Fuji, jelas-jelas tidak menyukainya. Bahkan terlihat menghindarinya setiap kali mereka bertemu. Caranya menatap dan bicara, menunjukkan kalau dia benar-benar tidak mau berurusan dengannya. Tapi, kenapa sekarang Aska mau membuang waktunya untuk membersihkan sepatu cewek itu dari kotoran kucing? Bukankah seharusnya dia tidak peduli? Kenapa dia harus melakukan hal ini? Aska bahkan sampai mau muntah saat mencucinya. Dia bisa saja mengantarnya ke laundry, tapi dia sendiri heran kenapa dia tidak melakukannya dan memilih mencucinya sendiri. Aska juga menghabiskan banyak sabun untuk itu.
Setelah sepatu itu hendak dijemurnya di balkon kamar, Aska berkata, “Harganya lumayan mahal. Apa dia nggak mikir dulu sebelum membuangnya?”
Aska lalu menaruh sepatu itu di tepi pagar di sebelah pot berisi tanaman kaktus miliknya. Angin pagi berhembus bersamaan dengan munculnya sinar matahari pagi. Cuaca hari ini sepertinya akan cerah, dan sepatu itu akan kering lebih cepat, pikir Aska saat itu. Setelahnya, Aska kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Pada saat itulah, ponselnya berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Melihat nama yang muncul di layar, perasaannya menjadi tidak enak. Tapi, meskipun begitu, dia tetap menjawabnya.
“Halo, Ma?”
“Halo, Ka. Gimana kabar kamu? Baik-baik aja, kan?”
“Aku baik. Ada apa, Ma?” tanya Aska, enggan berbasa-basi karena dia tahu kalau telepon itu pasti untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak mau Aska dengar.
“Papamu rencananya akan mengirim Irene ke Jakarta.”
“Apa?”
“Ka, lebih baik kamu pulang ke Sydney secepatnya. Papamu udah nggak sabar untuk menikahkan kamu dengan Irene.”
“Aku yang menjalani hidupku tapi kenapa harus papa yang mengatur semuanya.” Aska mendesah. “Papa nggak pernah mengerti apa yang diinginkan anaknya.”
“Papamu memang egois. Mama sudah capek membujuknya untuk membatalkan perjodohan itu. Tapi, Irene itu perempuan yang baik, Ka. Dia juga lahir dari keluarga yang terhormat. Mama yakin kalian pasti akan cocok.”
“Pelan-pelan, Mama mulai menuruti keinginan papa.”
“Mama cuma mau yang terbaik untuk kamu, Ka.”
“Pertama, papa tidak setuju dengan pekerjaanku yang sekarang. Kedua, papa ingin aku menikah dengan perempuan yang tidak aku sukai. Seterusnya apa lagi, Ma? Sekali ini aja, biarkan aku mengurus hidupku sendiri,” ujar Aska dengan nada dingin.
Sesaat, suara sang ibu tidak terdengar. Aska lalu bicara lagi, “Maaf karena aku tidak bisa jadi anak yang berbakti untuk Mama dan papa.”
“Aska, kamu jangan bicara seperti itu. Mama tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, sebagai orangtua, kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu.”
“Sudah dulu, ya, Ma. Aku harus ke kampus pagi ini. Jaga kesehatan, ya, Ma. Dah….” Aska menutup panggilan lalu melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
Menjadi anak satu-satunya ternyata tidak membuatnya beruntung. Sejak kecil, apa yang Aska sukai dan apa yang dia inginkan, selalu di bawah arahan sang papa. Aska tidak bisa melakukan apa yang dia mau dengan sungguh-sungguh karena kerap kali mendapat larangan. Apa yang dia sukai juga tidak pernah disetujui papanya. Aska merasa dirinya diperlakukan seperti robot. Dia tidak berhak untuk dirinya sendiri dan juga pilihan hidupnya. Semua sudah diatur dan harus sesuai dengan keinginan kedua orangtuanya. Rasanya, benar-benar tertekan. Itu sebabnya dia memutuskan untuk pergi.
***
Aska sedang menuju basemen ketika dia melihat Fuji berlari kecil menghampiri seorang petugas sampah yang kebetulan ada di sana. Jarak mereka cukup dekat sehingga dia bisa mendengar obrolan keduanya.
“Pak, maaf, saya mau tanya.”
“Iya, mau tanya apa, ya, Mbak?”
“Bapak yang biasa beresin kotak sampah di lantai atas, kan?”
“Iya, Mbak, memangnya ada apa, ya, Mbak?”
“Hmm, Bapak ada lihat sepatu nggak? Kemarin saya buang sepatu ke kotak sampah. Pas saya balik, sampahnya udah dibawa semua. Ada lihat nggak, ya, Pak?”
Pria bertubuh kurus itu menggeleng. “Enggak ada tuh, Mbak.”
“Serius, Pak?”
“Iya. Memangnya sepatunya masih bagus?”
Fuji mengangguk sedih. “Kemarin saya buang karena ada kotorannya, Pak. Tapi, habis itu saya nyesel. Mau balik lagi udah nggak ada.”
“Oalah, Mbak, maaf saya nggak ada lihat. Mungkin petugas yang lain ada yang lihat, nanti saya bantu tanyain, ya?”
“Makasih, ya, Pak. Maaf jadinya curhat.”
“Hehehe, iya, Mbak, nggak apa-apa. Saya ngerti kok. Pasti itu sepatu kesayangan, kan?”
Fuji mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
Aska yang mendengar semua itu hanya tersenyum tipis. Dia pikir, cewek itu tidak akan menyesalinya. Ternyata, dia kembali untuk mengambil sepatu itu. Aska lantas melihat langit yang cerah. Setelah sepatu itu kering, dia akan mengembalikannya karena sepertinya si pemilik sepatu mulai merasa kehilangan.
***
Alden adalah tipikal cowok idaman Fuji sejak lama. Manis, agak brewok, dan punya tubuh yang bagus seperti atlet. Fuji menyukainya sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi, sayang, sampai hari ini, Alden sama sekali tidak menunjukkan ketertarikannya sama sekali terhadap Fuji. Alden terlalu acuh untuk didekati. Bukan hanya Fuji, tapi gadis lain juga tidak mampu membuatnya menatap lebih dari lima detik. Karena sikapnya yang misterius itulah Fuji menyukainya. Dia yakin pria seperti Alden akan setiap pada satu wanita saja. Dan Fuji, ingin sekali menjadi wanita itu. Fuji bukan cewek yang mau menyodorkan dirinya begitu saja. Dalam kamusnya, Fuji itu didekati, bukan mendekati. Jadi, mau tak mau, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menunggu sambil mengirimkan sinyal-sinyal pertanda suka pada Alden.
“Fujita Naura.”
Ini untuk pertama kalinya dia mendengar Alden memanggil namanya. Jantung Fuji rasanya mau copot dan kedua kakinya terasa seperti agar-agar. Ke-kenapa dia memanggil, ya? pikir Fuji, berdebar-debar.
“Iya?” Fuji membalikkan badannya kemudian bertanya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Fuji berharap khodam-nya saat itu bisa bekerja dengan maksimal.
“Kamu udah sembuh? Kemarin katanya kamu sakit, ya?”
Ah, ya, ampun, ternyata diam-diam dia peduli.
“Udah, kok. Kemarin cuma demam doang. Kamu kok tahu kalau aku sakit?”
Alden mengangguk kecil. “Kemarin Kaila yang bilang.”
“Oooh.” Fuji terkekeh kecil. Dalam hati berharap kalau obrolan itu tak selesai begitu saja.
“Oke deh, kalau gitu, aku duluan, ya?” Alden kemudian berlalu, membuat Fuji mengurungkan niatnya untuk mengajaknya mengobrol lebih lama.
“Sepertinya kamu bukan selera dia.”
Suara itu sontak membuat Fuji menoleh ke belakang. Astaga naga, kenapa musibah itu datang lagi, sih?
“Maksud Bapak apa, ya?” Meskipun berat, tapi setidaknya Fuji harus menjaga attitude-nya di kampus. Jadi, sebisa mungkin, dia menahan diri untuk tidak mengumpat dan bersikap ketus pada Aska.
“Sepertinya Alden lebih suka wanita yang lebih hot dan seksi.”
Astagfirullah. Ujian apa lagi ini?
“Maksud Bapak ngomong seperti itu apa, ya? Saya tahu, saya bukan cabe-cabean jadi nggak bisa hot-hot gitu. Tapi, kenapa Bapak bicara kayak gitu sama saya?”
Aska tersenyum. “Saya cuma mau bantu menyadarkan kamu biar kamu nggak berharap terlalu banyak.”
“Nggak usah sok tahu soal saya. Bapak nggak berhak ikut campur urusan pribadi saya.”
“Kamu juga nggak penting buat saya urusin kok.” Aska kemudian beranjak, meninggalkan Fuji yang dalam hati langsung menghujatnya.
“Kenapa sih gue harus ketemu cowok nyebelin kayak gitu?”
***
“Fujita Naura?”
Kalau Alden yang memanggilnya, jantung Fuji berdebar karena cinta. Tapi, pada saat mendengar Aska yang memanggilnya, Fuji seperti sedang dipanggil Malaikat maut. Ya ampun, jangan bilang kalau dia mau menyuruh Fuji untuk presentasi ke depan kelas. Sumpah, Fuji nggak akan siap untuk itu. Pura-pura pingsan aja kali, ya?
“Halo, apa kamu dengar saya?” seru Aska sambil menunjuk Fuji dengan spidol di tangannya.
Semua pandangan kini tertuju pada Fuji yang terpelongo kaget. Dia belum sempat bereaksi saat Aska memanggilnya tadi.
“Hah?”
Kaila menyikut pinggang Fuji. “Dia barusan manggil lo.”
“Eh, iya, Pak?” kata Fuji sambil menegakkan punggungnya.
“Gimana dengan presentasinya? Sudah bisa tampil sekarang, kan?”
Fuji menatap Aska lekat-lekat sebelum meninggikan dagunya. “Saya belum hapal materinya. Bapak bisa suruh yang lain.”
Kaila yang mendengarnya seketika menutup mulut karena kaget. Tidak mengira kalau sahabatnya itu jadi lebih berani dari sebelumnya.
“Kenapa? Bukannya saya sudah kasih kesempatan selama seminggu buat kamu belajar. Apa daging kecil di kepala kamu masih tidak sanggup untuk mempelajarinya?”
“Lo punya daging tumbuh di kepala, Ji? Kok gue baru tau?”
Fuji mendengus, menahan sabar atas pertanyaan Kaila. Bisa-bisanya dia nggak tahu kalau daging kecil yang dimaksud dosen songong itu adalah otaknya.
“Iya, begitulah, Pak, kira-kira,” jawab Fuji, sudah mulai lelah.
“Makanya jangan kebanyakan main ponsel. Jadi, kinerja otak bisa berkurang,” ucap Aska, membuat seisi kelas menahan tawa.
Terserah deh. Udah terlanjur dimalu-maluin juga. Fuji tak mau ambil pusing meskipun sebenarnya dia tersinggung dengan perkataan Aska barusan.
“Ya sudah, kita lanjut lagi aja. Fuji akan tampil minggu depan. Oke, Fuji?”
“Hah?”
“Kamu akan presentasi ke depan di pertemuan berikutnya. Setuju, kan? Oke, terima kasih.”
Belum bilang iya loh ini! Enak aja bilang-bilang oke!
“Hihihihi, kayaknya dia belum puas deh sebelum bikin lo benar-benar tampil ke depan.”
“Dia mau bikin gue malu kayak gimana lagi, sih?”
Kaila terkikik geli. “Sabar, sabar, entar gue bantuin. Oke?”
Fuji mendengus malas. “Kesel gue lama-lama diginiin.”
“Makanya, buruan minta maaf. Gue rasa dengan gitu dia nggak bakal cari masalah lagi sama lo.”
Minta maaf? Yang benar saja? Itu nggak ada di dalam kamus seorang Fujita Naura.
***
Aska sedang mengobrol dengan rekan kerjanya yang lain ketika dia mendengar ada suara petir yang menyambar disertai cuaca yang tiba-tiba memburuk. Langit menjadi gelap dan angin yang berhembus kencang.
“Sepertinya mau hujan, Pak,” kata rekan kerjanya sambil melihat keluar jendela. “Sudah mulai gerimis.”
Aska mengangguk. Awalnya dia tidak begitu peduli. Tapi, mendadak, dia terkesiap ketika teringat akan sepasang sepatu yang dia jemur di teras balkon. Ketika dia berjalan mendekat ke jendela, hujan pun turun dengan deras.
Aska mendengus malas. “Kenapa saya harus merasa khawatir? Itu bukan hal yang penting,” katanya, mencoba untuk tidak memikirkan nasib sepatu Fuji yang sepertinya sekarang sudah basah kuyup karena terkena hujan.
“Maaf, Pak, barusan bilang apa?”
Aska tersenyum kecil. “Sepertinya hujannya akan awet.”
“Iya, Pak, sepertinya begitu.”
Sementara itu, di koridor kampus, tampak Fuji sedang memandangi hujan yang turun dengan deras. Fuji menyukai hujan, dan ketika melihatnya turun, rasanya nyaman sekali. Fuji pun melangkah lebih dekat agar tangannya bisa mencapai air hujan yang jatuh. Namun, ketika dia baru melangkah, kakinya terpeleset dan nyaris terjatuh kalau seseorang tidak menahan tubuhnya.
Fuji menoleh ke samping, pada seraut wajah tampan yang sedang menatapnya dengan khawatir.
“Hati-hati, lantainya licin,” ujar pemilik wajah tampan itu dan tersenyum tipis.
Fuji segera berdiri tegak dan merapikan rambutnya yang mungkin sedikit berantakan. “Makasih, Alden….”
Alden mengangguk. Dia lalu menjauh sedikit dari Fuji dan berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. “Kamu suka hujan, ya?”
“Iya, suka banget. Rasanya damai banget kalau ngelihat hujan turun. Iya, nggak, sih?” tanya Fuji, sambil matanya tak putus-putus menatap bibir Alden yang merona merah. “Rasanya pasti manis.”
“Sori? Kamu barusan bilang apa?”
“Eh?!” Fuji gelagapan. “Maksudnya, rasanya nyaman gitu, hehehe.”
Alden mengangguk setuju. “Iya, rasanya benar-benar nyaman.”
Fuji tertawa kecil, mendadak merasa bahagia. Fuji lantas menatap langit yang masih gelap. Dalam hati dia berharap hujan jangan reda dulu, bila perlu sampai malam nanti, agar ada cerita di antara dirinya dan Alden. Walaupun itu hanya sekedar obrolan semata. Paling tidak, Fuji bisa bersamanya selama mungkin.
“Ji! Lo di sini?”
Ya ampun, ngapain juga nih anak nongol tiba-tiba? Merusak suasana aja, batin Fuji saat mendengar Kaila memanggilnya dan berhenti di sampingnya.
“Eh, ada Alden. Hai, Alden?” sapa Kaila ramah.
Alden mengangguk. “Udah ada yang nemenin, kalau gitu aku duluan, ya?”
Alden kemudian berlari menembus hujan, menuju tempat mobilnya di parkir. Setelah cowok itu pergi, Fuji langsung memelototi Kaila dan mengomelinya, “Lo ngapain sih ke sini? Alden pergi kan jadinya.”
Kaila cengengesan. “Eh, sori, Ji, gue lupa kalau lo suka sama dia. Hehehehe.”
“Baru ngobrol bentar udah pulang. Gara-gara lo nih, Kai.”
“Ya soriiii, bestie. Gitu aja ngambek. Besok-besok juga ketemu lagi.”
“Iya tapi nggak ada momen romantis kayak tadi. Lagi hujan pula. Berdua-duaan tuh rasanya gimanaaa gitu.”
“Emangnya mau ngapain, sih? Mau langsung cipokan sama dia?”
“Maunya gitu."
“Najis.”
Fuji terkekeh. “Hujan nih, makan yuk?”
“Makanya gue ke sini. Gue mau ngajak lo makan. Mi rebus kayaknya enak deh. Yuk!” Kaila beranjak kemudian diikuti Fuji di belakangnya.
“Eh, ada pak Aska tuh! Duduk dekatan, yuk!” ujar Kaila setibanya di sana. Dia menarik Fuji untuk duduk di kursi yang berdekatan dengan Aska.
“Ngapain, sih, Kai, dekat-dekat?!” protes Fuji, tak terima.
“Pengen lihat pak Aska makan.”
“Penting banget, ya?"
“Pentinglah.” Kaila menarik kursi lalu duduk di sana. Dengan malas, Fuji terpaksa mendaratkan bokongnya di kursi itu.
Aska, yang sudah menyadari kedatangan mereka sejak tadi, hanya menatap keduanya tanpa minat.
“Sampai gigi lo kering dia juga nggak balas senyum lo,” ucap Fuji, menyindir Kaila yang sudah menunjukkan senyum manisnya dari pertama kali melihat Aska.
Melihat bagaimana cara Aska mengunyah makanannya, membuat Kaila seperti cacing kepanasan.
“Lo kenapa, sih, Kai? Malu-maluin banget deh,” kata Fuji lagi dengan suara tertahan.
“Gemes, Ji. Pengen dikunyah juga.”
“Gila nih anak.”
Aska mulai merasa tak nyaman karena kedua cewek itu terus memperhatikan dirinya. Dia lalu menaruh sendoknya kemudian beranjak dari sana.
“Udah selesai, Pak?” tanya Kaila.
Aska mengangguk. “Saya duluan, ya?”
Selama dua detik, dia sempat melirik Fuji yang terang-terangan menghindari kontak mata dengannya.
“Oke, Pak,” sahut Kaila dengan senyum manis.
Setelah Aska pergi, Kaila langsung mendengus malas. “Lo ngapain sih ngelihatin dia terus dari tadi?”
“Ya pengen aja gitu lihat gimana cara pak Aska makan.”
“Emang ada bedanya sama yang lain?”
“Adalah, lebih seksi aja gitu.”
“Idih, seksi dari mananya?”
“Dari sudut mana aja.”
Fuji mendecih. “Awas ya kalau mau gitu ngajak-ngajak gue lagi. Lihat mukanya aja malas gue.”
Kaila terkikik geli. “Iya, iya, sori.”
***
Sebelum hujan benar-benar reda, Aska memutuskan untuk pulang karena dia juga sudah selesai mengajar. Setibanya di apartemen, dia langsung menuju teras balkon untuk melihat keadaan sepatu Fuji yang pagi tadi dia jemur.
Aska mendesah saat melihat kondisi sepatu itu yang basah. Itu artinya, perlu satu hari lagi untuk sepatu itu menginap di rumahnya. Merepotkan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
Aska tiba-tiba teringat dengan kejadian sebelum dia pergi ke kantin tadi. Tepatnya pada saat dia melihat Fuji nyaris terjatuh kalau Alden tidak datang dan menangkap tubuhnya.
“Dari sekian banyak orang, kenapa harus dia?” gumam Aska tak habis pikir. Seandainya saja Fuji tahu....
***