Agatha duduk menghadap Andriel yang sedang menggambar sesuatu, saat Agatha ingin melihat Andriel langsung menutupinya dengan buku.
Agatha memicingkan mata sambil menyandarkan tubuh ke dinding.
"Kamu punya handphone gak?"
Pertanyaan Agatha membuat Andriel menoleh namun tidak mengeluarkan suara.
"Atau jangan-jangan kamu gak tau apa itu handphone, iya?"
"Hari ini aku mau bikin donat kentang nya, kamu gak perlu dateng ke rumah aku karena aku gak boleh bawa cowok ke rumah. Walaupun aku kerja sendirian aku pengen kamu ikutan kerja ngasih saran toping donat nya gimana, bukan cuma kali ini aja kita satu kelompok tapi dipelajaran lain kita juga satu kelompok. Kita butuh komunikasi,"
"Gak punya,"
"Oh gak punya handphone?"
Andriel menggeleng.
"Beli dong, kamu punya mobil masa gak punya handphone."
"Gak tau beli dimana,"
Agatha berdecih pelan.
"Kamu tau mall yang kita datengi kemaren? Di sana banyak toko-toko yang jual handphone, beli di sana."
Andriel diam.
"Denger apa yang aku bilang gak?" Tanya Agatha sambil menyentuh lengan Andriel dengan telunjuk.
Andriel mengangguk.
Agatha merobek kertas buku Andriel dengan asal lalu merampas pulpen laki-laki itu untuk menuliskan sesuatu di kertas yang sudah ia robek.
"Nanti sore kamu harus udah punya handphone ya. Terus ini id line aku, ntar langsung kamu add."
Andriel menerima robekan kertas yang Agatha sodorkan dan menyimpannya di saku seragam.
"Tapi kamu tau aplikasi line gak? Tau gak gimana cara pake aplikasinya?"
"Terus kamu punya uang gak untuk beli handphone nanti?"
"Punya,"
"Harga handphone sekarang mahal," Agatha mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya pada Andriel.
"Handphone aku aja harganya dua puluh juta tapi bagus sih, aku gak minta dibeliin ini. Papi aku yang beliin karena waktu itu aku dapet satu umum di sekolah."
Andriel memperhatikan ponsel Agatha dalam diam.
"Beneran punya uang?"
Andriel mengangguk.
Agatha menopang pipinya, "dapet uang dari mana kamu?"
Andriel mengalihkan tatapannya pada pensil.
"Aku kepo banget sama kehidupan kamu, kamu masih tetep jadi hantu apa sekarang udah jadi manusia?"
"Menurutmu?"
Agatha tampak berpikir.
"Yang jadi pertanyaan aku, dari mana kamu dapet terus punya uang?"
"Kamu ngepet? Apa pake pesugihan segala? Apa kamu nyuruh temen-temen kamu?"
Andriel tampak bingung.
"Tuyul," kata Agatha.
"Lho-lho, kok kamu malah pergi sih?" Tanya Agatha pada Andriel yang langsung beranjak dari tempat duduk.
"Lo nanya sama siapa Tha?"
Agatha menatap teman sekelasnya yang sedang makan.
"Haa?" Mendengar pertanyaan temannya Agatha terkejut.
"Nanya sama siapa?"
"Itu, sama... Sama Putri." Agatha tersenyum lebar saat menyebut nama Putri.
"Tadi kamu liat aku ngomong sama Andriel?" Agatha menunjuk bangku milik Andriel.
"Liat, terus dia kemana?"
Agatha bernapas lega karena sejak tadi ia benar-benar berbicara pada Andriel.
"Keluar kayaknya, aku keluar dulu ya Mut." Agatha langsung beranjak dari tempat duduk berlari kecil menuju pintu kelas dengan perasaan sedikit kesal.
☁️
"Beneran gak mau Mami bantu?"
"Iya Mi gak usah biarin Atha sendiri yang buat, lagian kan ini tugas sekolah, tugasnya Atha."
Agatha tengah sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat donat kentang di mini bar.
"Mami jadi juri aja ya, nanti Mami cicipi donat buatan Atha."
"Ya udah Mami keluar bentar ya,"
Agatha mengangguk.
Saat sedang sibuk menyiapkan bahan-bahan untuk membuat donat ponsel Agatha berbunyi tanda ada pesan masuk.
Agatha mengambil ponselnya dan mengerenyit melihat isi pesan yang baru saja masuk. Siku Agatha bertumbuh pada mini bar sambil menopang dagunya.
"Ya ampun dia beneran beli handphone." Ucap Agatha setelah melihat nama yang tertera.
Andriel
.
16.00
Begitulah isi pesan dari Andriel.
Hanya berisi satu titik tanpa ada satu huruf pun yang menemani.
Agatha duduk sambil menuliskan sesuatu untuk Andriel.
Aku udah mau bikin donat nya, kira-kira toping yang bagus itu gimana?
16.05
Terserah
16.05
Coklat? Di atasnya pake kacang? Atau ditaburi gula?
16.06
Terserah
16.06
Agatha menghela napas sambil mengelus dadanya melihat balasan Andriel.
Jangan terserah gitu ngomongnya! Kasih saran dong.
16.08
Saran aku
Terserah kamu
16.08
Aku beneran gak suka sama balesan kamu, keliatan banget kamu hantu nya. Dingin.
16.08
Terserah
16.09
LIAT AJA BESOK DI SEKOLAH GAK AKU KASIH KAMU DONAT NYA!
16.09
Terserah
16.09
Agatha menaruh ponselnya dengan kesal, cukup lama Agatha memperhatikan ponsel tersebut barulah ia mulai membuat donat.
☁️
Agatha masuk ke dalam kelas dengan wajah yang sumringah sambil memegang kotak makanan yang berisikan donat.
"Yang mau donat nya ini ya, tapi kecil-kecil biar pada kebagian. Kalo yang besar-besar tadi untuk guru," Agatha meletakkan kotak makanan di meja tepat di depan Andriel.
Seisi kelas langsung berebut mengambil donat yang sudah Agatha sediakan.
Agatha menatap Andriel yang terlihat risih karena banyak dari mereka yang menempel pada tubuhnya, khususnya murid perempuan.
Saat donat nya tersisa dua Agatha langsung menutup kotak makan tersebut.
"Yaah Tha," keluh laki-laki yang ingin mengambil donat tadi.
"Kamu udah makan donat nya, ini untuk aku."
Agatha duduk menaruh kedua tangannya di atas kotak makanan menunggu teman-temannya pergi keluar karena bel istirahat sudah berbunyi.
"Mau gak?" Agatha menyodorkan kotak makanan pada Andriel saat kelas sudah sepi.
Andriel menggeleng.
"Aku gak maksa kamu untuk ngasih tau aku siapa kamu sebenernya, oke aku bakal sabar sampe umur aku 17 tapi boleh aku nanya?"
"Apa?"
"Kamu itu sebenernya makan minum gak sih?"
Andriel mengangguk.
"Tapi kenapa aku gak pernah liat kamu ma..." Mulut Agatha terbuka lebar ketika melihat Andriel memasukkan donat ke dalam mulutnya.
Cepat-cepat Agatha membuka kotak makan dimana donat yang tadinya tersisa dua kini hanya tinggal satu. Agatha kembali menatap Andriel yang sedang mengunyah donat yang ia buat.
Agatha terus memperhatikan Andriel dalam diam, rasa terkejutnya belum juga hilang.
"Tha,"
Mendengar namanya dipanggil Agatha langsung menoleh.
"Kantin?"
"Haa?"
"Kantin," ajak Gaga entah sejak kapan masuk ke dalam kelasnya.
"Oh, iya." Agatha mengangguk seraya menyimpan kotak makannya di laci.
Sebelum pergi bersama Agatha, Gaga menatap tidak suka Andriel yang sedang membaca buku.
☁️
Agatha tengah termenung di meja belajar sambil menopang dagu dan juga mengetuk-ngetukkan pulpen pada bukunya.
Saat ini Agatha sedang memikirkan Andriel.
Agatha membuka buku agenda menatap list yang ia buat khusus untuk mengetahui siapa Andriel sebenarnya.
Mata Agatha jatuh pada list nomor empat.
"Vampir, apa dia vampir?"
Agatha kembali menopang dagu.
"Bukannya vampir takut sama matahari? Perasaan Andriel gak papa kalo kena sinar matahari,"
Agatha menatap buku agenda nya, dengan sekali goresan Agatha mencoret nama vampir dari dalam list nya karena ia yakin jika Andriel bukanlah seorang vampir.
Agatha menutup buku agenda seraya menguap karena ia sudah mulai mengantuk. Sambil menguap Agatha balik badan dan langsung terkejut ketika melihat Andriel berdiri di belakangnya.
Agatha menutup mulut karena hampir saja ia berteriak.
"Ngapain di sini?"
"Udah dibilang tunggu 17 tahun,"
Agatha menatap buku agendanya lalu kembali menatap Andriel.
"Namanya juga orang penasaran, pasti terus penasaran sampe kapanpun."
"Udah kamu pergi atau ngilang sana. Aku mau tidur jangan ganggu aku," Agatha naik ke atas tempat tidur.
"Tidur sendirian?"
"Kayak yang kamu liat, gak ada siapa-siapa." Agatha menunjuk sisi kiri dan kanannya yang kosong.
"Gak takut diganggu?"
"Kan aku udah bilang sama kamu, jangan ganggu aku."
"Permintaannya gak kayak kemaren,"
"Jadi aku harus mohon-mohon banget kayak kemaren sambil nangis?"
Andriel diam.
Agatha menghela napas, selimut yang sudah menutupi sampai pinggang ia singkirkan kemudian berlutut di atas tempat tidur.
"Aku mohon, mohon banget. Kamu jangan ganggu aku karena aku mau tidur, aku udah ngantuk banget." Agatha memejamkan mata dengan kedua tangan yang ditangkup di depan d**a.
Saat Agatha membuka mata Andriel sudah menghilang dari hadapannya.
"Kamu gak bakal ganggu aku kan?"
Tidak ada jawaban, yang ada terdengar suara ponsel milik Agatha.
Agatha langsung membuka pesan dari Andriel yang hanya berisikan satu kata, tidak.
Agatha tersenyum senang lalu berbaring tanpa ada rasa takut sedikitpun.
☁️
"Kalo emang macetnya masih lama Atha mau naik ojek aja deh pak,"
"Jangan non, ntar saya dimarahin bapak lho."
Agatha menghela napas sambil menatap jam tangannya.
"Telfon aja guru les non Atha bilang sama gurunya kalo non Atha telat masuk,"
"Masih lama ya macetnya?"
"Gak tau juga non, katanya di depan ada perbaikan jalan."
Agatha mengangguk kecil.
"Ya udah deh Atha telfon guru les Atha dulu," Agatha mengeluarkan ponselnya dari tas ransel yang biasa ia pakai untuk pergi les.
Selesai menelepon guru les nya Agatha tidak langsung menyimpan ponselnya melainkan memainkannya sebentar. Sembari menunggu jalanan kemacetan usai, Agatha mengambil headset untuk menghilangkan rasa bosannya.
Agatha mulai bersenandung saat lagu yang ia putar sudah terdengar di telinga, Agatha bersenandung dengan mata yang tertuju pada jendela mobil.
Suara senandungan Agatha menghilang kala mata nya menangkap sosok laki-laki yang ia kenali tengah berjalan masuk ke dalam sebuah rumah sakit.
"Andriel." gumam Agatha sambil mencabut kedua headset dari telinganya.
Agatha mengerenyit bingung melihat Andriel masuk ke dalam rumah sakit membuatnya mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, untuk apa laki-laki itu datang ke sebuah rumah sakit?