Meriang

1001 Words
Lama Yanti berbaring dilantai setelah kena hajar Karta. Yanti masih saja terus menangis. “ibu... kenapa nasibku begitu sangat buruk, kenapa kau menikahkanku dengan laki laki seperti itu bu? Tanya yanti dalam isak tangisnya. Selesai menumpahkan semua kesedihannya Yanti bangkit menuju dapur dan berniat mengakhiri dirinya. Sambil tersengal sengal dipegangnya pisau dapur itu. Tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan tiba tiba merasukinya. “aku tak ingin mati. Lebih baik aku kabur.”ujarnya sambil membuat pisau itu jauh jauh. Diurungkannya niat bunuh diri tadi lalu kembali kekamar. Dibaringkannya tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa nyeri. Badannya menggigil. Ditariknya selimut hingga kekepalanya menutupi sekujur tubuhnya. Perutnya terasa nyeri sekali akibat kena hajar Karta. “jika aku pergi sekarang terlalu beresiko. Lagi pula jika aku pergi dengan tubuh sakit begini aku takkan mampu bertahan di dinginnya udara malam. Apa ku batalkan saja ya?” yanti bertanya sendiri. “bagaimana aku keluaar jika pintu terkunci dari luar. Ah.... bagaimana ini” Yanti jadi pusing sendiri. “lebih baik ku pejamkan saja mataku. Biar rasa sakit ini sedikit berkurang.”ujar Yanti lalu memejamkan matanya. Tengah malam, Yanti kembali terbangun. Tubuhnya tersa mengigil. Badanya sangat lemas. Yanti seolah merasa saat itu ajalnya sudah begitu dekat. “ibu badanku sangat  sangat tidak nyaman, semuanya sakit. Ibu siapa yang akan menolongku?” ujar Yanti terisak. Entah mengapa saat saat seperti ini Yanti selalu mengingat ibunya. Meski ibunya sering menyakiti, tetapi Yanti sungguh tak memiliki orang lain selain ibunya. Tadinya Yanti berpikir, Karta adalah tempatnya berlindung dan bersandar setelah jauh dari ibunya, tetapi Yanti salah besar. Karta hanyalah ancaman lain dalam hidupnya. Yanti kembali terisak isak, membuat dadanya terasa nyeri sekali. Matanya terasa panas karena terlalu sering menangis. “ibu maafkan Yanti ya bu, Yanti sangat merindukan ibu. Yanti tidak tahu harus seperti apa dan bagaimana.” Isak Yanti. Pagi belum juga datang, tetapi Yanti sepertinya tak tahan lagi. Di paksakannya tubuhnya untuk bangun dari tempat tidurnya. Terseok seok dan tertatih Yanti menuju dapur. Yanti mengambil air dan menyalakan kompor. Yanti berniat membuat air teh manis untuknya. Perlahan di hirupnya air teh yang masih hangat. Kehangatan menyusupi seluruh organ tubuhnya. Badannya terasa berkeringat. Dipaksakannya untuk makan sesuatu. Yanti membuka tudung saji di atas meja. Masih banyak makanan disana. Tetapi Yanti merasa tak berselera. Tergopoh Yanti membuka lemari, barangkali ada makanan di lemari pikirnya. “wah ada mi instan, sudah lama aku tak makan mi instan. Apa ada cabai ya?” yanti menggeledah isi lemari dan di temukannyayang dibutuhkannya.  Cabai rawit, sayur hijau, sebutir telur dan mi instan. Dimasaknya semua bahan makanan itu. Setelah matang dilahapnya dengan ganas semua mi instan itu. Keringat bercucuran di seluruh tubuhnya. Rasa dingin tadi sudah hilang. Tetapi badannya masih tak enak. Meski tak separah tadi. Yanti beranjak ke ruang depan. Yanti duduk di kursi sambil berselimut. Tak berniat kembali ke kemar Yanti pun memilih berbaris di kursi depan. “sunyi sekali hidupku. Apa selamanya aku akan begini? sendirian bahkan terkurung seperti ini? Aku ingin bebas, tidak seperti ini. Ah bagaiman caranya aku lari dari Karta. Apa Bi Jum mau membantuku? Jika aku pergi tanpa memberitahunya apakah Bi Jum akan mendapat masalah karenaku? Astaga kenapa semua jadi aneh begini. kenapa hidupku jadi serumit ini. Ah.....” Yanti mengusap wajahnya dengan kasar. Kepalanya tambah pusing. Matanya tambah tak bisa terpejam Tak ada suara apapun diluar. Hanya suara nyanyian jangkrik dan suara hewan malam lainnya yang terdengar menyanyikan lagu khas mereka. Membuat Yanti makin terhanyut dalam pikirannya yang sunyi. “apa aku berdosa jika aku pergi begitu saja dari rumah tanpa izin Karta ya? Bagaimana pun juga aku sudah menikah dengannya.”gumam Yanti sambil memijat kepalanya. “tunggu dulu,”Yanti langsung duduk. “aku sudah meniikah dengan Karta, tetapi kenapa ayahku tidak ada saat aku menikah, apa dia sudah merestuiku? Apa ibu sudah memberitahunya? Heiii... apa pernikahan ini sah? Bukankah kata Rahsya, temanku yang mengaji jika menikah harus ada ayah? Dan juga akan dapat buku nikah. Kenapa aku tidak keduanya? Apa ini bukan pernikahan?” begitu banyak pertanyaan terlontar di mulut Yanti. Kepalanya makin pusing berdenyut denyut. Yanti pun pasrah pertanyaannya tak ada yang terjawab. Yanti lebih memilih mengistirahatkan pikirannya. Ditunggunya Bi Jum datang, siapa tahu jika nanti Bi Jum datang ia bisa bertanya padanya. Agar pertanyaan di kepalanya bisa terjawabkan. Hari mulai terang dan Bi Jum belum datang. Yanti merasa gelisah. Kantuk bahkan lebih dulu datang daripada Bi Jum yang datang. Yanti pun menarik selimutnya dan berbaring di kursi depan tadi. Mulutnya terus menguap. Perlahan dan pasti mata Yanti pun kembali terpejam. Sedang asyik terlelap tiba tiba saja, Yanti merasa tubuhnya kembali kedinginana. Yanti merasa sedang berada didalam bak berisi air dingin. Giginya sampai bergemerutuk kedinginan. Bibirnya bahkan terasa membiru. Tubuhnya sudah dingin seperti es. “oh Tuhan, kenapa tubuhku begini lagi? Bukankah tadi aku sudah lebih baik. Kenapa aku meras kedinginan lagi?” batin Yanti. Meski merasa kedinginan, mata Yanti masih terpejam. Matanya terasa sangat berat sekali. Kepalanya bahkan masih pusing. Yanti pun memilih memejamkan matanya meski udara sangat dingin. “no... non... bangun non... kenapa badannya basah semua?” nteriak Bi Jum mengagetkan Yanti. Mata Yanti membuka. Dilihatnya sekeliling. Ia masih ada di depan dan masih menggunakan selimur. Tetapi tubuhnya basah, bahkan selimutnya, rambut, sampai kursi itu ikutan basah. “apa dari tadi hujan bi?” tanya Yanti polos. Bi Jum hanya menggeleng. “non bisa bangun? Hayuk kita ke kamar mengganti baju.” Bi jum memapah Yanti masuk ke kamar. Di bantunya Yanti berganti pakaian. Bahkan di tutupinya tubuhnya Yanti yang masih dingin dengan selimut. “non kenapa bisa bash kuyup begini non?” bi Jum bertanya sambil menggosok minyak kayu putih ke kaki dan tangan Yanti. Raut wajahnya begitu khawatir. “tidak tahu Bi... rasanya tadi Yanti hanya tidur, tidak sadar kenap bisa begini. semalam Yanti rasanya demam bi. Mangkanya tidur diluar.” “non demam? Waduh bagaiman ini? Apa kita pergi saja? Atau bibi ajak Mantri kesini? Tapi jika Karta sampai tahu, bagaimana ya?” bi Jum menyerocos sendirian. Ia bahkan kebingungan harus bagaimana. “saya nggak apa Bi. Saya mau tidur lagi saja. Kalau bibi bisa tolong carikan obat demam, rasanya Yanti masih meriang bi. Badannya nggak enak semua begini.” ujar Yanti sambil memejamkan matanya. “iya non, nanti bibi carikan. Non istirahat dulu ya.” Ujar Bi Jum sambil keluar dari kamar Yanti. Bi Jum ke dapur lalu memasak air panas untuk membuat teh. Di biarkannya sangat panas agar ketika bangun mungkin masih hangat. Setelahnya Bi Jum bergegas ke desa membeli obat dan beberapa bahan untuk jaga jaga jika Yanti demam lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD