Chapter 11

2040 Words
“Kanayaaa! Itu mainannya diberesin lagi dooong! Kak Kaila capek tauuuu!” Kanaya yang masih berusia 3 tahun itu mendengus. “Nggak mau. Kanaya juga capek tau.” “Bundaaa! Lihat tuh Kanaya, masa dia nggak mau beresin mainannya lagi! Cubit nih, yaaa!” “Cubit aja, nggak takut kok!” Bocah bertubuh gemuk itu malah berlari keluar rumah. Kaila mengejarnya sambil mengomel, tapi bukannya mencubit, dia justru mencium adik bungsunya itu bertubi-tubi. Melihat bagaimana Kaila mengurus adik-adiknya, membuat Fuji tertawa. Pasti menjadi Kaila capek banget. Tapi, anehnya, meskipun harus melakukan semua pekerjaan rumah, Kaila masih sempat-sempatnya belajar dan tak jarang mendapat juara kelas. Sementara Fuji, yang kerjaannya cuma rebahan dan punya banyak waktu luang, justru tidak punya minat sedikitpun dalam pelajaran. Nilai ujiannya selalu astagfirullah. “Bunda ngapain sih repot-repot masakin makanan kesukaan Fuji? Kan Fuji jadi nggak enak, Bunda,” ucap Fuji sambil memperhatikan wanita berusia 43 tahun itu mengaduk-aduk opor ayam di dalam wajan. Miska tersenyum hangat. “Kamu udah lama banget nggak ke sini. Apa salah kalau Bunda masakin?” Fuji balas tersenyum. “Hehehe. Tapi, Fuji nggak enak aja, Bun.” “Bunda lebih nggak enak sama kamu. Selama ini kamu sudah mau bantu uang kuliahnya Kaila. Makasih, ya, Fuji. Bunda cuma bisa doain kamu supaya kamu selalu sehat dan bahagia.” Mendengar ucapan itu, d**a Fuji terasa hangat. “Terima kasih, Bun, doanya. Kaila udah Fuji anggap kayak sodara sendiri, hehehe.” Keluarga Kaila tergolong keluarga yang sederhana. Sang ayah bekerja di sebuah pabrik di kota itu dengan gaji yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebagai seorang sahabat, Fuji merasa harus membantunya dengan cara membayar uang semester Kaila sampai nanti mereka lulus kuliah. Meskipun keluarga Kaila sempat menolak, Fuji terus memaksa sampai akhirnya mereka setuju. Lagipula, selama ini Fuji hidup dengan berkecukupan. Belum lagi dia juga memiliki penghasilan sendiri yang bisa dipakainya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Baginya tidak masalah menghabiskan sedikit uangnya untuk mengurangi beban orangtua Kaila. “Kaila beruntung punya teman sebaik kamu.” “Fuji juga beruntung punya teman sebaik Kaila.” Ya, walaupun belakangan ini tuh orang suka bikin darah tinggi, batin Fuji sambil melihat ke arah Kaila yang sedang membereskan mainan Kanaya yang berserakan. “Kalian belum ada yang punya pacar?” “Hah? Pacar, Bun?” seru Arkan, adik laki-laki Kaila yang sekarang berusia 16 tahun. “Kalau Kak Fuji pasti punya, tapi kalau Kak Kaila, kayaknya nggak mungkin deh. Dia mah bakalan jadi jomblo seumur hidup.” “Enak aja! Bentar lagi kalian semua juga bakal gue tinggal nikah!” balas Kaila sewot. “Yang benar? Emang ada yang mau?” “Hahahaha.” Sekarang, Fatin, adik perempuannya yang lain ikut tertawa. “Emangnya ada cowok yang mau sama cewek yang kerjanya belajaaar mulu. Nggak asik!” Kaila mendelik. “Awas aja ya lo berdua. Gue sedot tuh ubun-ubun!” Fuji terkekeh geli. “Kita mau fokus kuliah dulu, Bun. Nggak mau mikirin yang namanya cowok.” Kaila melongo takjub. “Itu lo yang ngomong, Ji? Sejak kapan lo jadi waras gitu? Bukannya selama ini isi kepala lo kalau nggak cowok, ya duit. Idih, tumben lo agak warasan dikit. Disuruh presentasi aja udah kayak mau mati. Sok-sokan mau fokus kuliah.” “Mana ada gue gitu. Gue tuh benar-benar mau fokus kuliah, tau,” kata Fuji, membela diri. Kaila mendecih. “Yang bener aja lo.” “Sama-sama jomblo aja berantem. Pacaran aja lo berdua, biar mesra,” ucap Arkan sambil tertawa. “Enak aja!” seru Fuji dan Kaila bersamaan. Arkan malah tertawa terbahak-bahak sambil melipir dari sana. “Kamu nggak mau tinggal di sini aja, Ji? Kamar Kaila itu muat kok untuk berdua,” kata Miska lalu mematikan kompor. “Daripada kamu tinggal sendirian. Kemarin katanya Kaila, kamu sakit, ya?” “Iya, Ji, kalau lo mau, lo boleh kok tinggal di sini. Lumayan ada yang bantuin gue ngurusin cetan-cetan sama bantu beresin rumah.” Fuji tergelak. “Nggak deh, Bun. Fuji tinggal sendiri aja. Biar mandiri, hehehe.” “Memangnya kamu nggak kesepian kalau tinggal sendirian?” Pertanyaan itu tidak langsung Fuji jawab, dia menatap Kaila sejenak sebelum tertawa kecil dan menjawab, “Enggak kok, Bun. Fuji udah biasa sendiri.” “Bun, udah masak belum? Kanaya katanya laper.” Sepertinya Kaila sengaja mengalihkan pembicaraan. Dari bahasa tubuhnya, Kaila bisa melihat kalau Fuji tidak nyaman dengan pertanyaan tadi. Fuji mungkin terlihat ceria, tapi dia tahu kalau sebenarnya, Fuji tidak baik-baik saja. Dia menyimpan sebuah kenangan yang sampai hari ini tidak bisa dia lupakan. Kenangan yang menyakitkan sekaligus menakutkan. Hal itu cukup menganggu aktifitasnya sebagai model belakangan ini. Hanya Kaila yang tahu isi hatinya dan juga apa yang dia rasakan. *** “Gue takut tenggelam, Kai. Gue takut setiap kali lihat air laut. Badan gue menggigil. Nggak tahu kenapa,” ungkap Fuji setelah mereka kembali ke kamar Kaila. Entah kenapa, tiba-tiba Fuji ingin menceritakan ketakutannya pada Kaila. Biasanya, cewek itu paling enggan untuk membahas tentang hal itu dikarenakan rasa traumanya. “Mungkin lo masih trauma, Ji, karena kecelakaan itu,” ujar Kaila dengan hati-hati. Fuji mengangguk. “Gue pikir juga gitu. Makanya sampai sekarang gue selalu nolak kalau ada job pemotretan di atas kolam, sungai, danau, apalagi laut….” Fuji menggeleng kuat. “Mendingan gue tolak daripada gue mati berdiri di sana.” Kaila tersenyum tipis. “Yang sabar, ya, bestie. Gue selalu ada buat lo kok. Plis, jangan sedih-sedih.” Fuji menatap wajah Kaila dan balas tersenyum. “Thanks, ya, Kai, sampai hari ini, di depan semua orang, lo nutupin kelemahan gue.” “Thanks juga, ya, Ji, sampai hari ini lo masih bantu keluarga gue. Gue nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada lo.” “Sekarang aja lo baikin gue, tapi kalau udah berhubungan sama si songong, kenapa lo lebih belain dia sih?” “Hehehe, gimana ya jelasinnya? Susah, lo nggak bakal ngerti.” “Lo nggak beneran suka sama dia, kan?” Kaila mengedikkan bahunya acuh tak acuh. “Sukalah. Lagian cewek b**o mana sih yang nggak suka sama dia?” “Gue nggak suka.” “Belum, entar juga suka. Yakin gue!” “Enggak.” “Kita lihat aja nanti. Cepat atau lambat, lo bakal sadar kalau ternyata pak Aska itu maniiiiis banget.” Fuji memasang ekspresi seakan-akan dia mau muntah. “Manis dari segi mananya, sih? Enggak ada manis-manisnya tuh orang.” Sebenarnya ada, tapi malas, ah, mengakuinya! “Udah mau sore nih, lo nggak pulang?” “Lo ngusir gue?” “Nanya doang, cetan!” “Ya udah gue pulang.” Fuji turun dari ranjang kemudian mengambil tasnya dan beranjak dari kamar bernuansa hijau itu. “Hati-hati, ya!” seru Kaila dari dalam kamarnya. Fuji mendelik malas. “Lo nggak mau sungkem dulu sama Yang Mulia Ratu?” “Ogaaah.” Fuji tertawa kecil lalu benar-benar pergi dari sana. Setibanya dia dalam mobil, Fuji memandangi rumah bertingkat dua itu dengan senyum lebar. Jika dia sedang rindu keluarganya, maka rumah ini adalah tempatnya pulang. Rumah itu mungkin tidak semewah apartemennya, tapi kasih sayang yang ada di dalamnya, tidak bisa Fuji bandingkan dengan apa pun juga. Jika boleh memilih, Fuji ingin sekali tinggal bersama keluarga itu, tapi mengingat kalau terkadang dia lebih menyukai kesendirian, membuatnya mengurungkan diri untuk itu. Seorang Fujita Naura, sebenarnya adalah seorang introvert. Namun, karirnya sebagai model memaksanya untuk terus berada di keramaian. Sejatinya, Fuji lebih suka menghabiskan waktunya untuk dirinya sendiri dan hanya akan bepergian kalau dia benar-benar butuh orang lain untuk mendengar keluh kesahnya. Sejauh ini, hanya Kaila yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Senyum Fuji itu palsu. Sikap ramahnya hanyalah topeng. Semua itu pencitraan agar penilaian orang lain terhadapnya selalu positif. Tapi, biarpun begitu, Kaila dengan senang hati menutupi kekurangan Fuji dan juga kelemahannya. Bukan hanya karena Fuji adalah sahabatnya, tapi juga karena Fuji melakukan hal yang sama terhadapnya *** Fuji langsung menyesali langkahnya yang memasuki lift saat dia melihat Aska sudah berada di dalam sana dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Kenapa sih, dari sekian banyak orang di apartemen ini, dia harus bertemu dengan Aska. Nggak ada orang lain apa? Untungnya saat Fuji masuk, Aska keluar dari sana. Baguslah, tidak perlu ada obrolan yang membuat darah tinggi Fuji naik. Tapi, ada yang aneh, saat Aska melewatinya, pria itu menutup hidupnya. Tentu saja hal itu membuat Fuji tersinggung. “Kenapa, sih? Gue bau emangnya?” cetus Fuji, tak senang. Aska mengangguk tepat saat pintu lift menutup. Fuji lalu mengendus-endus sekitarnya. “Bau apa, nih?!” serunya kaget. “Kayak bau t*i kucing deh.” Fuji lalu mengangkat bergantian kakinya yang mengenakan sepatu. Dan benar saja, salah satu sepatunya terdapat kotoran kucing. Fuji langsung melepaskan sepatu itu dan menutup hidungnya. “Kok bisaaaaa? Ini pasti t*i kucingnya si Kaila deh!” Fuji jadi mencak-mencak sendiri. Apalagi mengingat kalau yang memberitahunya soal itu adalah Aska! Benar-benar memalukan! Bisa-bisanya dia tidak mencium bau itu sejak tadi. Kenapa juga harus dia sih yang tahu? Kenapaaaa? Pada saat pintu lift membuka, Fuji segera berlari keluar dan mencari kotak sampah terdekat. Dia lantas melemparkan sepatu itu ke sana lalu masuk ke unitnya. Tak peduli berapa harganya, dibuang lebih baik karena Fuji juga tidak akan mau membersihkannya. Toh, dia masih bisa membelinya kapanpun dia mau. *** Aska berjalan menuju unitnya sambil mengunyah permen karet. Begitu melihat ada kotak sampah di dekat sana, dia mendekat untuk membuang sampah permen yang baru dibukanya. Pada saat itulah dia melihat ada sepasang sepatu berwarna putih kombinasi merah muda teronggok di sana bersama sampah-sampah. Melihat itu, keningnya berkerut penuh tanda tanya. Sepertinya dia kenal dengan baunya. Aska mengambil sepasang sepatu itu dan mengangkatnya untuk melihat telapaknya. Senyumnya melebar begitu tahu kalau sepatu itu milik Fuji yang sepertinya memang sengaja dibuang. Aska kembali menaruh sepatu itu ke dalam kotak sampah dan beranjak. Namun, baru sebanyak dua langkah berjalan, dia berhenti dan kembali ke sana. Mengambil sepatu itu dan membawanya pergi. *** “Kai, besok-besok kalau gue main ke rumah lo, bentangin karpet merah buat gue biar gue nggak keinjek t*i kucing!” lapor Fuji pada Kaila setelah dia mandi dan hendak tidur. “Hah? Lo keinjek t*i kucing?” “Iya. Dan lo tahu nggak siapa yang sadar duluan?” “Siapa?” “Si songong itulah! Bisa-bisanya ya, dari sekian banyak orang yang gue lewatin, kenapa juga harus dia yang sadar sama baunya!” “Yang lain sadar, tapi nggak mau bilang.” Fuji mendengus. “Tapi kenapa harus dia sih yang tahu duluan? Kenapa nggak gue?” “Ya tanyain sama hidung lo kenapa dia nggak kecium bau sama sekali. Aneh lo. Terus gimana sama sepatunya? Udah lo cuci?” “Gue buang.” “Hah? Kok dibuang, sih?” “Ya males aja ngurusinnya. Mending gue beli yang baru aja.” “Oh, iya, orang kaya. Lupa gue.” “Apaan, sih, Kai. Lo kayak nggak tahu gue aja.” “Daripada lo buang, mendingan lo bawa ke laundry. Atau lo sedekahkan ke gue aja gue pasti terima kok. Parah lo buang-buang duit sebanyak itu.” “Malah jadi ceramah. Udah, ah, gue mau tidur! Bye!” “Eh, eh, tapi gimana sama sep—“ Fuji langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya di bawa bantal. Dia tahu ada pesan masuk bertubi-tubi dari Kaila perihal sepatu itu, tapi Fuji mengabaikannya. Sambil memeluk guling, Fuji memikirkan nasib sepatu kesayangannya itu. Apa yang Kaila bilang ada benarnya. Kenapa juga dia harus membuangnya? Dia bisa membawanya ke laundry tanpa harus repot-repot mencucinya sendiri. Fuji mendesah lalu bangkit dari tempat tidurnya. “Kenapa harus gue buang sih? Kan sayang belinya pakai duit. Mana belakangan lagi nggak ada job. Seenak jidat buang-buang barang!” katanya pada diri sendiri sambil berjalan keluar dari unitnya. Setibanya di dekat kotak sampah, Fuji tidak melihat sepatunya di sana. Bukan hanya sepatunya, tapi kotak itu juga sudah bersih dari sampah-sampah. “Sepatu gue udah dibawa dong?!” katanya sambil melihat ke kiri dan kanan, berharap pekerja sampah masih ada di sekitar sana. Tapi, koridor itu lengang, tidak ada siapa-siapa. Dia tidak tahu kapan petugas itu datang. Lagipula, Fuji membuang sepatunya sejak tiga jam yang lalu. Jadi, kemungkinan, setelah dia membuang sepatunya, sampah-sampah itu dibawa pergi. Fuji mendesah kecewa, menyesal dalam hati karena begitu cepat mengambil keputusan. Tadinya, dia berpikir bisa membeli sepatu yang sama, tapi tidak dengan kenangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD