RATNA POV
AKU keluar dari parkiran rumah besar yang sebentar lagi akan menjadi milikku. Aku tak tahu kalau aku akan dengan mudah menguasai harta Kennedy. Biar saja gadis nakal itu menjadi gelandangan. Aku harus bergerak cepat ke kantor Kennedy.
Aku menjalankan mobilku dengan cepat. Na mun, karena aku terburu-buru, aku melupakan dompe tku. Alhasil aku harus kembali lagi ke rumah. Walau aku hampir memasuki jalan tol, aku tak bisa pergi ta npa dompet itu karena ada SIM-ku di sana. Aku membawa kartu kredit untuk membayar makan dan shopping keperluanku.
Namun, saat aku memasuki komp leks perumahanku, aku melihat beberapa mobil polisi dan mobil Mario. Satu mobil yang tak kukenal memasuki kompleks rumahku.
Awalnya aku tak menyangka mereka akan ke rumahku. Saat kuikuti dari jauh, aku melihat Mario dan beberapa polisi masuk ke rumahku dengan senjata api untuk menyergap orang-orangku. Satu laki-laki yang semalam berada di kantor polisi. Mereka bersekongkol untuk menangkapku.
Ah, tidak! Aku pasti sudah ketahuan. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Kalau perlu aku pergi dari kota atau negara ini. Aku tak mau berakhir di penjara.
“Sial!!” umpatku. “Padahal tinggal selangkah lagi aku akan mendapatkan semua harta itu! AARRGGH!!!” teriakku frustrasi sambil kupukul stir mobilku. Aku mundur. Namun, saat aku ingin pergi, aku melihat Romi yang tak sadarkan diri diborgol.
“Apa dia juga datang saat aku pergi? Dasar brondong berengsek. Dia pasti ingin memperkosa Niana. Dasar bodoh, sekarang kau yang harus mendekap di balik jeruji besi,” ujarku menyumpahi Romi. Aku benar-benar pergi meninggalkan Kota Jakarta. Aku harus pergi ke perkampungan agar mereka tak dapat menemukanku. Setelah keadaan aman, aku akan mengambil uangku di rumah itu dan pergi ke luar negeri. Mereka akan kubalas! Ponselku berbunyi. Ada telepon dari seseorang.
Orang ini juga tak bisa diandalkan.
“Halo, ada apa?!” tanyaku kepada orang yang meneleponku.
“Ratna, lebih baik kau sembunyi karena kau sudah ketahuan,” ujar seseorang dari ujung telepon.
“Kau terlambat, aku sudah tahu. Aku akan bersembunyi ke suatu tempat. Katakan padaku jika keadaan sudah aman,” ujarku pada orang yang melapor kepadaku.
***
AUTHOR POV
*Sydney
Juno yang saat ini baru selesai meeting dengan kliennya, menerima telepon dari Mario yang mengabarkan bahwa Niana telah aman dan selamat. Sekarang Niana telah mendapat perawatan dari rumah sakit. Dia juga mendengar kabar buruknya, yaitu lelaki yang rela menolong Niana harus melakukan operasi karena terkena luka tusuk yang cukup dalam di perutnya.
“Terima kasih, Pak Mario. Tolong tanggung semua biaya rumah sakit operasi Dennis dan Niana. Aku akan mengabari Pak Barito untuk mengeluarkan biaya yang dibutuhkan. Masalah Ratna, biarkan saja dia. Dia tak akan bisa ke mana-mana karena tak memiliki uang banyak. Pantau terus rumahku, biarkan tanpa banyak penjaga. Aku yakin Ratna menyimpan uang di kamarnya. Saat dia kembali, sergap dia dan jebloskan bersama kekasihnya yang hampir memperkosa Niana,” ujar Juno panjang lebar dan tegas. Dia sudah seperti ayahnya yang tak kenal ampun terhadap orang yang mencelakai keluarganya.
“Baik, Juno. Aku akan bereskan semuanya. Mau tenang saja,” ujar Mario di ujung telepon lalu mengakhiri panggilannya.
“Maafkan kakak, Niana. Kau hampir saja mengalami hal yang sangat buruk dalam hidupmu. Aku berjanji akan membuatmu merasa nyaman kembali,” ujar Juno yang tak sengaja terdengar oleh Catherine yang baru saja ingin mengetuk pintu ruangannya.
Tok tok tok
“Masuk.”
“Maaf, Pak Juno. Ini file yang Anda butuhkan untuk meeting nanti malam bersama Pak Frank.”
“Ya. Terima kasih, Cath,” ujar Juno yang telah terbiasa akan panggilannya kepada Cathrine dan Cathtrine pun tak masalah dengan itu.
“Maaf, Pak. Tadi aku tak sengaja mendengar pembicaraanmu di telepon saat aku hendak mengetuk pintumu. Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, apa ada masalah di Indonesia?”
“Adikku mengalami hal buruk dan aku kakak yang payah yang tak berada di sampingnya saat dia butuh,” ujar Juno menjelaskan. Dia sudah mulai nyaman dengan Cathrine, maka dia tak sungkan menceritakan hal pribadi.
“Jangan bicara seperti itu, Pak. Anda kakak yang hebat. Anda mengganti waktu untuknya dengan menyelamatkan ribuan karyawan yang bekerja di bawah Kennedy Company. Jika Anda tak datang dan mempertahankan perusahaan ini, entah bagaimana nasib para karyawan yang bekerja di sini. Adik Anda pasti sangat bangga,” ujar Cathrine menyemangati Juno.
“Terima kasih, Cath. Kau gadis yang baik. Kekasihmu pasti bangga memilikimu,” ujar Juno. Entah kenapa dia membicarakan kekasih. Kenapa tak bilang orang tuamu bangga memilikimu. Apa mungkin dia sengaja ingin mengetahui apakah gadis cantik seperti Cathrine memiliki kekasih?
“Ehm ... sayangnya saya tak memiliki kekasih yang bisa membanggakan saya, Pak,” ujar Cathrine tersenyum.
“Benarkah?!” Nada Juno terlalu senang untuk mengetahui hal itu.
“Iya, Pak Juno.”
“Hmm ... kalau begitu bolehkah aku mengajakmu untuk sekadar makan malam?” tanya lagi Juno.
“Hmm ... terserah Anda saja, Pak,” ujar Cathrine menjadi tersipu-sipu.
“Baiklah. Masukkan ke jadwalku yang kosong,” ujar lagi Juno.
“Hah?” Cathrine menjadi salah tingkah sendiri.
“Ya, masukan jadwal dinner denganmu di jadwalku yang kosong agar kita bisa dinner,” ujar lagi Juno memperjelas ajakkan kencannya.
“Oh, yaa ... baiklah, Pak.” Cathrine benar-benar salah tingkah.
Siapa yang bisa menolak pesona Juno? Tampan, tubuh yang terawat dan dia seorang bisnisman muda yang sangat berbakat. Bahkan di Indonesia, para karyawan dari yang masih gadis sampai para obu-ibu juga sangat mengagumi ketampanan Juno serta pembawaannya sebagai pemilik perusahaan sangat ramah dan berwibawa. Siapa yang akan menolaknya? Bahkan para tante-tante pun pasti akan menjodohkan anak gadisnya untuk Juno.
“Sekali lagi kuucapkan terima kasih, Cath,” ujarJuno dan dibalas senyum oleh Catherine sebelum akhirnya dia hilang di balik pintu.
“Astaga! Apa aku baru saja mengajaknya kencan? Aku sudah mulai gila! Dia sekretarismu, Juno! Oh, ada yang tak beres dengan otakku,” ujar Juno bicara sendiri seperti orang gila.
“Ya ampun. Aku tak menyangka jika bos tampanku ingin mengajakku untuk berkencan. Apa ini mimpi?” tanya Cathrine di meja kerjanya lalu mencubit pipinya.
“Aw! Sakit, ini bukan mimpi. Ini nyata,” ujar lagi Cathrine berbicara sendiri. Karena terlalu senang, dia sampai tak mendengar suara pintu terbuka.
“Hmmm … Cath ... apa yang kaulakukan?” tanya Juno yang sudah berada di depan meja Cathrine.
“Ah, ya, Pak Juno. Apa Anda membutuhkan sesuatu?” Cathrine sangat malu karena Juno mendapati dirinya yang sedang bertingkah memalukan seperti tadi.
“Oh, aku hanya ingin memintamu untuk memesankan kopi untukku,” ujar Juno mencoba menahan tawanya karena melihat Cathrine bicara sendiri seperti itu, terlihat menggemaskan bagi Juno.
“Oh, baiklah. Aku akan memesankan kepada OB di bawah,” ujar Cathrine yang tak bisa menyembunyikan wajah merahnya karena malu.
“Kau sangat lucu. Kau membuatku tertawa saat aku sedang pusing memikirkan adikku,” ujar Juno lalu kembali masuk ke ruangannya. Dapat dipastikan keduanya sedang senyum-senyum sendiri di balik mejanya.
***
“Pak Mario, bagaimana keadaan Dennis? Apa dia sudah sadar?” tanya Niana yang masih diberikan perawatan.
“Dia belum sadar, tapi sudah selesai operasi. Bagaimana keadaanmu, Niana?”
“Aku baik-baik saja, Pak. Terima kasih kau telah menolongku.”
“Dennislah yang menolontap. Harusnya kau ucapkan itu kepadanya,” ujar Mario.
“Hmm ... Pak, boleh aku meminta tolong kepadamu?” tanya Niana.
“Apa, Niana? Sebisa mungkin aku akan membantumu. Kau tanggung jawabku dan kakakmu telah memintaku untuk membantumu.”
“Ehm ... ini sedikit konyol, tapi bisakah Dennis seruangan denganku? Aku tak dapat melihat keadaannya. Aku akan merasa bersalah jika dia sampai kenapa-napa. Apalagi aku sudah pernah bertemu dengan ibunya. Aku akan merasa tak enak telah membuat anaknya celaka,” ujarNiana.
“Baiklah, aku akan meminta suster untuk mengurusnya,” ujar Mario lalu pergi dari ruangan Niana, lalu dia tersenyum.
“Niana, kau sudah besar rupanya,” ujar Mario tertawa ringan lalu mengurus keinginan Niana. Dia merasa seperti seorang ayah lagi, karena selama ini anak-anaknya dapat mengurus sendiri keperluannya.
Tak lama, Dennis yang masih berbaring diranjang kini telah tiba di ruangan Niana. Niana memperhatikan keadaan Dennis dari atas kepala hingga ujung kaki.
“Sus, apa dia belum juga sadar?” tanya Niana kepada salah satu suster yang mendorong tempat tidur Dennis.
“Ehm ... belum, Nona,” jawab suster singkat.
“Apa lukanya sangat parah, Sus?” tanya lagi Niana mulai penasaran.
“Ya lumayan, Nona, tapi sudah dijahit dan diobati. Jadi akan sembuh, kok.”
Niana lalu mendekati tempat tidur Dennis dan menatap wajah Dennis yang masih belum sadar juga sementara kedua suster tersebut telah selesai melakukan tugasnya dan undur diri. Tinggal mereka berdua di dalam satu ruangan yang besar.
“Kenapa kau belum sadar juga? Apa lukamu sangat sakit? Maaf telah melibatkanmu sampai sejauh ini,” ujar Niana berdiri di samping Dennis.
“Apa kau mengkhawatirkanku?” tanya Dennis masih memejamkan matanya membuat Niana terkejut dan spontan memukul perut Dennis yang sakit.
“Aw! Aw! Kau benar-benar masih menjadi gadis gila! Aaargh!” Dennis lalu membuka matanya dan memegangi perutnya yang sakit.
“Ah, maaf. Lagipula kenapa kau tiba-tiba bicara, aku jadi terkejut dan refleks memukulmu.”
“Kau ini! Begitukah caramu berterima kasih kepada orang yang hampir mati karena menolongmu?” tanya Dennis masih menahan sakit. Dia tak tahu kalau Niana akan serefleks itu.
“Siapa suruh kau begitu!” protes Niana tak ingin disalahkan.
“Hei!! Harusnya kaupanggilkan suster untuk memeriksa perutku. Kau kan ahli bela diri. Pukulanmu tadi pasti berakibat fatal untuk perutku yang baru dijahit,” ujar lagi Dennis masih kesakitan.
“Kau tak perlu berlebihan atau kupukul lagi saja agar cepat sembuh,” ujar Niana mulai mengangkat tangannya.
“Tidak! Kau akan membunuhku jika melakukan itu lagi. Ah, aku menyesal menyetujui permintaanmu yang ingin aku berada di ruangan yang sama denganmu.” Ucapan Dennis membuat Niana membulatkan matanya.
"Apa yang kaukatakan barusan?” tanya Niana.
“Bukan apa-apa. Lebih baik kau kembali ke tempat tidurmu dan bersiaplah untuk mendengar ceramah dari mamaku karena dia akan sangat khawatir dengan keadaanku,” ujar Dennis mengalihkan pembicaraan.
“Ah, benarkah? Apa mamamu bisa berubah menjadi galak jika anaknya terluka seperti ini?” Niana dengan bodoh mempercayai ucapan pengalihan Dennis.
“Ya, tentu saja. Aku ini anak tunggal, dia pasti akan marah jika seseorang membuatku seperti ini.” Dennis menambahkan.
“Kau serius? Tapi yang membuatmu begitu, kan, bukan aku.”
“Itu terjadi saat aku sedang menolongmu. Jika aku tak menolongmu, aku tak akan begini.” Dennis kembali membuat Niana terpojok.
“Ah, lebih baik kau pindah ruangan,” ujar Niana panik.
“Sayang sekali, aku sudah merasa nyaman di sini,” ujar Dennis terus menggoda Niana.
“Tidak! Kau harus pindah ruangan sekarang.” Niana memencet tombol panggilan suster, tapi bukan suster yang datang melainkan Tamara.
“Dennis! Apa kau baik-baik saja? Bagaimana bisa kau terluka seperti ini? Siapa yang membuatmu begini, Sayang?” tanya Tamara panik melihat keadaan Dennis. Sementara Niana yang melihat kedatangan Tamara, dia langsung menutup tirai pembatasnya dengan Dennis dan berpura-pura tidur.
“Aku akan kasih tahu Mama siapa yang berbuat begini, tapi Mama jangan marahi dia, ya?” tanya Dennis berpura-pura.
“Tergantung. Jika orang itu lebih parah darimu, aku tak akan terlalu kejam padanya. Jika dia masih bisa berdiri, aku akan menghajarnya sampai tak bisa bangun sepertimu,” ujar Tamara yang ikut masuk ke dalam drama yang dibuat ala Dennis.
“Hmm ... orang itu....” Dennis sengaja menjeda perkataannya dan membesarkan sedikit volume suaranya.
“Sialan! Dasar tukang ngadu! Anak mama! Awas saja kalau Tante tak memarahiku, akan kupukul lukamu, huh!” gerutu Niana dalam hati sambil memejamkan matanya.
“Siapa, Dennis! Jangan main-main lagi! Mama udah gak bisa nahan emosi lagi, nih,” ujar Tamara tak sabar.
“Orang itu ada di sebelahku, Ma,” ujar Dennis berbisik. Tamara langsung membuka tirai pembatas tersebut.
Sret
Tirai dibuka.
“Beraninya kau membu ... at....” ucapan Tamara
yang meninggi, menjadi turun secara otomatis. “Niana?!” Tamara terkejut mendapati Niana terbaring memejamkan mata. Lebih tepatnya berpura-pura memejamkan matanya.
**