Fuji memandang Aska yang berdiri di sampingnya sambil menengadah ke atas, menatap langit yang penuh bintang. Dia tidak tahu apa maksud dari perkataan Aska barusan. Tapi, sepertinya pria itu sedang galau. Dan ternyata memang benar, setelah dilihat-lihat dengan seksama, Aska itu cukup manis. Tolong digaris bawahi, ya, cukup doang, nggak lebih. Pantesan aja Kaila kayak cacing kepanasan kalau melihat Aska, ya ternyata dia memang lumayan. Lagi-lagi, tanpa sadar Fuji mengaguminya. “Kenapa lihatin saya kayak gitu? Nanti naksir saya nggak bisa tanggung jawab loh.” “Idih, siapa juga yang lihatin!” Fuji langsung buang muka. Aska tertawa. “Kamu ngapain kemarin nemuin Irene? Kamu bawa Kaila, ya? Kamu pasti cerita sesuatu sama dia.” Fuji gelagapan, bingung harus menjawab apa. Ini semua gara-gara K

