Siksaan lagi

1423 Words
Pagi berikutnya, Yanti kembali bangun lebih pagi. Ia memang sengaja menunngu Bik Jum datang. Pukul lima empat puluh lima menit pintu pun terbuka. Benar saja, bik Jum yang datang. Yanti yang sedari tadi duduk di kursi depan pun segera bangkit menyambutnya. “bibi sudah datang?” tanyanya sumbringah. “iya non, non sudah mandi?” jawab bi Jum sambil mengeluarkan sayuran dan ikan yang dibawanya. “belum bi, dingin sekali rasanya.” Jawab Yanti sambil membawa bawaan Bi Jum. Ada banyak buahan dan beberapa potong pakaian yang dibawa bi Jum. Yanti dengan antusias ikut mengeluarkan bawaan Bi JUM. “ini buat non, kemarin saya membelinya.” BI Jum menyerahkan sebuah baju berwarna merah muda yang dibelinya. “bibi dari pasar? Kenapa tak mengajakku bi? Aku ingin sekali tahu daerah ini. Pasarnya jauh bi?” cerocos Yanti tanpa henti. “maaf ya non. Bibi nggak bisa ajak non.” “kenapa bi? Kenapa saya harus dikurung begini? saya juga nggak kan kemana mana bi. Emang Karta dari bilang apa bi? Saya nggak boleh keluar kenapa bi?” Bi Jum hanya terdiam dan menggeleng lalu meninggalkan Yanti yang masih memegang baju pemberian Bi Jum. “kalau non mau keliling silahkan, tapi tolong jangan lama lama ya non. Bibi takut Pak Karta kemari.” Ujar Bi Jum lalu kembali ke kesibukannya. Yanti hanya terdiam, rasanya ingin sekali keluar tetapi rasanya masih ingin berbicara pada bi Jum. “bi.. kalau boleh Yanti mau dibelikan barang barang boleh bi?” tanya Yanti. “boleh non, mau beli apa?” ujar Bi Jum “bibi bisa menjahit? Yanti pengen bisa menjahit bi.” Ujar Yanti tersenyum “ Yanti bosan nggak ngapa ngapain. Kalau pintunya terbuka Yantikan bisa bercocok tanam, Yanti bisa menanam bunga atau sayuran. Yanti biasa mengolah tanah. Tapi Yanti tidak boleh keluar.” Ujar Yanti sedih. Bi Jum hanya tersenyum, “maaf ya non. Bibi bisa menjahit non. Kalau belajar masak non mau?” tanya Bi Jum sambil mengusap lembut kepala Yanti. “iya Yanti mau bi.” Yanti tersenyum kegiranagn. “ya udah, non jadi mau pergi tidak?” “iya bik. Mau.” “tapi inget non jangan jauh jauh apalagi lama lama. Pake kayak kemaren jaket sama penutup kepala dan wajah ya non.” Pesan bi Jum. “siap bik.” Yanti mengangkat tangannya tanda hormat. Bi Jum hanya tertawa melihat tingkahnya. Yanti pun segera bersiap dan keluar. Dinikmatinya waktunya sendiri. Menyenangkan sekali rasanya bisa berkeliling. Kali ini Yanti berjalan lebih cepat bahkan lebih jauh. Yanti melihat banyak hal. Didepannya sudah terlihat aliran sungai. Dengan perlahan Yanti melewati sungai yang dangkal itu. Airnya sangat dingin. Sebenarnya ada sebuah jembatan tak jauh dari tempat Yanti menyebrrang. Tetapi nampaknya Yanti tak melihatnya. Setelah sampai kesebrang Yanti melihat hamparan sawah yang hijau. Banyak petani yang sudah kesawah. Melewati persawahan suasana makin ramai. Tak jauh dari sana ada sebuah pasar pagi. “apa disana Bi Jum belanja tadi ya?” batinnya sambil mendekati kerumunan orang yang sibuk berjualan dan membeli barang. Yanti nampak riang melihat banyak orang disana. Pasar pagi banyak menjual kue kue dan sayuran. Ada juga yang menjual pakaian. Tetapi lebih banyak penjual sayur dan makanan. Banyak anak anak yang berkerumun didekat tukang mainan. Yanti mendekatinya, banyak barang lucu lucu disana. Yanti ikut memilih mainan. Jiwa anak anaknya keluar. Tersadar tak membawa uang Yanti pun memilih pergi dan melanjutkan berkeliling. Tak jauh dari pasar nampak permukiman warga, tak terlalu padat tetapi sudah banyak. Iru rumah cukup permanent bukan gubuk Yanti. Meski gubuk Yanti sudah berlantai semen dan berdinding papan, permukiman yang Yanti lihat adalah perumahan permanen dari batu bata. Bahkan Yanti melihat sekolah didekat permukiman itu, “barangkali Bi Jum tinggal didekat sini.” Ujar Yanti seorang diri. Kakinya terus melangkah maju. Tak sadar hari sudah makin siang. Yanti bahkan lupa janjinya paad Bi Jum. Sementara Bi Jum sudah khawatir kemana Yanti yang sudah siang belum pulang. Bi Jum takut jika Yanti terlihat berkeliaran dijalan oleh Karta atau orang orang Karta. “keman si Yanti? Kenapa lama sekali?” ujarnya cemas “apa terjadi sesuatu?” bi Jum mengoceh sendiri sambil mengintip dari jendela. Tak berapa lama kemudian, Yanti pun pulang. Lega rasanya Bi Jum melihat kepulangan Yanti. “non darimana? Kenapa lama? Apa ketemu orang non.” Cerocoh Bi Jum. Yanti hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “bibi udah makan bi?” kita makan sama sama aja ya” ajak Yanti pada Bi Jum. Bi Jum pun mengikuti Yanti yang melangkah ke meja makan. Yanti menyiapkan dua buah piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk yang sudah dimasak bi Jum. Mereka makan bersama dan makan dengan lahap. Selesai makan Bi Jum membereskan piring piringnya lalu kembali ke meja makan bersama. “bi rumah bibi dimana?” tanya Yanti meberanikan diri bertanya. “kenapa non? Rumah bibi disebelah sana.” Ujar bi Jum menunjuk kearah kanan. Yanti mengerti barangkali rumah Bi Jum di pedesaan yang Yanti lewati tadi. Yanti tak bertanya lagi dan hanya terdiam sambil meminum teh hangatnya yang sudah disiapkan BI jum. “non mau nitip apalagi? Bibi sudah mau pulang sekarang?” tanya Bi Jum. Yanti menggeleng kemudian menghabiskan tehnya. Bi Jum merasa heran kenapa Yanti menjadi diam dan tak bersemangat seperti itu. Tetapi hari sudah sangat terang, Bi Jum harus melanjutkan pekerjaannya yang lain. “baiklah kalu begitu bibi permisi non, bibi harus melanjutkan kerja yang lain. Bibi permisi.” Bi Jum berpamitan lalu melangkah pergi keluar tak lupa mengunci pintu. Yanti tak juga bergeming dari tempatnya, Yanti mengingat kembali kejadian tadi, dilihatnya Karta sedang mengendarai mobilnya lalu duduk seorang wanita disampingnya. Mereka nampak mesra dan serasi sekali. Tak ayal Yanti menduka mereka pasti memiliki hubungan. “apakah mereka sudah menikah? Atau mereka berpacaran? Atau sebenarnya akulah yang sudah merusak pernikahan mereka?” begitu banyak pertanyaan menari nari di kepala Yanti. Dadanya terasa sesak dan panas. Sejujurnya tadi Yanti ingin bertanya pad Bi Jum. Hanya bertanya. Tak lebih. Meski bagaimana pun juga, Yaanti tak ingin menjadi perusak kebahagian orang lain. Toh setahu Yanti Karta tak punya istri dan seorang duda. Yanti hanya ingin memastikan jika Ia bukan pelakor. Meskipun ia dan Karta jalan bersama takkan ada yang percaya atau menyadari jika mereka suami istri toh mereka nampak yah dan anak. Jika dibandingkan wanoita tadi maka wanita tadilah yang lebih cocok sebagai istrinya Karta. Yanti merasa sangat sakit sekali. “mungkin benar wanita tadi istrinya, karena itu Karta tak pernah kemari. Lantas mengapa Karta menikahoi anak kecil sepertiku? Ada apa sebenarnya.” Yanti benar benar pusing dan capek berpikir. Dilangkahkannya kakinya menuju kamar mandi. Dinginnya air membuat pikirannya lebih fresh dan tenang. Baru saja melangkah kaki keluar kamar mandi, yanti melihat Karta membuka pintu dan masuk. “kau sudah datang? Apa mau kubuatkan kopi?” tanya Yanti sewajar mungkin. Melihat wajah Yanti, bukannya menjawab pertanyaan Yanti, Karta malah mendekat dan menampar keras pipi Yanti. “plaaaak” darah segar mengalir dari ujung bibirnya. “aw...kenapa kau menamparku?” ujar Yanti penasaran. “apa aku melakukan kesalahan hingga kau memukulku begini? bukankah aku hanya menawarimu kopi?” ujar Yanti setengah berteriak. “oooh... Sudah berani kau rupanya ya? kemari kau” ditariknya lengan Yanti lalu di bawanya kembali kekamar mandi. Diambilnya gayung lalu disiramnya kepala Yanti. Yanti tak bereaksi apapun. Melihat itu Karta malah beringas. “kau berani menjawab, bahkan berani keluar rumah? Bagaimana kau melakukannya? Apa kau mengecoh bibi Jum? Atau kau sudah bekerja sama dengannya? Ha? Jawab!” karta menendang kaki Yanti. Yanti hanya terdiam. “bagaiman Karta mengetahuinya? Bukankah Ia tadi tak melihatku? Apa ada yang memberitahunya?” batin Yanti bertanya tanya. Melihat Yanti hanya terdiam, Karta malah memukul kepala dan b****g Yanti dengan gayung. Tak hanya disitu kepala Yanti juga dihantukkannya kedinding kamar mandi. Darah segar kembali mengalir dari pelipis Yanti. “jangan sampai kau keluar lagi, jika Ia akan ku jadikan kau makanan anjing. Kau dengar?” teriak Karta keluar dari kamar mandi. “dasar tak berguna. Sudah diberi makan di beri tempat tinggal malah mau kabur. Apa tidak cukup kau ku beri tempat tinggal?” ujar Karta sambil menghisap rokoknya. “aku bosan dirumah saja. “jawab Yanti santai. Kali ini Ia akan menggali dan mencari tahu kenapa Ia harus dikurung segalanseperti tawanan. “bosan kau bilang? Tidur saja sana. Bukankah enak bisa tidur seharian.” Ujar Karta setengah berteriak. “setidaknya janagn kunci pintu, aku hanya melihat lihat sekeliling. Apa yang sebenarnya kau takuti hingga aku tak boleh keluar. Apa kau takut istrimu tahu kau sudah menikahiku?” tanya Yanti. “plaaaaakkkkkk....” Karta kembali menampar Yanti. Dan “bug... bug...”perut Yanti [pun di tendangnya. “aku tak suka kau banyak tanya dan bicara.”ujarnya duduk kembali. Tak dihiraukannya keadaaan Yanti. “aku tak punya istri, kau pasti melihat Mira bukan? Dia wanita penghibur. Aku sudah berkali kali menikah dan tak ada yang menyenangkanku. Karena itu aku menikahi wanita dibawah umur seperti kau. Ku pikir kau akan lebih mudah diatur.” Ujar Karta datar sambil menghisap rokoknya. “wanita mana yang akan betah jika kau pukul dan kau kurung begini. apa kau memperlakukan mantan istrimu sepeerti ini juga? Pantas saja.” Yanti menjawab dengan mencibir. “mulutmu mau kusumpel rupanya. Berani sekali kau mengajariku.” Didekatinya Yanti dan tamparan, tendangan menjadi hadiah untuk Yanti. Yanti memang sudah sangat kesal dengan Karta yang mengurungnya. Padahal saat ia melihat Karta datang tadi Ia ingin memulai kembali dengan baik baik. Ternyata Yanti keliru. Karta memang menyebalkan, bathin Yanti. Selesai menghajar Yanti, karta pun keluar dan mengunci pintu kembali. Tinggallah Yanti seorang diri didalam gubuk itu dengan ditemani air matanya sendiri.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD