Chapter 4

1128 Words
“Ji, ngapain lo masih di sini?” Kaila datang kemudian duduk di sampingnya. “Mendingan lo pulang, terus rebahan, kan, enak.” Fuji mendelik sambil mengaduk jus alpukat-nya dengan malas. “Lo tau nggak, Kai.” “Enggak, kenapa?” “Ternyata, dosen baru kita itu tetangga gue,” kata Fuji, tentunya dengan nada rendah agar tidak ada yang bisa mendengar ucapannya selain Kaila. Bukan apa-apa, sih. Malas saja gitu kalau misalkan teman-temannya yang lain tahu kalau dia dan Aska ternyata satu apartemen. “Hah? Serius lo? Nggak lagi halu, kan, lo?” “Ya, seriuslah! Makanya gue tuh sekarang stres banget. Di kampus ketemu dia, di rumah ketemu dia. Nggak enak banget gitu hidup gue sejak kenal dia. Meresahkan gitu loh, ngerti nggak?” Kaila mengerjapkan matanya. “Tapi, kalau dipikir-pikir nih, ya, Ji, ada untungnya juga sih kalau kalian satu apartemen gitu. Lo bisa ngejilat dia dengan cara apa pun dan kapan pun.” “Ngejilat dia?” Kening Fuji berkerut. “Maksud lo apaan? Permen kali dijilat-jilat.” “Jadi penjilat gitu loh maksud gue. Lo bisa deketin dia biar nilai lo bagus, kayak kasih makanan ke dia, atau ngapain kek biar dia jadi baik gitu sama lo. Ya nggak? Ya dong, masa enggak, hehehe.” Fuji mendelik malas. “Helllooo, gue jadi penjilat? Sori-sori aja, ya, nggak bakalan! Apalagi ngejilat dia. Hadeeeh, yang bener aja deh lo, Kai.” “Ya ampun, Ji, gue udah ngasih saran yang bener loh. Kan lumayan kalau misalkan entar kalian jadi deket, terus dia mau kasih nilai yang bagus buat lo. Lo nggak perlu rajin belajar dan otak lo bisa lo pake buat hal yang lain gitu. Kayak buat mikir jorok atau apaan kek." “Sori, Kai, tapi bukan gue orangnya yang kayak gitu. Malas banget tahu nggak berurusan sama tuh orang.” “Lagian, emang masalahnya di mana, ya, kalau kalian satu apartemen? Dia ganggu lo? Enggak, kan?” “Ya enggak, sih.” Fuji menelan ludah kemudian menghela napas. “Gue kesel aja gitu sama mukanya dia, terus sama cara ngomongnya dia. Apalagi dia suka banget kayak ngejengkali otak gue, bilang-bilang gue begolah, gue cuma menang cantik doang-lah. Kesel kan jadinya gue.” “Tapi kan apa yang dia bilang ada benernya. Otak lo kan minimalis gitu. Materi apa pun gitu nggak bisa masuk banyak-banyak jadinya bisa nampung dikit doang.” Fuji mendecih. “Seenggaknya gue kan masih punya otak.” “Ya udah nggak usah kesel gitulah. Anggap aja omongannya dia itu angin lalu.” “Nggak segampang itu, Bestie.” “Nikmati aja. Kan lumayan bisa sering-sering lihat cowok ganteng dan gagah perkasa kayak pak Aska, hehehe.” Fuji memberengut. Apalagi yang bisa dia lakukan selain menerima kenyataan kalau dia akan sering bertemu dengan Aska yang menyebalkan itu. Fuji cuma bisa berharap semoga saat-saat ini cepat berakhir. Ganteng sih ganteng, tapi kalau nyebelin buat apa? ** Pulang dari kampus siang tadi, Fuji ada jadwal pemotretan sehingga dia harus pulang agak larut malam hari ini. Dengan mata yang mengantuk, Fuji masuk ke dalam lift yang saat itu sedang kosong. Berkali-kali dia menguap sampai akhirnya tanpa sadar dia tertidur di sana. Sampai akhirnya, pintu lift terbuka dan pada saat yang bersamaan Aska akan masuk ke dalam lift. Begitu melihat Fuji tengah tidur pulas dengan posisi bersandar di dinding lift, membuat Aska mendengus. “Bisa-bisanya dia tidur di tempat kayak gini,” ucapnya lalu mendekati Fuji. “Kapalnya tenggelam, cepat selamatkan diri!” seru Aska dengan suara yang cukup keras sampai Fuji membuka mata dengan terkejut. “Hah? Kapalnya tenggelam?!” kata Fuji panik sambil menatap Aska dengan mata melotot sempurna. Dalam pikirannya saat itu, dia sedang ada di tengah laut karena kapal yang dinaikinya sudah karam. Fuji kemudian menggerakkan kedua tangannya seolah-olah dia sedang berenang untuk menyelamatkan diri. Tentu saja hal itu membuat Aska diam-diam menahan senyum dan menutupinya dengan satu tangannya. Setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Fuji mengerjapkan matanya berkali-kali lalu melihat sekeliling. Dia masih ada di lift, bukan di tengah lautan. Dan tidak ada kapal di sini. Pandangannya kemudian terarah pada kedua tangannya yang lurus ke depan. A-apa yang? Fuji melihat ke belakang, tepatnya pada Aska yang sedang tersenyum penuh arti padanya. Sebelum Fuji sempat berkata-kata, Aska sudah beranjak menuju pintu lift yang baru terbuka. Tapi, dia sempat mengatakan sesuatu yang membuat pipi Fuji terasa panas karena malu. “Lucu juga, ternyata kamu bisa ngelawak.” Setelah pintu kembali menutup, Fuji langsung memegang kedua pipinya dengan histeris. “Astaga! Barusan gue ngapain???” ** “Ngelawak gigi lu!” umpat Fuji sesudah dia tiba di kamar dan merebahkan diri di ranjangnya. “Bisa-bisanya ya dia ngerjain gue kayak gitu! Jahat banget sumpah. Pasti tadi kelihatan aneh deh. Aaaaah!” Fuji menutup mukanya dengan bantal. “Gue benci looo! Dasar manusia aneh!” Sementara itu, pada saat yang bersamaan… Aska tengah berperang dengan dirinya sendiri tentang sebuah panggilan yang masuk ke ponselnya saat ini. Dia bingung harus menjawabnya atau tidak. Panggilan itu datang dari seseorang yang tidak mau dia dengar suaranya. Tapi, untuk menghormatinya, Aska akhirnya memutuskan untuk menjawab teleponnya. “Halo, Pa. Kenapa menelepon tengah malam?” tanyanya, tanpa basa-basi. “Di sini masih sore. Jadi, kapan kamu kembali ke sini? Papa dan mama sudah kasih kesempatan kamu untuk berpikir selama satu bulan ini. Tapi, mana hasilnya? Kamu masih belum kasih jawaban apa pun.” Karena Aska masih bergeming, suara itu kembali terdengar. “Kamu di Jakarta itu mau ngapain coba? Udahlah, lebih baik kamu kembali ke Paris.” “Pa, aku jadi dosen di sini. Aku sudah terikat kontrak dan aku nggak bisa pergi gitu aja sampai kontraknya selesai.” “Papa sudah tahu kamu pasti akan ambil keputusan bodoh seperti itu. Ngapain coba kamu capek-capek jadi dosen. Gajinya juga nggak seberapa, kan? Di sini kita ada banyak bisnis yang bisa kamu urus. Jadi pengusaha itu lebih menjamin masa depan kamu, Aska!” “Kenapa Papa selalu merendahkan pekerjaan seseorang? Papa menjadi seperti sekarang itu juga karena Papa pernah sekolah dan diajarkan oleh seorang guru.” Sejenak, suara itu menghilang. Tapi, beberapa saat kemudian muncul lagi. “Pokoknya, Papa nggak mau tahu. Dalam waktu dua bulan ini kalau kamu nggak juga kembali, Papa akan datang dan paksa kamu pulang ke sini.” “Aku bukan anak kecil lagi, Pa.” “Terserah apa kata kamu. Dengan kamu kabur seperti itu dan bikin keluarga kita malu, Papa nggak bisa tinggal diam. Kamu mengerti, kan, apa yang Papa bilang?” “Aku akan pulang ke sana setelah kontrakku selesai. Di sini sudah larut malam, aku harus tidur, Pa, karena besok mau ke kampus. Besok kita bicara lagi.” Panggilan terputus dan Aska menghela napas lega. Dipandanginya langit malam yang gelap, seperti perasaannya. Sudah berlari sejauh ini, masalah itu tak juga berhenti mengejarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD