“MAMA kenapa ke sini? Kan, Dennis udah bilang akan ke sana hari ini.”
“Kalau Mama gak ke sini pasti Mama gak akan bertemu dengan calon mantu Mama,” ujar Tamara yang masih duduk di sofa empuk.
“Ke sini, Niana. Betul itu namamu?” tanya la gi Tamara sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya menyuruh Niana duduk di sebelahnya.
“I-iya, Tante.” Niana hanya bisa menurut dan mengikuti drama yang dibuat ala Dennis.
“Ma, jangan tanya yang enggak-enggak,” uja r Dennis lalu duduk di sofa single.
“Apa sih kamu, Dennis. Mama kan mau tahu biodata calon mantu Mama,” ujar Tamara.
Niana hanya tersenyum. Dia bingung harus bagaimana jika ditanya macam-macam. Dia melirik Dennis yang terlihat santai, bahkan terlalu santai untuk melakukan sandiwara di depan mamanya.
“Kemarin baju Niana terkena cipratan air. Jadi aku pinjamkan baju Mama,” ujar Dennis menjelaskan sebelum Tamara bertanya.
Tamara mendelik mendengar Dennis. Namun, bukan itu yang ingin ditanyakan oleh Tamara, melainkan memar yang ada di tubuh Niana. Kenapa calon mantunya itu terlihat seperti gadis yang habis disiksa, walau memang kenyataannya begitu.
“Niana, kenapa dengan memar di tangan dan kakimu?” tanya Tamara lembut. Ya, Tamara hanya sedikit kesal dengan Dennis. Namun, melihat seorang gadis bersama anaknya dan diakui anaknya sebagai calon mantunya membuatnya lupa untuk menjewer kuping Dennis.
“Oh, ini....” Niana berpikir jawaban apa yang akan diberikan kepada wanita yang sedang menunggu jawabannya.
“Dia terjatuh di tangga, Ma,” ujar Dennis lagi-lagi menjawab pertanyaan yang diajukan untuk Niana.
“Ya ampun! Bagaimana bisa? Dennis, kenapa kamu gak pegangi dia dengan baik, sih?” Tamara langsung khawatir dan memegang tubuh Niana yang terluka memar lebih parah membuat Niana meringis kesakitan.
“Aw! Aw!” seru Niana. Sontak membuat Tamara mengangkat baju Niana sampai memper-lihatkan branya, membuat Dennis yang melihatnya langsung memuncratkan air yang terus diminumnya untuk terlihat tenang.
Brruufftt
“Dennis! Kamu kenapa, sih?!” Tamara terkejut dengan apa yang ada di balik baju yang Niana kenakan sementara Dennis terkejut karena melihat bra Niana.
“Ah, maaf, Sayang. Tante gak maksud untuk memperlihatkan bra kamu di depan Dennis. Lagipula kenapa bisa sampai separah ini?” Tamara masih memperhatikan tubuh Niana yang banyak sekali memar yang sudah membiru bahkan menghitam.
Dennis mengusap mulutnya dengan tisu yang diambil di meja samping sofa yang dia duduki.
“Dia terguling dari lantai dua, Ma,” ujar lagi Dennis berusaha menormalkan suaranya. Dia sedang menahan wajahnya yang memerah setelah melihat bra yang dipakai Niana.
“Sialan, kenapa harus memperlihatkan itu. Tenang, Dennis ... tenang,” batin Dennis menelan salivanya, matanya masih melirik luka yang ada di tubuh Niana, walau branya sudah tak terlihat. Dennis juga terkejut dengan memar yang ada di tubuh Niana, kenapa bisa sebanyak itu.
“Masa iya jatuh dari tangga sampai seperti ini? Benar, Niana, kamu jatuh dari tangga?” tanya Tamara yang tak percaya dengan perkataan anaknya sendiri.
“I-iya, Tante. Di tangga kampusku, karena lumayan tinggi dan melingkar. Tangganya licin dan Niana sedang buru-buru,” ujar Niana ikut berdusta. Sudah kepalang basah, jadi sekalian saja dia mandi.
“Ya ampun ... lain kali hati-hati, Sayang. Kamu masih kuliah?” Tanya lagi Tamara.
“Iya, Tante. Sekarang lagi urus skripsi.”
“Ambil jurusan apa? Oh, lebih baik kita ke kamar. Tante akan obati memar kamu. Jangan dibiarkan saja, nanti malah semakin parah.”
“Gak apa-apa, Tante. Tadi aku udah kompres pakai es batu, kok,” ujar Niana tak ingin membuat Tamara mengetahui luka lain yang ada di tubuhnya.
“Udah gak apa-apa.Kamu harus pakai obat, biar Tante ambil arak sebentar. Tante selalu menyediakan arak dari teman Tante. Ini sangat ampuh untuk memar seperti itu.” Tamara mengarahkan Niana untuk ke kamar. Dia mengambil arak dan beberapa obat untuk diminum Niana untuk mengobati dari dalam. Niana menengok melihat ke arah Dennis. Dennis hanya membalas dengan anggukan.
Di kamar Tamara, Niana sudah membuka bajunya. Hanya menyisakan bra. Walau dia masih memakai celana, tapi tetap saja Niana merasa risi. Apalagi ditatap Tamara dengan tatapan menyelidik.
“Niana, apa benar ini semua hanya karena jatuh dari tangga? Bukan Dennis kan yang memukulmu?” tanya Tamara setelah melihat seluruh memar di tubuh Niana.
“Bukan, Tante. Dennis tak pernah memukulku. Ini benar-benar karena jatuh dari tangga,” ujar Niana untuk menyakinkan Tamara.
“Tante sangat takut dengan kelakuan anak itu. Dia baru saja tiba di Indonesia. Dia terlalu lama tinggal di Amerika. Tante takut dia terbawa pergaulan bebas di sana,” ujar Tamara tanpa Niana tahu bahwa Tamara sedang memancing Niana untuk bicara jujur. Namun, Niana tak memberikan respons yang ditunggu Tamara.
“Tidak, Tante. Dia baik dan tak pernah melakukan hal buruk padaku,” ujar Niana. Sebenarnya sempat kesal karena sikap angkuhnya Dennis. Namun, melihat kebaikan Tamara yang mau repot-repot mengobati lukanya, tak mungkin Niana berkata yang sebenarnya. Perlakuan Tamara mengingatkan Niana kepada almarhum ibunya.
Sangat lembut dan menyayanginya. Sudah sangat lama Niana tak merasakan kasih sayang seorang ibu.
“Baguslah. Oh ya ... kamu ambil jurusan kuliah apa?” tanya lagi Tamara.
“Desain, Tante. Aku mau jadi desainer.”
“Oh ya? Wah, kalau kamu benaran jadi mantu Tante, nanti Tante bisa dibuatkan desain baju khusus, dong?” tanya Tamara yang sangat senang dengan masa depan Niana. Niana tersenyum mendengar perkataan Tamara.
Si Tante tidak tahu saja kalau sedang dikibuli oleh anaknya dan Niana, bagaimana reaksinya jika sampai ketahuan.
“Tante bisa aja, aw...,” rintih Niana yang kesakitan. Saat Tamara mengobati luka yang lumayan parah.
“Sakit banget ya, Sayang? Tahan ya ... sebentar lagi selesai, kok,” ujar Tamara dengan telaten mengobati luka Niana.
“Ma, ada telepon dari kan ... tor.”
Dennis tak ingat jika mamanya sedang mengobati Niana. Dia langsung menerobos masuk ke kamar Tamara, karena dia pikir jika Tamara mendapat telepon dari kantor Tamara akan segera pergi dari apartemennya sehingga membuatnya lupa bahwa ada Niana di dalam sana, dan hanya mengenakan bra. Oh, malah bra Niana sudah dibuka oleh Tamara.
“Aaaa!!” teriak Niana mengambil bantal yang ada di dekatnya untuk menutupi tubuhnya. Namun, hanya bantal guling yang ada di dekatnya. Jadi sebagian buah dadanya masih terlihat jelas oleh Dennis, membuat wajahnya memerah.
“Dennis, apa-apaan kamu! Kenapa main masuk aja?! Kamu sengaja, ya, mau lihat Niana tak mengenakan busana apa pun? Kamu benar-benar sudah terpengaruh pergaulan di Amerika. Cepat keluar! Kenapa terus menatap Niana seperti itu! Dasar anak m***m!” teriak Tamara kepada Dennis yang malah menatap Niana penuh gairah. Lemparan bantal dari Tamara baru menyadarkannya untuk segera keluar dari kamar itu.
“Haduh ... hampir saja! Sialan! Kenapa bodoh?! Tapi tadi itu ... bulat sempurna.” Dennis bergumam di balik pintu. Anak itu benar-benar menjadi m***m karena tinggal lama di Amerika.
Ya ampun ... gawat! apa yang aku pikirkan? Ingat, Dennis, semua wanita sama saja, sama-sama pengkhianat!
Dennis lalu meninggalkan kamar itu dan mencoba menepis bayangan d**a Niana yang dilihatnya dengan kagum.
Apa-apaan dengan otak ini? Kenapa bisa rusak hanya karena penampakan bulat sempurna? Aku harus segera membawanya jauh dari hadapanku. Bisa-bisa khilaf kalau tinggal bersamaku terus. Ayo Dennis, hentikan otak mesummu itu. Ingat ini Indonesia bukan Amerika. Lagipula kenapa Mama tak mengunci pintunya?
Dennis terus berjalan mondar mandir untuk menghilangkan bayangan tadi. Dia harus memasang tampang senormal mungkin saat Tamara selesai mengobati Niana dan keluar dari kamar. Dia harus menerima ceramah panjang karena otak dan matanya yang m***m.
“Dennis, kamu harus menerima hukuman. Kenapa main masuk saja?” tanya Tamara setelah keluar dari kamarnya dan disusul Niana. Bukannya menjawab pertanyaan Tamara, dia malah menatap Niana tanpa kedip. Ah, lebih tepatnya menatap d**a Niana. Tamara yang melihat arah mata anaknya ke mana, langsung saja menjewer kuping anaknya itu.
“Kamu ini! Masih berani menatap ke arah sana lagi?! Sudah, lebih baik kamu ikut ke kantor Mama. Bisa gawat kalau kamu Mama tinggal berdua dengan Niana,” ujar Tamara sambil mengarahkan Dennis ke pintu.
“Aaaa ... aw ... Mama, sakit! Dennis kan bukan anak kecil lagi, Ma. Kenapa dijewer seperti ini, sih? Kan malu sama Niana,” ujar Dennis. Jelas saja dia sangat malu. Sudah tertangkap basah melihat d**a Niana, sekarang dia diperlakukan seperti bocah nakal yang tak mau disuruh pulang oleh ibunya. Jelas menurunkan harga dirinya yang semalam sangat angkuh dan bersikap dingin terhadap Niana.
Niana hanya tertawa melihat ibu dan anak seperti itu. Dia benar-benar merindukan keluarganya, merindukan kakaknya Juno yang juga sering diperlakukan seperti itu oleh ibunya jika Juno menjahili dirinya....
Oh iya. Juno! Dia bisa membuka surel-nya dan mengatakan semuanya kepada kakaknya.
“Bodoh! Kenapa baru terpikir sekarang?!” ujar Niana dalam hati.
“Ehm ... Dennis.” Panggilan Niana membuat aksi jewer Tamara terhenti dan keduanya menoleh ke arah Niana.
“Ya?” jawab Dennis.
“Apa aku boleh pinjam ponselmu? Aku ingin mengecek surel. Kau tahu ponselku tertinggal di rumah,” ujar Niana sedikit ragu.
“Oh, tentu saja. Ini.” Dennis melangkah ke arah Niana berdiri dan menyodorkan ponselnya. Sebenarnya untuk menghindar dari Tamara juga, sih.
Niana mengambil ponsel Dennis dan mencoba untuk membuka surel-nya. Saat melihat wallpaper yang terpasang di ponsel Dennis, terlihat foto gadis cantik khas orang barat. Dia terdiam sebentar namun langsung mencari bentuk icon surat dan mencoba menambahkan akun surelnya di situ.
Benar saja, Juno telah mengiriminya banyak surel yang berisi kekhawatiran atas dirinya. Dengan cepat Niana membalas surel tersebut. Dennis yang melihat wajah serius Niana menjadi penasaran juga dengan apa yang hendak dilakukan gadis yang baru diketahui namanya itu.
“Apa ada surel penting yang masuk?” tanya Dennis tiba-tiba.
“Oh, iya. Dari kakakku. Aku akan membalas surel kakakku dan mengembalikan ponselmu,” ujar Niana lalu tetap fokus pada benda berbentuk persegi tersebut.
“Dennis, kau harus ikut Mama sekarang ke kantor Mama. Pak Udin mengirim pesan, mobil Mama bannya kempes dan di kantor sedang ada masalah. Jadi kau harus antar Mama. Biar nanti Pak Udin menyusul Mama di kantor.”
“Oke. Ehm, Niana, kau pegang saja ponselku. Nanti aku akan kembali. Jika kau butuh sesuatu, telepon ke nomorku yang satu lagi. Cari saja kontak namaku, oke? Aku akan mengantar Mama dulu.”
“Baiklah,” ujar Niana tetap mengetikkan sesuatu di ponsel Dennis yang membuat Dennis jadi penasaran dan ingin tahu apa yang terjadi padanya. Apalagi setelah melihat luka memar di seluruh tubuh Niana.
“Niana, Tante pergi dulu. Jika butuh sesuatu kabari Dennis,” ujar Tamara lalu membuka pintu apartemen.
“Baik, Tante. Terima kasih banyak dan hati-hati di jalan,” ujar Niana sambil melambaikan tangannya kepada Tamara dan dibalas lambaian oleh Tamara.
“Apa-apaan dia? Kenapa begitu ramah kepada Mama, sementara dia tak memandangku saat bicara tadi. Dia tak ingat siapa yang menolongnya semalam, dasar! Sekali gadis gila tetap saja gadis gila,” ujar Dennis mendumel dalam hati.
**