Sydney
MALAM terasa cepat bagi Juno dan Cathrine y ang sedang dimabuk cinta. Saat ini mereka tengah maakan malam di sebuah restoran bintang lima. Cath rine merasa minder sekali karena semua mata menatap mereka bedua, seperti pasangan Brad Pitt dan Angelina Jollie. Terlihat sangat serasi.
Namun, karena tak ada status, membuat Cath rine merasa minder. Ini bosnya mengajakmakan ma lam semewah ini, dibelikan gown dan dibayari perawatan salon, sudah seperti Cinderella saja.
“Cath, santai saja. Aku mengajakmu makan, bukan ingin memakanmu,” ucap Juno mem ecah ketegangan Cathrine.
“Ah, maaf, Pak Juno, hanya saja aku tak biasa makan direstoran bintang lima seperti ini,” ucap Cathrine sedikit gugup.
“Kau bisa memanggilku Juno saja, jangan panggil Pak. Itu terlihat seperti aku ini majikanmu,” ucap Juno mengeluarkan senyum mempesonanya, membuat Cathrine tersipu malu.
“Ehm ... ba-baiklah, Pak ... eh, maksudku, Juno,” ucap Cathrine masih terbata-bata karena merasa segan kepada bosnya itu.
“Baiklah, kau mau pesan apa? Pesan apa pun yang kau suka,” ucap Juno lalu memanggil pelayan untuk memberikan buku menunya.
“Ribeye with mushroom sous 1 medium well, untuk minumnya 1 berneroy vsop calvados kadar 40%. Kaupesan apa, Cath?” tanya Juno setelah memesan punyanya.
“Aku....” Cathrine masih bingung membolak-balik menunya.
“Mau kupilihkan?” tanya Juno.
“Ehm, baiklah, Pak ... ah, Juno, maksudku,” ucap Cathrine salah lagi.
“Filet mignon with mushroom sous 1 welldone, minumnya pere magloire aperitif kadar 17%,” ucap Juno untuk pesanan Cathrine. Setelah si pelayan mencatatnya, dia segera undur diri.
“Apa kau senang?” tanya Juno, ini kencan yang sangat kaku.
“Iya, Juno.”
“Kau sangat cantik malam ini. Aku sangat suka,” ucap lagi Juno.
“Jadi setiap hari aku tak cantik?” tanya Cathrine yang akhirnya berani berkata seperti itu, membuat Juno menjadi tertawa.
“Ahaha ... tentu kau cantik, tapi malam ini sangat cantik,” ucap lagi Juno, membuat Cathrine merona.
“Apa tak ada yang marah jika kau mengajakku dinner seperti ini?” tanya Cathrine.
“Ehm ... ada satu orang.” Ucapan Juno sukses membuat Cathrine mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk malu.
“Ah, kalau begitu, kita tak bisa berlama-lama? Aku tak enak jika sampai kekasih Pak Juno datang dan mengira yang tidak-tidak,” ucap Cathrine tak enak dan kembali memanggil Juno dengan embel-embel Pak.
“Ahahaha ... kau ini lugu sekali. Aku bahkan tak bilang orang itu adalah kekasihku,” ucap Juno lagi.
“Jadi siapa yang akan marah?” tanya Cathrine menjadi penasaran.
“Niana Zanneta,” ucap Juno menyebut satu nama wanita. Dia sengaja tak menyebut nama belakang Niana, membuat wajah Cathrine berubah mendung.
***
"Uhuk! Uhukk!
Niana tersedak air minumnya secara tiba-tiba.
“Aduh, Niana, pelan-pelan, Nak. Apa kau habis dari gurun? Kenapa minumnya buru-buru?” tanya Tamara sambil menepuk-nepuk Niana.
“Aku udah pelan-pelan, Tan, tapi kayaknya ada yang ngomongin aku ini,” ucap Niana yang sudah selesai berbatuk ria. Mungkin karena sedang dibicarakan Juno, membuat Niana terbatuk-batuk. Ya, kata orang dulu begitu, padahal tak ada hubungannya. Memang Niana saja yang tak hati-hati saat minum tadi.
“Siapa juga yang mau membicarakan gadis sepertimu? Mengingatmu saja tak mungkin,” ucap Dennis masih saja nyinyir.
“Tanteee....” rengek Niana meminta pembelaan dari Tamara.
“Dennis, jangan gitu. Nanti kalau Niana diambil orang baru nyesel kamu.”
“Ih, gak akan! Aku lagi gak niat sama wanita.
Apalagi sama gadis macam Niana,” ucap lagi Dennis.
“Jangan sesumbar, Dennis. Nanti kena tulahnya kamu.”
“Ah, Mama, bahasanya bikin Dennis pusing. Dennis mau masuk kamar ajalah,” ucap Dennis yang memang tak mengerti bahasa itu karena dia terlalu lama di Amerika. Walau bahasa Indonesianya masih cukup bagus, tetap saja bahasa-bahasa yang mendalam seperti itu membuat Dennis tak mengerti.
“Tante, aku balik ke apartemen aku juga, ya. Mau lanjut ngerjain skripsi, nih,” ucap Niana berbohong.
“Oh, ya sudah, gih. Nanti malam balik lagi, ya.
Tante masak makanan enak,” ucap Tamara.
“Sip, Tan. Ya udah, aku pamit ya, Tan.”
“Iya makasih, Sayang. Jangan telat pukul enam ke sini kamu,” ucap lagi Tamara sebelum Niana menghilang di balik pintu apartemen.
***
Sementara di tempat lain, tepatnya tempat Ratna berada sekarang, dia sedang tersenyum sinis karena mendapat kabar baik dari rekannya yang mengatakan bahwa rekannya tersebut sudah mengirimkan surat peringatan kepada Niana untuk membuat Niana ketakutan dan merasa terancam.
“Apa kau melihat reaksinya?”
“Saat ini aku sedang melihat ke jendela apartemennya. Dia sedang membuka kembali surat ancaman tersebut dan benar seperti dugaanmu, dia tak memberitahukannya kepada lelaki yang menolongnya atau pun kepada wanita paruh baya itu.”
“Bagus! Lakukan terus rencana kita. Jika belum ada tindakan, jalankan saja sesuai rencana. Aku tak akan tinggal diam diperlakukan seperti buronan,” ucap Ratna.
“Baiklah. Tenang saja, kau tak akan lama menjadi buronan.”
“Oke, aku percayakan kepadamu dan terima kasih untuk uang yang kaukirim. Aku sudah menerimanya.”
“Pergunakan seperlunya karena aku tak akan bisa mengirimkan lagi untuk sekarang ini.”
“Tenang saja, aku akan menghemat untuk sementara,” ucap Ratna.
“Baiklah, kututup dulu teleponnya.” Tut ... tut ... tuttut.... sambungan terputus
***
“Bagaimana, Pak? Apa tak ada kabar dari mana pun tentang keberadaan Ratna?" tanya Mario di telepon kepada kepala polisi.
“Sayangnya belum, tapi kami akan kerahkan seluruh kepolisian untuk mencari Ratna. Kami juga sudah menyebar semua fotonya. Bahkan kami sudah berkali-kali bertanya kepada pengikut Ratna. Namun, dia juga tak mau mengatakannya.”
“Baiklah, terus kabari dan pantau per-kembangannya. Jangan lupa kawal Niana, tapi jangan sampai membuat anak itu terganggu. Lakukan penyamaran saja,” ucap Mario tegas.
“Baik, Pak.”
***
Tamara masuk ke dalam kamar Dennis. Dennis dan Tamara sedikit curiga dengan Niana saat tadi di dalam mobil dia tak mengatakan apa-apa kepada mereka setelah membuka secarik kertas dari sayap burung yang di temukan oleh Pak Udin.
“Dennis, Mama masuk, ya?” tanya Tamara dibalik pintu kamar Dennis.
“Ya, Ma, masuk aja. Dennis gak kunci,” balas Dennis dari dalam kamar.
Ceklek
“Dennis, kamu menyadarinya kan?” tanya Tamara tanpa basa-basi.
“Ya, Ma, tapi dia tak mau mengatakannya. Jadi kita harus bagaimana? Lagipula aku belum pulih benar,” jawab Dennis kepada Tamara.
“Hmm ... apa kita katakan saja kepada Juno?” saran Tamara.
“Pasti aku akan memberitahukan pada Kak Juno, Ma. Tapi kita harus tahu apa isi secarik kertas tersebut. Takutnya itu hanya kerjaan orang iseng.”
Saat ini Dennis dan Tamara sedang membicarakan kertas yang diambil Niana di dalam mobil tadi, yang dia ambil di sayap burung merpati.
“Tak mungkin orang iseng, Sayang. Mama yakin itu pasti perbuatan ibu tirinya.”
“Tapi mau bagaimana? Niana sepertinya tak ingin membuat kita terlibat terlalu jauh lagi.”
“Ya, Mama yakin karena kamu yang sudah tertusuk, maka dari itu dia tak ingin membuat kita mengalami hal buruk lagi.”
“Tapi kita sudah berjanji dengan kakaknya kan, Ma?”
“Ya Dennis, tapi Mama yakin Niana tak ingin membawa kita dalam bahaya lagi.”
“Niana ... ah, kenapa aku terus kepikiran dia? Sial! Aku datang ke sini untuk menghindari wanita-wanita Hollywood, tapi sekarang aku malah harus memikirkan gadis yang baru kukenal. Otakku sudah mulai rusak,” ucap Dennis dalam hati.
“Dennis!” teriak Tamara yang ketiga kalinya menyadarkan Dennis dari pikirannya sendiri.
“Ah, ya, Ma, kenapa?” sahut Dennis
“Kamu ini, dipanggilin. Tiga kali baru nyahut. Udah kayak film horror aja kamu,” ucap Tamara.
“Yee ... Mama, Dennis lagi mikir.”
“Ya udah mikir gih, Mama mau masak aja,” ucap Tamara lalu pergi meninggalkan kamar Dennis.
***
Niana masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan bukti penguntitan yang dia yakini bahwa hanya Ratna yang melakukannya. Dia membuka kotak kaleng kosong yang biasa dia sering gunakan untuk menyimpan barang-barang unik. Namun, kali ini dia gunakan untuk menyimpan bukti kejahatan yang dilakukan oleh Ratna.
“Maaf, Tante Tamara. Maaf, Dennis. Aku tak ingin melibatkan kalian lebih jauh. Sudah cukup Dennis terluka seperti itu. Kalian tak harus melindungiku lagi. Ini masalahku dan kalian hanya orang yang baru mengenalku. Aku tak akan tega membiarkan kalian mengalami hal buruk lagi. Aku akan berusaha mengatasi semuanya sendiri,” ucap Niana berbicara sendiri di dalam kamarnya, lalu dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Dia merasa sangat lelah. Baru merasa terbebas dari siksaan ibu tiri, sekarang dia harus merasa hidupnya diawasi. Dia ingin segera keluar dari keadaan ini, keadaan yang menekan masa mudanya.
Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang dan baik-baik saja karena selama ini dia tak pernah berbuat jahat kepada siapa pun.
***
Ting tong ting tong
“Ma, kenapa tak Mama saja yang memanggil Niana? Kenapa aku juga harus ikut?” protes Dennis yang saat ini sedang berada di depan pintu apartemen Niana. Karena sudah pukul setengah tujuh Niana tak juga datang ke apartemen Dennis, membuat Tamara jadi khawatir karena di telepon pun Niana tak mengangkatnya.
Ting tong ting tong ting tong
Dennis memencet bel dengan tak sabar. Masalahnya dia sudah sangat lapar, tapi karena Niana, dia sudah menunggu setengah jam. Sekarang yang ditunggu tak juga membuka pintunya, membuatnya semakin kesal saja.
“Dennis! Kamu ini! Gak sabaran banget, sih?” protes Tamara.
“Ah, Mama, aku udah lapar. Sekarang Niana tak keluar-keluar. Anak itu benar-benar seperti kerbau. Tidur tak bangun-bangun,” ucap Dennis.
Ceklek
“Maaf, Tante. Niana baru bangun,” ucap Niana dengan lemas.
“Apa kamu sakit, Sayang?” tanya Tamara lalu langsung memegang kening Niana dengan punggung tangannya.
“Tidak, Tante.”
“Badan kamu panas, Niana. Kamu masuk saja ke kamar, biar TAnte bawakan makanan ke kamarmu,” ucap Tamara.
“Dennis, kamu antar Niana ke kamarnya. Mama akan bawakan juga makanan kamu.”
“Baiklah.”
Lalu Dennis menggiring Niana masuk ke dalam. Ada rasa khawatir juga di hati Dennis karena Niana terlihat pucat.
“Kau tak perlu mengantarku, aku bisa sendiri,” ucap Niana berjalan lebih dulu.
“Kau ini, saat sakit pun masih keras kepala,” balas Dennis. Tanpa sadar Dennis dan Niana sudah berada di dalam kamar.
“Kenapa kau masuk juga ke sini?” tanya Niana.
“Aku juga sedang sakit dan butuh istirahat. Karena kau sudah membuatku menunggu waktu makanku, kau harus membiarkanku untuk berbaring sebentar di sini,” ucap Dennis yang tak tahu malu langung berbaring di kamar Niana, sambil memperhatikan sekeliling kamar Niana yang kurang tertata rapi.
“Terserah kau saja. Aku juga sangat lelah.” Lalu Niana naik ke sisi lain dari ranjang besarnya.
“Kau itu seorang gadis atau bukan, sih?” pertanyaan Dennis membuat orang menjadi salah kaprah.
“Kenapa? Ini kamarku dan tempat tidurku. Harusnya kau yang pindah dari ranjangku ... hush, hush....” ucap Niana sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Dennis.
“Otakmu itu m***m, ya?” tanya Dennis membuat Niana membuka matanya, walau sangat berat karena obat yang tadi siang dia minum. Obatnya benar-benarnya menyuruhnya untuk istirahat.
“Apa maksudmu?!” Mata Niana sukses terbuka.
“Aku bilang, kau itu seorang gadis atau bukan, sih? Memang apa yang kaupikirkan?” tanya Dennis lagi.
“Memang apa maksudmu?” Niana malah balik bertanya.
“Kaulihat saja kamar ini, seluruh barang diletakkan sembarangan dan tak teratur. Orang melihatnya juga pasti akan mengira ini kamar laki-laki,” jelas Dennis.
“Kau cerewet sekali, sih. Kan bukan kau yang tidur sini, jadi tak usah proteslah,” ucap Niana.
“Aku akan menginap di sini, jadi lebih baik kaubereskan kamar ini,” ledek Dennis.
“Apa kaubilang!?”
“Dennis, Niana, ayo makan dulu.”
Tamara datang dan masuk ke kamar Niana.
“Ya ampun, Niana. Ini kamarmu, Nak? Apa kamu belum juga membereskan kamarmu?” tanya Tamara yang juga terkejut.
“Iya, Tante. Ini sudah aku bereskan, kok,” ucap Niana santai dan mengambil nampan berisi dua piring makanan untuknya dan Dennis.
“Tuh, Mama aja sampai terkejut melihatnya. Aku sudah bilang, Ma, agar Niana membereskan kamarnya ulang,” ucap Dennis.
“Ya, nanti Niana akan bereskan lagi, Tan.”
“Gadis ini benar-benar, aku yang bicara malah dibentak. Mama hanya bilang begitu saja, langsung akan membereskan,” geram Dennis.
“Kau itu lelaki sok perfect. Kalau Tante itu benar-benar bisa menilai,” balas Niana yang sudah mengambil piring makanannya.
“Sudah-sudah. Nanti Tante bantu kamu untuk atur susun barang-barangnya, ya, Niana. Sekarang makanlah, nanti makanannya dingin.”
“Baiklah, Tante. Makasih makanannya, ya, Niana lapar sekali,” ucap Niana langsung melahap makanan yang dibawakan Tamara.
“Makan yang banyak, ya, Sayang,” ucap Tamara.
Dennis hanya diam saja sambil mengunyah makanannya dan berpikir keras untuk mencari secarik kertas yang disembunyikan Niana. Dia ingin mencari alasan untuk membantunya membereskan kamarnya. Namun, hal itu akan menurunkan harga dirinya dan lagi, perutnya masih sakit.
“Tante gak makan?” tanya Niana.
“Tante kalau malam gak makan, Sayang. Hanya makan buah,” ucap Tamara. Niana hanya manggut-manggut sambil kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Setelah selesai makan, Niana membawa piring kotor kedapurnya untuk dicuci dan sekalian piring Dennis juga.
“Dennis, malam ini kamu sama Niana dulu, ya. Ini ada keributan di toko, katanya ada yang lemparin batu ke kaca toko Mama. Ini Pak Satpam yang kasih tahu Mama,” ucap Tamara kepada Dennis dan Niana.
“Niana ikut, Tan,” ucap Niana. Dia sudah curiga kalau itu pasti perbuatan Ratna juga.
“Tak usah, Niana. Tante justru mau titipin Dennis ke kamu karena perbannya harus diganti sebelum tidur,” ucap Tamara.
“Tapi, Tan....” Niana mencoba menahan Tamara, tapi Tamara keburu pergi.
“Niana, kamu tidur di kamar Tante aja karena obat-obatan Dennis ada di rumah. Dennis tahu tempatnya. Tante benar-benar titip, ya.”
“Baiklah, Tan.”
Akhirnya Niana mengalah. Setelah selesai mencuci piring, Niana mengajak Dennis kembali ke apartemen Dennis dan langsung membawa piring yang juga sudah dicuci tadi.
“Dennis, kau tak khawatir dengan mamamu? Dia seorang wanita dan ini sudah pukul delapan malam. Apa tak apa dia pergi sendiri ke tokonya yang mungkin saja ada penjahat di sana?”
“Dia mempunyai banyak penjaga. Kau tenang saja,” ucap Dennis.
“Maksudmu?”
“Papaku mengirim orang-orangnya untuk menjaganya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Makanya bisnis Mama juga berjalan lancar, karena tak ada yang berani bermain-main dengannya. Walaupun mereka sudah bercerai, tapi
Papa masih memberikan perlindungan terhadap Mama.”
“Apa mamamu tahu?”
“Mungkin tahu, tapi dia berpura-pura tak tahu. Sudahlah, kau banyak tanya sekali. Lebih baik kau mandi dan gantikan perbanku. Ini sudah sangat gatal,” ucap Dennis lalu masuk ke kamarnya.
***
Sesampainya Tamara di toko tasnya tersebut, sudah ramai orang. Namun, untung saja ada security yang menjaga tokonya sehingga tak ada tas yang dijarah orang.
“Maaf, Bu, saya tak dapat menangkap pelakunya. Mereka mengunakan mobil.”
“Tak apa, Pak. Asal tak ada yang terluka,” ucap Tamara. “Apa Bapak sudah telepon polisi?” tanya Tamara.
“Sudah, Bu. Sebentar lagi pasti datang, dan ini, Bu.” Si security memberikan batu dan kertas yang digunakan pelaku untuk melemparkan ke toko Tamara.
“Apa ini?” tanya Tamara bingung.
“Ini alat yang digunakan oleh si pelaku,” ucap security dan Tamara membuka kertas yang membungkus batu.
JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU JIKA KAU INGIN BAIK-BAIK SAJA. ANAKMU SUDAH MENJADI KORBAN, GILIRAN DIRIMU YANG MENJADI KORBANNYA JIKA KAU TETAP MEMBANTUNYA
Begitulah isi kertas tersebut.
**