Keesokan harinya, matahari muncul dengan sangat terik sepanjang hari. Kebetulan sekali di hari itu Aska tidak pergi ke kampus karena tidak ada jadwal mengajar. Jadi, dia bisa memastikan kalau sepasang sepatu yang dia jemur semalam kering dengan sempurna. Melihat reaksi Fuji kemarin ketika bertanya pada petugas tentang sepatunya, membuat Aska sedikit kasihan padanya. Mungkin sepatu itu berharga baginya, tapi dia membuangnya tanpa pikir panjang. Itu salahnya sendiri sebenarnya. Untung saja Aska yang menemukannya. Orang lain mungkin tidak akan peduli. Tapi, kenapa dia bisa peduli?
Aska mengambil sepatu itu dan memasukkannya ke dalam kotak sepatu miliknya. Setelahnya, dia keluar dari unit dan menaruh kotak tersebut tepat di depan pintu unit Fuji. Aska menekan bel lalu berlari secepat kilat kembali ke rumahnya.
Fuji, yang menjelang sore itu sedang rebahan sambil nonton drakor di ruang TV, terpaksa bangkit untuk membuka pintu ketika mendengar bunyi bel. Pada saat dia mengintip melalui layar kecil di pintu, dia tidak melihat siapa-siapa di luar. Tapi, mungkin orangnya ada di sekitar situ, menunggu Fuji membuka pintu. Pertama kali yang dia lihat saat pintu dibuka adalah sebuah kotak berwarna hitam yang tergeletak di lantai. Sesaat, Fuji terdiam, memperhatikan kotak itu dengan kening berkerut penuh tanya.
Dia lalu menoleh ke kiri dan kanan, tapi tidak menemukan siapa-siapa. Terus, ini dari mana dong? pikirnya, mulai merasa takut. Gimana kalau isinya bom? Atau benda santet? Hiiiii!
Fuji melompati kotak tersebut dan berhenti tepat di depan unit Aska. Dia menekan bel berkali-kali dengan tidak sabar sampai pintu itu membuka dan si pemiliknya keluar dengan ekspresi terkejut.
Apa dia tahu? pikir Aska saat itu.
“Pak, bisa minta tolong nggak?” seru Fuji.
Aska mengerjapkan matanya. “Apa?”
“Barusan ada orang yang nekan bel rumah saya. Tapi, pas saya buka orangnya nggak ada. Saya malah nemuin kotak itu di sana.” Fuji menunjuk kotak itu dengan jari gemetar.
Aska melirik kotak tersebut kemudian mendengus. “Memangnya kamu pikir itu apa?”
“Nggak tahu. Tapi, gimana kalau ternyata itu bom? Atau boneka santet? Jangan-jangan, ada yang mau jahatin saya. Bantuin saya ya, Pak, tolong bukain kotaknya.”
“Kamu takut tapi penasaran mau tahu isinya. Kalau itu beneran bom gimana?”
“Ya saya larilah, Pak.”
“Terus, saya gimana?
“Itu urusan Bapak, mau lari atau mau jadi tumbalnya.”
Aska kemudian berjalan mendekati kotak tersebut. Dia sempat terkejut pada saat mendengar Fuji berseru, “Hati-hati, Pak! Semangat! Jangan lupa baca doa! Kalau ada apa-apa, saya siap bantu teriak.”
Aska mendelik malas. Bisa-bisanya Fuji berpikir kalau kotak darinya itu berisi bom. Aska tidak mau saja mengakui kalau kotak itu berisi sepatu miliknya sendiri. Aska lalu mengambil kotak tersebut dan membuka tutupnya.
“Bukan bom tapi sepatu,” kata Aska dan menyodorkan kotak itu pada Fuji.
Fuji yang tadinya menutup mata, sontak membukanya dan terkejut bukan main ketika melihat isi yang ada di dalam kotak tersebut.
“Itu kan! Ya ampuuun, itu kan sepatu saya!” kata Fuji, mendadak kegirangan. Dia mengambil sepatu itu dan melihat-lihatnya dengan seksama. “Kok udah bersih, ya? Seneng banget nggak jadi hilang, huhuhu.”
Aska mengulum bibir, berusaha untuk tidak terlihat kalau dia sedang tersenyum melihat bagaimana Fuji merasa senang setelah menemukan kembali sepatunya. Sebelum Fuji menyadari hal itu, dia lantas beranjak.
“Makasih, ya. Maaf kalau gue ngerepotin,” kata Fuji tiba-tiba.
Kadang-kadang, cewek itu bersikap seperti muridnya yang sopan, tapi kadang juga menjadi dirinya sendiri. Yang ketus, yang tidak suka basa-basi, dan arogan.
Aska mengangguk. “Jangan keseringan overthinking. Itu nggak baik buat keseharian kamu.”
“Okay!” seru Fuji lalu kembali ke unitnya sambil bersenandung kecil.
Melihat itu, Aska hanya geleng-geleng kepala. Tapi, setelah masuk ke dalam unitnya, dia bergumam, “Cewek aneh.”
***
Fuji menaruh sepatu itu di tempat biasa dia menyimpannya. Memandanginya sebentar sambil bertanya-tanya. “Tapi, siapa ya, yang udah mau bersihin sepatu gue? Terus, kenapa orang itu tahu kalau ini sepatu gue? Aneh banget….”
“Jangan-jangan, itu dari pengagum rahasia lo,” kata Kaila setelah Fuji menceritakan tentang sepatu itu melalui telepon.
“Siapa emang?”
“Ya namanya juga rahasia, ya nggak tahulah siapa.”
“Setahu gue yang tinggal di sini udah pada nikah deh.”
“Jangan-jangan, suami orang! Ya ampun, Ji. Jangan sampai lo dikatain pelakor.”
“Enak aja. Nggak mungkinlah suami orang suka sama gue.”
“Terus, siapa dong? Nggak mungkin kan pak Aska yang ngambil sepatu itu dari tempat sampah terus buang-buang waktu untuk ngurusin sepatu busuk lo itu?”
“Ya nggak mungkinlah. Mana mungkin dia.”
“Ya udah, itu pasti laki orang.”
“Apaan, sih. Nggak mungkin. Pasti seseorang yang udah kenal gue. Tapi, nggak tahu siapa.”
“Kebanyakan nggak mungkinnya lo. Udah, ya, neleponnya? Gue mau belajar, nih.”
“Belajar mulu. Nggak bosen apa?”
“Gue kalo nggak belajar sehari aja bisa stres tahu nggak?”
“Dasar orang aneh.” Fuji langsung menurunkan ponselnya dan menaruhnya di atas ranjang. Setelahnya dia membaringkan tubuh sambil menatap langit-langit kamarnya.
Siapa, ya? Apa gue kenal orangnya?
Fuji masih bertanya tentang orang yang sudah mau mencuci sepatunya sampai seperti baru. Kenapa dia harus jadi sok misterius gitu, sih? Kan kalau Fuji tahu orangnya, dia bisa bilang terima kasih. Apa mungkin yang dipikirkan Kaila benar? Bagaimana kalau ternyata orang itu suami dari salah satu tetangganya?
“Nggak, nggak mungkin. Ini pasti dari seseorang yang kenal gue, tapi gue yang nggak kenal dia. Yang jelas bukan dari laki orang,” ucapnya yakin.
***
Takdir terus saja mempertemukan mereka. Apalagi akhir-akhir ini, selalu saja ada momen di mana Fuji harus bertatap muka dengan Aska. Entah itu di kampus, di sekitar apartemen, dan sekarang bahkan di taman yang yang masih termasuk wilayah tempat tinggal mereka. Hari ini, Fuji berniat olahraga dengan berlari pagi. Ternyata, setibanya dia di taman, sudah ada Aska yang berlari kecil dengan celana hitam panjang dan kaus putih yang membentuk lekukan tubuhnya yang proporsional. Apalagi saat dihujani sinar matahari, keringat yang membasahi setiap inci wajahnya bersinar seperti berlian. Bukan hanya Fuji yang menyadari hal itu, tapi juga para gadis yang berlalu lalang di sekitar sana. Mereka bahkan memuji ketampanan Aska di depan Fuji.
Fuji sudah enak-enak menghindari Aska, tapi tetap saja pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia sempat melirik sepatu yang dikenakan Fuji sebelum akhirnya bertanya, “Tumben kamu kelihatan biasa aja?”
Tuh, kan, mulai lagi.
“Iya, hari ini gue libur jadi ondel-ondel,” jawab Fuji ketus.
“Oh, pantes.”
Balasannya selalu menyebalkan.
“Gue pikir, lo itu orangnya pendiam. Nggak taunya, kebanyakan ngomong,” kata Fuji lagi.
Aska tertawa mendengus. “Saya kayak gini juga cuma sama kamu.”
“Hah?”
Aska tidak menjawab dan malah melenggang pergi begitu saja.
“Bagus, pergi aja sana! Kalau perlu yang jauh sana, nggak usah balik-balik lagi,” kata Fuji sambil memandangi punggung Aska yang menjauh.
Fuji duduk di salah kursi panjang di dekat sana untuk beristirahat sebentar. Matahari mulai terik dan dia berpikir untuk kembali ke unit sebelum sinar matahari langsung merusak kulitnya. Orang-orang juga mulai terlihat membubarkan diri untuk pulang.
Setelah masuk melalui pintu utama, dia melihat Aska sedang mengobrol dengan seorang wanita berparas cantik di depan lift. Tak lama kemudian, keduanya masuk dan Aska menarik koper berwarna merah bersamanya. Penasaran, Fuji mempercepat langkahnya agar bisa mencari tahu siapa gerangan gadis itu. Sepertinya, dia punya hubungan khusus dengan Aska.
Beruntungnya Fuji ketika dia tiba di lantai tempat unitnya berada, dia masih bisa melihat Aska dan gadis itu sedang berjalan menuju unit milik Aska.
“Saya nggak tahu kalau sudah sampai di sini. Maaf, saya nggak jemput kamu.”
“No problem. Yang penting aku di sini sekarang.”
Aska mengangguk kecil. Dia lalu menoleh ke belakang dan mengernyit ketika melihat Fuji sudah berada di belakang mereka sambil menelepon.
“Ya halo?” kata Fuji lantas masuk ke dalam unitnya.
Entah kenapa saat itu Aska merasa Fuji sedang berpura-pura. Mungkinkah sejak tadi dia menguping pembicaraannya dengan Irene?
“Irene,” panggilnya setelah membuka pintu.
Pada saat Irene masuk, dia melihat Fuji keluar dari unitnya dengan ponsel masih berada di telinga kanannya.
“Iya, iya, bentar.” Fuji segera menutup pintu saat Aska menoleh padanya.
Semoga saja Aska tidak curiga kalau sebenarnya Fuji dari tadi sedang kepo dengan urusannya.
Aska menutup pintu dan mengulum senyum. “Dasar aneh. Maunya apa coba?"
***