TEPAT pukul dua belas siang, Ratna sampai di kantor pengacara yang menangani hak ahli waris Niana, Mario namanya. Lelaki tak berambut dan berusia 49 tahun itu sudah menjadi duda selama dua ta hun setelah ditinggal mati oleh istrinya.
Saat ini, lelaki itu masih ingin mencari pengg anti istrinya. Walau sudah berumur, tapi jiwanya masih ingin memiliki seorang istri. Karena semua anak nya sudah menikah dan memiliki kehidupan mas ing-masing.
Sepeninggal kliennya yang tak lain adalah su ami dari Ratna, dia mulai mengincar Ratna yang masih terlihat modis walau sudah berumur empat p uluh tahun. Wanita itu masih terlihat cantik walau ada sedikit keriput. Dengan perawatan super mahal yang dilakukannya, semua itu bisa ditutupi dengan uang yang mengalir tanpa harus bekerja.
Saat ini Ratna akan menjalankan aksinya untuk membuat Mario percaya akan cerita Ratna. Dia sudah menyiapkan dialog dan tinggal ditambah dengan acting yang biasa dia lakukan untuk membuat orang-orang percaya kepadanya.
“Pak Mario,” ucap Ratna setibanya di ruang kerja Mario. Dia membuat suaranya sepanik mungkin.
“Ya ampun, Bu Ratna. Ada apa? Kenapa datang secara tiba-tiba dan panik seperti itu?” tanya Mario yang hampir saja menyemburkan kopi yang baru saja diseruputnya.
“Niana, Pak! Niana menghilang. Sudah beberapa hari dia tak pulang. Dia juga tak membawa ponselnya dan Bapak tahu juga kan, kalau Niana tak mempunyai teman dekat di kampus. Saya sudah mencarinya ke mana-mana. Saya sangat takut dia diculik. Dia tak pernah seperti ini. Dia selalu memberikan kabar jika ingin pergi ke mana pun. Bagaimana ini, Pak,” ucap Ratna dengan histeris dan mulai menangis.
“Apa?! Kenapa Anda baru datang kemari? Apa Anda sudah melaporkannya ke polisi?”
“Saya juga baru kembali dari rumah orang tua saya, Pak. Begitu saya kembali ke rumah, pembantu di rumah baru memberitahukan hal itu kepada saya.
Saya juga kesal dengan pembantu itu dan saya langsung memecatnya karena tak memberikan saya kabar seperti itu.”
Yang sebenarnya terjadi, Ratna memecat semua pembantu yang membela Niana dan dia tak ingin ada yang mengadukan perbuatannya kepada Juno atau pun Mario.
“Apa?! Bagaimana bisa pembantu rumah juga tak memberitahumu? Sebentar, saya akan memberi-tahukan kepada kenalan saya yang seorang polisi untuk mencari keberadaan Niana. Anda tenang dulu, ya,” ucap Mario tak kalah panik dengan Ratna. Namun, dia benar-benar panik. Tak seperti Ratna yang hanya berpura-pura.
“Tolong temukan Niana, Pak. Walau saya tak melahirkannya, tapi saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri. Dia anak yang mandiri dan penurut. Saya takut dia kenapa-napa. Karena saya akan merasa gagal menjalani amanat dari almarhum suami saya.” Ratna kembali berdialog layaknya kehilangan anak kandungnya.
“Iya iya, Anda tenang dulu. Saya akan urus semuanya untuk mencari keberadaan Niana.”
“Oh, iya ... tolong jangan beritahukan Juno. Dia pasti akan khawatir jika tahu adik satu-satunya itu menghilang. Saya tak ingin membuatnya terganggu, biar nanti saya yang akan memberitahukannya,” ucap lagi Ratna untuk mencegah Mario memberitahukan kabar hilangnya Niana. Ratna takut jika Juno akan kembali ke Indonesia dan dia tak bisa leluasa untuk mendapatkan warisan Niana.
“Baiklah, Anda tenang dulu. Saya akan urus secepatnya dan menemukan keberadaan Niana. Sekarang lebih baik Anda istirahat di tempat saya. Akan bahaya jika Anda mengendarai mobil dalam keadaan seperti ini,” ucap Mario yang ingin mengambil kesempatan untuk berdua dengan Ratna.
“Dasar tua bangka tak tahu diri. Dia pasti ingin merayuku untuk menjadi istrinya. Sampai kapan pun aku tak akan sudi menjadi istrimu. Setelah warisan Niana jatuh ke tanganku, kau akan kutendang,” ucap Ratna dalam hati.
“Tidak, Pak. Saya tak akan bisa tenang jika Niana belum ditemukan. Walau dia ahli bela diri, tetap saja dia adalah seorang gadis.”
“Ya sudah, saya sudah menghubungi polisi dan mereka akan mengerahkan seluruh kepolisian untuk mencari keberadaan Niana,” ucap Mario sambil menggenggam tangan Ratna di atas meja.
Ratna menarik tangannya. Mario tak habis akal untuk mencuri kesempatan kepada Ratna. Dia lalu berdiri menghampiri Ratna dan memegang bahu Ratna berniat untuk menenangkan Ratna.
“Sudah, sudah ... kita tunggu kabar dari polisi. Saya yakin Niana akan ditemukan.”
Ratna berdiri untuk menghindari kontak fisik dari Mario. “Maaf, Pak. Saya sudah merepotkan Bapak. Saya tak bisa tinggal diam jika Niana belum ditemukan. Saya pamit undur diri untuk mencari keberadaan Niana,” ucap Ratna untuk mengakhiri dramanya, tapi dia terjebak di dalam dramanya sendiri.
“Biar saya temani. Kebetulan saya sedang senggang. Saya juga tak akan bisa tenang jika Niana belum ditemukan,” ucap Mario yang memang ingin mencuri perhatian kepada Ratna.
“Tak usah, Pak. Jangan repotkan diri Bapak. Saya yang teledor meninggalkan Niana sendiri. Jadi saya yang akan mencarinya sendiri.
“Saya tak merasa direpotkan, kok, Bu. Justru saya sangat senang bisa membantu anda.”
“Kalau begitu, saya tak bisa menolaknya, Pak.
Akhirnya Ratna menyerah. Dia sedikit menyesal telah datang ke kantor Mario. Alhasil memang dia mendapatkan info bahwa Niana belum melaporkan perbuatannya, tapi dia juga harus terjebak dengan Mario, entah sampai kapan Mario akan menemaninya.
“Ya sudah, saya akan mengambil kunci mobil dulu.”
Lalu mereka pergi keluar untuk mencari keberadaan Niana. Menjadi kesempatan juga untuk Mario mendekatkan diri dengan Ratna. Bahkan dia mengajak makan siang dulu. Dapat dipastikan Ratna sangat lelah berakting di depan Mario selama itu.
***
Sydney
Juno merebahkan dirinya pada ranjang di kamar apartemen miliknya. Dia memilih tinggal di apartemen karena hanya tinggal sendiri. Rasa penatnya memuncak. Dia benar-benar tak bisa beristirahat di kantornya.
Dia mengecek surel-nya, tapi tak ada kabar dari Niana. Sudah seminggu dia tak berkomunikasi dengan Niana. Setiap kali menghubungi ponsel Niana, selalu Mailbox dan telepon di rumahnya pun tak dapat berbicara dengan Niana. Hanya Ratna yang berkata bahwa Niana sedang fokus mempersiapkan skripsinya, tapi hatinya tetap tak tenang jika belum berbicara dengan Niana.
Tak habis akal, dia menelepon Mario selaku pengacara yang mengurus hak warisan Niana.
Tut ... tut ... tut....
“Halo ... ya, Juno? Ada apa?” tanya Mario dari ujung telepon. Saat ini Mario tepat sedang bersama Ratna yang mencari keberadaan Niana.
“Pak Mario, maaf menganggu waktunya. Apa Bapak sedang sibuk?” tanya Juno.
“Oh, tentu tak apa. Saya hanya sedang di jalan. Apa ada masalah di sana?” tanya Mario dengan nada sebiasa mungkin agar Juno tak curiga bahwa Niana sedang hilang.
“Oh, ini masalah Niana. Apa Bapak tahu keadaan Niana? Karena saya tak bisa menghubunginya, dan surel saya juga belum dibalas. Apa dia membuat masalah lagi?” tanya Juno bertubi-tubi karena merasa khawatir terhadap adik kesayangannya itu. Semenjak kematian ayahnya, Niana menjadi gadis yang sulit diatur dan semakin keras kepala. Juno hanya takut adiknya itu membuat masalah.
“Oh, Niana, ya ... hmm ... du-dua hari yang lalu saya melihatnya di rumah. Mungkin dia sedang sibuk menyiapkan skripsinya, jadi tak ingin diganggu.”
“Tapi dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia pasti selalu mengabariku walau sesibuk apa pun dirinya,” jawab Juno yang memang mungkin mempunyai firasat tak baik.
“Hm ... begitu, ya. Baiklah nanti aku akan ke rumahmu dan mengecek keadaannya,” ucap Mario untuk membuat Juno berhenti bertanya yang tidak-tidak.
“Baiklah. Terima kasih, Pak Mario. Saya akan menunggu kabar Anda,” ucap Juno mengakhiri pembicaraan.
***
“Siapkan mobilku,” ucap wanita paruh baya kepada sang sopir.
“Ke mana anak itu? Apa dia tak merindukanku?"
Tamara berdecak sendiri. Dia adalah mama Dennis Tamara Guerro atau sekarang bisa dipanggil Tamara Sherlyn. Karena sudah sah bercerai dengan ayah Dennis, jadilah dia tak ingin memakai nama Guerro lagi.
“Mobil sudah siap, Nyonya,” ucap sang sopir.
“Antar saya ke apartemen Dennis. Dia benar-benar anak kurang ajar. Tiba di Indonesia bukannya mendatangi mamanya, tapi malah ke apartemennya.” Tamara masih berceloteh sendiri.
Maka Tamara menuju ke apartemen anaknya itu, namun setibanya di sana malah tak ada siapa pun, membuatnya semakin jengkel saja.
“Anak itu benar-benar! Biar saja, jika tiba aku akan menjewernya. Huh!” ucap Tamara bersedekap tangan di dadanya. Tak lama suara tombol seseorang memencet password terdengar. Tamara langsung menuju pintu tanpa melihat layar yang ada di samping nya.
“Ke mana saja kamu, Sa-yang?” Tamara terkejut dengan kedatangan anaknya dan seorang gadis.
“Ma-mama?!” Dennis pun ikut terkejut ternyata Tamara sudah mendatanginya lebih dulu sebelum dirinya
"Siap-siap mendapat ceramah,” batin Dennis kemudian menggandeng Niana masuk melewati mamanya.
Apa? Menggandeng? Ah, Dennis mungkin sudah lupa siapa yang dia gandeng masuk ke dalam apartemennya.
Tamara melirik, oh bukan, dia mengamati Niana dari atas kepala sampai kaki. Ditambah Niana yang mengenakan pakaiannya.
“Dennis!” ucap Tamara mulai bertambah kesal.
Setelah menutup pintu, dia menuju sofa dan duduk.
“Iya, Mama. Baru saja Dennis mau ke rumah Mama, setelah mengantar gadis ini ke sini.”
“Siapa gadis ini?” tanya Tamara kepada Dennis yang malah dengan santai mengambil minuman untuknya dan Niana, ditambah Niana yang menerima dan meminumnya juga.
“Ak-aku....” Niana berniat menjawab namun
Tamara mengangkat kanannya untuk memberikan isyarat kepada Niana agar tak menjawab pertanyaannya pada Dennis.
“Ehm ... dia....” Dennis terdiam, “Ya ampun aku sampai lupa menanyakan namanya,” ucap Dennis dalam hati. Lalu dia menyenggol sikut Niana.
“Niana,” jawab Niana berbisik. “Dia Niana,” jawab Dennis singkat. “Mama tanya dia siapa, bukan namanya.”
“Ehm diaaa....” Dennis lagi-lagi tak bisa menjawab
pertanyaan mamanya. Ini sangat mendadak dan Dennis benar-benar belum mengenal siapa Niana bahkan dia baru saja tahu namanya.
“Siapa Dennis?!” tiga kali Tamara bertanya.
“Dia calon mantu Mama,” jawab Dennis spontan membuat kedua wanita itu membulatkan matanya.
Namun, Dennis dengan santai kembali meminum air putih yang dia ambil dari kulkasnya sambil melirik Niana dan membuat isyarat dari matanya seolah mengatakan untuk menyapa mamanya.
“Ah, ya, Tante. Maaf ... a-aku Niana,” jawab Niana terbata-bata.
“Apa-apaan dia, kenapa harus mengakui hal seperti itu? Kenapa tak jawab jujur saja, sih?” tanya Niana dalam hati.
“Kemari kalian berdua! Tak sopan sekali bicara pada orang tua dari jarak seperti itu. Bahkan kalian bisa minum dengan santai,” ucap Tamara masih dengan mode kesal.
Dennis kembali menarik tangan Niana tanpa beban. Dia tahu mamanya itu selalu saja menanyakan dirinya yang kapan akan menikah. Di usia yang sudah menginjak 27 tahun, dia tak pernah mengenalkan bahkan bercerita tentang seorang wanita yang akan mendampingi hidupnya nanti.
Maka dari itu ide untuk mengatakan bahwa Niana adalah calon mantunya terlintas begitu saja. Upaya untuk membuat mamanya tak bertanya yang macam-macam lagi.
**