NIANA POV
AKU yakin kejadian di toko Tante Tamara pasti ulah Ratna. Kenapa dia harus melibatkan orang luar jika hanya menginginkan hartaku? Apa lagi yang akan dia lakukan setelah ini? Aku tak ingin melibatkan orang luar lagi dan bagaimana caraku untuk bicara kepadanya?
Aku harus menyelesaikan masalah ini sebelu m terjadi hal buruk lainnya. Aku akan menyelesaikan skripsiku lebih dulu, baru aku akan memancing rekannya untuk membawaku kepadanya. Aku yakin sekali ada rekannya yang selalu tahu keberadaanku.
Aku akan meminta Kakak untuk mengikuti beberapa orang yang dikenal oleh Ratna. Setelah aku mengetahuinya, aku akan bertemu dan bernegosiasi dengannya. Langkah pertama aku harus menelepon Kak Juno lebih dulu.
“Halo, Kakak. Apa kau sedang sibuk?” tanyaku saat teleponku dijawab oleh Kak Juno.
“Ya, Niana. Aku hanya sedang di jalan. Apa ada masalah lain?” tanya Kak Juno.
“Tidak ada, Kak. Aku hanya ingin memintamu untuk menyiapkan beberapa orang untuk mengikuti orang yang pernah dekat dengan Ratna,” pintaku.
“Oh, apa ada yang menganggumu, Niana?” tanya Kak Juno khawatir.
“Tidak, Kak. Hanya saja aku takut ada yang menjadi rekan Ratna. Lebih baik kita waspada kan, Kak?” tanya ku lagi. Aku tak ingin membuat Kak Juno memikirkan diriku lagi. Dia harus fokus mengurus perusahaan di Sydney.
“Baiklah, nanti Kakak akan meminta Pak Mario untuk....”
“Tidak, Kak. Pak Mario tidak boleh tahu mengenai ini, hanya kita saja. Kalau bisa, Kakak harus meminta tolong kepada orang yang bukan dari perusahaan.” Aku memotong perkataannya.
“Hm, baiklah. Kakak akan urus sesuai keinginanmu. Jadi siapa saja yang ingin kau buntuti?” tanya Kak Juno dan aku menyebutkan beberapa nama yang aku kira lumayan dekat dengan Ratna. Aku akan menunggu laporan dari orang-orang kakak, dan selagi menunggu aku harus menyelesaikan semua urusan kuliahku. Jadi aku bisa fokus untuk menjalankan perusahaan Ayah.
Setelah selesai, aku menutup telepon Kakak. Aku membaringkan tubuhku di kamar Tante Tamara. Ya, aku sedang ada di apartemen Dennis. Itu karena permintaan Tante.
“Ah, sial! Aku jadi ingat kejadian semalam. Aku sudah rugi dua kali, nih,” ucapku saat mengingat kejadian setelah aku mandi dan aku ke kamar Dennis untuk mengganti perban di perutnya.
Itu adalah salah satu alasanku tak ingin melibatkannya dan Tante lagi. Aku sungguh kerepotan saat mengganti perbannya. Belum lagi dia terus-terusan memerintah. Lelaki itu benar-benar Mr. Perfect. Itu sebutan baruku untuknya.
Flashback on
“Sudahlah, kau banyak tanya sekali. Lebih baik kau mandi dan gantikan perbanku. Ini sudah sangat gatal,” ucap Dennis memerintahku seperti bos saja. Ah, kalau bukan dia yang menolongku, sudah kulakukan tendangan andalanku untuk menendang wajahnya agar sedikit penyok. Jadi tak terlalu tampan-tampan banget dia.
“Apa? Tampan? Tidak! Aku sudah mulai gila. Kenapa di dalam batinku mengakui bahwa dia tampan? Ah,
Sepertinya otakku sudah mulai rusak karena terlalu banyak kena pukul.”
Aku tak ingin bertengkar lagi dengannya karena aku ingin cepat mengobatinya dan istirahat. Aku harus cepat memulihkan tubuhku. Lalu aku ke kamar Tante Tamara. Aku sudah membawa baju untukku berganti pakaian tidurku, piyama bergambar Stitch, Disney kesukaanku.
Biar saja jika nanti si Mr. Perfect menertawakanku karena piyamaku. Ini peninggalan Ibu, jadi aku akan memakainya sampai rusak. Jika rusakpun aku akan menyimpannya di kotak peninggalan barang-barang dari Ibu.
Tak butuh waktu lama untukku membasuh diriku, lalu aku ke kamarnya. Aku mengetuk pintu kamarnya. Aku tak sepertinya yang main masuk kamar orang tanpa mengetuk. Jika mengingat itu, aku jadi kesal sendiri karena dia sudah terlalu banyak melihat sebagian tubuhku. Dia benar-benar terbawa pergaulan Amerika.
“Masuklah,” ucapnya setelah dia membukakanku pintu. Aku tak akan menutup pintu kamarnya. Aku takut dia berbuat macam-macam. Walau dia tak bisa banyak bergerak, tapi aku harus tetap berjaga-jaga.
“Tutup pintunya, aku sudah menyalakan AC. Aku tak bisa tidur dalam ruangan panas,” ucapnya menyuruhku menutup pintu kamarnya.
“Jika ingin ditutup, lebih baik kita ke ruang tamu saja. Aku tak ingin kau....”
“Baiklah-baiklah, kau itu terlalu percaya diri. Aku tak akan menyentuhmu jika kau tak menggodaku,” ucapnya santai seolah aku ini wanita dari Amerika yang menggoda laki-laki macamnya. Lalu dia keluar dengan membawa kotak peralatan obat-obatan. Aku hanya mengikutinya. Dia sudah duduk di sofa single dan aku ikut duduk di hadapannya menggunakan kursi biasa.
“Buka bajumu,” ucapku.
“Kubilang jangan menggodaku, Nona,” ucapnya lalu dia tersenyum nakal, dia sudah mulai m***m.
“Si-siapa yang menggoda? Jika tak dibuka, bagaimana perbannya mau diganti?” tanya ku membela diri.
“Ah, entah kenapa aku gugup begitu, sih,” runtukku dalam hati.
“Jangan tergoda, ya, melihat tubuhku,” ucapnya lagi yang PD-nya tingkat langit. Tapi sialnya, mulutku ini tak bisa berkompromi. Ini kedua kalinya aku melihat tubuh atletisnya, tapi kenapa aku baru menyadarinya sekarang?
“Wow....”
Dasar mulut tak tahu diri. Bukankah aku sudah sering melihat yang begini punya Kak Juno?
“Sudah kubilang jangan tergoda! Kau ini gadis m***m,” ucapnya santai.
“Sudah, daripada memandanginya saja, lebih baik kau cepat ganti. Aku ingin istirahat. Obat yang kuminum membuatku ngantuk,” ucapnya lagi menyadarkanku.
“Ah, iya, baik.”
Aku memilih tak protes diledek dia terus karena aku juga sudah sangat mengantuk. Entah obat apa yang diberikan dokter, aku pasti cepat ngantuk jika sudah meminum obat itu.
Aku menggunting perban yang menempel di tubuh atletisnya, lalu kubuka perban yang melilit tubuhnya. Aku sedikit kesusahan saat perbannya berada di belakang tubuhnya, jadi posisiku seperti ingin memeluknya.
Aku berusaha agar tak menyentuh tubuhnya dengan tanganku. Namun, karena tanganku yang tak begitu panjang, membuatku sedikit menyentuh tubuhnya. Dia hanya diam saja saat kubuka perbannya. Aku bergidik ngeri melihat luka bekas tusukan itu. Walau hanya segaris, tapi jika kubayangkan lagi, itu pasti sangat sakit.
“Kau ini mau mengobati atau memandangi, sih?” protesnya. Kali ini membuatku gerah dan akhirnya kulawan juga.
“Kau tak bisa sabar apa? Aku sedang memperhatikan lukamu. Apa sudah kering atau belum,” ucapku membela diri. Padahal aku memang sedikit terpesona melihat tubuhnya walau ada bekas tusukan.
“Berikan alkoholnya lebih dulu agar bersih,” ucapnya mengajariku.
“Iya, aku tahu. Kaupikir aku anak SD yang tak mengerti pengobatan,” jawabku lagi.
Lalu aku mengambil kapas dan kupakaikan alkohol. Aku membersihkan lukanya, dia sedikit meringis. Tadinya jika dia marah-marah, akan kutekan-tekan lukanya. Tapi dia bisa menahannya. Lalu aku mengoleskan salep. Entah salep apa, mungkin untuk membuat lukanya cepat kering, lalu dia kembali memerintahku.
“Pakaikan itu juga.” Dia menunjuk sebuah botol entah berisi apa. Aku mengambil cuttonbud dan mengoleskan cairkan yang sedikit kental, lalu kuoleskan lagi ke lukanya.
“Begini saja?” tanyaku sombong setelah kututup lukanya dengan kasa lalu kutempel dengan hansplast polos.
“Ya, perban lagi. Aku tak ingin mengaruknya saat tidur,” ucapnya yang takut mengaruk saat dia sedang tidur. Ini dia masalahku. Jika membuka perbannya saja aku harus melingkarkan tanganku ke tubuhnya, sekarang aku harus memasang perbannya lagi. Ini benar-benar penyiksaan.
“Tante Tamara, kenapa kau menyuruhku?” teriakku dalam hati.
“Apa kau tak bisa memakainya sendiri?” tanyaku untuk bernegosiasi.
“Jika aku bisa, Mama tak akan menyuruhmu,” ucapnya.
“Baiklah.”
Lalu aku memulai untuk membuka perban baru dan kutempelkan satu sisi agar aku bisa kulingkarkan. Aku mulai berposisi seperti ingin memeluknya. Aku sedikit gerogi karena deru napasnya sangat terasa di keningku.
Ini posisi yang sangat tidak nyaman. Aku ingin secepatnya menyelesaikan ini. Namun, aku malah membuat masalah. Aku menjatuhkan perban gulung tepat di bagian belakang tubuhnya. Aku terpaksa berdiri untuk mengambilnya. Namun, bodohnya aku tak ingat, dadaku menempel di wajahnya.
“Kau benar-benar memancingku, ya?!” teriaknya saat dadaku mengenai wajahnya.
Dengan spontan aku mundur. Namun, aku malah hampir terjatuh karena terkejut dengan ucapannya. Dengan sigap, kedua tangannya menangkapku dan posisi saat ini benar-benar membuatnya menang banyak.
Bibirku dan bibirnya kini tak ada jarak. Ini kedua kalinya bibir kami bertabrakan. Namun, saat kuingin melepasnya, dia malah memelukku dan mulai melumat-lumat bibirku. Ini sudah gila, tapi aku tak berontak. Seakan tubuhku terhipnotis oleh aroma tubuhnya.
Dia mulai memasuki mulutku dengan lidahnya, dan ku malah mengikuti permainan lidahnya yang sangat profesional. Ya, tentu saja dia pasti sangat pengalaman. Entah sudah berapa banyak bibir bule yang dia kecup. Ciuman kami semakin panas, entah dia kerasukan apa. Bokongku diremasnya dan diangkat ke pangkuannya.
Posisi ini semakin gila. Dia mulai meremas dadaku. Aku berusaha menahan tangannya, tapi dia tak menghiraukannya. Dia terus melakukannya hingga akhirnya aku digendongnya. Aku bisa merasakan sesuatu yang keras di dekat pangkal pahaku, bahkan menempel di dekat kemaluanku.
Aku tak tahu bagaimana dia menahan sakit di perutnya. Dia membawaku ke kamarnyadan menaikkanku ke atas ranjangnya, masih dengan ciuman panas. Terlepas dari ciuman itu, dia mulai turun ke leherku. Dia mengecup dan....
“Aaah!” teriakku karena merasa sakit seperti digigit semut. Aku mulai sadar dan memanggil-manggil namanya untuk berhenti.
“Dennis! Berhenti, aku mohon!” ucapku. Namun, dia seperti kerasukan. Dia malah terus melanjutkan membuka bajuku. Ah, bukan, dia merobek bajuku, baju kesayanganku. Aku mulai berontak.
“DENNIS! HENTIKAN! KAU! AAH!” Dadaku diremas dengan kencang. Sepertinya dia benar-benar lepas kendali. Tanpa berkata lagi, aku menamparnya.
PLAAK!!
Suara tamparan yang cukup keras mengenai pipinya. Akhirnya dia berhenti dan menatapku kebingungan.
“Kau! Kau sudah mulai gila! Aku, ah, ini tidak benar!” ucapku lalu bangkit dari posisiku. Namun, dia menahanku. Aku berontak. Aku tahu dia pasti kesakitan saat aku bergerak untuk melepaskan tanganku dari genggamannya. Namun, dia sangat kuat. Aku ditarik dan dia memelukku dari belakang, lalu mengucap kata maaf.
“Maaf, Niana, aku tak sadar. Aku lepas kendali. Maaf, kumohon jangan takut denganku. Aku sudah berjanji dengan kakakmu untuk melindungimu. Jadi jangan membenciku karena hal yang kulakukan tanpa sadar,” ucapnya lirih.
Aku merasa dia bersungguh-sungguh. Di nadanya tersirat seperti ada luka di hatinya, tapi aku tak peduli. Aku melepaskan tubuhku dari pelukannya dan pergi meninggalkan dia di kamarnya. Aku tak peduli lagi dengan luka di perutnya. Aku menuju ke kamar Tante Tamara dan menangis.
“Kenapa aku bodoh? Hampir saja aku ... Aaarrhh!” teriakku kencang. Mungkin dia mendengarnya, lalu aku menangis sampai lelah dan tertidur.
Flashback off
AUTHOR POV
Tok tok tok
“Niana, kau sudah bangun? Aku sudah membuatkanmu sarapan. Keluarlah,” ucap Dennis mengetuk pintu kamar Tamara.
“Baiklah, aku akan keluar lima menit lagi,” ucap Niana lalu dia bersiap mencuci muka dan menyikat giginya.
Tak lama, Niana keluar dan menuju meja makan yang sudah tersaji omlette dan jus buah.
“Anggap saja ini permintaan maafku,” ucap Dennis sambil duduk dan memakan sarapan yang dibuatnya.
Niana hanya mengangguk. Tak lama, ponsel Dennis berbunyi.
“Ya, kenapa, Ma? Aku sudah buatkan Niana sarapan,” ucap Dennis langsung.
“Dennis, Mama kecelakaan ringan di jalan tol arah ke apartemenmu.” Ucapan Tamara membuat Dennis terkejut.
**