LDR 2

1326 Words
        Apabila ditanya apakah kami berpacaran seperti orang berpacaran pada umumnya, jawabannya jelas tidak. Mengapa? Mas Barra sangat jarang sekali memberi kabar padaku, bahkan ketika aku yang duluan saja balasnya akan lama bahkan tidak dibalas. Lalu apakah kami pergi jalan-jalan atau menonton bioskap bersama atau makan di luar? Pasti masih sama jawabannya pasti tidak.         Kami melakukan semua itu dirumahnya, kami menonton bersama di dalam rumahnya. Kami makan juga di rumahnya, apabila tidak Bunda Tania yang memasak atau delivery. Lalu aku hanya menemaninya sibuk dengan bahan bacaan jurnalnya atau melihatnya membaca buku. Karena pada saat itu Mas Barra lagi disibukkan dengan pembuatan skripsi.         Maka jawabannya adalah kami melakukannya semuanya di rumahnya! Lalu apakah kalian tahu? Menurut kalian aku datang kerumahnya bagaimana? Apakah Mas Barra dengan baik hati menjemputku atau memesankan transportas online untukku? Jelas tidak! Aku datang sendiri menggunakan motorku! Waw memang aku bisa mengendarai motor tetapi yang matic, motor itu yang akan membawakan aku kemana-mana.         Parah? Banget! Padahal mantanku sebelumnya sangat memanjakanku sekali, bahkan sampai kepada tahap mengekang. Aku akan di antar kemanapun dan akan dijemput dimanapun. Bahkan kadang apa yang tidak ku inginkan kadang ia memberikannya begitu saja. Pokoknya saat itu aku benar-benar bahagia. Bahkan hubungan kami juga hampir terjalin dua tahun tetapi harus kandas.         Aku semakin tidak tahan dengan sikap overprotektifnya padaku, sampai pada akhirnya ia tidak mempercayaiku dan menuduhku yang tidak-tidak. Balas chat teman pria saja tidak bisa, parah banget. Masih pacaran saja sudah begitu, kalau nikah bisa-bisa harus pake kacamata kuda kali dan gabisa kemana-mana.         Oke skip bahas tentang mantan, biarkanlah mantan diletakkan sesuai dengan tempatnya. Walaupun tidak membencinya hanya saja itu aku masih mengingatnya, bagaimanapun dia pernah ada untuk mengisi hatiku dan mengisi hari-hariku. Nahkan di bahas lagi oke bye mantan!         Mari kita lanjutkan hubunganku dengan Mas Barra waktu cepat berlalu sampai pada akhirnya Mas Barra harus kembali ke Bandung. Masa liburan sudah selesai dan ia harus kembali melanjutkan perjuangannya apalagi ia ingin selesai dengan tepat waktu walaupun sulit katanya.         Seharusnya aku bisa untuk ikut juga mengantarnya ke bandara, tetapi takdir berkata lain. Karena pada saat itu juga, dosen akademikku menyuruh semua anak bimbingannya untuk datang. Dosen itu hanya mempunyai waktu pada saat itu, jadi mau tidak mau aku harus ke kampus dan menemui dosenku. Padahal kami akan berpisah sejenak ingin rasanya bertemu sebelum kami berpisah.         Tidak ada video call atau kalimat perpisahan yang bagaimana hanya sebuah pesan singkat yang berisikan “Aku pergi, Tolong jaga hati, karena aku tidak ingin berbagi. Setiap hari selasa malam tolong kamu datang ke rumah dan temani Bunda” Setelah pesan itu tidak ada lagi pesan khusus yang diberikan padaku. Bahkan saat Mas Barra sudah disana tidak ada kabar dan aku tau ketika Mas Barra yang memberitahu.         Lalu apakah komunikasi kami berjalan dengan baik? Pastinya tidak bukan! Mas Barra sangat sibuk dengan skripsinya, ia hanya menelvonku saat pagi saja itupun subuh untuk membangunkanku melakukan saat teduh. Yaps kami menganut agama kristiani, dan Mas Barra sangat religius sekali. Ia akan terus mengingatkanku untuk bersaat teduh. Tidak hanya itu saja bahkan dia juga setiap pagi akan membagikan berkat saat teduhnya. Setelah itu komunikasi kami terputus.         Mas Barra sangat jarang menanyakan kabarku atau menelvonku untuk sekedar basa-basi. Seminggu sekali terkadang mau hanya lima menit saja menelvon untuk mengatakan kegiatannya dalam seminggu itu tanpa menanyakan kegiatanku. Ini memang bukan hubungan pertamaku dengan seseorang yang LDR tetapi ini hubungan paling rumit menurutku.         Kenapa? Karena biasanya saat orang LDR pasti komunikasi mereka berjalan dengan baik, setidaknya dari komunikasilah mereka akan merasakan kebersamaan. Tetapi kali ini berbeda komunikasi yang tidak berjalan baik dan aku mulai bosan untuk menunggu kabarnya. Padahal sudah hampir sepuluh bulan kami bersama-sama.         Saat natal waktu bulan Desember ia juga tidak kembali ke Malang dan akupun balik ke Surabaya bersama dengan keluargaku. Tidak ada suatu hal yang menarik karena semuanya masih sama saja seperti biasanya, komunikasi yang tidak baik.         Akhirnya aku bosan dengan kegiatan rutinitasku yang biasanya, akhirnya aku mengikuti event fakultasku yang melibatkan kepanitiaan besar. Acara ini adalah memang acara tahunan kampus, kalau biasanya aku tidak pernah mengikuti organisasi maupun event maka kali ini berbeda, aku bersedia untuk ikut. Setidaknya bisa menyita pikiranku dari Mas Barra.         Aku terpilih dibagian seksi acara dan menjadi backing vocal pada acara itu. Yah walaupun aku mempunyai wajah yang pas-pasan tetapi setidaknya aku mempunyai suara yang lumayan untuk bernyanyi. Jadilah aku terpilih menjadi backing vocal dan akan sangat sibuk karena mempunyai jadwal latihan seminggu tiga kali bersama dengan pemusik dan MC pastinya.         Sedikit demi sedikit aku bisa menyibukkan diriku dan sejenak melupakan kegelisahanku pada … bahkan aku juga berhenti sejenak untuk tidak menonton Drama Koreaku, karena apabila aku menonton maka aku akan baper, kalau aku baper maka aku akan mengingat Mas Barra kembali. Maka aku mengambil keputusan untuk berhenti sejenak.         Hari ini hari kamis, dan merupakan jadwal latihan pertama kami. Kami sudah menetapkan jadwal latihan untuk di hari selasa, kamis, dan sabtu. Maka pukul enam sore kami akan bertemu di rumah salah satu teman kami yang merupakan seksi acara juga. Ia mempunyai studio music di rumahnya, karena abangnya adalah pemain band. Jadi kami diperbolehkan untuk menggunakannya, maka selama latihan kami akan berkumpul di rumahnya.         Saat kami sedang asyik membahas konsep acara sebelum memulai latihan, dua orang laki-laki datang menemui kami dan ternyata mereka dari fakultas lain yang akan menjadi pemusik dalam acara kami. Aku baru tahu bahwa kami meminta fakultas lain untuk membantu untuk mengiringi music katanya mereka lebih berbakat setidaknya sangat perlu mereka terlibat untuk menolong.         Ketika mereka datang barulah kami memulai latihan. Yang menjadi backing vocal ada empat orang, dan salah satunya termasuk aku. Selama dua jam kami latihan tanpa berhenti barulah kami menyelesaikan pertemuan pertama kami. Dua orang yang dari fakultas lain itu memang sangat banyak membantu dan mereka jauh lebih mengerti dari teman-temanku. Setidaknya sangat tertolong sekali, apabila tidak mungkin kami akan selesai lebih malam. Ini saja masih tiga lagu ternyata mendapat aransemen yang baik itu sangat sulit ya sesuai dengan diinginkan. “Ini Lo kelihatan capek banget.” Pria yang dari fakultas lain itu memberikanku botol minuman maka aku menerimanya dan tersenyum. “Gue Arvin. Nama Lo siapa?” “Aluna Kak.” “Gue yakin kita sebaya, gue semester empat. Lo juga kan?” Aku menganggukkan kepalaku. “Jadi jangan panggil gue Kak. Gue tahu kok kalau muka gue kelihatan tua.” Aku tertawa mendengar perkataannya. Satu yang bisa dinilai dia orang yang humoris, dari tadi ketika kami latihan dia juga yang membuat kami tertawa sehingga proses latihan kami sedikit mencair. “Guyss kita makan yuk laper nih. Kita nongkrong depan aja, lagian besokkan dosen pada rapat jadi kuliah masuk siang.” “Ayo, ayo gue lapar.” Akhirnya kami sepakat untuk pergi semua ke tempat tongkrongan fakultas kami untuk makan malam. Ketika di luar Arvin menghampiriku ketika ingin menstater motor maticku. “Sini gue yang bawain, biar Lo di bonceng aja. Dio Lo sendiri aja ya.” Arvin mengambil alih motorku jadilah dia yang mengendarai. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai sepuluh menit saja sudah sampai ke tempat tongkorngan kami.         Tiga jam lebih kami menghabiskan waktu di sana, dengan bernyanyi, bermain games, ngobrol, sampai bicarain dosen bahkan pemerintah semua kami lakukan. Sebenernya aku sudah gelisah ingin pulang, karena baru kali ini aku keluar rumah dan pulang semalam ini. Biasanya jam sembilan aku sudah pulang ini sampai jam sebelas malam dan aku belum pulang.         Tapi pada akhirnya teman-temanku yang lain sadar akhirnya kami pun bubar, tetapi sebelum itu kami membayar masing-masing pesanan kami. Setibanya di parkiran Arvin juga menemuiku. “Udah malam ga baik anak gadis pulang malam sendiri. Biar gue anterin.” “Gapapa aku bisa sendiri kok.” Aku memang tidak enak hati kalau  Arvin mengantarku pulang. “Udah jangan bandel Lo kenapa-kenapa kita juga disalahin.” Arvin mengambil kunci motor yang ada ditanganku dan mengeluarkannya. Dengan terpaksa akhirnya aku naik dalam boncengannya. Rumahku emang sedikit jauh jadi waktu yang ditempuh dua puluh menit di kota Malang cukup jauh, karena tidak ada macet dan sebagainya. “Makasih kamu udah nganterin aku pulang, Jadi kamu naik apa balik?” “Gampanglah, banyak ojek online gue bisa pesen. Udah buruan Lo masuk, angin malam ga baik. Lain kali bawa jaket.” Aku menganggukkan kepalaku. “Oke aku masuk dulu. Sekali lagi terimakasih dan hati-hati.”         Setelah mengatakan itu aku masuk ke dalam rumahku dan membersihkan diri. Selesai itu aku langsung tidur tanpa karena hari itu aku melalui banyak kegiatan membuatku sangat capek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD