Chapter 7

1186 Words
“Fujita Naura!” Kaila mendadak berhenti dan menahan Fuji pada saat dia mendengar ada suara yang memanggil temannya itu. “Ji, lo dipanggil pak Aska tuh!” katanya, suprise. Fuji menoleh ke belakang tanpa minat. Dan dia lihat Aska sedang berjalan ke arahnya. “Mau ngapain tuh dia?” “Mana gue tau,” jawab Kaila. “Jangan-jangan, dia mau ngajak makan bareng, hihihi, asik.” “Apaan, sih, nggak mungkin.” Setelah Aska berhenti di hadapannya, pria berwajah tampan nan rupawan itu langsung menyodorkan selembar uang berwarna merah kepadanya, dan disaksikan oleh banyak orang yang kebetulan ada di sana. Fuji menatap uang itu, lalu mengangkat dagunya dan menatap Aska. “Itu apa, Pak?” “Nenek-nenek aja tahu kalau ini uang, masa kamu enggak?” Kaila sudah mau tertawa, tapi karena melihat mimik Fuji yang berubah masam, dia segera menutup mulutnya dengan tangannya. “Iya, saya tahu itu uang, tapi untuk apa?” “Untuk kamu.” “Hah? Atas dasar apa ya, Bapak kasih saya uang?” “Ini sebagai ucapan terima kasih saya atas jasa kamu tadi pagi sama saya.” Kaila refleks memelotot kaget mendengarnya, begitu juga dengan para mahasiswi yang ada di sana. “J-jasa?” tanya Fuji terbata. “Iya, saya nggak enak kalau gratis, jadi saya bayar aja.” Kaila menatap Fuji dengan tatapan tak percaya. “Santai aja kali, Pak, nggak usah dibayar. Saya ikhlas kok.” “Ambil aja nggak apa-apa.” Aska menyodorkan uang itu semakin dekat ke arah Fuji. Fuji mendengus. “Maaf, Pak, saya nggak bisa terima. Yuk, Kai!” Fuji lantas menarik Kaila membawanya pergi dari sana, meninggalkan Aska yang kemudian menghela napas melihat Fuji pergi begitu saja tanpa mau menerima uangnya. “Ji, lo open BO?” tanya Kaila setelah mereka tiba di kantin yang saat itu terbilang sepi. “Hah?” “Lo habis ngapain sama pak Aska? Katanya dia habis pakai jasa lo? Lo udah punya sambilan lain sekarang? Mau-maunya lo gratis! Kenapa nggak lo ambil aja uangnya!” Fuji langsung menoyor kepala Kaila dan tertawa. “Gila ya lo, Kai? Ya kali harga diri gue semurah itu!” “Jadi, enggak?” “Ya enggaklah! Walaupun sekarang ini endorse gue lagi sepi, bukan berarti gue mau jual diri. Lo kira gue nggak ingat dosa?” “Oooo, gitu. Gue kirain sekarang lo udah sesat. Memangnya lo habis ngapain sih sama pak Aska? Kok dia ngasih lo uang?” “Tadi pagi dia numpang mobil gue.” “Hah? Kok bisa?” “Ya bisalah, ban mobilnya gue kempesin.” “Hah?!” Kaila berseru kaget dan menutup mulutnya. Bukan hanya terkejut karena ucapan Fuji, tapi karena sekarang orang yang sedang mereka bicarakan berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang Fuji. “Bukannya untung, malah buntung. Eh, dianya malah numpang sama gue! Kesel tahu, nggak? Tapi, seru sih, gue seneng banget karena tadi gue nurunin dia di tengah jalan, hahaha. Kasian jadi jalan kaki. Lumayanlah capeknya sampai keringatan, hahahaha.” Kaila menendang kaki Fuji dan memberi kode padanya untuk melihat ke belakang. “Siapa? Alden?” Kaila menggeleng, masih sambil menutup mulutnya. Fuji merasakan ada hawa panas yang berhembus di lehernya. Sebelum dia menoleh ke belakang, dua buah lengan tangan tiba-tiba mengurungnya. “Jadi, ada udang di balik batu?” Suara itu terdengar mengerikan. Seperti datang dari alam barzah. Aska bicara sambil kedua tangannya bertopang pada meja tempat Fuji duduk. Fuji melipat bibirnya. Tak menyangka kalau Aska akan datang di saat yang tidak tepat, seolah membawa malapetaka di dalam hidupnya. “Saya nggak tahu apa alasan kamu melakukan itu sama saya. Tapi, sebaiknya mulai sekarang kamu berhati-hati, karena saya akan beri kamu hukuman.” Aska lalu menarik kedua tangannya dan menepuk-nepuk puncak kepala Fuji dengan pelan. “Anak baik.” Setelah mengatakan hal itu, Aska pun beranjak, membuat Fuji seketika mengembuskan napas lega. “Kok lo nggak bilang sih Kai kalau dia ada di sini?” “Gue juga baru sadar pas lo ngomong tadi!” Kaila tidak mau disalahkan sepenuhnya. “Kayaknya dia marah deh sama lo, Ji. Mampus lo, Ji! Mendingan sekarang lo sungkem deh sama dia daripada nanti diapa-apain.” “Memangnya dia mau apain gue? Berani dia sama gue? Dia nggak tahu gue siapa?” “Lah? Lo siapa emangnya? Anak presiden? Punya bodyguard aja kagak. Boro-boro bodyguard, pacar aja nggak punya.” “Lo tuh udah kayak haters gue aja deh, gilak! Bisa-bisanya lo ngomong hal sebener itu.” Kaila tertawa terbahak-bahak. “Makanya cari pawang deh, Ji. Daripada lo diapa-apain sama dia.” “No, no, no! Dia nggak kelihatan kayak orang jahat kok menurut gue. Nggak mungkinlah dia mau apa-apain gue.” “Tapi tadi dia bilang mau kasih lo hukuman, kan? Apa coba tuh?” Air muka Fuji berubah, menandakan kalau saat itu dia sedang diliputi rasa cemas. Apa yang Fuji lakukan, menurutnya hal itu belum keterlaluan. Jadi, seharusnya Aska tidak perlu semarah itu sama dia, bukan? “Lo nggak usah nakut-nakutin gue deh, Kai! Nyebelin banget,” kata Fuji dengan bibir cemberut. Kaila tergelak. “Gue ngomong gitu, biar lo hati-hati. Kan dia sendiri juga bilang kalau lo harus hati-hati. Gimana, sih….” Karena Fuji tidak merespon apa pun, akhirnya Kaila bicara lagi. “Mendingan lo minta maaf deh sekarang, sebelum terlambat.” “Ini tuh bukan masalah besar lo, Kaila! Gue cuma ngempesin ban mobilnya dia, nurunin dia di tengah jalan. Gue nggak melecehkan dia. Kenapa gue harus minta maaf?” “Nah, ini! Ini yang gue nggak suka sama lo dari dulu. Lo itu ya, Ji, kalau udah ngelakuin kesalahan, nggak pernah merasa lo itu salah. Kenapa, sih? Susah ya buat tahu diri?” Fuji mendengus. “Gimana caranya? Gue nggak pernah minta maaf kalau nggak salah.” “Sejak kapan lo ngerasa salah? Kapaaan?” “Nggak usah somasi gitu deh.” “Emosi anjir!” “Whatever.” Kaila menghela napas. “Lo pergi sekarang temuin dia terus bilang maaf.” Fuji mendesah. “Harga diri gue hancur berkeping-keping.” Oke, Kaila capek. Percuma. “Oke, orang goodlooking itu emang nggak pernah salah. Terserah lo deh, gue nggak mau es campur.” “Ikut campur, cetan.” “Lo yang cetan.” Kaila mendelik sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi, meninggalkan Fuji yang kemudian mengedikkan bahunya acuh tak acuh. *** Entah kenapa, sejak terciduk tadi, setiap kali Fuji melihat Aska di kampus, dia jadi ketar-ketir. Takut kalau Aska melakukan sesuatu padanya. Apalagi kalau Aska sudah menatapnya, Fuji merasa ubun-ubunnya mulai tersedot. Apa benar hal sepele bisa membuatnya semarah itu? Baper banget jadi orang. Fuji terkejut bukan main sewaktu Aska menyerahkan tiga buah buku besar padanya sambil bilang, “Baca! Saya mau besok kamu presentasi materi ini di kelas.” “Hah?” Aska tersenyum lebar. “Semangat!” katanya sambil mengepalkan tangan kanannya. “Ta-tapi, i-ini gimana, sih, maksudnya apa, sih?” Aska tidak menggubris. Dia justru melenggang pergi meninggalkan Fuji yang masih terbengong-bengong. “Jangan bilang ini hukuman buat gue?” Fuji menggelengkan kepalanya tak percaya. “Kok tega banget, sih? Apa dia nggak tahu kalau otak gue itu udah kering? Tandus! Gersang?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD