Akhir pekan telah berlalu, hari Senin telah tiba kembali membuat Steve harus kembali bekerja di kantor sebelum keesokan harinya ia cuti panjang selama satu minggu untuk menikmati liburan sekaligus bulan madu yang diberikan oleh ayahnya. Awalnya Steve berencana untuk pergi berlibur sejak Senin, tapi ternyata satu pekerjaan yang sangat mendesak tidak bisa ia tinggalkan sama sekali. Beruntung Sera mengerti dan tidak mengeluhkan apapun ketika ia harus menunda hari keberangkatan mereka.
Hari itu Steve sibuk dengan sebuah rapat penting bersama salah satu perusahaan e-commerce ternama. Hal itu adalah buah dari minggu lalu ia mengirimkan sebuah proposal kerja sama pada perusahaan itu, lalu kemarin mereka baru mengabarinya bahwa hari ini mereka ingin melakukan pertemuan. Beruntunglah ia belum benar-benar berangkat, jika sudah berangkat, liburannya bersama Sera pasti akan sangat terganggu.
“Saya harap bisa bekerjasama dengan baik Mr. McKenzie, ini pertama kalinya saya bekerjasama dengan keluarga anda. Saya harap akan berjalan dengan baik dan berhasil sesuai dengan harapan kita.”
Steve mengangguk kecil seraya membalas uluran tangan lelaki itu. “Sama-sama Mr. Agusto, saya juga berharap demikian. Jika dalam beberapa hari anda ingin bertanya sesuatu, anda bisa hubungi asisten saya secara langsung, Amanda akan menangani semuanya selama beberapa hari ke depan.”
“Ah ... aku ingat, aku dengar kau sudah menikah bukan? Tentu saja pasti akan berbulan madu.”
Steve terkekeh pelan, “Ya ... anda benar.”
“Selamat untuk pernikahanmu.”
“Terimakasih.”
“Kalau begitu ... Ms. Hans bagaimana jika kita bertukar nomor ponsel? Karena masih banyak yang perlu kita bicarakan. Mungkin besok ... atau lusa.” Ujar lelaki itu seraya menyunggingkan senyumannya dengan sangat tenang.
“Anda bisa menghubungi perusahaan kami di jam kerja Mr. Agusto. Saya tidak menerima pekerjaan diluar jam kerja saya.” Ujar Amanda dengan tegas.
Lelaki itu menaikkan satu alisnya. “Apakah begitu caramu memperlakukan client?”
Mata Amanda mengerjap sesaat, kemudian lelaki itu membungkuk. “Maaf Mr. Agusto saya telah lancang.”
Steve yang melihat hal itu tersenyum kecil. “Maafkan asisten saya Mr. Agusto, Amanda memang ... sedikit kaku. Sepertinya banyak bekerja membuatnya seperti robot, sehingga dia tidak pernah benar-benar dekat dengan lelaki atau berhubungan dengan seseorang.”
“Mr. McKenzie.” Panggil Amanda dengan nada yang penuh tekanan. Perempuan itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama. “Ini kartu nama saya Mr. Agusto. Saya akan senang hati menerima panggilan anda jika itu merupakan kerja sama bisnis kita.”
Lelaki itu tergelak melihat interaksi bos dan asisten yang itu. Dia menerima kartu tersebut kemudian memberikan kartu namanya juga pada Amanda. “Ini milikku, simpan baik-baik.”
“Mr. McKenzie sampai berjumpa kembali.” Ujar lelaki itu, dia kemudian mengalihkan pandangan pada Amanda. “Aku berharap bisa berkenalan secara pribadi denganmu Ms. Hans. Sampai jumpa.” Lelaki itu melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.
Steve menyunggingkan senyumannya kemudian melirik Amanda yang terlihat sedang menatap punggung lelaki itu dengan tatapan nyalang. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. “Sudahlah ... jangan terlalu di ambil hati Amanda.”
Amanda mendesis. “Aku tidak mengambil hati, aku hanya ... sebal. Bagaimana bisa ada lelaki yang secara terang-terangan ingin mendekati di pertemuan pertama? Bahkan dia terus memperhatikanku selama meeting. Benar-benar tak tahu malu.”
“Itu tandanya dia benar-benar tertarik padamu Amanda. Cinta pada pandangan pertama mungkin?”
Amanda memutar bola mata. “Tak ada yang seperti itu di dunia ini Steve, cinta pada pandangan pertama hanya berupa rasa penasaran, bukan benar-benar cinta yang murni. Karena cinta ... tidak semudah itu. Perlu waktu yang lama ... jika memang ingin benar-benar mendapatkan cinta sejati.”
“Sebagai sahabatmu, aku mendukung jika memang dia tertarik padamu Amanda. Dia terlihat baik, dia juga termasuk berani, tidak bermain belakang untuk mengenalmu.”
“Tak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini Steve, siapa yang tahu jika sebenarnya dia lelaki beristri yang sedang mencari istri simpanan?” Amanda menaikkan bahunya. Dia meliriknya sesaat. “Lagipula kau tak bisa menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja Steve, jika kau tak ingin tertipu.”
“Kau benar ... tapi tak ada salahnya mencoba ‘kan?”
Amanda tak menjawab, perempuan itu lebih memilih memasuki mobil kemudian menutup pintu dengan cepat. Ia pun segera memasuki mobil tersebut melalui pintu lainnya dibalik kemudi.
Sepanjang perjalanan Steve hanya diam, tidak membuka percakapan apapun lagi dengan asisten sekaligus sahabatnya itu. Ia hanya diam, menunggu Amanda yang sejak beberapa saat lalu terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya. Perempuan itu sesekali meliriknya, membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu kemudian menutupnya kembali, terlihat sangat ragu untuk mengatakannya.
Sampai ketika kendaraan mereka berhenti di lampu merah barulah Steve menatap sahabatnya itu sesaat.
“Kau ingin mengatakan apa Amanda?”
“Eum?”
“Aku yakin kau memiliki sesuatu untuk di sampaikan padaku. Benarkan?” tanya Steve lagi.
Amanda tersenyum tipis. “Memang. Tapi bukan hal penting. Abaikan saja.”
“Hal tak penting seperti apa? Apa kau berubah pikiran tentang berkenalan dengan David Agusto?”
Mata Amanda mendelik ke arahnya. “Jangan gila.” Perempuan itu mendengus pelan. “Aku hanya ingin mengatakan ... aku merasa istrimu terlihat lebih baik?”
“Hm?” kening Steve mengerut. “Maksudmu?”
Amanda mengedikkan bahunya. “Ya ... terasa lebih baik. Aku merasa lain.”
Steve terkekeh pelan. “Kau juga merasakannya?” ia menyunggingkan senyumannya seraya menginjak pedal gas kembali. “Tapi aku sangat bersyukur ... dia bisa berubah dengan cepat. Sampai-sampai dalam satu minggu Mama bisa menyukainya, padahal sebelumnya Mama sangat membenci Sera.”
“Tidakkah kau merasa ... ah! Tidak. Ini bukan urusanku.” Amanda mengalihkan pandangan ke arah jalan raya. “Tapi aku senang ... jika akhirnya Mama-mu menyukainya. Aku juga turut bahagia jika kau benar-benar bahagia bersamanya Steve.”
Steve menyunggingkan senyumannya kembali. “Terimakasih Amanda. Aku juga berharap agar kau segera mendapatkan pasanganmu dan berbahagia. Kau tahu efek domino? Kata orang itu benar-benar ada dan sangat berpengaruh pada orang terdekatmu. Ketika orang terdekatmu bahagia, kau juga akan bahagia. Semoga saja ... ketika sahabatmu sudah menikah, kau juga cepat menyusulkan?”
Amanda mendesis. “Kau masih percaya hal seperti itu? Jangan mengada-ada, kekasih saja aku tak punya.”
“Soon ... David pasti akan mendekatimu dengan sangat gencar.”
“YA!!! Berhenti membicarakan David atau kuhancurkan jabatanmu dalam waktu satu minggu!”
Yang di teriaki tergelak dengan sangat puas, tidak merasa takut sama sekali dengan tatapan seolah ingin membunuh yang di layangkan oleh perempuan di sampingnya itu.
Setelah itu tak ada percakapan lagi hingga kendaraan tersebut sampai di halaman depan perusahaan. Steve menatap Amanda yang telah keluar dari dalam kendaraanya, sementara dirinya tidak ikut keluar karena harus menjemput Sera yang sedang berbelanja ke super market seorang diri.
“Aku hanya cuti selama satu minggu, jika terjadi apapun yang sangat mendesak segeralah kabari aku atau laporkan semuanya pada Papa. Kau mengerti Amanda?”
Perempuan itu mengagguk patuh. “Saya mengerti Mr. McKenzie. Semoga perjalanan anda dan istri menyenangkan.”
Steve menganggukkan kepalanya setelah itu menaikkan kembali kaca mobil terebut sebelum tancap gas meninggalkan tempat tersebut, tanpa menyadari Amanda yang masih menatap kendaraan yang ia kendarai dengan tatapan yang sangat sulit untuk dibaca.
***
Sera memutari super market hampir dua jam, ia membeli banyak bahan masakan untuk persediaan satu minggu kedepan di rumahnya. Ya ... untuk di rumah, untuk persediaan Feronica dan Leonardo. Tak mungkinkan ia meninggalkan orangtua mereka berlibur tanpa bahan makanan yang mencukupi?
Sejujurnya Feronica sudah melarangnya, dia mengatakan bisa berbelanja sendiri. Namun tetap saja, ia merasa tak benar jika ia membiarkan hal itu, karena bagaimanapun ia adalah anak menantunya, sehingga ia harus merawat kedua orangtua Steve dengan baik. Meskipun ... mungkin hanya untuk sementara tapi dalam lubuk hati terdalamnya, ia mulai menyayangi perempuan itu. Ia ingin memberikan yang terbaik selama ia masih bisa bertahan, jika dalam bahasa kasarnya ... sebelum ia pergi dari kehidupan mereka.
Liburannya bersama Steve pun sebenarnya tak jauh. Hanya ke sebuah pantai yang selama ini di idamkan olehnya untuk di kunjungi. Sebuah pantai yang jauh dari hiruk pikuk kota yang pengap akan aktivitas. Ia sengaja ... ia tak ingin membuat kenangan yang lebih indah di tempat lain. Karena ia menyadari jika hal indah itu ... lagi-lagi hanya sementara untuknya.
Ponsel Sera berdering ketika ia masih memilih beberapa bumbu dapur yang memang kebetulan sudah habis. Ponsel Sera memang sudah di kembalikan beberapa hari yang lalu dengan keadaan ponsel yang kosong dan nomor yang baru, tapi Sera rasa itu tak masalah untuknya. Ia menatap ponsel tersebut sesaat ... lalu menjawab panggilan tersebut.
“Ya Steve ... .”
“Aku sudah sampai di parkiran. Kau dimana sayang?”
Sera menyunggingkan senyumannya ketika mendengar panggilan itu. “Aku masih memilih beberapa bumbu. Kau ingin membeli sesuatu tidak?”
“Tidak perlu, aku akan kesana sekarang.”
Sera bergumam. “Baiklah. Aku tunggu.”
Selama Sera bercakap dengan Steve tanpa ia sadari dua orang pemuda mengikutinya dari belakang. Mereka terlihat saling memberikan kode dengan mata mereka sebelum salah satu dari dua pemuda itu mengunci leher Sera dan membekap mulutnya.
Mata Sera membeliak panik sesaat, namun dengan gerakan yang sangat cepat ia menggigit tangan pemuda itu kemudian memiting tangan yang lain, lalu menendang lekukan lutut pemuda itu dengan sangat kencang hingga pemuda itu mengerang dan terduduk. Ketika satu pemuda hendak menyerang lagi, ia segera menendang d**a pemuda itu hingga terjungkal jauh sampai membentur rak.
Keributan itu mengundang banyak perhatian, hingga dengan gerakan yang tak kalan cepatnya dua pemuda itu kabur dari hadapan Sera, berlari tunggang langgang meninggalkannya begitu saja.
Sera menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Beruntunglah ia sudah terlatih sejak dini untuk menghadapi masalah seperti ini. Sehingga ia tak perlu terkena masalah yang berlebihan.
Tapi ... kenapa dua pemuda itu menyerangnya? Apa tujuan mereka berdua? Apakah ingin mencurinya? Atau ... menculiknya?
“Sera ... ada apa? Kenapa disini sangat ribut?”
Sera mengerjapkan mata, ia menatap Steve kemudian menyunggingkan senyuman. “Tak ada apapun Steve. Ayo ... kita bayar belanjaannya. Lalu pulang ... .”