langkahnya terhenti tepat di depan perempuan itu.
“Selamat siang Mrs. McKenzie, seperti yang Mr. McKenzie katakan. Anda bisa menunggunya di dalam. Permisi.”
“Amanda tunggu.”
Langkah Amanda terhenti tepat di sampingnya. Ia kemudian menghadap perempuan itu, menatapnya dengan lekat dan penuh selidik. Ia sudah mengatakan penasaran dengan perempuan ini bukan? Tentu saja sekarang ia akan menyelidikinya.
“Ada yang ingin anda sampaikan? Saya sedang sangat sibuk Mrs. McKenzie.”
“Kau tak suka aku menikah dengan Steve?” tanya Sera menodong. Bermaksud memancing reaksi perempuan itu.
Amanda menyunggingkan senyumannya. “Tak ada alasan bagiku untuk tak menyukai pernikahan kalian. Sejak awal saya bahkan tidak pernah peduli. Jika itu yang ingin anda tahu.”
“Kau mencintai Steve? Kau menyukainya? Kau cemburu melihat aku yang bisa memiliki Steve untuk diriku sendiri?” tanya Sera dengan sangat tenang.
Amanda kemudian menghadap kearahnya dengan sempurna kemudian terkekeh pelan. “Sebenarnya ... apa yang ingin kau cari? Kau penasaran mengapa aku tahu kau bukan Serafina? Kau ingin tahu alasan aku mengetahui semua itu?” tanya Amanda seraya melangkahkan kakinya maju satu langkah.
“Sudah aku katakan aku Serafina!” Desis Sera dengan tajam.
“Sebenarnya sekalipun kau menyangkal, aku tahu ... kau bukan Serafina yang aku tahu. Kau bukan Nana. Kau pasti orang lain yang menyamar jadi dia ‘kan? Kau pasti menggantikan Nana untuk menyingkirkanku.”
Sera semakin curiga pada Amanda. Bagaimana mungkin dia tahu sampai sedetail itu? Apakah Amanda benar-benar yang mencelakai Nana? Karena ... jika bukan. Darimana dia tahu bahwa ia bukan Nana? Selain dia adalah pelaku, otak dibalik kejahatan yang menimpa Nana. Ya ... Amanda sekarang kandidat terkuat. Ia hanya perlu mengumpulkan bukti kemudian menjebloskannya ke penjara.
***
“Pastikan kau benar-benar cepat sembuh Nana. Jika terjadi sesuatu padamu cepat katakan padaku. Bagaimana mungkin kau terjatuh di toilet tapi tak mengatakannya padaku? Pantas saja kau mengalami demam. Beruntung hanya demam. Bagaimana jika tulang rusukmu itu menusuk kedalam paru-paru? Menyusahkan saja!” ujar Baron seraya keluar dari dalam kendaraan yang mereka kendarai usai dari rumah sakit, setelah melakukan check up kesehatan Nana.
Nana mencebik, ia mengerucutkan bibirnya. “Aku hanya tidak mau merepotkan kalian lagi ... aku pikir jatuh sedikit tak akan masalah.”
“Kenyataannya kau merepotkanku juga!” Baron menaikkan nada bicaranya. Membuat Nana lagi-lagi merengut.
“Kau jahat sekali. Iya iya ... aku salah. aku berjanji akan lebih berhati-hati dan tak akan menyulitkanmu lagi.”
“Ada apa ini ribut-ribut?”
Baron mengalihkan pandangannya ke arah ruang keluarga. Senyumannya kemudian tersungging. “Papa ... kapan pulang?”
Lelaki paruh baya itu, dia Hendrik. Ayah Baron dan merupakan pemimpin kelompok mereka.
“Setengah jam yang lalu.” Lelaki itu mendongak menatap kearah Baron kemudian kearah Nana secara bergantian. Lelaki itu termenung beberapa saat sebelum menatap ke arah Baron kembali. “Baron ... siapa ini? Dimana Sera?”
“Oh ini ... ini Nana Pa. Sera sedang menggantikan Nana selama Nana masih dalam masa penyembuhan.”
“Memang ada apa?” tanya Hendrik.
“Saat kami menemukan Nana, Nana sedang di kejar oleh sekelompok preman. Jadi Sera sedang menyelidiki pelaku utama yang melakukan hal itu pada Nana.” Baron mengalihkan pandangannya pada Nana. “Masuklah ke kamarmu.”
Nana mengangguk, perempuan itu beranjak begitu saja tanpa bantahan sama sekali.
Baron kemudian mendudukan dirinya di depan Hendrik. “Papa tidak terkejut melihat seseorang yang sama persis dengan Sera? Papa bahkan langsung mengenali dia bukan Sera.”
Hendrik mengulas senyumannya. “Papa mengenal Sera bertahun-tahun, tak ada alasan bagi Papa tidak mengenal Sera dengan baik Baron.”
“Tapi Pa ... tidakkah Papa curiga? Mungkinkah ... mereka kembar yang terpisah? Karena ... mereka sangat mirip. Bagai pinang dibelah dua.”
Hendrik terdiam setelah mendengarkan ucapan Baron, lelaki paruh baya itu termenung beberapa saat sampai ponsel di tangannya berdering pertanda sebuah pesan masuk.
Hendrik terdiam, ketika menerima sebuah foto yang ia yakini foto Nana yang memang sama persis dengan Sera. Tak lama setelah itu sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama.
“Sudah lama tidak bekerjasama Hendrik. Sekarang aku ada pekerjaan lagi untukmu.”
“Apa maumu?”
Kekehan terdengar dari ujung panggilan. “Kau sudah melihat foto perempuan itu?”
Hendrik tak menanggapi pertanyaan itu, sampai akhirnya orang tersebut melanjutkan ucapannya.
“Culik perempuan ini, lalu bunuh. Secepatnya.”
Hendrik mengatupkan rahangnya.
“Aku tak akan pernah sudi melakukannya!”
“Oh ... kau tak mau? Yasudah. Aku bisa meminta orang lain untuk melakukannya. Sayang sekali, padahal aku akan membayarmu dengan harga yang lebih tinggi dari yang pernah aku berikan.”
“Aku. Tidak. Tertarik. Enyahlah dari kehidupanku perempuan jalang!”
“Tak kau minta pun aku akan pergi. Bye bye Hendrik.”
“Sialan!” Umpat Hendrik begitu panggilan itu berakhir. Firasatnya mendadak buruk setelah menengar niat perempuan j*****m itu. Karena bagaimanapun Sera yang sedang berada di sana, Sera yang sedang menggantikan posisi Nana. Ia tak bisa membiarkan perempuan itu berhasil dengan semua rencananya.
“Pa ... .”
“Baron, Sera dalam bahaya. Kirim orang untuk menjaganya. Segera!”