MD || 06

1731 Words
Pesan bergambar dari Romi membuat Ratna membulatkan matanya dan tersenyum jahat. M ario yang melihat Ratna mulai sibuk mengetikkan ses uatu di ponselnya, bertanya kepada Ratna. “Apa ada kabar?” tanya Mario.  “Oh, ya? Niana ada di dekat apartemen daerah Jakarta Selatan dengan seorang lelaki. Tema nku melihat Niana,” ujar Ratna.  “Apa? Jadi benar Niana diculik?”  “Entahlah, Pak. Sepertinya dia juga disiksa. L ihat banyak memar di wajah dan tangan Niana.” Ratna memperlihatkan foto Niana dan Dennis saat hen dak memasuki area apartemen.  *** Romi sangat kesal karena Ratna menyuruhnya untuk pulang kembali ke kost-kostannya yang sangat kumuh. Dia memilih pergi ke tempat wanitanya yang lain. Ah, atau bisa kita sebut Tante-nya yang lain.  Romi adalah lelaki yang cukup tampan dan terkenal di kalangan tante-tante yang haus akan belain lelaki. Romi menjual tubuhnya untuk hidup mewah. Dengan modal wajah yang tampan dan tubuh yang atletis karena dulunya dia bekerja sebagai trainer di salah satu tempat gym dan dari situ juga dia mengenal banyak wanita paruh baya yang siap membayarnya hanya untuk bermain di atas ranjang dengannya. Kesulitan ekonomi keluarganya yang berada di kampung membuatnya harus menjual tubuh untuk menghidupi diri di kota yang penuh dengan gemerlap dunia malam. Romi sampai di apartemen tantenya yang lain yang terletak di daerah Jakarta Selatan. Saat dia ingin memasuki area apartemen, dia melihat gadis yang hampir memuaskan nafsunya semalam. Gadis itu adalah Niana. Dia sedang bersama Dennis dan hendak turun dari mobil Dennis untuk kembali ke dalam apartemen. Dengan cepat Romi merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel pintarnya dari tante yang entah tante yang mana.  Lalu dia membuka icon bergambar kamera dari ponselnya. Dia memotret Niana saat sedang berjalan bersebelahan dengan Dennis. Sangat kebetulan wajah Niana saat itu sedang murung karena tak dapat mengadukan perlakuan Ratna kepada Mario karena dia sudah didahului oleh Ratna.  Saat dia ingin mengirim gambar Niana dan Dennis, tiba-tiba seorang wanita dari belakang mengagetkannya. Membuatnya tak dapat mengirim foto tersebut kepada Ratna. “Hai, Sayang, sedang apa kau?” tanya si wanita kepada Romi.  “Ah, Sayang, bukan apa-apa. Hanya kerjaan iseng-iseng berhadiah ... haha,” jawab Romi asal.  “Kau ini, sudahlah. Ayo kita naik. Aku sudah siapkan makanan untukmu,” ujar si wanita yang kurang lebih usianya empat puluh lima tahun.  “Baiklah, Sayang. Apa kau sudah tak sabar untuk bermain denganku?” tanya Romi berbisik di telinga si wanita. Wanita itu bergidik kegelian diiringi tawa dan senyum menggoda.  “Kau ini, jangan bicara itu di sini. Bisa didengar orang tahu,” ujar si Tante dengan kerlingan matanya yang menggoda.  “Dasar Tante ganjen! Jika bukan karena terpaksa, aku tak akan mau lagi kembali ke tempat ini. Sudah bayaranmu murah, kau meminta untuk dipuaskan berkali-kali. Aku harus cepat selesaikan urusanku dengan tante ini dan segera memberikan foto gadis nakal itu kepada Ratna,” batin Romi.  Tak butuh waktu lama bagi Romi untuk memuaskan tantenya itu. Dia beralasan ada pekerjaan lain yang mengharuskannya untuk segera pergi. Begitu keluar dari apartemen tersebut, dia kembali melihat Dennis yang keluar dengan seorang wanita paruh baya.  Romi mengeryitkan keningnya. Tak lama dia langsung mengirimkan kepada Ratna gambar yang dia ambil sebelum dirinya memuaskan tantenya.  To : Ratna. Sayang, aku mempunyai kejutan untukmu (Pesan bergambar berhasil dikirimkan) Tak lama Romi mendapat balasan dari Ratna. From: Ratna  Di mana itu? To: Ratna Di daerah Senayan, di apartemen xxx. Sepertinya lelaki itu telah pergi. Kemungkinan gadis sialan itu berada di dalam sendiri, tapi aku tak tahu dia di lantai berapa. Tadi aku tak dapat mengikutinya karena lift penuh. Balasan Romi yang dibumbui dengan dustaannya. From: Ratna Baiklah. Aku akan segera ke sana dengan polisi agar bisa melihat CCTV dari apartemen itu. Chat end. Di sisi lain, setelah Ratna membalas chat dari Romi dan telah menunjukkannya pada Mario....  “Kita menuju ke sana sekarang. Aku akan menghubungi polisi untuk menemani kita,” ujar Mario setelah melihat foto tersebut. Maka mereka pun menuju apartemen yang terletak di daerah Jakarta Selatan tersebut.  ***  To : gabrieljuno27  Kak, maaf baru membalas surel-mu. Saat ini aku sedang bersembunyi di tempat yang lumayan aman. Ratna ... dia bukan ibu yang baik, Kak. Setelah Kakak pergi, dia menyiksaku dan memaksaku untuk menandatangani surat hak warisanku untuk dihibahkan kepadanya. Tentu saja aku tak mau menandatangani surat tersebut. Dia menyewa algojo untuk memukuliku, bahkan dia membawa lelaki asing ke rumah dan aku hampir diperkosa oleh lelaki tersebut. Namun, karena dia mabuk, akhirnya aku berhasil kabur. Aku menemukan seorang lelaki mungkin seumuran dengan Kakak, tapi dia mau menolongku dan ibunya juga sangat baik. Dia mengobati lukaku dan.... Tet ... tet ... tet.... Suara baterai ponsel Dennis habis dan Niana tak tahu di mana Dennis meletakkan charger-nya.   “Ah, tidak, aku bahkan belum sempat mengirimnya ... bagaimana ini.” Niana panik, kenapa harus di saat genting seperti ini. “Bagaimana menanyakan charger-nya kepada Dennis, aku tak tahu nomornya. Ah sial, kenapa dia memberiku ponsel dengan baterai low seperti ini. Aku harus mencari charger-nya.” Maka Niana berkeliling mencari charger ponsel tersebut, Niana membuka seluruh laci dan lemari yang ada di apartemen tersebut. Hanya tinggal kamar Dennis yang belum dia cari. Kamar Dennis dikunci, charger itu pasti ada di dalam. Dia orang yang sangat rapi. Tak mungkin dia meletakkan barangnya sembarang. “Aaarh ... sia-sia aku meminjam ponselnya jika harus menunggunya kembali ke sini.” Niana mulai frustrasi. Mau tak mau dia harus menunggu Dennis kembali ke apartemennya. *** Di lain tempat Dennis sedang mengemudikan mobilnya sambil diinterogasi oleh Tamara. “Kamu kenal Niana dari mana?” tanya Tamara tiba-tiba. Dia sudah sedikit curiga. Tak mungkin Niana adalah kekasih Dennis jika Dennis saja baru sampai di Indonesia kemarin. “Dari temanku,” jawab Dennis singkat. “Teman yang mana? Kaupikir Mama bisa dibohongi? Bahkan kamu belum ada satu hari di sini. Bagaimana bisa kau memiliki hubungan dengan gadis Indonesia? Jawab Mama dengan jujur.”  Tamara tahu Dennis berbohong. Namun, karena melihat keadaan Niana yang seperti itu membuat Tamara ingin menolong gadis tersebut. Tamara sangat menyukai anak perempuan. Apa daya sampai saat ini dia masih belum menikah lagi karena disibukkan dengan usaha kecil-kecilannya sebagai pengusaha tas import. “Baiklah. Dennis akan jujur, tapi Mama jangan marah,” ujar Dennis, kali ini dia tak bisa berbohong lagi. “Baiklah.” Maka Dennis pun menceritakan pertemuannya dengan Niana semalam. Dari mobilnya dibawa Niana sampai dia membawa Niana ke apartemennya, serta sempat mengantarkan Niana ke kantor pengacaranya.  Namun, karena Niana didahului oleh seseorang yang entah siapa Dennis juga tak mengetahuinya hingga kembali ke apartemennya lagi dan bertemu dengan Tamara. “Bagaimana Mama bisa marah, jika anak Mama menolong seseorang yang bahkan kau juga baru tiba di Indonesia. Yang ada Mama bangga denganmu, Dennis,” ujar Tamara. “Tapi Dennis akan mengantarnya pulang hari ini,” ujar lagi Dennis yang masih fokus menyetir. “Kenapa? Apa kau tak lihat memar di seluruh tubuhnya? Pasti ada sesuatu yang tak beres,” ujar Tamara. “Itu bukan urusanku, Ma. Lagipula kejadian semalam hanya kebetulan. Dennis tak ingin melibatkan diri dengan orang asing, apalagi seorang wanita.” “Kau ini. Baru juga Mama membanggakanmu karena telah menolong orang asing, tapi sekarang kau berkata tidak mau tahu lagi. Lagipula Mama lihat Niana bukan gadis sembarangan. Dia seperti anak dari orang hebat.” “Aku ke Indonesia untuk berbisnis sekaligus liburan, Ma. Jadi aku tak ingin menyibukkan diriku dengan gadis gila yang tak kukenal,” ujar Dennis kembali angkuh. “Dennis! Ini Indonesia, jangan bawa sikap angkuh dan aroganmu ke negara ini. Ini negara yang terkenal akan sopan santunnya!” “Ma, jika anak itu adalah anak mafia bagaimana?” Satu jitakan tepat mendarat di kepala Dennis. “Aduh! Mama!” “Kau ini anak Mama atau bukan sih? Kau terlalu lama tinggal di Amerika. Beginilah jadinya sifat dan sikapmu persis seperti papamu. Selalu tak peduli dengan sesamamu!”  “Ya, baiklah. Terserah Mama maunya apa. Bawa saja Niana ke rumah Mama.” “Tidak. Mama yang akan tinggal di apartemen,” ujar Tamata tak terbantahkan.  “Ma, kan perjanjian awalnya aku akan tinggal sendiri di apartemen,” protes Dennis. “Gak bisa! Kalau sifatmu seperti itu, Mama gak akan mengizinkan kau tinggal sendiri.” “Ma, tapi Dennis....” “Tak ada protes!” ujar Tamara yang akhirnya tak dapat dibantah oleh Dennis.  Dennis kalah, mamanya sangat tegas jika menyangkut kehidupan Dennis. Selama Dennis di Amerika juga, Tamara selalu menghubunginya dan menanyakan kabar dan apa saja yang dilakukan Dennis.  ***  Ratna dan Mario sudah tiba di lobby apartemen yang ditempati oleh Dennis. Mereka bersama tiga polisi meminta izin untuk melihat CCTV pada jam makan siang dan tertangkaplah di kamera tersebut Niana dan Dennis yang baru memasuki lobby dan memasuki lift. Lalu monitor menangkap Dennis dan Niana keluar dari lift di lantai sepuluh. Mereka terus memonitor ke unit berapa mereka akan masuk. Setelah mengetahui di mana unit tempat Dennis tinggal, mereka segera menuju ke sana.  Ting tong Suara bel pintu apartemen berbunyi. Niana segera menuju pintu dan melihat di monitor yang dia pikir Dennis yang tiba. Namun, ternyata yang tampak di layar adalah Mario dan ketiga polisi. Ke mana Ratna? Flashback on Saat keluar lift di lantai sepuluh, Ratna, Mario, dan ketiga polisi segera menuju ke tempat Niana berada. Namun, saat di depan pintu apartemen Dennis.... “Bu Ratna, lebih baik Anda berada di belakang saya. Saya takut ada penculik lain di dalam yang mempunyai senjata. Akan bahaya jika Ibu berada di depan pintu. Takutnya Ibu malah ditarik dan menjadi sanderanya,” ujar Mario yang memang sedang gencar mencuri perhatian Ratna. “Oh, baik, Pak Mario. Benar apa kata Bapak.” Maka Ratna pun mundur dan berada di belakang tubuh Mario sehingga pandangannya dari monitor tertutup oleh tubuh Mario. Flashback off “Pak Mario? Dengan polisi? Oh apa Pak Mario tak percaya dengan si Nenek Lampir, makanya dia ingin menjemputku dengan polisi agar aku aman?” tanya Niana bicara sendiri. Dengan senyum mengembang dia membuka pintu apartemen tersebut. “Pak Mario, akhirnya kau datang. Pasti untuk menyelamatkan Niana dari....” Niana menghentikan ucapannya ketika melihat Ratna keluar dari balik tubuh Mario. “Niana sayang, kamu ke mana saja? Apa yang terjadi padamu, Nak? Kau tahu Mama sangat takut kau kenapa-napa. Apa di dalam tak ada penculik lain? Kenapa tubuhmu penuh dengan memar seperti ini?” Ratna benar-benar pandai ber-acting. Dia sangat terlihat khawatir dan bersungguh-sungguh dalam berucap seperti itu.  “Ka-kau?” Niana terkejut dengan munculnya Ratna dari balik tubuh Mario. **  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD