Putu Mayang

1387 Words
Memainkan Id card yang mengalung di lehernya, saat ini masih jam istirahat. Tyas baru saja kembali makan siang, tetapi bukannya kembali ke ruang finance, dia malah menyangkut di lorong tepat di depan ruang loker para karyawan kitchen. Ia sedang menunggu Yulia sahabatnya yang sedang mengambil pesanannya. Yulia ini jago buat jajanan tradisional, Tyas penggila kudapan manis dan meminta Yulia yang sedang mendapat pesanan membuatkan kue putu mayang, ikut memesan. Baru sempat di ambilnya. Yulia muncul membawa sebuah tote bag, yang diyakini Tyas isinya pesanan dia. "Lama banget sih, Lia! Gue kan nggak sabar makan si manis ini!" katanya memanggil putu mayang—si manis—karena namanya begitu manis sesuai dengan kuah gula alias kinca yang di guyurkannya nanti pada kue tersebut. Baru membayangkannya saja, air liurnya sudah hampir menetes! "gue bikin banyak, kasih teh Rere sama Santi." "Oke Sippp!" Tyas mengintip isinya, dan tersenyum senang saat mencium aroma pandan dan gula merah, serta santan yang tercium. "Gue pisahkan juga buat Sita, nanti gue titip suaminya." Tyas memang meminta terang-terangan di grup gibah mereka, tentu saja Sita yang memang sedang masa mengidam-ngidamnya langsung muncul dan berteriak harus di bawakan. "Nggak kita aja yang antar sekalian main ke rumahnya?" Yulia tersenyum kecil, "Bilang aja lo mau makan tiramisu gratisan!" Tyas tidak mengelak, dia malah menyeringai. "Udah ah gue balik dapur, resto lagi rame." Usirnya tanpa menunggu langsung kembali ke dalam kitchen. Tyas segera beranjak dari saja, tepat di ujung lorong dia berpapasan dengan Chef ganteng yang melangkah ke arahnya, Chef yang tidak lain suaminya Sita. Memakai chef jaket kebangaan hotel, ditangannya ia membawa sebuah kertas. "Siang chef." Semenjak dekat dengan Sita bahkan setelah menikah, Chef Arsya kian ramah pada sahabat-sahabat sita. "Siang juga Tyas, dari dapur?" "Iya nih chef, ambil pesanan dari Yulia." Arsya mengangguk, "Sita juga terus teror saya, mengingatkan agar nggak lupa bawa kue putu mayang buatan Yulia, padahal saya bisa buatkan kalau dia mau." "Ya ampun! Chef manis sekali sih!" Sita yang di perlakukan seromantis itu sama suaminya, Tyas yang tersipu. Ada-ada saja Tyas ini. Arsya tertawa. "tapi, teh sita sehat kan chef?" Sita mengeluh pusing dan mual beberapa waktu lalu. Di grup juga setiap di tanya, dia hanya jawab sedang menyesuaikan kondisinya. "Trimester awal mungkin ya, jadi mual sama sensitif aja sama bau-bauan yang menyengat. Saya bahkan mulai meninggalkan parfum" beritahunya tanpa ragu, karena Arsya tahu seberapa dekat Sita dengan para sahabatnya itu. Tyas jadi membayangkan bagaimana kondisi Sita menghadapi kehamilannya itu. *** "Makan apa Tyas?" "Ya Allah si bapak hobi banget buat jantung Tyas mau copot!" putu mayang yang hampir masuk ke mulutnya gagal, begitu Dhito dengan Hugo boss menguar darinya membuat Tyas terkejut sekaligus hampir melayang karena wanginya. Akhir-akhir ini kepala Hrd itu senang sekali membuat dia terkejut. Dhito tertawa—Dhito charming as usual. Pikir Tyas sambil memandang terang-terangan wajah dan penampilan lelaki itu. "Kamu terlalu asyik makan kuenya, sampai nggak sadar saya berdiri di sini sejak tadi." Tyas menyengir. "Bapak nih nggak cukup apa buat jantung Tyas berdebar-debar saja, sekarang juga buat jantung Tyas mau copot!" Keluhannya masih terselip gurauan khas dia pada dhito. "Bisa aja kamu. itu apa?" "Ini?" Tyas mengangkat kue berwarna merah muda, jika putu mayang diluar sana memakai pewarna makanan. Maka Yulia, khas dengan mengguna-kan buah naga, daun pandan sebagai warnanya menambah cita rasa. "Bapak benaran nggak tahu ini kue apa?" Tyas menyelidik menatap lelaki tampan di depannya tersebut. Dhito tanpa ragu mengangguk, "Pernah lihat, tapi belum pernah coba dan tahu namanya." "Duh seperti cinta Tyas ke bapak, kan?" Tyas terkekeh sendiri. "Persamaannya?" Dhito terlalu hafal gurauan perempuan jelita di depannya ini, makanya dia senang-senang saja begitu Tyas menggoda-nya. "Iya, seperti pak dhito tau perasaan Tyas, tapi belum pernah coba mengenal." Dhio kian tertawa mendengarnya, "Kamu benaran suka sama saya?" Tanya dia begitu bisa menetralkan tawanya. Tyas mengerjap, "Huh? Itu pertanyaan atau memastikan ya, pak?" "Memastikan." Dhito menarik kursi di depan Tyas, lalu tanpa di sangka untuk pertama kalinya lelaki itu duduk disana. Mereka saling berhadapan. Tyas berusaha mengendalikan debar jantungnya, agar tidak asal bicara di depan lelaki potensial jadi pasangan di depannya ini. "Kalau udah pasti?" "Ya, siapa tahu saya mau coba mengenal kamu." Tyas membulatkan matanya, menatap tidak percaya pada Dhito yang mengatakan itu dengan teramat santai. "Bapak bisa banget bikin saya terbang." Suara dhito yang renyah kembali terdengar, "Terbang? kamu punya sayap?" Tyas mendengus tetapi dia tidak kesal sama sekali, "perumpamaan, pak. Eh bapak mau apa?" Tyas semakin melongo saat Dhito menarik kotak makan berisi putu mayang miliknya itu. "Mencoba, kamu tega buat saya penasaran bagaimana rasanya?" katanya lalu dengan santai menyuap dengan sendok plastik yang sudah di pakai Tyas. Tyas tidak bisa berkedip, mulutnya terbuka sedikit melihat lelaki itu. "gue nggak mimpikan, pak Dhito duduk di hadapan gue terus makan dari sendok bekas bibir gue. Bibir gue—" bisiknya di dalam hati. "Tyas kamu seriawan, kenapa terus memegangi bibir?" Pertanyaan dhito membuat khayalan Tyas Larasati bubar seketika. *** "Lo rakus banget sih! masa tiga kotak bisa habis semua!" omel Santi tidak percaya, Tyas bisa-bisanya menghabiskan jatah putu mayang bagiannya dan Rere. "Duh, kalau gue bilang Pak dhito yang makan—" "Nggak mungkin lah! Alasan lho yang masuk akal, ngapain bawa-bawa dhito!" Tyas sudah yakin sekali, Sahabatnya tidak akan percaya jika dia mengatakan bahwa memang dihabiskan oleh Dhito. Dia sendiri saja masih tidak percaya padahal waktu beberapa jam dari kejadian siang tadi sudah berjalan. "Tuh kan teteh nggak percaya." Gumamnya. "Jadi benaran sama Dhito?" Rere yang sejak tadi menyimak dan hanya konsentrasi pada kemudi akhirnya angkat bicara, Santi dan Tyas sedang menumpang pulang dengan Rere. Dan Santi mencak-mencak saat melihat Tyas membawa kotak makan kotor. Merampas khayalan dia sejak siang yang tidak sabar makan putu mayang enak buatan Yulia. Tyas mengangguk dan rona merah samar di pipi serta mata yang berbinar membuat Rere percaya. "Iya, dia yang makan semua." "Bagaimana bisa?" Santi dan Rere langsung memberikan lirikan mata curiga dan Tyas mulai cerita bagaimana Dhito tadi tanpa sungkan menikmati putu mayang mereka. "gue kan nggak tega teh, dia bilang seumur hidup baru kali itu makan putu mayang dan dia jatuh cinta sama rasanya." Tambahnya setelah selesai bercerita. Santi melirik tajam pada Tyas yang duduk di belakang. "Sudahlah san, kita minta Yulia bikin lagi aja." Rere menengahi. "Jangan-jangan kalau Dhito mengajak mengamar juga lho kasih kali ya?!" Santi berdecak tidak percaya. "Ih masa gitu, nggak lah!" tukas Tyas tidak terima. "Jadi perempuan jangan kelewat polos Tyas! Bukan berarti kalau lo suka atau cinta sama lelaki, apa yang dia minta lo turuti. Cinta bukan soal memenuhi kemauan pasangan." Nasihat Santi yang kelewat gemas pada kepolosan Tyas Larasati. Bagaimana tidak polos jika mereka saja tahu, berapa kali Tyas pacaran. Baru dua kali saat kuliah dan awal-awal mereka kenal di BM hotel Tyas memiliki kekasih. Tetapi sejak itu, Tyas tidak pernah terdengar dekat dengan lelaki mana pun kecuali terang-terangan mengaku suka pada Dhito Pamungkas. Mereka sebagai sahabat wajib mengingatkan sahabatnya agar tidak salah langkah. "Iya teteh, Tyas tahu batasan ko. Makasih udah di ingatkan." Tyas tentu saja menerima masukan atau nasihat dari sahabat-sahabatnya yang jauh lebih berpengalaman. "Eits! Lo tetap utang putu mayang sama gue dan Rere. Lo bujuk Yulia sana minta buatin lagi!" Tyas mengangguk pasrah saat Santi meminta dia tanggung jawab. Bahkan Tyas pun belum puas menikmati si manis putu mayang, Ah semua gara-gara dhito! "lo nggak penasaran, san?" bisik Rere untung Tyas sedang fokus dengan ponselnya untuk membujuk Yulia. "Soal dhito sama Tyas?" tebak Santi tepat sekali. wanita yang sudah berstatus seorang ibu itu mengedikan bahu. "Gue lebih penasaran si Dhito yang lebih sering bolak-balik ke ruang Finance, dan hubungan dia sama Luna." Rere mengerutkan kening karena santi malah membawa Luna—Finance controller baru penganti Sita. "Janda selalu di depan, re. Kalau dari fisiknya, Luna, jelas selera si Dhito." Kata Santi membuat Rere terkekeh. "Kita lihat aja!" "Apa yang di lihat teh?" Curi dengar Tyas kurang jelas. "Apaan sih, kepo! Bagaimana Yulia mau buat lagi, nggak?" Tyas menyengir. "Katanya mau aja, asal pesan banyak." Mereka bisa mendapatkan kue putu mayang tersebut karena Yulia yang kebetulan mendapat pesanan lumayan banyak, dan dilebihkan untuk para sahabatnya. "Ya udah lo yang pesan." "Ko gue? Itu artinya gue juga yang bayar?" Tanya Tyas memastikan. "Iya lah, lo tanggung jawab!" Rere tidak ikut-ikutan menyudutkan Tyas, satu hal yang membuat dia tersenyum kali ini Putu mayang menyelamatkan mereka dari gosip yang biasanya Tyas bagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD