NIANA dan Ratna tiba di rumahnya pukul sepuluh malam. Niana langsung dimasukkan ke dala m kamarnya dan dikunci oleh Ratna dengan dibantu kedua algojo yang kemarin mengejar Niana. Karena tanpa algojo tersebut, Ratna tak akan bisa melakukan apa pun. Karena Niana pandai bela diri.
Namun, jika dua algojo berbadan besar itu selalu berada di samping Ratna. Niana tak dapat melakukan apa pun. Dia baru saja mendapat perawatan tubuh dari Tamara. Dia tak ingin merusak tubuhnya lagi. Kali ini Niana akan melawan Ratna dengan logikany a. Dia hanya akan menunggu Dennis melaporkan semuanya kepada Juno.
“Semoga Dennis mengerti apa yang haru s dilakukannya. Saat ini orang asing itulah harapanku satu-satunya,” ujar Niana sambil membaringkan tubuhnya. Dia hampir saja berhasil melaporkan semuanya kepada Juno, tapi kenapa dia harus kembali lagi ke kamarnya.
“Kakak, cepatlah pulang dan tolong aku. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Apa aku harus menyerah dan menandatangani surat kuasa tersebut?” Niana berbicara pada langit-langit kamarnya. Walau sekarang dia sudah tak diikat, dia tetap tak bisa melakukan apa pun karena Ratna memperketat penjagaan di rumahnya terutama di depan kamar Niana.
Rumahnya saat ini benar-benar seperti penjara bagi Niana.
“Kakak, Dennis, cepatlah selamatkan aku dari penjara ini. Aku tak ingin tinggal di sini lagi. Semua kenangan indah bersama Mama dan Papa sudah terhapus dan terganti dengan penderitaan dan siksaan dari kejamnya ibu tiri dari dunia dongeng, hanya kalian harapanku saat ini,” ujar lagi Niana yang telah meneteskan air matanya. Baru hari ini dia menangisi keadaannya saat ini. Selama ini dia selalu berusaha untuk kuat dan melawan Ratna. Namun, kali ini dia lelah dan air matanya tak dapat lagi dia tahan, jadilah Niana menangis sejadi-jadinya sampai dia terlelap sendiri.
***
Pagi hari salah seorang penjaga membawakan sarapan untuk Niana. Niana masih enggan untuk memakannya, dia takut diberikan racun seperti ayahnya yang secara perlahan meninggal karena racun yang diberikan Ratna setiap kali memberikan makanan kepada almarhum Kennedy.
Niana kembali teringat saat Juno pergi dari Indonesia.
“Hei, Gadis bodoh. Kenapa kau terus menangisi papamu? Dia tua bangka tak berguna. Bahkan dia tak memberikanku sepeser pun hartanya. Dia pikir aku menikahinya karena cinta,” ujar Ratna saat melihat Niana masih menangisi kepergian papanya setelah sebulan lamanya meninggal.
Niana terkejut mendengar penuturan wanita yang selama enam bulan terakhir dipanggilnya Mama Ratna.
“Kenapa Mama Ratna bicara seperti itu? Tepat hari ini adalah sebulan kematian Papa. Harusnya Kakak dan aku ke kuburan Papa, tapi Kakak malah sibuk mengurus perusahaan yang ada di Sydney. Apa Mama tak sedih? Aku sangat merindukan Papa,” ujar Niana yang terlihat di wajahnya penuh dengan air mata.
“Kau gadis cengeng! Untuk apa aku bersedih? Aku sangat senang ketika dia berhasil kubunuh. Aku sudah sangat lelah mengurusnya yang sudah sakit-sakitan karena racun yang kuberikan di setiap makanannya. Namun, apa yang kudapat setelah membunuhnya? Bukannya mendapatkan hartanya, malah aku harus mengurus gadis sepertimu!” Ratna sangat terang-terangan saat ini. Dia sudah lelah berpura-pura di depan Juno selama sebulan penuh setelah dia lelah mengurus Kennedy selama tiga bulan terakhir karena racun yang diberikannya membuat Kennedy tak berdaya.
Niana sangat terkejut mendengar pengakuan dari Ratna. Dia berdiri dan mendekati Ratna dan memberikan pukulan keras ke wajah Ratna, membuat Ratna tersungkur jatuh ke lantai.
“Kau! Beraninya memukulku?!” ujar Ratna memegangi pipinya yang kena pukulan dari Niana.
“Kau! Beraninya mengakui perbuatanmu di depanku! Aku akan melaporkanmu ke polisi!”
“Laporkan saja. Apa kau mempunyai buktinya? Hah?! Bocah bau kencur sepertimu ingin melawanku?!” Ratna berusaha berdiri. Dia mengambil ponsel Niana yang kebetulan ada di dekatnya dan segera menutup pintu kamar Niana dan menguncinya. Niana menggedor-gedor dan menendang-nendang pintu tersebut.
Duk! Duk! Duk!
“Hei!! Buka! Lawan aku kalau kau berani. Jangan mengurungku! Kau wanita ular!” ujar Niana dengan berani. Tangisnya hilang berganti dengan kemarahan. Dia sudah tak mendengar suara Ratna lagi. Namun, setengah jam kemudian dia mendengar Ratna berbicara seperti menyambut kedatangan seseorang. Niana berteriak meminta tolong.
“Hei! Siapa itu yang datang?! Siapa pun tolong aku!” teriak Niana dari dalam kamarnya.
“Kau pasti gadis yang diceritakan Ratna. Aku penasaran dengan gadis yang berani memukul wajah cantik kekasihku, Ratna,” ujar seorang lelaki menyahuti Niana dari depan pintu kamar Niana. Niana langsung membulatkan matanya.
“Dia bahkan berani membawa seorang lelaki asing ke rumahku!” ujar Niana dalam hati.
“Hei, kau lelaki b***t, untuk apa kau datang ke rumahku? Pergi dari rumahku!” maki Niana dari dalam kamar.
“Sayang, sudah jangan ladeni gadis gila itu. Apa kau sudah menyewa orang untuk membantuku membuat dia menandatangani surat pemindahan hak kuasa warisannya?” tanya Ratna yang masih bisa didengar oleh Niana, atau dia memang sengaja memperdengarkannya kepada Niana.
“Hei, kau! Wanita ular, jangan pikir kau dapat membuatku takut hanya karena kau menyewa orang untuk membantumu. Sampai kapan pun aku tak akan melakukan itu.”
“Diam kau! Harusnya kau mempersiapkan dirimu besok untuk melawanku. Mulai besok hidupmu kujamin akan menderita seperti berada di neraka,” ujar Ratna.
“Oh! Apa kau pernah ke neraka? Sampai kau bisa bicara derita di neraka,” ujar Niana mengejek Ratna.
“Kau boleh tertawa sekarang karena besok kau akan menangis,” ujar Ratna.
“Sudahlah, Sayang. Percuma kau berdebat dengan gadis kecil seperti dia. Lebih baik kita mulai b******u. Aku sangat merindukanmu,” ujar lelaki itu menggoda Ratna.
“Oh, Sayang, kau selalu bisa membuatku tergoda. Baiklah, mari kita ke kamarku,” ujar Ratna dan mengajak lelaki itu ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Niana.
“Kalian! Beraninya melakukan hal menjijikkan di rumahku! Pergi kalian! Aku tak mengizinkan hal hina seperti itu terjadi di rumahku!” teriak Niana tak terima kedua orang itu mengotori rumahnya.
“Na nanana ... nana nanana ... hahahaha.” Ratna mengejek omongan Niana dan tak mempedulikan.
“Ah, Sayang, jangan lakukan di sini. Apa kau sudah tak tahan?” tanya Ratna yang merasakan kegelian saat lehernya diciumi lelaki yang diketahui adalah Romi.
“Aku sudah tak sabar, Sayang ... mmhh....” Romi menciumi bibir dan leher Ratna. Romi memojokkan Ratna ke depan pintu kamar Niana dan menciuminya dengan ganas sehingga desahan dari mulut Ratna keluar dan didengar jelas oleh Niana.
“Pergi! Kalian manusia hina!” teriak Niana dan menendang-nendang pintu kamarnya. Niana menutup telinga dengan kedua tangannya. Dia merasa jijik mendengar desahan hina dari Ratna.
Ratna dan Romi hanya tertawa mendengar teriakan Niana. Mereka melanjutkannya. Romi menciumi Ratna dengan liar, bermain dengan lidah Ratna. Tangan kirinya meremas-remas b*******a Ratna, sementara tangan kanannya meremas b****g Ratna dan mengangkatnya.
Desahan terus keluar dari mulut Ratna sampai Ratna berada di gendongan Romi. Niana terus berteriak mengusir pasangan hina tersebut. Mereka pergi dengan posisi Ratna merangkulkan tangannya di leher Romi. Kakinya melingkar di pinggang Romi sambil masih berciuman.
Tangan Romi yang mengerayap ke b****g dan d**a Ratna sampai mereka tiba di kamar Ratna dan melakukan hubungan suami istri tanpa peduli Niana mendengar semua desahan dan kecupan yang mereka lakukan dengan sengaja.
Keesokan paginya, pintu kamar Niana dibuka. Niana langsung berlari ke luar. Namun, perutnya dipukul dengan keras oleh salah satu orang sewaan Romi. Niana mundur dengan memegangi perutnya yang sakit. Ratna dan Romi masuk ke dalam. Mereka berniat bernegosiasi dengan Niana.
Niana menolak mentah-mentah negosiasi yang memindahkuasakan warisan Niana untuk Ratna. Lalu Niana dipukuli lagi oleh kedua orang sewaan Ratna. Niana terus melawan sampai Niana harus diikat dan mulutnya ditempeli lakban. Hanya saat diberikan makan saja lakbannya dibuka, itu juga Niana dipaksa membuka mulutnya untuk makan.
Ratna tak ingin Niana sampai sakit, karena akan menyusahkannya yang harus membawanya ke dokter atau pun menyuruh dokter datang. Akan sangat berisiko untuknya memasukkan orang luar. Dia tak ingin orang lain mengetahui perlakuannya terhadap Niana. Bahkan para pembantu yang sudah lama bekerja dengan keluarga Kennedy pun dipecat oleh Ratna dan Ratna membawa pembantu baru yang mau diperintah oleh Ratna. Secara garis besar, saat ini rumah keluarga Kennedy dipenuhi dengan orang-orang Ratna.
Ratna sudah mulai habis kesabaran karena Niana tak juga mau menandatangani surat tersebut walau tubuhnya sudah terkenal pukulan di mana-mana.
Mengingat hal itu lagi, Niana merasa semakin tak terima atas perbuatan wanita ular bernama Ratna itu.
***
“Kalian harus menjaganya dengan benar. Hari ini aku harus ke kantor untuk mengambil uang. Ingat, jangan sampai gadis itu kabur lagi,” ujar Ratna. Dia tengah siap untuk pergi ke kantor Kennedy Company untuk meminta uang dengan alasan keperluan kuliah Niana. Padahal uangnya untuk digunakannya bersenang-senang dengan Romi.
“Siap, Nyonya!” ujar algojo yang diperintah Ratna untuk berjaga di pintu Niana.
Ratna pergi dari rumah tersebut. Seperginya Ratna, Romi memasuki rumah tersebut. Dia sangat ingin memperkosa Niana. Dia sudah menunggu kesempatan ini, dan kali ini dirinya dikuasai hasrat b******a yang liar. Dia memasuki rumah tersebut. Para penjaga menunduk memberikan hormat padanya.
“Pergi dan berjagalah di bawah. Jika ada yang datang katakan saja, semua tamu yang datang harus mendapat izin lebih dulu dari Ratna atau pun gadis ini,” ujar Romi kepada penjaga Niana yang ada di depan pintu.
“Oh, ya ... tunggu. Kalian harus membantuku lebih dulu untuk mengikat gadis liar ini di tempat tidurnya agar aku tak terkena tendangan dan pukulannya,” ujar Romi yang teringat bahwa Niana adalah gadis yang menguasai bela diri. Dia tak akan membuat Niana kabur lagi. Kali ini dia tak akan melepaskan ikatan Niana.
Lalu mereka masuk ke dalam kamar Niana.
“Halo, Cantik. Akhirnya kita berjumpa lagi. Kau masih ingat denganku?” tanya Romi mendekati Niana.
“Kau b******n hina. Jika kau berani menyentuhku seujung jari saja, aku akan menghabisimu,” ujar Niana tak takut.
“Oh, ya? Uhhh ... aku sangat takut, Sayang,” ujar Romi lalu menyuruh kedua algojo untuk mengikat Niana di atas ranjang dengan tangan dan kaki yang direntangkan agar Romi dapat dengan leluasa memperkosa Niana.
“LEPAS! Kalian mau apa?! Aku tak ingin diikat lagi.” Niana berusaha meronta dari pegangan kuat kedua algojo tersebut.
BUG!
Satu pukulan mendarat lagi di tubuh Niana.
“TIDAAK! Jangan ikat aku lagi! Kalian mau apa? Kalian biadab, lepaskan aku!” Niana terus meronta
membuat kedua algojo cukup kewalahan. Namun, tetap saja Niana akan kalah, ditambah Romi yang ikut membantu hingga Niana sudah siap diperkosa oleh Romi.
“Sudah cukup. Dia tak akan bisa terlepas. Kalian turun sekarang dan tunggu di depan. Jangan sampai ada yang bisa menerobos masuk. Kalian mengerti?”
“Siap, Bos!” ujar kedua algojo tersebut. Mereka pergi dari kamar itu dan melakukan hal yang sudah diperintahkan oleh Romi barusan.
“Sekarang tinggal kita berdua saja. Apa kau bisa memukulku dengan keadaan seperti ini? Bersiaplah, pagi ini kau akan kehilangan mahkotamu,” ujar Romi sambil menaiki ranjang dan mendekati Niana. Dia mulai meraba-raba kaki dan paha Niana. Dia menindih tubuh Niana dan mencoba menciumi Niana. Niana menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup bibirnya rapat-rapat.
“CUIH!” Niana meludahi wajah Romi.
PLAK!
Satu tamparan lagi mengenai pipi Niana.
“BERENGSEK! Sekali lagi kaulakukan itu, aku tak akan bermain lembut denganmu. Akan kubuat kau menyesal dan trauma karena merasakan sakit!” ujar Romi memperingati Niana, tapi Niana tak takut.
Romi kembali menindih Niana, dan meraba seluruh tubuh Niana. Niana terus berteriak sekeras-kerasnya mengatai Romi dengan semua k********r, tapi Romi tak menghiraukannya. Dia terus menjalani aksinya.
Suara ketukan menghentikan aksi brutal Romi.
“Siapa yang berani menggangguku untuk bersenang-senang?” Tak ada jawaban hanya kembali terdengar ketukan.
Tok tok tok
“Ah, sialan! Kalian benar-benar sangat mengganggu.” Akhirnya Romi turun dari ranjang dan membuka pintu sedikit untuk melihat siapa yang hendak mengganggunya melakukan aksi bejatnya.
BUG!
Satu pukulan bogem mentah mengenai wajah Romi sehingga dia pingsan.
**