Chapter 9

2347 Words
Aska berjalan menuju lift sambil melirik jam tangannya. Tanpa dia sadari, ada Kaila yang sejak tadi memperhatikannya diam-diam dari belakang. Tapi, setelah pintu lift terbuka dan keduanya masuk, barulah Aska menyadari kalau ada Kaila di dekatnya. “Siang, Pak,” sapa Kaila dan cengegesan. “Siang,” jawab Aska dan tersenyum singkat. Dia tidak tahu kalau senyumannya itu justru membuat Kaila jadi tremor. “Saya Kaila, Pak,” ucap Kaila lagi, masih dengan senyum lebar. Aska menatap wajahnya selama satu detik. “Iya, saya tahu. Temennya Fuji, kan?” Kaila mengangguk. “Hehehe, iya, Pak.” “Kamu mau jenguk dia?” “Iya, Pak, kasihan soalnya dia tinggal sendirian.” “Memangnya dia nggak ada keluarga yang tinggal dekat-dekat sini?” “Enggak ada, Pak. Fuji di sini sendirian, jadi kalau ada apa-apa, cuma saya yang ada buat dia, hehehe.” Aska mengangguk. “Bagus, teman yang baik.” “Hehehe.” Pintu lift membuka dan Aska langsung keluar. Kaila mengikutinya tapi matanya tak lepas dari punggung, pinggang, dan pinggul Aska yang berjalan di depannya. Jantung berdebar dan darah yang berdesir membuat otak Kaila mulai tercemar. Bagaimana bisa ada cowok sesempurna itu, sih? Apa dia sudah punya pacar? Kaila pun tak hentinya bertanya-tanya tentang Aska di dalam hatinya. Sosok dosen muda itu memang sudah menjadi buah bibir di antara teman-teman kampusnya. Siapa pun pasti penasaran dengan asal-usul dan kehidupan seorang Askara Bumi yang dingin dan irit senyum itu, termasuk dirinya. Tapi, tidak tahu dengan Fuji, karena sejauh ini, sahabatnya itu justru tidak menyukai Aska. Aneh, di saat semua cewek tergila-gila, dia justru menyesal bertemu dengan orang seperti Aska. Kaila berharap kalau sebelum masuk ke dalam unitnya, Aska menoleh padanya dan tersenyum. Tapi, faktanya, cowok itu melenggang masuk tanpa melihat ke belakang meskipun hanya sedetik. Padahal Kaila sudah melambaikan tangannya. Kaila menekan bel di sisi pintu unit Fuji. Setelah menunggu selama dua menit, barulah Fuji membuka pintu dengan mukanya yang berantakan. “Ya ampun, Ji! Lo beneran sakit?” tanya Kaila kaget sambil memegang pipi Fuji dengan kedua tangannya. Fuji mengangguk dengan bibir cemberut. “Gue rasanya nggak sanggup hidup lagi, Kai.” Kaila mendelik lalu menoyor kepala Fuji sambil berkata, “Lebay, lo! Baru disuruh presentasi doang kayak udah mau mati gitu.” Fuji mendecih kemudian menutup pintu dengan kesal. “Kasihan kek sama gue.” “Karena gue kasihan itu, makanya gue ke sini. Memangnya lo beneran sakit? Nggak pura-pura doang, kan?” Fuji melempar muka Kaila dengan bantal sofa-nya yang berbentuk hati dan menjawab, “Ya enggaklah. Gue beneran sakit. Kepala gue langsung vertigo kemarin tahu nggak!” Kaila tertawa terbahak-bahak. “Ya ampun, nih anak, kocak banget.” “Kocak gigi lo. Pulang sana! Ngapain di sini kalau cuma mau ngetawain gue.” “Gue cuma nggak nyangka aja kalo lo emang sebego itu, hahaha.” “Lo baru kenal gue? Gue kan emang udah b**o dari dulunya.” “Kenapa, sih? Emang susah banget, ya?” tanya Kaila, masih tidak berhenti tertawa. Kalau bukan karena teman, mungkin mulut Kaila sudah Fuji sumpal pakai satu kotak tisu. “Gue tuh sebenarnya nggak b**o-b**o banget. Tapi, setiap kali gue belajar, otak gue rasanya berasap gitu. Nggak bisa mikir sama sekali.” “Kayaknya lo perlu di rukyah deh, Ji. Biar agak warasan dikit, hahaha.” Fuji mendelik malas. “Ada ngomong apa tuh si songong?” Meskipun hanya sebuah julukan, tapi Kaila sudah tahu siapa yang dimaksud Fuji. “Nggak ada, sih. Tadi gue juga bareng-bareng ke sini sama dia.” “Oh.” “Dia sempat nanya, apa keluarga lo nggak ada yang tinggal dekat-dekat sini? Gue bilang, nggak ada.” “Ngapain lo bilang nggak ada, sih? Bilang aja banyak. Atau sekalian bilang kalau yang punya apertemen ini bokap gue!” “Hah?” “Jangan-jangan, dia mau macem-macem sama gue.” Kaila mengangkat kedua alisnya, tidak mengerti. “Maksud lo?” “Kalau dia tahu gue nggak punya keluarga di sini, itu artinya dia bisa gangguin gue, atau dia bisa melakukan sesuatu sama gue. Karena gue sendirian di sini. Lo ngerti nggak sih, Kai?” Kaila menggeleng tak habis pikir. “Yang bener aja deh, Ji. Nggak mungkinlah dia punya niat yang enggak-enggak sama lo. Dia itu kelihatannya baik kok. Lo aja yang over thinking sama dia.” “Ngapain coba dia nanya gitu?” “Bisa jadi karena dia peduli sama lo. Kan dia tahu lo lagi sakit, terus dia lihat cuma gue yang datang ke sini. Makanya dia nanya, apa lo nggak punya keluarga yang tinggal di sini? Kok gue doang yang datang? Gitu kali maksudnya dia.” Fuji menghela napas. “Moga aja.” “Lagian kenapa juga dia harus macem-macem sama lo, sih?” “Karena dia kesal kemarin gue kerjain.” “Dia nggak seburuk itu kali, Ji. Lo aja yang berlebihan mikirnya. Ya udah, saran gue nih, ya, biar hidup lo tenang, mendingan lo minta maaf gih sana sama dia.” Fuji menatap Kaila lekat-lekat, seakan apa yang baru saja keluar dari mulut Kaila adalah hal paling kotor yang pernah dia dengar. “Orang gue nggak salah.” “Astagfirullah, jadi ngucap gue.” Kaila geleng-geleng kepala. “Ada ya orang kayak lo? Parah.” “Pesan makan kek, gue laper.” “Lo yang bayarin ya tapi?” “Temen nggak tahu diri. Lo ke sini mau ngurangi beban gue, apa mau nambahin sih?” “Nggak tahu, gue juga bingung.” Fuji mendelik malas. “Ya udah pesan apa aja, terserah, nanti gue yang bayar.” “Okay!” kata Kaila dengan senang hati. Dia kemudian membuka salah satu aplikasi untuk memesan makanan. *** Setengah jam kemudian… “Lo pesan apa aja, Nyet? Kok banyak banget? Sampai gue kena empat ratus ribu gini!” seru Fuji, terkejut begitu melihat Kaila masuk ke dalam unit sambil membawa berkantong-kantong makanan hasil delivery-nya. “Empat ratus ribu doang emang bikin lo jatuh miskin? Enggak, kan?” sahut Kaila tak peduli. Dia malah memisahkan beberapa bungkus makanan yang langsung jadi perhatian Fuji. “Itu buat apa? Mau lo bawa pulang? Lo ke sini mau ngerampok gue, ya?!” Kaila memanyunkan bibir, sebelum kemudian menjawab, “Ini mau gue kasih ke pak Aska.” “HAH?” “Sesekali kek kita traktir dia. Ya, nggak?” “Kita?” Kepala Fuji sudah berasap, tapi Kaila malah menatapnya dengan wajah tanpa dosa. “Ini semua belinya pake uang gue, loh! Siapa juga yang mau traktir dia? Lo kok gitu sih, Kai?! Kenapa lo nggak bilang dulu sama gue? Hah?” “Ya udah, anggap aja ini tuh sedekah. Lo nggak usah marah-marah gitu. Biar berkah, tauk.” Fuji tertawa mendengus, mendelik kesal sambil menunjuk Kaila dengan gemas. “Lo tuh! Iiiih! Rasa pengen gue remas-remas tahu, nggak!” “Lo nggak boleh gitu, Ji. Apa salahnya sih lo traktir dia? Siapa tahu, dengan lo kasih dia makanan gini, dia jadi baik sama lo,” sahut Kaila, tenang, seolah tak mau tahu dengan apa yang sedang Fuji rasakan saat ini. Sekalipun reaksi Fuji seperti mau mencekiknya, tapi Kaila tetap cuek bebek. Sikapnya itu yang membuat Fuji semakin kesetanan. “Kaila, emangnya lo udah berapa lama sih kenal sama dia? Dari lahir? Kenapa juga lo harus traktir orang yang baru berapa hari lo kenal? Dan bahkan, dia mungkin nggak tau siapa lo. Kenapa? Kenapaaa?” Kaila mendelik malas. Capek berdebat. “Lo yang antar, apa gue?” “Nggak ada, nggak ada! Mendingan gue kasih orang lain daripada ngasih dia. Siniin tuh!” Fuji menunjuk beberapa bungkus makanan yang ada di tangan Kaila, tapi temannya itu justru bergerak menjauh. “Apaan, sih? Nggak boleh pelit tahu jadi orang! Lo mau kuburan lo sempit?!” “Masalahnya gue nggak ada bilang kalau gue mau kasih dia makanan, kan? Kapan gue bilang, iya? Kapan?” “Parah lo, Ji. Ini tuh udah siang, terus dia tinggal sendirian juga. Siapa tahu dia belum makan. Kalau dia sakit gimana?” “Gue nggak peduli, Kaila! Lo tuh kenapa, sih? Mau cari muka sama dia? Lagian lo lupa? Yang butuh perhatian itu gueee! Bukan diaaaa!” “Udah, ah! Capek gue ngomong sama lo! Gue anterin ini dulu, ya?” kata Kaila, bodo amat. “Makanya punya pacar sana, biar ada yang perhatiin!” Dengan tidak tahu dirinya, Kaila melenggang pergi keluar dari unitnya. Fuji tidak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa tertawa miris melihat kelakuan sahabat baiknya itu. “Terserah deh!” ucapnya kesal. *** Kaila merapikan rambutnya sebelum pintu di depannya membuka dan Aska muncul dengan ekspresinya yang datar. “Ada apa?” tanyanya, seperti biasa, tak mau basa-basi. “Hmm, ini, Pak.” Kaila mengangsurkan apa yang ada di tangannya dengan senyum manis. “Dari Fujita Naura.” Aska meliriknya sesaat, kemudian menerima kantong plastik berisi beberapa makanan itu dari tangan Kaila. “Dalam rangka apa? Rasa bersalah? Minta maaf? Atau… mau suap saya?” “Mungkin, rasa bersalah iya, minta maaf juga iya, Pak. Tapi kalau soal suap Bapak, saya mau gantiin, hehehe.” Aska tertawa mendengus. “Bukan itu maksud saya.” “Hehehehe.” “Oke, saya terima. Bilang makasih, ya?” kata Aska, akhirnya tersenyum. Kali ini terlihat benar-benar tulus. “Iya. Makasih juga, ya, Pak, udah mau senyum. Saya permisi dulu, Pak, hehehe.” Kaila kemudian beranjak, melompat-lompat kegirangan menuju unit di depannya. “Kenapa lo? Kesurupan?” tanya Fuji begitu melihatnya masuk. “Hihihihi.” “Kesambet setan apa, sih,” cibir Fuji. “Ya ampun, Ji, senyumnya manis banget tauuuuk! Gemes banget gue! Sumpah, gemeeees banget!” kata Kaila sambil meremas-remas bantal sofa. Fuji mendengus. “Baru juga disenyumin. Baper banget jadi orang.” “Iri, ya? Iya, dong! Masa enggak! Hihihi.” “Najis tralala.” “Dia tuh kayak cowok-cowok yang ada di novel gitu nggak, sih, Ji? Cakep, terus dingin-dingin gimana gitu. Bikin cewek-cewek penasaran. Gemes banget pokoknya. Rasa pengen gue ajakin nikah.” “Biasa aja. Terus pas lo ke sana, dia ada bilang apa aja?” “Pertama kan gue bilang itu makanan dari lo. Dia nanya, dalam rangka apa? Rasa bersalah, minta maaf, atau untuk semacam kayak suap gitu?” Belum mendengarnya sampai selesai saja, hidung Fuji sudah kembang kempis, menahan emosi. “Terus gue jawab kalau itu sebagai rasa bersalah dan minta maaf dari lo. Bener, kan, gue?” “Ngapaiiiiin lo ngomong kayak gitu, cetan?! Siapa juga yang bersalah sama dia? Ih, kebangetan ya lo, Kai! Dia itu udah bikin gue malu di kampus, bilang gue b**o, dan lo malah bersikap baik sama dia? Temen gue bukan, sih?” Fuji murka lagi, tapi Kaila masih saja tak mau ambil pusing dengan reaksinya. “Udahlah, Ji, lo nggak usah berlebihan gitu deh.” “Terus apa maksudnya tuh bilang-bilang untuk suap? Nggak tau terima kasih tuh orang.” “Tau, kok. Dia suruh gue bilang makasih sama lo,” ujar Kaila, sambil mengunyah burger. Fuji mendengus. “Awas ya lo kayak gitu lagi! Gue nggak mau baik-baikin dia kayak gitu, orang gue nggak salah kok. Tujuan dia suruh gue presentasi kan pasti untuk mempermalukan gue di depan semua orang.” “Nggak boleh buruk sangka, bestie. Justru itu bagus biar otak lo mau kerja. Biar nggak lumutan. Ambil dari sisi positif-nya aja, oke?” “Terserah lo deh. Habis ini pulang, malas gue lihat muka lo.” Kaila tertawa terbahak-bahak sampai akhirnya terbatuk. “Keselek gue, uhuk-uhuk-uhuk.” “Itu namanya kualat.” *** Malam harinya, saat Fuji hendak keluar mencari angin di atap gedung, dia dikejutkan dengan sosok Aska yang baru keluar dari unitnya. Dengan pakaian sederhana berupa kaus oblong dan celana jeans dan sepatu, pria bermata tajam itu terlihat tampan, seperti biasanya. Anehnya, meskipun Fuji tidak menyukainya, dia sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah itu selama beberapa saat karena kagum. Fuji yang saat itu mengenakan celana olahraga dan hoodie, segera membalikkan badan, tak mau berurusan dengannya. Fuji mempercepat langkahnya karena merasa Aska mengikutinya. Sebelum mencapai anak tangga, dia lalu berbalik dan langsung memasang muka juteknya di depan Aska. “Lo mau ngapain ngikutin gue?” tanyanya sambil bertolak pinggang. “Jangan macam-macam ya sama gue! Gue bisa teriak loh!” Aska tertawa mendengus. “Dikurang-kurangi overthinking-nya . Segala yang berlebihan itu nggak baik.” Aska kemudian berlalu melewati Fuji untuk menaiki tangga. ‘Jadi, dia nggak ngikutin gue?’ batin Fuji sambil melihat Aska yang sudah mencapai pintu menuju atap gedung. Selama beberapa menit, Fuji berpikir untuk tetap pergi ke atas, atau sebaiknya kembali ke unit? Tapi, rasanya saat ini Fuji butuh healing dengan melihat langit yang penuh bintang. Setiap kali Fuji merasa stres, maka dia akan datang ke tempat itu dan memandangi bintang-bintang. Cuaca malam ini juga sedang bagus, melalui balkon kamarnya, Fuji bisa melihat ke luar, tapi rasanya itu tidak puas karena dia menyukai tempat luas seperti rooftop. Oleh sebab itulah, Fuji berada di sini sekarang. Tapi, sialnya, di atas sana sudah ada Aska. Pria yang belakangan ini membuatnya kesal dan emosi. “Balik, enggak, balik enggak, balik? Kok, balik? Iiiih bodo amatlah!” Fuji akhirnya memutuskan untuk tetap pergi ke sana. Sesampainya dia di sana, dilihatnya Aska berdiri di sisi kanan sambil bersandar di pagar pembatas. Fuji mendekat dan berdiri dengan jarak 5 meter dari Aska. Selama beberapa saat, Fuji mencoba menghilangkan rasa tidak nyamannya berada dia dekat Aska dengan cara melihat bintang-bintang. “Keluarga kamu di mana?” tanya Aska tiba-tiba. Fuji menoleh dan kedua alis terangkat ke atas. “Hah?” “Kamu nggak punya kerabat di kota ini?” “Kenapa lo mau tau soal gue?” Fuji balik nanya, dengan tatapan curiga. “Maaf, saya cuma mau tau aja. Kamu cewek, terus sendirian di sini, kalau ada apa-apa, seperti sakit atau kenapa-kenapa, selain teman kamu, apa ada kerabat yang akan datang untuk mengunjungi kamu?” “Udah biasa sendirian. Lagian, saya juga mau mandiri,” jawab Fuji, mulai kedengaran santun. Aska mengangguk. “Presentasinya ditunda aja sampai minggu depan.” “Hah?” “Iya, ditunda.” Fuji memelotot. “Kok ditunda? Nggak dibatalin aja?” Aska tertawa mendengus sebelum akhirnya menatap mata Fuji dalam-dalam. “Biar impas.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD