Part 9 : Salah Tingkah

1438 Words
  Pagi-pagi sekali Steve yang pertama terjaga, lelaki itu kemudian tersenyum kecil ketika melihat wajah tenang sang istri yang masih tertidur berbantalkan lengan kanannya. Iris matanya terpaku menatap wajah tenang itu, menatap perempuan yang sekarang resmi menjadi istrinya dengan lamat, memindai, mengamati setiap lekuk wajah cantik yang terpahat sempurna di wajah itu. Steve kembali menyunggingkan senyumannya ketika Sera mengerang tak nyaman seraya mengeratkan pelukan pada pinggangnya. Setelah itu dia kembali tertidur dengan tenang. Tangan Steve kemudian terangkat menyampirkan rambut yang menutupi wajah cantik sang istri dengan tangan kirinya sebelum menarik lebih tinggi selimut yang menutupi tubuh polos mereka. Kalian pasti mengerti apa yang telah mereka lakukan pada malam kemarin. Alasan mengapa tubuh mereka polos lalu tertidur dengan saling memeluk. Kalian pasti mengerti meskipun tanpa harus diberi tahu. Karena ya ... malam kemarin mereka memang telah melewati malam panjang, malam indah yang merupakan malam pertama mereka. Satu malam yang akan menjadi saksi sejarah perkembangan hubungan mereka yang selama ini selalu tampak sangat kaku. Meskipun mulanya ada sedikit keraguan, namun semua itu berlanjut tanpa ada paksaan, keduanya tidak memaksakan pasangan satu sama lain hingga semuanya berjalan begitu saja, berjalan sesuai naluri mereka untuk mencapai puncak surga yang sangat indah. Malam kemarin ... benar-benar berlalu dengan sangat indah, selayaknya pasangan suami-istri di malam pertama mereka. Bahkan serasa lebih dari indah ... setidaknya itu bagi Steve. Steve mengelus wajah Sera beberapa saat sebelum mengecup kening cintanya dengan lamat. “Terimakasih sayang ... .” bisiknya yang membuat tubuh Sera kembali menggeliat tak nyaman. Steve termenung ketika menyadari satu bekas luka di bahu kanan Sera, memang terllihat sangat samar namun jika di lihat lebih jelas memang ada bekas luka disana. Bekas luka lama yang tidak pernah ia lihat sama sekali. Apakah ia tidak menyadarinya sejak dulu? Ataukah dulu Sera menyembunyikan bekas luka itu? Tapi sungguh ia yakin ia tak salah ingat, seingatnya Sera tidak memiliki bekas luka apapun di tubuhnya. Apalagi bekas luka yang ... terlihat aneh seperti itu. Steve mengerjapkan mata ketika merasakan Sera kembali menggeliat seraya mengerang, membuat Steve tersadar dari lamunannya kemudian menatap Sera yang mulai membuka mata, menyambut istrinya itu dengan senyuman hangat. “Good morning queen. Mimpi indah?” Bukannya menjawab, wajah Sera justru merona, merah padam. Perempuan itu menundukkan kepalanya seraya menaikan selimut untuk menutupi tubuhnya setelah itu menggenggam erat selimut tersebut seolah takut ia rampas. Steve terkekeh pelan. “Sayang ... .” panggil Steve lagi seraya membubuhkan ciuman pada pucak kepala cintanya. “Good morning ... Steve.” Balas Sera dengan suara yang melemah di akhir kalimat. “Sayang ... lihat aku.” Steve meraih wajah Sera, menangkup wajah perempuan itu dengan kedua tangannya kemudian kembali menghujani wajah cantik itu dengan ciuman-ciuman ringan. “Kenapa hm? Kenapa menghindariku?” Sera mendesis ia kemudian memukul d**a Steve. “Jangan menggodaku! Kau! Benar-benar menyebalkan Steve.” Steve tergelak mendengar hal itu, ia tak menyangka istrinya akan semenggemaskan ini ketika bangun pagi, ia tak menduga istrinya itu akan salah tingkah dan tersenyum malu-malu seperti itu. Terlihat ... sangat manis dan sangat amat menggemaskan. “Salah tingkah sayang? Tak perlu, aku suamimu ... kau tak perlu salah tingkah lagi.” Steve kembali menghujani wajah Sera dengan ciuman sebelum memeluk gemas istrinya. “Lagipula dulu kita pernah melakukannya satu kali. Mengapa kau salah tingkah begini? Seolah kita baru pertama kali melakukannya. Apakah karena sudah sangat lama? hm?” Steve kembali terkekeh ketika melihat wajah Sera yang semakin memerah padam. “Manis ... kau ini sekarang saja malu-malu kucing. Bertingkah sangat manis. Padahal semalam kau sangat berisik sayang ... kau mengerang, mendesah, meminta lebih cepat dan lebih dal ... .” “Steve berhenti menggodaku atau kau tak akan pernah mendapatkannya lagi!” Mata Steve membulat, tapi bukannya takut. Lelaki itu justru tersenyum jenaka seraya menatap istrinya. “Lalu ... apakah maksudmu aku bisa mendapatkannya lagi sayang? Apakah kita akan melakukannya lagi?” Steve memiringkan tubuhnya sempurna. “Sekarang?” “Steve!” Steve terkekeh ketika ia bisa berkuasa lagi diatas tubuh Sera, ia mengungkung tubuh istrinya itu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. “Sayang ... .” “Steve ... jangan sekarang ... aku ... masih sakit.” ujar Sera dengan kedua tangan menahan dadanya seraya menundukan kepala menghindari tatapannya yang berada di atas tubuh perempuan itu. “Sebaiknya aku mandi! Argh ... .” Sera mengerang ketika berusaha bangkit dari tidurnya. Perempuan itu memejamkan mata, kembali berbaring lagi. Seolah tak sanggup bergerak sama sekali. Steve mendudukkan dirinya kemudian mengelus wajah sang istri dengan sangat lembut seraya menatapnya dengan penuh rasa bersalah. “Sayang ... apakah semalam aku bermain terlalu kasar? Maafkan aku hm? Maaf ... .” ujarnya seraya mengelus wajah Sera terus-menerus, mencoba membuat istrinya itu merasa lebih baik dari rasa sakit yang dirasakannya. “Tidak Steve ... tidak ... aku hanya belum terbiasa. Rasanya sangat aneh ... aku merasa ada yang hilang dan ... kau tahu ... perih.” Steve memandang Sera dengan tatapan penuh rasa bersalah lagi. “Pasti karena aku bermain terlalu kasar ... maafkan aku sayang. Maafkan aku.” Steve mengelus kepala Sera dengan penuh kasih sayang. Membuat perempuan itu tersenyum, begitu cantik. Dia bahkan mengulurkan kedua tangannya, mengelus wajahnya kemudian menarik tengkuknya perlahan. Setelah itu memberinya tiga buah ciuman ringan, di pipi kanan, pipi kiri dan juga bibirnya. Setelah itu berujar dengan sangat tenang. “Aku tak apa Steve ... aku benar-benar tak apa. Sudah aku katakan bukan sakit yang berlebihan.” Perasaan Steve semakin merasa bersalah setelah mendengar hal itu. Ia masih mengelus wajah istrinya, masih menatapnya lamat dan sangat lembut. “Hari ini ... aku akan menemanimu seharian. Aku akan melayanimu dengan baik. Jadi ... katakan padaku apapun yang kau inginkan hm? Aku akan menjadi pelayan setiamu.” Sera menarik kedua ujung bibir, membentuk sebuah senyuman. “Daripada menjadi pelayan setia ... bagaimana menurutmu jika jadi pendamping setia? Jadi suami siaga? Aku rasa itu lebih baik.” Steve mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum tersenyum begitu lebar. “Siap! Aku siap sayang! Aku siap menjadi pendamping setia dan suami siaga! Tunggu disini ... aku akan menyiapkan semuanya untukmu.”     Sera termenung setelah melihat Steve yang hanya mengenakan boxer meninggalkannya di kamar, menuju kamar mandi. Ia tahu ... semua yang telah ia lakukan mungkin memang merupakan kesalahan. Ia melalui malam bersama dengan kekasih orang lain, ia bahkan meminta orang tersebut setia padanya. Ia tahu ... ia salah ... tapi sesungguhnya ia sangat menikmati ini. Menikmati semua perhatian yang diberikan Steve. Menikmati sikap lembut Steve dan semua hal yang di berikan oleh suaminya itu. Sekalipun ia tahu ini salah ... tapi tak apa kan jika ia egois? Tak apa kan ia ingin Steve untuk dirinya sendiri? Setidaknya untuk saat ini saja. Sebelum Steve kembali pada kekasih sebenarnya. Sebelum Steve menyadari jika dirinya bukan Serafina kekasihnya. Sebelum Steve ... meninggalkannya. Bagaimanapun ... ia juga perempuan, ia juga menginginkan semua ini. Ingin merasakan rasanya dipuja, diperhatikan dan disayangi sebesar ini oleh seseorang. Karena ... rasanya sungguh menyenangkan, apalagi ketika dadanya menghangat, berdesir, terasa penuh oleh bunga ketika kebahagiaannya membuncah. Meskipun ia masih belum yakin dengan definisi perasaan ini seperti apa ... namun tak apa ‘kan jika untuk sekarang ia menikmati keberadaan Steve yang berada disisinya? Tak apa ‘kan? Hanya untuk sementara saja, hanya untuk sesaat. Sebelum ia kembali pada kehidupannya yang lain, yang ... meskipun bahagia tapi terasa begitu dingin.   Steve kembali ke kamar dengan bathrobe yang menyelimuti tubuh atletisnya. Setelah itu tanpa berbicara kembali dia membungkus tubuhnya dengan selimut kemudian meraih tubuhnya, membawanya ke kamar mandi kemudian di masukkan dirinya pada bathtub yang berisi air hangat beraromakan lavender. Aroma yang sangat ia sukai. Steve tersenyum padanya. “Sayang ... berendamlah sebentar. Sementara aku akan mengambil sarapan untuk kita berdua.” Ujar Steve seraya mengelus surainya dengan lembut. “Jangan kemanapun sebelum aku kembali kesini, nanti aku akan menggendongmu lagi dan membawamu ke kamar. Aku tak akan membiarkanmu kesulitan ketika harus berjalan, aku tak mau kau kesakitan juga. Kau mengerti sayang?” Sera menyunggingkan senyumannya kemudian menganggukkan kepala. “Aku mengerti ... suami.” Senyuman Steve merekah sempurna. “Katakan sekali lagi.” “Apa?” goda Sera. Steve tergelak. “Sudahlah, nikmati waktu bersantaimu sayang ... aku ke bawah dulu.” Sera mengangguk. “Iya ... Suami.” Steve kembali menyunggingkan senyumannya kemudian menggelengkan kepala perlahan. “Suamimu ini akan segera kembali sayang ... .”   Sera menyunggingkan senyumannya setelah itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Lihatkan ... betapa manisnya Steve padanya ... lantas siapa yang akan rela melepaskan Steve? Siapa yang akan rela melewatkan waktu berharga seperti ini begitu saja? Ia pikir tak ada. Karena kesempatan bersama suami nyaris sempurna seperti Steve adalah hal langka yang tidak semua orang alami, tapi semua orang impikan. Begitupun dirinya ... yang juga menginginkan suami seperti Steve.   ***   Sementara itu di waktu lain dan ti tempat yang tak jauh dari rumah itu. Dua orang laki-laki berpakaian serba hitam mengawasi rumah keluarga McKenzi sepanjang hari. Mereka berdua tidak sekalipun lengah, mengawasi rumah itu dan memastikan targetnya tidak lepas dari pengawasan. Akan tetapi hingga menjelang malam, target yang ia tunggu tak juga muncul, tidak menunjukkan dirinya ke permukaan. Salah satu dari lelaki itu memanggil seseorang dengan ponselnya.   “Bagaimana?” tanya orang di sebrang panggilan. “Hari ini target tak terlihat kemanapun.” “Sialan! Lakukan pekerjaanmu besok! Pantau dia. Pastikan jangan sampai lepas.” “Baik.”            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD