Fuji sudah berusaha keras untuk mencoba menghapal materi yang diberikan Aska padanya. Tapi, kenapa sampai menjelang larut malam ini, dia tidak bisa melakukannya? Rasanya seperti mencari kitab suci. Fuji tidak tahu apa yang harus disampaikannya besok di depan semua temannya di kelas. Bisa dibayangkan kalau besok semua orang akan menertawakan kebodohannya. Rasanya dia sudah mau gila sekarang. Kasihan otaknya, pasti capek banget.
“Nggak, nggak bisa! Gue nggak bisa kayak gini! Lama-lama gue gila!” Fuji mengambil hoodie-nya, memakainya lalu keluar dari unitnya. Ditekannya tombol berwarna hitam di sisi pintu unit Aska dengan tak sabar.
Beberapa detik kemudian, sosok Aska dengan sejuta pesonanya muncul. Diliriknya Fuji yang saat itu sedang cemberut, dan bertanya, “Ada apa? Ini sudah larut malam, kenapa ke sini?”
Fuji menerobos masuk begitu saja dengan kedua tangan melipat di depan dadanya.
Aska yang melihat Fuji masuk ke unitnya, seketika diserang rasa panik. “Maaf, bisa keluar sekarang?”
Fuji mendelik malas. “Nanti aja ngusirnya, gue mau ngomong.”
“Kita bisa bicara di luar.”
“Kenapa, sih?”
“Saya nggak mau para tetangga lihat kamu ada di sini. Apa kata mereka nanti melihat kita berdua-duaan malam-malam begini?”
“Siapa bilang berdua? Di sini ada setannya kok, cuma nggak kelihatan aja. Lagian tinggal tutup pintu doang apa susahnya, sih,” jawab Fuji asal. “Orang-orang di sini juga nggak mau ngurusin hidup orang.”
Aska mendengus pasrah. “Kamu mau ngomong apa?”
“Oke, gini. Gue nggak bisa ngelakuin itu.”
Aska mengangkat alisnya. “Hm?”
“Gue nggak bisa menghapal semua materi yang lo kasih ke gue.”
“Kenapa?”
“Ya, gue nggak bisa aja. Daripada besok gue malu-maluin diri gue sendiri di depan semua orang, mendingan kasih gue hukuman yang lain.”
“Jadi, kamu nggak mampu? Apa benar kamu setidakpintar itu?”
Tumben dia sopan, batin Fuji.
“Iya, itu valid, sih. Waktu anak-anak lain umur satu tahun udah bisa lari-lari, gue masih ngesot. Gue emang selalu ketinggalan. Jadi, tolong, jangan permalukan gue seperti itu.”
Aska tersenyum penuh arti. “Kepintaran itu bukan takdir yang mutlak. Orang bodoh kalau mau pintar, harus belajar. Orang miskin kalau mau kaya, harus kerja.”
Baru saja dibilang sopan, dia mulai lagi, dengan kata-katanya yang membuat Fuji naik darah. Meskipun itu benar, tapi rasanya itu menyakitkan.
“Iya, tapi otak gue itu udah kering, nggak bisa mikir yang berat-berat lagi.”
“Kok bisa kering, sering dijemur?”
Fuji mendengus. “Apa yang harus saya lakukan, agar Bapak menarik hukuman terhadap saya. Saya udah berusaha keras buat belajar, tapi saya rasanya sudah mau gila.”
Mungkin dengan bicara sopan Aska akan luluh. Tapi, ternyata...
Aska melipat tangannya di depan d**a. “Jadi, kemampuan kamu apa? Joget-joget nggak jelas di depan kamera?”
“Kayaknya Bapak nggak pernah ya seneng-seneng gitu kayak manusia pada umumnya? Hepi gitu sama hal-hal kecil? Punya masalah hidup apa, sih? Hidup jangan kaku-kaku bangetlah, Pak, dinikmati aja. Nggak usah ngeledek kebahagiaan orang lain.”
Aska menatap wajah Fuji lama-lama kemudian berkata, “Ini sudah malam, saya mau tidur.”
“Jadi, beneran nggak bisa dibatalin hukumannya? Mendingan suruh saya ngapain kek daripada suruh presentasi.” Fuji masih saja bersikeras meminta Aska untuk menarik hukumannya.
“Tujuan kamu kuliah itu apa sebenarnya? Orangtua kamu pasti mau kamu jadi seseorang yang bener, jadi kenapa nggak mau berusaha untuk lebih pintar sedikit?”
“Maksud Bapak saya orang nggak bener?”
“Saya bukan bapak kamu.”
“Maksud lo, gue orang nggak bener?"
“Tolong jangan buang waktu saya. Saya butuh istirahat yang cukup.”
Fuji mendengus pasrah. Ternyata di muka bumi ini ada orang yang lebih keras kepala dari dirinya. Dan bisa-bisanya dia harus berurusan dengan orang seperti itu. Menyebalkan.
Baru saja Fuji melangkah menuju pintu, dia mendengar Aska bicara, “Susah ya, buat minta maaf?”
“Hah?”
“Kamu tahu kamu salah, tapi kamu sama sekali nggak mau minta maaf atas perbuatan kamu tadi pagi ke saya.”
“Setidaknya gue kasih lo tumpangan. Anggap aja deal gitu, nggak bisa?”
Aska tertawa mendengus. “Besok jangan lupa presentasinya. Selamat malam.”
Fuji menarik pintu kemudian berjalan keluar dengan kaki menghentak-hentak ke lantai dengan kuat. Setelah pintu menutup, Fuji langsung melompat-lompat sambil melakukan gerakan muay thai.
“Iiiih, nyebeliiin banget sih jadi orang!” ujarnya sambil menunjuk-nunjuk pintu unit Aska.
Fuji tidak tahu, kalau saat itu, Aska sejak tadi memperhatikan kelakuannya dari CCTV yang ada di sisi pintu.
“Dasar, cewek aneh,” gumamnya sebelum kemudian tertawa kecil.
***
Keesokan harinya, pada saat Aska tiba di basemen, dia melihat kalau mobil Fuji masih ada di sana. Dia lalu bersandar di kap mobil dan melihat jam tangannya berkali-kali. Sudah lewat lima menit tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Fuji di sana. Tak mau ambil pusing, Aska masuk ke mobilnya kemudian pergi dari sana.
“Selamat pagi,” sapa Aska pada seisi kelas. Pandangannya langsung tertuju pada kursi kosong tepat di samping Kaila. “Apa ada yang nggak datang hari ini?”
Kaila mengangkat tangannya. “Ada, Pak. Fuji katanya lagi sakit, Pak.”
Aska tersenyum. “Oh, oke, belum apa-apa dia sudah demam panggung.”
Seisi kelas saling berpandangan, tak mengerti dengan maksud ucapan Aska, kecuali Kaila. Dia sudah mendengar kalau Aska meminta Fuji untuk melakukan presentasi hari ini. Pasti semalaman sahabatnya itu berusaha keras untuk belajar, tapi kasihan otaknya yang malang, tidak bisa lagi bekerja dengan baik. Isinya sudah penuh dengan endorse, drakor dan musik toktok. Memorinya penuh, jadi Fuji tidak boleh lagi over thinking.
Pulang ngampus nanti, sebaiknya Kaila ke rumahnya untuk menghiburnya. Jika dibiarkan sendiri menghadapi musibah ini, dia takut Fuji jadi gila.
***
Sementara itu, pada waktu yang sama, Fuji baru saja keluar dari selimutnya dengan tubuh lemah. Energinya habis dan dia harus me-recharge kembali otaknya. Bagaimana bisa belajar rasanya seperti mau mati.
“Mau nyumpahin dia, takut doanya balik ke gue,” ucapnya setiap kali wajah Aska melintas di kepalanya.
Ketika menatap cermin, Fuji tiba-tiba termenung lama.
Apa benar dia sebodoh itu? Setiap kali Fuji membaca kata demi kata di buku itu, rasanya seperti dirukyah.
Fuji mendelik. “Biar aja oon yang penting good looking.”
***