Apa? Gila nih orang! Dia mau nunjukin kejantanannya?
Fuji memelotot, terkejut. Dan ketika dia melihat tangan Aska bergerak memegang celananya, Fuji sudah mau pingsan di tempat karena tidak siap dengan itu. Tapi sebelum itu terjadi, Aska sudah menunjukkan sesuatu tepat di depan hidungnya.
“Baca,” kata Aska sehingga Fuji tersadar dari pikiran kotornya.
Setelah mengerjapkan matanya, Fuji melihat kartu tanda penduduk yang ditunjukkan Aska padanya.
“Kamu bisa baca, kan? Di situ jelas-jelas kalau jenis kelamin saya laki-laki. Apa kamu meragukannya?”
Fuji menghela napas. Bisa-bisanya dia berpikir kalau Aska akan menunjukkan anu-nya.
“I-iya, tapi kenapa tuh mulut malah kayak cewek! Seenaknya aja bilang orang kayak tante-tante!”
“Makanya kalau dandan jangan berlebihan. Kelihatan aneh.”
Nggak habis-habisnya nih orang mencela dirinya! Maunya apa, sih?
“Lo tau siapa gue nggak, sih? Atau jangan-jangan lo nggak pernah main medsos lagi jadi lo nggak tahu siapa gue.” Kali ini, Fuji sudah kehilangan sopan santunnya. Lagipula, ini kan sudah di luar kampus. Aska juga terlalu menyebalkan untuk disegani. Umur mereka juga cuma beda dua tahun, masa bodoh dengan status dosennya di kampus.
“Ini bukan jaman batu, tentu aja saya kenal medsos.”
“Bisa-bisanya lo nggak tahu siapa gue.”
“Saya nggak perlu tahu siapa kamu.” Aska tiba-tiba berhenti berjalan dan kembali menatap Fuji dengan sinis. “Dan saya juga nggak peduli.”
Setelah mengatakan itu, Aska pun pergi dari hadapan Fuji, menghilang di balik pintu yang berada tepat di depan pintu unit miliknya. Tersadar akan sesuatu, Fuji kemudian menekan-nekan tombol yang ada di dekat sana sampai pintu itu membuka dan sosok Aska kembali muncul dengan ekspresi malasnya yang cenderung kesal.
“Ada apa?”
“Lo ngapain di sini?”
“Saya tinggal di sini.”
“Hah? Sejak kapan?”
“Sudah sebulan.”
“Hah? K-kok bisa?”
Aska mendengus kesal dan menutup pintu tanpa perlu merasa harus menjawab pertanyaan Fuji.
Fuji mendelik lalu menendang pintu di depannya itu dengan kesal.
“Ini serius? Gue nggak lagi mimpi, kan? Masa iya dia jadi dosen sekaligus tetangga gue?”
Dan sialnya sudah satu bulan lamanya tapi Fuji baru melihatnya.
***
Hari itu seperti mimpi buruk bagi Fuji dan dia berharap saat bangun besok pagi, semuanya benar-benar normal seperti hari biasanya. Tidak ada dosen bernama Askara Bumi di kampusnya dan tidak ada tetangga menyebalkan seperti dia di depan unit apartemennya. Semua hanya mimpi!
Tapi, saat Fuji keluar dari unitnya dan hendak pergi ke kampus, dia justru bertatap muka dengan Aska yang juga baru keluar dari unitnya. Mereka saling berpandangan selama beberapa saat. Fuji lantas memperhatikan penampilan Aska yang terlihat seperti mahasiswa ketimbang dosen yang akan mengajar. Dia juga memakai topi yang jujur saja itu membuat penampilannya terlihat keren. Fuji malas mengakuinya, tapi dia memang sekeren itu gitu loh? Gimana, dong?
“Apa mata kamu dipakai untuk ngelihatin orang seperti itu?”
Fuji mendongak, menatap tampang sinis di depannya itu dengan kedua alis terangkat. “Hah?”
“Kenapa kamu ngelihatin saya seperti itu?”
“E-enggak.” Fuji menegakkan bahunya, menggerakkan lehernya dengan angkuh sambil mengibaskan tangannya dengan acuh. “Gue cuma nggak nyangka aja kalau ternyata lo itu beneran ada.”
Senyum tipis tersungging di bibir Aska dan dia bertanya, “Apa saya sudah masuk ke dalam mimpi kamu?”
“Bukan gitu maksudnya! Tapi—“
Aska melirik jam tangannya dan beranjak, tidak peduli dengan Fuji yang berusaha untuk meluruskan maksud perkataannya tadi.
Fuji mendengus. “Sialan, baru kali ini gue dikacangin sama cowok.”
***
“Ji, lo di mana, sih? Orang udah mulai belajar loh,” kata Kaila yang sengaja membungkuk di bawah meja agar dia bisa menelepon Fuji.
“Mobil gue mogok nih depan kampus. Baru aja. Sial banget emang.”
“Tapi udah sampai, kan? Buruan masuk!”
Sebelum Fuji sempat bilang iya, telepon sudah diputus sepihak. Dengan dongkol, akhirnya Fuji membiarkan mobilnya di luar gerbang dan berlari menuju kelasnya. Setelah merapikan rambut dan pakaiannya yang mungkin berantakan, Fuji mengetuk pintu dan membukanya lalu melangkah masuk.
“Permisi, Pak, maaf saya terlambat,” ucap Fuji pada Aska yang seketika berhenti menggerakkan jarinya di papan tulis.
“Keluar.”
“H-hah?”
“Kamu terlambat masuk kelas saya, jadi silakan kamu pulang.”
Fuji melihat ke seisi kelas yang juga sedang melihatnya. Ada yang sedang berusaha menahan tawa dan senyum mereka, dan sebagian lagi ada yang merasa prihatin.
Fuji kemudian melirik jam tangannya. “Saya cuma terlambat dua menit loh, Pak?”
Aska berbalik menghadapnya, memasukkan satu tangannya ke dalam saku lalu mengangkat dagunya dengan angkuh. “Bagi saya tidak ada toleransi untuk keterlambatan. Jadi, sebaiknya kamu keluar dari kelas saya sekarang. Mendingan kamu pulang, bikin konten yang bermanfaat ketimbang joget-joget yang nggak jelas.”
What the? Dia diam-diam nge-stalking akun medsos Fuji?
“Dua menit dan nggak ada toleransi?” Fuji menaikkan kedua alisnya penuh harap.
Aska mengangguk dengan santainya. “Ya.”
“Tapi, mobil saya mogok, Pak! Saya juga nggak niat mau terlambat kok. Kalau nggak percaya lihat aja tuh keluar ada mobil saya—“
“Kamu sudah membuang waktu saya selama tiga menit. Jadi, tolong… keluar.”
Fuji mencoba menahan emosinya dengan cara mengembuskan napas perlahan. Tak lupa dia menyunggingkan senyum manis sebagai pencitraannya. “Maaf, Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi besok. Permisi.”
Fuji melangkah keluar lalu mendelik malas sambil mengucapkan sumpah serapah di dalam hati. Fuji memang sering terlambat, tapi baru kali ini ada dosen yang sama sekali tidak mau memberikannya kesempatan. Padahal ini baru terjadi sekali loh di kelasnya! Kecuali kalau Fuji sudah melakukannya berkali-kali, ya okelah kalau misalkan dia memang melarang Fuji ikut kelasnya. Tapi, ini baru sekali! Sekali!
Ngeselin banget nggak, sih?
Sepertinya, kehidupan Fuji di kampus ini tidak akan seindah yang dulu lagi.
Dari sekian banyak cowok di muka bumi, kenapa juga harus cowok yang bernama Askara Bumi itu sih yang jadi dosennya? Benar-benar menyebalkan!
***