Chapter 5

1067 Words
Chapter 6 Keesokan paginya, Fuji dikejutkan dengan kehadiran tamu tak diundang. Kaila, yang selama ini terbilang jarang datang ke apartemennya. Jadi, begitu melihatnya, Fuji langsung bertanya, “Ngapain lo di sini?” “Gitu ya cara lo nyambut tamu agung? Misi, gue mau masuk!” Kaila dengan tampang kesalnya menerobos masuk ke dalam unit. “Tamu agung gigi lo! Nggak biasanya lo ke sini, makanya gue nanya.” “Gue kebetulan lewat aja. Kan kemarin lo bilang, lo lagi nggak ada jadwal pemotretan, jadi ya udah, gue singgah ke sini. Kangen juga udah lama nggak ke sini. Habisnya lo sibuk mulu, sih.” “Gue mencium bau-bau kebohongan di sini.” Kaila membetulkan posisi kacamatanya kemudian nyengir. “Hehe, gue mau tahu yang mana rumahnya pak Askara.” “Tuh, kan! Modus doang! Mau ngapain memangnya? PDKT?” “Enggak. Cuma mau tahu aja yang mana.” Fuji rebahan di atas sofa sambil menyalakan TV dengan menekan tombol merah pada remot. “Yakin? Lo jauh-jauh ke sini cuma pengen tahu doang rumahnya dia yang mana? Ya kaliii.” “Hehehe, gue mau jadi penjilat asal dia ngasih gue nilai yang bagus, Ji.” “Lo pikir segampang itu? Tuh cowok ya, kayaknya tipe-tipe orang yang nggak mudah didekatin. Jadi, udahlah, mendingan nggak usah drama deh mau dekatin dia.” “Ini masih pagi, jadi gue mau buatin dia teh dulu.” Seakan-akan ucapan Fuji tadi masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri, Kaila beranjak menuju dapur. Fuji mendelik melihatnya dan memutuskan untuk mengambil seni masa bodoh. Biarin aja deh, paling nanti juga dikacangin. “Bentar, yaaa, gue ke sana dulu.” Dengan hepi, Kaila berjalan menuju pintu keluar. Tapi, baru beberapa langkah, dia mundur lagi. “Eh, eh, unitnya yang mana, ya?” “Depan,” jawab Fuji acuh tak acuh. “Awas dimakan lo sama dia.” Kaila bersenandung ria sambil keluar dari unit Fuji. Setelah berada tepat di depan pintu yang kata Fuji adalah unit milik Aska, Kaila pun mengetuknya beberapa kali sampai pintu itu membuka dan seraut wajah tampan langsung menyambutnya. “MasyaAllah, produk unggul,” gumam Kaila takjub begitu melihat Aska yang muncul dengan rambut setengah basah. Sepertinya dia baru selesai mandi. Mana wangi banget lagi. Seger banget rasanya. Aska mengibaskan tangannya di depan wajah Kaila, sambil berseru, “Halo? Ada apa, ya?” “Eh!” Kaila seketika salting dan dia langsung tergagap. “Ba-bapak mau anu nggak? Eh, maksud saya… aduh, maaf, ya, Pak, jadi grogi.” Kaila bergerak heboh, seperti terkena tremor. “Kamu siapa, ya?” “Hah?” “Kamu siapa?” “Saya… saya Kaila, Pak. Saya salah satu murid Bapak di kampus.” “Oh.” Aska sama sekali tidak memberi reaksi yang berarti. “Kamu tinggal di apertemen ini juga?” “Enggak, Pak. Saya lagi itu, lagi main aja di rumahnya Fujita Naura, hehehe.” Aska melirik sebentar pintu unit di depannya dengan malas. “Apa dia yang kasih tahu kamu kalau saya tinggal di sini?” “Iya, Pak, hehehe.” Aska hampir mendengus kesal mendengarnya. “Maaf, tapi saya lagi banyak kerjaan. Kita bicara besok di kampus, ya.” “Bentar, Pak! Saya tadi bikin teh buat Bapak.” Kaila menyodorkan cangkir berisi teh hangat ke hadapan Aska. “Ini, Pak. Masih anget, hehe.” “Kebetulan saya nggak suka teh. Maaf, ya.” Dan pintu itu tertutup sebelum Kaila sempat berbicara lagi. * “Udah?” Kaila mengangguk lesu. “Ada orangnya?” Kaila mengangguk lagi. “Kenapa lo? Dikacangin?” “Ternyata, mau itu di rumah, di kampus, sifatnya sama aja. Ketus-ketus gimana gitu.” Fuji terbahak-bahak. “Tuh, kan! Apa gue bilang. Buang-buang waktu sama tenaga tahu nggak? Ngomong apa aja tuh cowok?” “Dia bilang lagi ada kerjaan, jadi kalau mau bicara, di kampus aja. besok Terus, dia juga bilang dia nggak suka teh.” “Hahahaha, emang enak!” Kaila duduk di depan Fuji dengan bibir cemberut. “Ngeselin sih, tapi ganteng. Nggak jadi kesel deh, hehehe.” Melihat ekspresi Kaila yang menjadi ceria lagi, membuat Fuji mengerling. “Is, apaan sih lo muji-muji dia di depan gue! Gue nggak suka tahu sama dia!” “Ya elah, jadi haters gitu amat.” Fuji tidak merespon. Malas banget gitu pagi-pagi ngomongin cowok yang namanya Askara Bumi itu. “Ji, gue balik dulu, ya?” “Hah? Kok buru-buru?” “Iya, baru ingat kalau tadi sebenarnya gue mau jemput si Andin di tempat kursusnya.” “Bilang aja kalo alasan lo ke sini tuh cuma mau ketemu si Aska!” “Yang sopan dong, dia kan dosen kita. Lo kok sembarangan gitu nyebut namanya dia?" “Itu kan di kampus, kalau di luar ya bedalah.” Kaila mendelik kemudian beranjak. “Gue balik, ya! Bye!” “Hmmm,” sahut Fuji acuh tak acuh. Fuji lantas melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul delapan pagi. Berapa hari ini tawaran endorse-nya sepi. Fuji jadi tidak punya kegiataan apa-apa selain rebahan dan nonton drakor. Fuji juga bukan tipikal orang yang suka keluyuran, jadi setiap dia tidak ada jadwal kuliah dan pemotretan, dia memang lebih suka diam di rumah. Sampai malam menjelang, Fuji pun akhirnya keluar untuk mencari makan. Apartemen ini memang dilengkapi tempat makan dan minimarket, tapi Fuji lebih suka pergi keluar sekaligus berjalan-jalan sebentar untuk menghilangkan suntuk karena seharian di rumah saja. Pada saat itulah, dia melihat Aska baru keluar dari mobilnya di basemen. Fuji memperhatikannya dari dalam mobil sambil tersenyum menyeringai. Setelah memastikan kalau sosok menyebalkan itu sudah menjauh, Fuji lantas turun dan jalan dengan mengendap-endap menuju tempat mobil Aska di parkir. Dia pura-pura menjatuhkan sesuatu di samping mobil karena apa yang dilakukannya pasti dipantai oleh CCTV. Dengan secepat yang dia bisa, Fuji langsung membuka p****l ban pada mobil Aska dengan sebuah alat yang sudah dia siapkan. “Sekali-kali orang kayak gitu harus dikerjain. Lihat aja, siapa yang bakal telat datang besok, hihihihi! Hihihihihi!” Fuji terkikik, sampai-sampai seorang pria bertubuh gendut yang baru keluar dari mobilnya tampak tertegun sejenak. “Itu suara apa, ya? Kok kayak suara si mbak-mbak yang suka nongkrong di atas pohon?” Pandangannya pun tertuju pada sosok bertubuh tinggi dan berambut panjang yang berdiri membelakanginya. “Hihihihihi!” Fuji masih tertawa, tanpa tahu kalau saat itu ada orang yang sedang memperhatikannya dari belakang. “Se-se-setaaaan!” Pria itu pun lari terbirit-b***t mengira kalau Fuji adalah Kuntilanak penunggu basemen. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD