Bagian Sembilan

1792 Words
Jam dinding menunjukkan pukul 15.00 Wib. Tak heran jika Nana sudah berkutat dengan spatula dan penggorengan. Tak lupa juga apron merah yang sudah tersemat erat di tubuhnya. Hari ini dia akan menyiapkan makan malam untuk suaminya. Dan dia akan menyelesaikan kegiatan masaknya ini setengah jam lagi. Supaya dia bisa membersihkan diri dan dan berdandan cantik untuk menyambut kepulangan sang suami. Mamanya pernah bilang, jika suami akan betah di rumah jika menikmati masakan enak istrinya dan rupa ayu istrinya. Kedua hal itu sudah bisa membuat suami enggan untuk melirik wanita lain. Untuk apa mencari seorang putri cantik jika dirumah sudah ada Ratu yang menarik. Dulu sebelum menikah, Nana enggan sekali menginjakkan kaki ke dapur. Namun sekarang dia sadar, jika dia tak hanya mengurus dirinya sendiri melainkan juga mengurus suami. Dia tak ingin menjadi istri yang terlihat menelantarkan suami. Dia yang perhatian saja membuat suami nya tak respeck apalagi jika dia acuh tak acuh, mungkin pernikahannya tak akan berumur panjang. Nana menyusun masakan yang telah selesai di masaknya di atas meja. Dia tersenyum puas dengan hasil yang di dapatkannya. Lebih dari satu jenis lauk pauk sudah terhidang di atas meja makan. Tinggal menunggu nasi matang, Nana selesai menyiapkan makan malam. Senyum lebar terlukis di bibirnya. Dia berharap jika Bagas akan menyukai masakannya dan memuji nya sehingga membuat dia lebih bersemangat untuk meningkatkan keterampilan memasaknya. Sebenarnya Nana bukanlah perempuan yang hobi ataupun jago memasak. Namun rasa masakannya tak bisa di pandang sebelah mata juga. Pernah ikut kursus memasak saat liburan kuliah membuatnya bisa memasak. Walaupun hanya masakan rumahan yang bisa dia buat, itu sudah menjadi nilai plus untuk menjadi istri idaman. "Hampir selesai, habis itu aku bisa mandi dan bersiap diri." Kata Nana girang. Dia mengelap keringat yang ada di dahinya. Dan memilih untuk duduk di salah satu kursi di ruang makan itu sambil menunggu nasi matang. Tak butuh waktu lama, nasi yang di tunggunya sudah matang dan Nana segera menaruh nasi itu ke jajaran lauk pauk yang sudah tersaji. Nana berjalan ringan ke arah kamar. Mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Dia akan menyelesaikan acara mandi nya dengan waktu yang singkat. Supaya dia bisa punya cukup waktu untuk berdandan agar dia bisa tampil cantik di depan suaminya. Hari ini Nana menggunakan celana jins selutut berwarna hitam dengan blouse selengan berwarna biru muda. Rambut nya sengaja di gerai, karena memang dia baru saja selesai mandi dan keramas. Nana memoleskan sedikit make up ke wajahnya, hingga wajahnya terlihat lebih cantik. Memang ya, orang kalau udah cantik mau di apain juga tetep cantik. Lima menit lagi Bagas sampai di apartemen. Nana keluar dari kamar dan menunggu di ruang keluarga. Sambil membaca majalah fashion untuk mengusir kebosanannya. Semua orang pasti setuju jika menunggu pasti timbul rasa bosan. Hal itu juga di rasakan oleh Nana. Handphone yang di taruh di sampingnya berbunyi. Bukan telpon melainkan pesan masuk dari nomor yang tak di kenal. Nana ingin mengabaikan namun dia takut jika itu menyangkut masalah pekerjaan. Nana mengambil hanphone nya dan membuka pesan yang masuk. Nana mengerutkan keningnya, bingung dengan dengan isi pesan yang diterima nya. 0812xxxxxxxxxxxx Save no ku ya Nana tak menghiraukan pesan itu, dia langsung menutup kolom whattsap tanpa membalas sebelumnya. Nana beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki mendekati pintu depan. Seharusnya jam segini Bagas sudah samapi di apartement, namun hingga kini dia belum juga datang. Apa Bagas lembur ataukah terkena macet?. Tak heran jika sore gini jalanan menjadi sedikit padat karena orang yang baru pulang kerja dan siswa yang baru pulang les. "Dia kemana sih?" Tanya Nana pada diri sendiri. Rasa gelisah sudah menyelinap di dalam hatinya. Sedari tadi dia sudah tak sabar menunggu kedatangan suami tercinta, namun saat jam sudah tepat waktu pulang malah belum juga datang. Sebagai seorang istri, wajar saja bila dia kuatir dimana suaminya berada. Hari semakin malam. Langit yang semula cerah kini mulai gelap. Namun tak ada tanda-tanda Bagas pulang. Kegundahan Nana kian menjadi saat Bagas sama sekali tak membalas pesannya. Apalagi di luar juga mendung, dan mungkin sebentar lagi langit akan menumpahkan ribuan air ke bumi. Nana berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Matanya tak pernah lepas dari arah pintu. Dia berharap pintu itu segera terbuka atau hanya sekedar diketuk. Namun hari sudah malam pun suaminya tak kunjung pulang.   ***   Kantor sudah sepi. Bahkan sebagian ruangan sudah tak ada lampu yang menyala. Walaupun masih ada beberapa karyawan yang tetap tinggal untuk lembur. Maklum akhir bulan banyak yang menyelesaikan laporan, karena saat minggu-minggu pertama bulan mereka sering mengabaikan pekerjaan, akhirnya itu semua berdampak pada waktu di akhir bulan. Yang seharusnya saat ini mereka sudah bercengkrama dengan keluarga, ini malah masih berkutat dengan berkas-berkas kantor. Seorang lelaki dengan tubuh gagah berbalut jas hitam tengah berdiri di samping cendela. Melihat kota Yogyakarta yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip. Ditangannya sudah menggenggam secangkir kopi yang sudah tak mengepulkan asap. Jelas, karna sejak sore tadi hingga sekarang dia masih bertahan dengan kegiatannya itu. Sejuknya udara malam hari dan indahnya suasana kota, sekilas membuat siapa saja yang mempunyai beban pikiran pasti akan merasa tenang dan nyaman. Masalah yang dirasakan pasti akan memudar perlahan. Namun, tidak dengan Bagas. Sejak tadi pikirannya selalu tertuju pada kejadian di supermarket. Dimana, dia melihat istrinya dengan seorang pria. Apalagi posisi mereka begitu intim. Suami mana yang tak emosi jika melihat istrinya dengan laki-laki lain. Walaupun sedikitpun dia tak pernah punya rasa dengan Nana. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 21.00 Wib. Namun dia masih betah dengan kegiatannya. Bahkan, cangkir yang sore tadi terisi penuh dengan kopi, kini sudah tak berisi. Sedikitpun Bagas tak menghiraukan sekitarnya, handphone yang sedari tadi berbunyi pun tak di indahkannya. Pikirannya benar-benar kacau. Ingin rasanya dia segera menemui Nana dan menanyakan siapa laki-laki itu, tapi tak ingin membuat Nana berfikir jika dia peduli dan ingin tahu tentang Nana. ~Clek~ Pintu dibuka oleh seseorang secara tiba-tiba. Hal itu tetap membuat Bagas tak menoleh. Matanya terus memandang objek yang sedari tadi d nikmatinya. "Eh ma … maaf saya tidak tahu kalau bapak belum pulang." Kata seseorang yang tadi membuka pintu. Bagas menoleh ketika dia mendengar suara seseorang yang dia rasa sedang bicara dengannya. "Kamu mau apa?" Tanya Bagas dingin tanpa membalikkan badan. "Itu sa … saya mau matiin lampu, soalnya udah jam 10, karyawan lainnya juga sudah pada pulang. Saya fikir bapak juga sudah pulang." Kata orang itu menjelaskan. Orang itu tak lain adalah satpam perusahaan tempat Bagas bekerja. Memang dia bertanggung jawab untuk ngecek seluruh ruangan jika sudah jam 10 malam. Bagas membalikkan badannya. Meletakkan cangkir yang sudah kosong di atas meja. Memasukkan beberapa berkas penting dan handphone nya ke dalam tas kerja nya dan berjalan keluar ruangan. "Tolong setelah kamu matikan ruangan ini, kamu bawa cangkir itu ke dapur." Kata Bagas pada satpam tersebut. "Baik, Pak." Jawab satpam tersebut. Bagas berjalan dengan langkah panjangnya menuju lift untuk turun ke lantai dasar. Suasana kantor memang benar-benar sepi. Wajar saja karena sekarang sudah pukul 22.00 wib malam. Siapa juga yang tahan lembur hingga larut malam begini. Lebih baik bercengkrama dengan keluarga di rumah. Tak butuh waktu lama untuk Bagas sampai di lantar dasar. Dia segera menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil hitamnya. Mobil yang dia beli dengan uang nya sendiri itu sudah menemani nya selama 4 tahun. Kemanapun dia pergi, pasti mobil itu tak pernah absen untuk menemaninya. Yogyakarta tak pernah ramai oleh pengunjung. Sekitar jalanan banyak sekali angkringan-angkringan yang masih ramai walau waktu sudah semalam ini. Beberapa pengamen tampak kompak membunyikan alat musik mereka dan bernyanyi bersama demi menghibur pengunjung yang sedang makan atau hanya sekedar nongkrong di angkringan. Begitu juga dengan kendaraan yang masih juga memadati jalanan. Bagas melajukan mobilnya dengan hati-hati. Rasanya dia tak ingin segera sampai di apartemen. Karena jika dia melihat Nana pasti kejadian pagi tadi akan memenuhi fikirannya lagi. Namun jika dia tak pulang ke apartemen, mau kemana lagi dia akan pulang. Tak mungkin dia ke rumah orang tuanya. Pasti itu akan membuat orangtuanya curiga dengan rumah tangganya yang jauh dari kata bahagia. Mau tidak mau Bagas tetap pulang ke apartemen. Tak butuh waktu lama untuk Bagas sampai di apartemen. Namun dia tak segera turun dari mobil. Dia termenung kembali di dalam mobil. Dia berfikir, bagaimana dia akan bereaksi di depan Nana, wanita yang beberapa hari lalu di nikahinya. Bagaimana dia akan bersikap dengan Nana, dan apakah Nana masih nenunggunya atau bahkan pergi keluar dengan laki-laki tadi karena bosan menunggunya yang tak kunjung datang. Berbagai fikiran hadir di otak Bagas. Namun dia menghiraukan semua fikiran tersebut dan memilih untuk segera masuk ke dalam apatemen. Dia tak perlu mengetuk pintu, karena dia sudah hafal dengan kode apartemennya. Ruangan apartemen tampak terang benderang, beda jauh saat dia masih bujang, saat membuka pintu pasti lampu tak menyala dan beberapa barang berada di tempat yang tak seharusnya. Namun mulai hari ini berbeda. Ruangan tampak bersih dan barang-barang tertata rapi. Pengharum ruangan juga tampak baru diganti, tercium dari baunya. Namun, mata Bagas terfokus pada sesosok perempuan yang meringkuk di sofa. Mungkin dia ketiduran karena sudah menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Bagas mendekati perempuan itu. Menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya dan memandang perempuan itu dengan waktu yang cukup lama. Setelah itu, Bagas menuju ke ruang makan. Di sana sudah terhidang beberapa masakan yang membuat perut Bagas keroncongan. Jelas saja, karena Bagas terakhir makan siang tadi dan belum menyentuh nasi lagi hingga larut malam begini. "Ini pasti dia yang nyiapin." Kata Bagas pelan. Dia menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kemudian dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan beberapa lauk pauk. Makan dengan lahap namun tetap dengan tenang agar tidak membangunkan Nana. Perut yang lapar begitu dimasuki makanan pasti terasa enak. Setelah makan, dia mencuci piringnya dan membersihkan diri. Berganti pakaian dengan pakaian santainya. Keluar kamar lagi sambil membawa selimut. Dia berniat untuk menyelimuti istrinya yang ketiduran di sofa. "Dia pasti sudah lama menunggu ku sampai ketiduran kayak gini." Kata Bagas pelan. Dia semakin mendekat ke arah istrinya. Belum sampai selimut itu menghangatkan tubuh Nana, handphone yang ada di atas meja berbunyi. Bagas mengurungkan niatnya untuk menyelimuti Nana dan memilih mengangkat telvon tersebut. Apalagi telvon tersebut dari nomor yang tak di kenal, membuat dia semakin penasaran. 0812xxxxxxxx "Hallo, kenapa belum tidur ? Udah malem lho, besok kamu kerja kan. Cewek jangan sering begadang, nggak baik untuk kesehatan." Kata seseorang dari seberang telvon. Bagas sengaja tak bersuara karena ingin mendengar apa yang di ucapkan orang itu. "Maaf ya baru bisa hubungi kamu lagi, soalnya tadi sibuk banget. Ini aja aku baru pulang kerja". Lanjutnya. Bagas tak tahan jika harus terus mendengar ocehan orang tersebut. Walaupun dia tak mencintai istrinya, namun dia juga tak suka jika istrinya di telvon dengan laki-laki yang begitu perhatian padanya. Bagas segera mematikan telvon itu dan menonaktifkan handphone itu. Dia membawa selimut nya kembali ke kamar. Bagi Bagas, Nana tak pantas mendapat perhatiannya, karena tanpa perhatian darinya, Nana sudah mendapat perhatian dari laki-laki lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD