Bab 1
Laila, seorang gadis desa berumur 19 tahun.
Kulitnya Tan, wajahnya oval mempunyai dua lesung pipi.Sangat manis dan pintar.Anak pertama dari pasangan Nani dan Bambang. Memiliki seorang adik perempuan yang masih tinggal dibangku SD.
Laila tinggal disebuah desa yang cukup jauh dari keramaian kota.
Setelah lulus SMA ia tidak melanjutkan kuliah karena keadaan ekonomi keluarganya yang tidak mendukung.
Ia lebih memilih untuk membantu ibunya berjualan diwarung nasi sederhana.
Ayahnya sudah tidak mampu lagi bekerja karena sakit.
"Mba saya mau pesan, "ucap seorang laki-laki yang duduk di kursi pojok.
"Silahkan mas mau pesan apa?"
Laila berjalan menghampiri laki-laki tersebut.
"Nasi rames 3 dibungkus ya," ucap si lelaki.
"Tunggu sebentar mas, " ucap Laila lembut. Laila bergegas ke belakang untuk menyiapkan pesanannya.
'ternyata didesa ini ada gadis cantik juga' batin laki-laki itu. Laki-laki itu adalah salah satu mahasiswa yang kebetulan sedang KKN di desa tersebut.Wajahnya yang tampan mampu memikat setiap perempuan yang melihatnya.
Tapi Laila justru sangat cuek melihat laki-laki itu bahkan saat ia tersenyum ke arah gadis itu, Laila hanya menunduk dan tidak membalas senyumannya.
Hal itu membuatnya jadi penasaran terhadap Laila.
"Ini mas pesanannya, jadi tiga puluh lima ribu, " ucap Laila memberikan kantong plastik di tangannya.
"Terimakasih cantik" ucap laki-laki itu berbisik.Laila tak menghiraukannya dan kembali ke belakang.
Laki-laki itupun keluar dari warung nasi.
Selama perjalanan pikirannya terus mencari akal untuk bisa mendekati gadis itu.
"Kenapa sih lu dari tadi bengong aja?"
Tanya salah satu temannya saat ia sampai di kostan tempat mereka tinggal selama di kampung itu.
"Lu tau kan warung nasi di ujung jalan sana? Ternyata ada cewek cantik bro, " ucapnya antusias.
"Ah masa sih di kampung kaya gini ada cewek bening, " ujar salah satu temannya ragu.
"Dih gak percaya, liat aja ntar gue yakin lu juga bakal terpesona tuh,"
Mereka bertiga asyik membicarakan Laila bahkan ketiganya siap taruhan untuk mendapatkan gadis itu jika memang benar-benar cantik.
Sementara ditempat lain, Laila merasa kurang nyaman setelah diperhatikan oleh pelanggan laki-laki tadi.Laila memang gadis yang sangat polos dan tertutup apalagi terhadap orang asing seperti itu.
"Kamu kenapa Nak kok melamun?" Tanya Bu Nani yang sedari tadi memperhatikan putrinya.
"Engga apa bu," jawab Laila dengan senyuman mengembang dipipinya.
"Kalau cape lebih haik kamu istirahat dikamar saja," ucap Bu Nani seraya mengelus kepala putrinya dengan lembut.
Rumah mereka memang menyatu dengan warung nasi sederhana itu.Hanya disekat menjadi dua bagian.Bagian depan untuk warung dan yang belakang untuk tempat tinggal.
Laila mengangguk dan memilih masuk ke dalam kamarnya.
***
Keesokan harinya Laki-laki itu datang kembali bersama kedua temannya.Laila yang sedang melayani pembeli berusaha cuek dan tidak menghiraukan kedatangan mereka.
"Dion bener tu cewek bening amat," ucap salah satu temannya yang bernama Jodi.
"Iya jod itu mah bidadari,"timpal Diki.
Mereka memang terkenal geng playboy di kampusnya.Tiga sekawan itu memiliki wajah rupawan dan juga harta yang berlimpah karena ketiganya merupakan anak orang kaya.Tak heran jika mereka selalu digandrungi cewek cewek populer di kampus.Sedangkan Laila malah cuek dan seolah tidak terpengaruh dengan ketampanan mereka.Ketiga pria kerenpun akhirnya memutuskan taruhan untuk mendapatkan gadis itu.Setiap hari mereka datang ke warung dan menggoda Laila tapi tak satupun yang digubris oleh gadis itu.
Sampai akhirnya ketiga pria itu memutuskan untuk mendekati Laila sebagai teman.
"Kenalin aku Dion," ucap laki-laki itu.
"Jodi"
"Diki"
Ketiganya mengulurkan tangan bergantian kepada Laila.Laila mulai bersikap lebih santai dan berusaha menerima kehadiran mereka disana.
"Kamu gak kuliah?" Tanya Diki.
Laila hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata apapun.
"Kamu kan asli orang sini, kira-kira kamu bisa ngga temenin kita buat tour kampung ini?" Tanya Dion.
Laila terdiam untuk berpikir.
"Mau ya laa," ucap Jodi.
"Yaudah tapi aku izin dulu sama ibu," jawab Laila sambil berjalan menuju dapur menemui ibunya.
"Bu izin bentar ya mau ajak anak-anak mahasiswa itu keliling kampung," ucap Laila.
"Yasudah hati hati!" Laila pamit kepada ibunya dan pergi bersama ketiga pria itu.
Selama berjalan Laila menjelasksn tentang segala hal yang ada dikampungnya, berikut dengan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat di sana.Saat kedua temannya fokus mencatat semua yang dijelaskan Laila.
Dion malah fokus menatap wajah cantik Laila.
"Kenapa ngeliatin kaya gitu?" Ucap Laila yang merasa dirinya diperhatikan.
"Cantik" gumam Dion.
"Hah apa?" Tanya Laila yang kurang jelas menderlngar ucapan Dion.
"Ehh engga lupain aja gak penting, yu lanjut!"
Hari sudah mulai sore Laila juga sudah merasa lelah berkeliling kampung.Mereka memutuskan untuk melanjutkannya besok.Laila pulang diantar Dion sementara kedua temannya langsung menuju kostan mereka.
Laila sangat canggung berjalan berdua dengan Dion.Ia menunduk dan berjalan tanpa bicara apapun.
"Minta nomor hp kamu dong, biar gampang." Dion memulai pembicaraan.
"Gak ada," jawab Laila dingin.
"Lah pelit banget minta nomer doang." Dion agak kesal dengan sikap Laila yang sedari tadi jutek.
"Bukan pelit tapi emang gak ada, soalnya aku gak punya hp,"ucap Laila. Laila memang tidak memiliknya, jangankan untuk beli hp untuk sehari-hari saja ia harus cari uang dengan susah payah.Apalagi akhir-akhir ini penjualan di warung tak seberapa.
"Ooh gitu, kamu mau gak ikut ke Jakarta bareng aku, di sana kamu bisa kerja terus kirimin keluarga kamu dari sana," celetuk Dion ngasal.
"Aku gak bisa jauh jauh dari keluarga ku, sedari kecil kami selalu bersama".
Laila tersenyum mengingat setiap moment kebersamaan dengan keluarganya.Meski sederhana keluarga Laila sangat harmonis dan begitu penuh kasih sayang.
"Tapi kalau kamu tetep disini kamu gak bisa loh bantuin keluarga kamu apalagi aku dengar ayah kamu sakit kan, memangnya kamu gak mau bawa dia berobat?"
Entah apa yang ada dipikiran Dion ia malah berpikiran untuk membawa gadis itu ke kota.
"Entahlah gimana nanti aja,"jawab Laila.
"Yaudah aku masuk dulu, makasih udah nganter." Sambung Laila lalu masuk dan meninggalkan Dion.
"Asli ni cewek jutek amat, masa dia gak terpengaruh sama sekali sama ketampanan gue," gumamnya seraya menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh Laila.
Dion kembali ke tempat kost nya, disana teman-temannya sedang asik berbincang-bincang.
"Kayanya si Laila itu gak normal dah, masa liat cowok cowok keren kek kita dia biasa aja," celetuk Diki.
"Ahh lu sembarangan aja kalau ngomong," jawab Jodi.
"Aduh sakit sialan lu!" Diki mengaduh kesakitan saat Jodi melemparkan sebuah buku di tangannya ke arah Diki.
"Lagian lu ngomong ngawur banget, gak jelas lu," timpal Jodi.
"Pada ngomongin apaan sih lu berdua, berisik banget sampe kedengeran ke depan," tanya Dion yang baru tiba di sana.
"Tau nih si Diki masa dia bilang Laila kagak normal,"jelas Jodi.
"Ah gila lu," ucap Dion sambil berlalu kekamarnya untuk membersihkan diri.
Brukk...
Laila yang baru saja pulang tiba-tiba dikagetkan dengan suara itu.
"Suara ada yang Jatuh," gumamnya.
Laila menuju ke arah sumber suara yang ternyata dari kamar sang ayah.
"Ayahhh!...Ya Tuhan. Buu Ayah bu tolong..."
Laila berteriak teriak memanggil ibunya tapi yang dipanggil tak kunjung datang.
Entah kemana Ibu dan adiknya pergi.
"Bagaimana bisa mereka meninggalkan ayah yang sedang sakit sendirian dirumah, Ibu kemana? " Ucap Laila bertanya tanya.Pikiran Laila sudah kalut ia berlari keluar mencari pertolongan tetangga sekitar rumah.
Bersambung. . . .