Chapter 2

1075 Words
Askara Bumi merupakan lulusan dari Universitas Columbia dan mendapat gelar master di usianya yang ke 21 tahun dengan predikat cumlaude. Ganteng, berpendidikan, dan berkharismatik membuat dirinya dikagumi oleh banyak gadis dalam sekejap. Menjadi dosen di usia muda, tentu saja cukup membuat mereka yang bahkan lebih tua darinya terheran-heran. Bagaimana bisa dia menempuh pendidikannya dengan jangka waktu secepat itu. Pastinya Aska adalah salah satu anak yang diberikan kemampuan di atas rata-rata. Tapi, di mata Fuji, dia adalah cowok paling menyebalkan yang pernah dia temui. Karena apa? Karena dia dengan santainya mempermalukan Fuji di depan semua teman-temannya. Seperti yang dilakukannya hari ini. Setelah memperkenalkan dirinya, tanpa membuang waktu Aska langsung mengajar. Di saat semua cewek terkagum-kagum dengannya, Fuji justru lebih memilih fokus pada ponselnya yang menampilkan foto selfie terbarunya beserta komentar netizen yang memuji kecantikannya. “Kamu.” Aska memanggilnya tapi Fuji masih sibuk dengan ponselnya. Kaila lalu menyikut tangan Fuji sehingga cewek itu menoleh padanya. “Apaan?” Kaila menunjuk ke depan dengan dagunya. Setelah melihat ke arah yang ditunjuk Kaila, barulah Fuji lekas-lekas duduk dengan benar dan menyimpan ponselnya. “Halo?” ucap Aska padanya. Fuji mengangguk dengan gugup. “I-iya, Pak?” Aska melipat tangannya di depan d**a. “Apa kamu bisa mengulang lagi apa yang baru saya jelaskan tapi dengan kalimat kamu sendiri?” Fuji mengerjapkan matanya. “Hah?” Aska tersenyum tipis. “Oke, baiklah. Jadi, ternyata benar, seseorang hanya cukup cantik saja tapi tidak bisa pintar. Terima kasih karena kamu sudah membuktikan, kalau perempuan yang cantik itu, belum tentu pintar.” Melihat raut wajah Fuji yang memerah karena menahan kesal, Aska meralat perkataannya . “Maksud saya, nggak semua. Tapi, kebanyakan.” Fuji pikir dia akan berhenti sampai di situ, tapi sepertinya Aska memang ingin mengibarkan bendera perang di hari pertemuan pertama mereka. “Hmm, mungkin kamu salah satunya.” Semua temannya tertawa, sakan-akan kalimat itu lelucon yang tidak memberi efek apa-apa pada Fuji. Nyatanya, hari itu, Fuji sudah mem-blacklist cowok bernama Askara Bumi itu dari daftar pacar idamannya karena sudah mempermalukannya di depan semua orang. *** “Namanya Askara Bumi, usianya tahun ini dua puluh dua dan udah bergelar master. Katanya, dia udah pinter dari lahir. Dan pas gue tahu dia jadi dosen di kampus kita, sumpah gue seneng banget! Pokoknya, gue harus deketin dia!” ucap seorang teman Fuji saat mereka sedang membahas dosen baru yang di mata Fuji cukup menyebalkan. Bukan cukup, tapi sangat. “Biar apa?” tanya Fuji tak begitu minat. “Plis deh, Fuji! Tumben cowok cakep lo lewatin gitu aja? Memangnya lo nggak tertarik sama dia?” “Cowok nyebelin kayak gitu mana bisa bikin gue tertarik.” Zoya tertawa. “Kenapa? Kesel ya gara-gara dia tadi ngatain lo di kelas?” Fuji merengut. “Tuh orang ada masalah apa coba sama gue? Baru juga kenal, seenaknya ngatain gue cuma modal cantik doang. Udah gitu, bilang gue b**o lagi.” “Ya seenggaknya dia bilang lo cantik, kan? Lagian menurut gue dia agak sopan kok bilang lo nggak pinter, bukan bego." “Iya, sih, tapi harus banget dia ngatain gue kayak gitu di depan anak-anak?” Kaila membetulkan posisi kacamatanya lalu berkata, “Tapi, kayaknya dia ada benarnya deh, Ji. Lo cantik, sih, tapi bego.” Zoya tertawa puas, membuat Fuji menjadi kesal. Meskipun itu memang fakta, tapi rasanya Fuji tidak terima kalau kata-kata itu keluar dari mulut si dosen muda yang menyebalkan itu. “Iya, gue sadar gue udah b**o dari lahir. Tapi, jangan ngomongnya di depan Alden juga, kan? Lama-lama yang ada Alden jadi ilfeel sama gue,” tutur Fuji, mengingat nama salah satu cowok populer di kelas mereka yang punya wajah ganteng, fashionable dan juga anak sultan yang belakangan ini sering mencuri pandang pada Fuji. “Ya udah sih, Ji, anggap angin lalu aja. Cuek aja lagi. Lo kan udah biasa banyak haters,” cetus Zoya dan tertawa sendiri karena ucapannya. “Tapi dia tuh kayak punya dendam pribadi gitu loh sama gue.” “Baru juga kenal, mana mungkinlah.” Fuji mendengus. “Ya udah deh, gue balik dulu.” “Bye!” Kaila melambaikan tangannya pada Fuji yang sudah beranjak. *** Sejak memutuskan kuliah di Jakarta, Fuji memang siap untuk tinggal sendiri di apartemennya. Kedua orangtuanya tinggal di Kalimantan dan akan mengunjunginya sebulan sekali, itu juga kalau mereka ingat. Dengan langkah malas dan mata yang mengantuk, Fuji berjalan masuk ke dalam lift. Saat dia berbalik, betapa terkejutnya dia ketika melihat seorang cowok dengan mamakai hoodie hitam tengah berdiri di depannya dan akan masuk juga ke dalam lift. Fuji mengerjapkan matanya, memastikan kalau saat ini dia tidak salah lihat. Dia kan? Fuji segera bergeser ketika cowok itu masuk dan berdiri di sampingnya. Fuji lantas memperhatikannya dengan kentara demi meyakinkan dirinya kalau cowok itu adalah…. “Kenapa kamu ngelihatin saya kayak gitu?” Tuh, kan! Beneran dia! Ngapain dia di sini? Fuji mendesis. “Bapak ngapain ya di sini?” “Saya bukan bapak kamu,” jawab Aska acuh tak acuh. “Iya, saya tahu, tapi meskipun saya ini bodoh, seenggaknya saya punya sopan santun. Gimanapun juga, Bapak itu dosen saya di kampus.” Aska meliriknya, tersenyum tipis yang justru memberi kesan puas karena mendengar Fuji mengakui kalau dirinya memang bodoh. “Di kampus, bukan di sini.” “Jadi, saya harus panggil apa? Om?Mas? Abang? Kakak? Atau mau dipanggil sayang?” Yang terakhir cuma candaan doang, ya kali dia manggil Aska dengan sayang. Malas banget! Dan hasilnya, Aska masih cuek bebek aja. “Saya jauh lebih muda dari kamu. Berapa usia kamu? Tiga puluh atau empat puluh?” “Hah?” Pintu lift membuka dan mereka tiba di lantai lima belas. Fuji lantas mengejar langkah Aska dan bertanya. “Maksudnya apa? Memangnya saya kelihatan setua itu? Saya masih dua puluh tahun, asal kamu tahu, ya!” Emosi sumpah! Aska berhenti, menatap penampilan Fuji dari atas hingga ke ujung jempolnya. “Oh, ya? Tapi, kamu kelihatan seperti tante-tante.” W-what the….? “Tante-tante kamu bilang?” Intonasi Fuji sudah naik ke level yang lebih tinggi dari sebelumnya. Aska mengangguk. “Menurut pandangan saya, iya. Penampilan kamu terlalu berlebihan untuk cewek seusia kamu. Kamu tahu ondel-ondel?” “Ya tahulah!” “Ya kamu seperti itu.” Fuji memejamkan matanya, berusaha untuk tidak terpancing meskipun sebenarnya dia sudah. “Julid banget jadi orang. Cowok bukan, sih? Lemes banget tuh mulut!” Aska tersenyum miring lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Fuji dan bertanya, “Kamu mau bukti?” “H-hah?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD