Part 8 : Kehangatan

1269 Words
Serafina Dominik, Lahir 3 Desember 1993, seorang anak tunggal dari pasangan William Dominik dan Angela Dominik.   Hendrik memejamkan matanya sesaat setelah membaca dokumen yang ia terima. Rahangnya mengatup, kedua tangannya terkepal, meremat dokumen itu hingga kusut. Setelahnya ia mendengus pelan dengan sebelah tangan terangkat meremat keningnya sendiri.   Ternyata benar dugaanku ... Nana ... benar-benar kembaran Sera yang dulu aku pisahkan.   ---   “Bawa pergi anak itu menjauh dari tempat ini. Setelah itu bunuh dia saat aku sudah memberikan intruksi padamu!” “Tapi ... bayi ini tidak bersalah.” “Kau tak perlu membantah Hendrik! Lakukan saja semua mauku! Lagipula mereka masih memiliki bayi lain, mereka tak akan merasa kehilangan. Cepat bawa dia pergi sekarang juga Hendrik atau aku akan melakukan sesuatu terhadap istri dan juga bayimu!”   Hendrik benar-benar membawa pergi bayi dalam pelukannya itu. Namun ketika iris matanya bertemu dengan iris mata bayi yang baru lahir itu hatinya tergerak. Hatinya berdesir, mendadak menghangat ketika melihat obsidian indah itu disertai dengan senyuman lebar khas bayi. Hendrik mengurungkan niatnya, ia kemudian melangkahkan kakinya mundur seraya mengeratkan pelukan pada bayi tersebut, ia menggeleng pelan. Bertepatan dengan itu sebuah panggilan dari rumah sakit masuk, mengabarkan bahwa istrinya tidak dapat di selamatkan ketika melahirkan puteranya. Karena hal itulah ... Hendrik semakin mengurungkan niatnya. Ia bertekad harus mengembalikan bayi itu pada orangtuanya. Akan tetapi saat ia hendak mengembalikan bayi itu kejadian lain ia lihat di depan matanya. Ia melihat perempuan yang memintanya untuk membunuh bayi itu bersitegang dengan seorang laki-laki yang ia yakini dia adalah ayah dari bayi dalam pelukannya itu. “Kau sudah berjanji akan menceraikannya setelah dia melahirkan! Tapi apa?!” “Dengarkan ... .” “CUKUP! Aku sudah menduga ini semua ... Baiklah ... jika memang kau tak ingin kembali padaku. Jangan salahkan aku jika aku menghancurkan keluargamu! Menghancurkan semua kebahagiaanmu.” “Jangan salahkan aku ... jika aku membunuh anakmu, tapi tenang saja ... aku menyisakan satu anak untukmu. Anak penyakitan yang juga akan segera mati!” Akhirnya karena itulah ... ia memutuskan untuk pergi jauh ... merawat bayi itu dan memberinya nama sama persis dengan bayi perempuan yang merupakan saudara kembar bayi tersebut.   ---   “Pa ... kau kenapa?” Hendrik mendongak, menatap Baron yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. “Tidak ada.” Hendrik mengulas senyumannya. “Aku hanya lelah, aku akan beristirahat.” Ujar Hendrik lagi kemudian beranjak pergi meninggalkan sang putera.   ***   Sera menatap televisi di depannya dengan pandangan kosong. Pikirannya masih saja terfokus pada Amanda yang sangat mencurigakan. Sayangnya ia tidak bisa membuktikan apapun sekalipun ia curiga. Ia masih belum bisa menemukan bukti yang tepat untuk menyeret Amanda ke penjara. “Sera ... kenapa kau terus menerus melamun sayang?” tanya Steve yang baru saja selesai membersihkan dirinya. Lelaki itu mendudukan diri di samping kanannya dengan rambut yang masih setengah basah. “Kau memikirkan apa hm? Aku? Tenang saja ... aku akan selalu ada untukmu sayang.” Sera mengulas senyumannya kemudian meraih handuk di tangan Steve lalu membantu suaminya itu mengeringkan rambutnya. “Tak ada apapun Steve. Hanya bosan saja. Biasanya juga aku beginikan? Aku tak banyak bicara.” Steve menganggukkan pelan, tangan kanan lelaki itu kemudian terangkat membelai wajahnya sesaat. “Kau memang lebih pendiam setelah dua hari menghilang sayang. Terkadang aku juga merasa kau seperti orang baru. Tapi daripada percaya pada otakku yang merasa aneh, aku lebih percaya pada hatiku, aku yakin hatiku tak akan pernah salah, karena hati tak akan pernah salah memilih. Hatiku tahu ... kalau kau Sera, sekalipun kau terasa lain, kau tetap Serafina-ku... perempuan yang paling aku cintai.” Mata Sera mengerjap, apa katanya? Perempuan ... yang paling di cintai? Steve kali ini menangkup kedua belah wajahnya. “Tapi ... aku justru merasa aku semakin jatuh cinta padamu Sera, setiap hari ... aku merasakan bahwa aku semakin mencintaimu. Semakin hari aku semakin mantap menjadikanmu istri hingga ... sekarang, setelah kau menjadi istriku. Aku semakin mantap untuk membina rumah tangga ... membuat keluarga yang penuh kebahagiaan. Menjadikan kau ... istri sekaligus ibu dari anak-anakku.” Steve menyunggingkan senyumannya. “Aku harap kau pun begitu Sera ... aku harap kau juga semakin mencintaiku.” Sera menarik kedua tangannya setelah rambut Steve mulai mengering. Ia kemudian tersenyum seraya menatap Steve yang juga masih menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut, terasa penuh kasih dan juga sayang. Hatinya ikut menghangat ketika melihat tatapan itu, dadanya berdesir halus, terasa begitu nyaman. Tapi sayang sekali ... Sera belum bisa menyimpulkan apapun, karena perasaan yang menyelimuti hatinya terasa benar-benar asing dan sangat baru. Ia tak pernah sekalipun merasakan perasaan seperti ini sekalipun pada orang yang ia kagumi. “Sera ... .” Steve mendekatkan diri padanya, lalu memiringkan wajah ketika jarak mereka hampir menipis. “Steve, sebaiknya kita makan malam.” Sera menahan d**a Steve, tak membiarkan lelaki itu meraup bibirnya. Setelah itu ia berdiri. “Aku belum makan malam, kau juga belum Steve. Bagaimana jika kita makan malam? Ayo ... aku akan memasakkan sesuatu untukmu.” Sera kemudian beranjak dengan cepat meninggalkan kamar itu, meninggalkan Steve yang hanya terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala.   Sera buru-buru pergi dari kamarnya, sesekali ia menoleh ke arah belakang. Memastikan Steve belum mengikuti langkahnya. Setelah itu ia mengatur nafasnya yang terasa memburu disertai detakan jantung yang semakin menggila, membuat nafasnya semakin tersengal serasa seperti sedang melakukan lari maraton. Sera mengatur nafasnya sekali lagi seraya memasukan makan malam yang sudah ia masak kedalam microwave. Ia membasahi bibirnya yang mendadak kering lalu menumpukan kedua tangan di depan microwave tersebut. Sungguh ... ia tak bisa berdekatan lebih lama dengan Steve. Ia tak bisa. Ia tak bisa membiarkan jantungnya semakin menggila, ia tiak bisa membiarkan hatinya semakin menghangat, berbunga hingga membuat kedua sudut bibirnya tak bisa untuk tidak terangkat membentuk senyuman. Rasanya benar-benar menyenangkan, apalagi ketika ratusan kupu-kupu serasa berterbangan di atas permukaan perutnya, sangat menyenangkan sekaligus membuatnya sangat gugup.   “Astaga!”   Sera terjengit ketika merasakan sepasang tangan melingkari perutnya. “Kenapa terkejut? Jangan melamun terus sayang ... kau jadi terkejutkan hanya karena pelukanku.”   Plak!   Sera memukul permukaan lengan Steve dengan tangan kananya. “Steve ... berhenti mengejutkanku!” Bukannya melepaskan kedua tangan itu dari pinggangnya, Steve justru semakin mengeratkan pelukannya itu kemudian membubuhkan ciuman-ciuman ringan pada permukaan kulitnya. Dari mulai bahu, leher, pipi kemudian kembali lagi menciumi lehernya. Sera memejamkan mata seraya mencengkram kedua tangan Steve yang masih melingkari pinggangnya. Kepalanya mendongak ketika Steve semakin menyerukan kepalanya, ia bahkan harus menggigit bibirnya, menahan desahan yang hampir lolos ketika kedua tangan Steve mulai menyentuh permukaan perutnya. Steve membalik tubuhnya dengan cepat, kemudian meraup bibirnya dengan tak kalah cepatnya. Menciumnya, melumatnya hingga mengecapnya dengan begitu dalam. Sementara itu Sera tak bisa melakukan apapun selain mencengkram bahu Steve lalu mengikuti permainan bibir Steve pada bibirnya secara perlahan. Ini gila! Sangat gila! Ia tahu tak seharusnya ia menerima ciuman itu. Tak seharusnya juga ia melakukan hal sejauh ini. Namun ... nalurinya berkata lain. Nalurinya menginginkan semua ini. Ia ingin, ia ingin merasakan semuanya, sentuhan, belaian ... hingga kehangatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia ingin ... ia ingin merasakan semuanya. Merasakan sensasi yang tidak pernah ia rasakan, sensasi indah ... yang untuk pertama kalinya ia rasakan.   Steve menarik ujung bibirnya ketika meraskaan Sera mulai membalas ciumannya, setelah itu ia semakin memperdalam ciuman tersebut bahkan membawa Sera untuk duduk di atas meja makan. Ia melepaskan ciuman itu, menatap wajah Sera yang sudah sangat merona, lalu memandangi bibirnya yang sudah menebal kemudian beralih menatap kedua mata indahnya yang teramat cantik, memandangnya dengan tatapan sayu, berkabut nafsu. “Sera ... sayang.” Steve merapatkan dirinya kembali dengan kedua tangan yang menarik tubuh itu agar semakin merapat dengan tubuhnya, mencoba menghapus jarak yang ada di antara mereka. “Aku ... .” Sera menggigit bibir dengan mata yang masih memandangnya dengan sayu setelah itu Sera mengalungkan tangan pada lehernya kemudian menarik tengkuknya secara perlahan sebelum bibir mereka bersatu kembali, saling mengecup ringan kemudian ....   Tit tit tit!   Sera segera menjauhkan tubuhnya dari Steve kemudian turun dari atas meja makan itu. Ia merapihkan pakaiannya, lalu merapihkan rambutnya yang sudah tidak terbentuk sebelum mengeluarkan dua piring makanan dari dalam microwave yang berbunyi nyaring. Sera menatap Steve sesaat kemudian menunduk kembali. Salah tingkah.   “Steve ... makanannya sudah hangat. Sebaiknya kita makan.”      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD