“Kok tega, sih, Pak? Saya udah mau gila loh gara-gara tugas yang Bapak kasih!”
“Masih mau gila, kan? Belum gila beneran,” sahut Aska enteng.
“Jangan gitulah, Pak. Saya kasih tahu nih, ya. Otak saya itu nggak sanggup lagi mikir yang banyak-banyak. Kemarin kan saya udah bilang juga, otak saya itu kering, udah tandus. Makanya hari ini saya jadinya sakit gara-gara itu. Kenapa, sih, kayak nggak suka gitu sama saya?”
Aska hanya menatap wajah Fuji saat dia bicara panjang lebar dengan menggebu-gebu. Seorang Fujita Naura terlihat lebih manis ketika tanpa riasan make-up. Entah apa yang membuatnya lebih suka tampil dengan berlebihan seperti biasanya. Padahal, dengan tampil seperti sekarang saja, sudah membuatnya terlihat menggemaskan.
“Masih ada beberapa hari lagi untuk belajar. Saya yakin kamu bisa,” ucap Aska sebelum beranjak, meninggalkan Fuji yang langsung mengatakan sederet sumpah serapah untuknya.
“Maunya apa, sih?!”
Sejak kehadiran Aska, pria itu selalu saja menambah masalah dan beban dalam hidupnya. Cuma Aska satu-satunya orang yang berani mempermalukannya di depan semua orang. Sampai saat ini, Fuji masih sakit hati lantaran Aska pernah mengatakan kalau dia hanya punya wajah cantik, tapi tidak dengan otaknya yang bodoh.
Ternyata, Fuji terlalu percaya diri dengan berpikir kalau tidak ada satu orang pria pun yang akan mengalihkan pandangan dari dirinya. Ada satu orang bodoh yang melakukannya, dan orang itu adalah Askara Bumi, yang tidak tahu apa itu arti kecantikan yang sesungguhnya. Meskipun sampai detik ini Fuji tidak punya pacar, tapi dia tahu banyak pria yang ingin mendekatinya. Fuji hanya terlalu memilih dan memilah, siapa yang pantas untuk mendapatkan hatinya.
Dia berharap pria itu Alden, tapi sampai sekarang pun, Alden tak kunjung mendekatinya. Padahal, Fuji sudah memberi sinyal-sinyal itu padanya, tapi dasar Alden payah, dia terlalu bersikap acuh, entah terlalu bodoh untuk memahami. Sejak dulu, Alden memang dijuluki si Pangeran Es lantaran sikapnya yang dingin dan kaku pada semua cewek, termasuk Fuji sendiri. Omong-omong soal dingin dan kaku, sebenarnya Aska juga. Tapi, bagi Fuji, dia sama sekali tidak menarik.
Yang ada justru menyebalkan.
“Nyesel gue ke sini!” ucap Fuji kemudian beranjak dari sana dengan kaki yang dihentakkan ke lantai karena kesal.
***
“Kai, gue pengen ke Korea deh jalan-jalan,” kata Fuji melalui telepon. Hari ini tidak ada jawal kuliah, pemotretan dan kegiatan lainnya. Semakin hari, hidupnya menjadi sangat membosankan. Kebanyakan diam di rumah ternyata membuatnya tertekan.
“Lo ngajak gue?”
“Lo punya duit?”
“Lah, kirain mau bayarin gue.”
“Endorse sepi, nggak punya duit banyak gue. Kenapa, ya, kok belakangan nggak ada yang nawarin endorse sama gue?” Fuji cukup heran dengan karirnya belakangan ini yang terbilang sepi job. Biasanya, dalam satu hari akan ada beberapa owner yang menawarkannya pekerjaan. Tapi, sudah hampir dua minggu ini, Fuji hampir nggak punya job. Jadi, kerjaannya sekarang cuma, rebahan, makan, tidur, ke kampus. Membosankan!
“Endorse sepi, tapi kan tiap bulan lo dikasih duit sama bokap lo. Kena kutukan kali lo?”
“Enak aja. Emang lagi sepi kali, ya? Sedih gue.”
“Halah, lebay lo! Terus kalau emang lo lagi nggak ada job, lo mendadak miskin? Enggak, kan? Entar juga ada kok. Yang penting tuh banyak-banyak sabar. Eh, tapi, beneran ya lo mau ke Korea, Ji? Ngapain?”
“Gue pengen liburan aja. Udah lama nggak ke sana.”
“Tega lo seneng-seneng nggak ngajak gue.”
“Ya udah deh nggak jadi pergi. Kapan-kapan aja gue ajakin lo ke sana. By the way, boleh nggak gue ke rumah lo?”
“Ya bolehlah, Sayaaaang. Pintu rumah gue terbuka lebar buat lo, asalkan lo bawa jajan yang banyak ke sini. Lo tau kan adek gue ada berapa?”
Fuji tertawa. “Iya, iya, bentar lagi gue jalan.”
“Gue tunggu, yaaa! Byeee!”
Fuji menurunkan ponselnya kemudian bergerak turun dari tempat tidur. Sebelum dia benar-benar pergi ke kamar mandi, ponselnya tiba-tiba berdering. Fuji meraih benda pipih tersebut dan melihat nama yang tertera di layarnya.
Mama calling….
“Halo, Ma? Kangen tauuuu.”
“Kangen itu pulang. Ini malah keenakan jauh dari orangtua!” Suara ibunya yang terdengar marah namun terkesan penuh kasih sayang itu langsung membuatnya tertawa.
“Fuji sibuk banget, Ma. Nggak sempat pulang. Kenapa nggak Mama sama papa aja yang ke sini?”
“Nah, mulai deh ngatur-ngatur orangtua. Kamu yang harusnya pulang lihat mama sama papa kamu. Betah banget di kampung orang.”
“Hehehe. Nanti deh Fuji cari waktu yang tepat buat pulang. Oke?”
“Kamu jaga diri di sana. Jangan dekat-dekat sama cowok. Kaila masih sering ke apartemen kamu, kan?”
“Kemarin dia datang kok. Ini Fuji mau ke rumahnya dia. Udah lama nggak main ke sana. Pengen makan masakannya tante Miska.”
“Bagus deh. Mama lega dengarnya kalau kamu baik-baik aja. Mama sebenarnya khawatir ngelepasin kamu sendirian di sana. Mama takut kamu terjerumus ke pergaulan bebas. Itu foto-foto kamu yang seksi di media sosial dihapus-hapusinlah, Ji. Ngapain juga pamer-pamer tubuh gitu. Kalau papamu tahu, dia pasti marah loh itu.”
“Kan Fuji model, Ma.”
“Ya ganti profesi jadi model mukenah gitu kek. Jangan yang aneh-aneh begitu.”
“Mama tuh ya, tiap nelpon pasti ceramah mulu. Ya udah deh, Fuji matiin ya, mau mandi.”
“Dibilangin orangtua selalu gitu jawabnya. Ya udah sana mandi. Hati-hati kalau mau pergi. Jangan lupa berdoa. Kamu masih ingat ibadah, kan?”
“Iya, Mamaku. Byeee, Mamaaaaa….”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikumsalam, Bu Haji.”
Klik! Fuji langsung memutus teleponnya. Meski merasa gerah karena selalu dinasehati, itu tidak membuat Fuji melupakan kalau apa pun yang disampaikan sang ibu adalah bentuk dari kasih sayangnya.
Fuji beruntung dalam hal keluarga, meskipun dia tahu bahwa kedua orangtuanya itu, bukanlah keluarga kandungnya. Sejak berusia delapan tahun, Fuji sudah kehilangan orangtua kandungnya akibat kecelakaan tragis. Beruntungnya Fuji masih sempat diselamatkan kala itu.
Air dan birunya laut, sampai hari ini, Fuji trauma akan dua hal itu.
***
“Hais!” Fuji hendak masuk kembali ke unitnya lantaran dia sudah terlanjur bertatap muka dengan Aska yang juga baru keluar dari unitnya. “Malas banget deh,” gumamnya dengan bibir rapat.
“Kenapa?” Aska seperti padanya, sehingga Fuji mau tak mau menatap wajahnya.
“Huh?”
“Kamu seperti lagi lihat setan. Apa saya kelihatan kayak setan?”
Fuji mengangguk tapi beberapa detik kemudian menggeleng. “Enggak kok.”
Aska tidak merespon dan lebih dulu beranjak. Di belakang, Fuji sudah mengejeknya dengan berbagai macam gaya, mulai dengan memeletkan lidahnya, mengangkat kedua tangannya seakan-akan dia mau mencekiknya. Tapi, ketika Aska menoleh ke arahnya, Fuji berpura-pura sedang merapikan rambutnya.
Di dalam lift, keduanya tak saling bicara. Fuji juga tak mau memulai obrolan duluan karena baginya nggak penting sama sekali. Yang pastinya itu akan buang-buang waktu dan tenaganya.
“Kamu mau ke mana?”
“Bukan urusan lo.”
“Kamu mau berhenti di lantai berapa maksudnya.”
“Iya, sama ke basemen.” Fuji menunjuk tombol yang sudah ditekan Aska dengan acuh tak acuh.
“Tumben.”
“Hm? Lo ngomong sama gue?” Fuji mendongak dan menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
Aska mengangguk. “Tumben kamu nggak kayak ondel-ondel.”
“Ha-hah!” Fuji tertawa, jengkel. “Serius lo ngatain gue kayak ondel-ondel?”
Aska tersenyum kecil. “Saya rasa itu yang cocok buat menggambarkan karakter kamu.”
Fuji memejamkan matanya, menekan pelipisnya lalu menggeleng-gelengkan kepala. “Udah, ya, cukup! Berhenti bikin gue kesel.”
Aska mengangguk. “Sori.”
“Lo sebenarnya ada masalah apa sih sama gue?”
“Saya nggak punya masalah apa-apa sama kamu. Mungkin hidup kamu aja yang banyak masalah.”
Fuji mau bicara lagi, tapi untungnya pintu lift membuka. Dengan sengaja, Fuji menabrak Aska dan keluar dari lift. Dia tak peduli seperti apa reaksi Aska atas sikapnya barusan, atau tentang apa yang dipikirkan pria itu tentangnya. Bodo amat!
Fuji terus berjalan sampai dia tiba di dalam mobilnya, kemudian meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal.
“Bisa-bisanya dia bilang gue kayak ondel-ondel! Rabun apa gimana sih tuh orang?!”
***
Sudah lama rasanya Fuji tidak datang ke rumah Kaila. Dulu, saat awal-awal dekat dengan cewek mata buku itu, Fuji kerap kali datang ke sana. Bahkan, saking dekatnya hubungan pertemanan di antara mereka, Fuji sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Berada di tengah-tengah mereka, membuat Fuji merasa bahagia dan dicintai.
Kaila anak pertama dari tujuh bersaudara. Adik-adiknya yang ramai, sebenarnya sering membuatnya kerepotan. Kendati demikian, Kaila tetap mengurus mereka dengan baik di saat sang ibu tidak di rumah. Maka tak heran kalau sampai hari ini, Kaila lebih sering berada di rumah ketimbang bepergian seperti yang lainnya karena ada banyak hal yang harus dia lakukan di rumah. Fuji bahkan kesulitan untuk mengajak sahabatnya itu nge-mall karena ya… Kaila memang nggak punya banyak waktu seperti dirinya yang bisa bebas bepergian kapan dan ke mana saja.
Tapi, entah kenapa, dari sekian banyak cewek yang berteman dengannya, cuma Kaila yang sampai detik ini selalu ada untuk Fuji. Baik di saat Fuji senang, ataupun di saat dia sedih. Sahabat terbaik pokoknya. Fuji bahkan tidak mengira kalau dia bakalan bisa punya seorang sahabat kutu buku seperti Kaila. Anehnya Fuji merasa nyaman bersamanya. Kaila bisa menjadi kakak, adik, dan juga teman, sekalipun dia sering membuat Fuji kesal. Meskipun kebiasaan mereka berbanding terbalik, tapi perbedaan itu justru saling melengkapi, bukan?
Fuji memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah Kaila. Sebelum dia turun dari mobil, tiga orang anak berusia mulai dari 7 sampai 3 tahun sudah berlari ke arahnya. Dengan berhati-hati, Fuji membuka pintu dan keluar.
“Kak Fujiiii!”
“Kak, bawa jajanan nggak?"
“Kak, lapeeer!”
Fuji tertawa kecil melihat kelakukan adik-adik Kaila itu. Setiap kali Fuji datang, mereka selalu bersikap manja padanya. Fuji sama sekali tidak keberatan karena dia sendiri pun sudah menganggap adik-adik Kaila seperti adiknya sendiri.
“Bawa doooong! Masa enggak! Yuk, di dalam aja, yuk!” Fuji membawa kantong belanja berisi makanan yang sudah dibelinya.
“Eh, udah nyampe aja,” seru Kaila yang muncul dari arah dapur.
“Bunda mana?”
“Barusan pergi ke pasar. Pas gue bilang lo mau ke sini, langsung deh sibuk mikir mau masak apa. Heran gue. Gue aja yang anaknya sendiri nggak pernah dibikinin makanan kesukaan. Lah, lo siapa? Datang-datang ngerebut tahta gue.”
Fuji tertawa. “Serius lo?”
“Iyalah, serius.”
“Kebetulan banget. Gue udah lama nggak makan masakan bunda. Kangen gitu.”
Kaila mendengus. Dia lalu melihat adik-adiknya yang mulai mengambili makanan yang Fuji bawa. “Sisain dong buat Kakak. Enak aja mau dihabisin! Nggak boleh serakah loh!”
Tapi, sayang, ketiganya tidak mau mendengarkan. Bahkan sekarang, adik-adiknya yang sudah remaja pun berdatangan.
“Eh, ada Kak Fujiii! Pasti bawa jajajan deh! Tuh, kaaaan, beneeer. Asiiiik!”
“Gue mau yang ini!”
“Ini buat gue!”
“Enak aja! Gue duluan yang ambil.”
Melihat kegaduhan itu, Kaila lantas berdiri. “Kamar, yuk, Ji! Nggak bakalan bisa ngobrol di sini. Berisik.”
Fuji mengangguk lalu mengikuti Kaila menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
“Pasti rumah ini nggak pernah sepi deh. Seru banget ya kalau setiap hari rame gini,” cetus Fuji, sambil menaiki anak tangga.
“Gue malah ngebayangin kalau jadi anak satu-satunya itu enak. Nggak perlu ngalah, jadi prioritas, apa-apa diturutin. Kayak lo.”
“Lo nggak tahu rasanya jadi gue, Kai. Gue malah pengen jadi lo.”
“Hah? Nggak salah lo mau jadi gue? Nggak ada enaknya, serius. Lo mau ngurusin bocil-bocil yang setiap harinya bikin darah tinggi? Untung mental gue kuat punya sodara-sodara kayak mereka.”
Fuji tertawa. “Capek nggak sih, Kai, jadi kakak buat mereka?”
“Ya capeklah, Ji, namanya juga ngurus anak-anak. Pertanyaan lo aneh deh.”
Setibanya di dalam kamar Kaila, Fuji langsung melompat ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di sana. “Kayaknya gue bakal seharian deh di sini.”
“Alhamdullilah, ada temen buat beresin rumah.”
“Enak aja! Gue tamu di sini. Tamu itu adalah raja. Harusnya lo sungkem sama gue, layani gue dengan baik.”
“Itu nggak berlaku buat lo.”
Fuji hanya mendelik lalu mengeluarkan ponselnya. “Kemarin gue ketemu si songong. Lo tahu dia bilang apa sama gue?”
“Enggak.”
“Dia bilang presentasi gue ditunda sampai minggu depan! Ngeselin nggak tuh?! Dibatalin kek, ini malah ditunda.”
“Habisnya sampai sekarang lo nggak mau ngaku salah sih. Coba lo minta maaf sama dia, kali aja dia batalin."
“Terus, tadi gue juga ketemu sama dia. Masa dia bilang gue kayak ondel-ondel. Kurang ajar banget kan dia?”
Kaila tertawa terbahak-bahak. “Serius dia ngomong gitu?”
“Iya, makanya gue kesel. Rasa pengen gue remas-remas tuh mulutnya.”
“Eh, tapi hati-hati lo, Ji. Kayaknya kalian bakal sering ketemu deh.”
“Iya, kesel gue, kenapa dia nggak pindah aja sih? Pindah negara kek, atau planet sekalian.”
“Maksud gue, entar kalo sering ketemu, jadinya saling suka.”
“Hah? Gimana ceritanya? Nggak mungkinlah gue suka sama cowok songong kayak dia. Gue masih normal, Kaila.”
“Justru lo itu yang nggak normal, Ji. Di saat semua cewek suka sama pak Aska, lo doang tuh yang suka ngatain dia songong, kurang ajar, nyebelin. Coba deh lo lihat dari sisi lain, siapa tahu ada hal yang bikin lo tertarik sama dia.”
“Bela aja teruuus!”
“Iyalah, gebetan gue.”
“Najis.”
Kaila tertawa lagi lalu mengambil buku-bukunya dari atas meja dan membuka salah satunya. Fuji yang melihat hal itu langsung bertanya, “Lo mau ngapain?”
“Belajar bentar.”
“Gue jauh-jauh ke sini cuma buat lihat lo belajar, Kai? Mending gue pulang deh kalau gitu.”
Kaila mendelik dan kembali menaruh buku-buku di tempat semula. “Ya elah, gitu doang ngambek.”
“Lagian lo aneh, gue ke sini mau gibah, lo malah belajar. Heran gue, kenapa sih gue bisa punya temen kayak lo? Kenapa yang nggak satu frekuensi sama gue aja coba? Yang suka nikmatin hidup gitu.”
“Gue juga nikmatin hidup, kali! Tapi, cara gue aja yang beda. Gue juga heran kenapa gue bisa punya temen kayak lo. Seharusnya itu ya, gue tuh dapat temen yang sama-sama suka belajar, anak rumahan, nggak suka keluyuran kayak lo.”
Fuji tertawa. “Tapi, lo tetap sahabat gue, cetan. Meskipun selera kita beda.”
“Sama, cetan! Lo juga sahabat gue. Terbaik malah,” kata Kaila sambil tersenyum dan mengacungkan dua jarinya yang membentuk hati.
“Najis gue lihat senyum lo.”
Kaila malah semakin melebarkan senyumnya dengan cara berlebihan. “Love you, bestie.”
“Idih.”
***