Adzan subuh berkumandang. Nana terbangun dari mimpi indah nya. Di lihatnya samping kanan namun tak ada seseorang. "Dimana Bagas tidur?" Tanyanya dengan suara pelan.
Bangkit dari ranjang dan mengikat rambut asal. Merapikan ranjang dan menyalakan lampu kamar. Melihat sekeliling kamar namun tak menemukan Bagas. Nana pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu keluar kamar bermaksud mencari Bagas.
Langkah demi langkah membawa Nana ke ruang tengah. Di sana terdapat sofa panjang yang diatasnya ada seseorang yang sedang meringkuk dalam tidur tenangnya. Nana menghampiri sofa itu. Ternyata orang yang dicarinya berada di sana. Bagas memilih tidur di sofa yang tak mampu menampung seluruh badannya di bandingkan tidur di kamar dengan ranjang king size.
"Gas bangun, udah pagi." Kata Nana pelan membangunkan suaminya.
Bagas hanya menggeliat dari tidurnya. Bukannya bangun, dia malah menarik selimut hingga ke dadanya.
"Gas udah subuh, kamu nggak sholat subuh?" Kata Nana yang membangunkan Bagas lebih keras lagi.
Pelan namun pasti, Bagas membuka matanya dan objek pertama yang di tangkap oleh kornea matanya adalah Nana. Nana tersenyum begitu melihat Bagas membuka mata. Ternyata usaha nya untuk membangunkan Bagas tak sia-sia.
"Sudah subuh." Kata Nana sekali lagi.
Bagas mengangguk dan bangkit dari posisi tidurnya. Kemudian dia melangkahkan kakinya ke kamar. Sedangkan Nana memilih merapikan selimut yang tadi di gunakan oleh Bagas. Tak lama kemudian, Bagas keluar lagi dengan sarung dan baju koko beserta peci putih yang sudah ada di kepalanya. Ketampanan Bagas selama ini semakin bertambah saat pakaiannya berubah seperti ini. Rasanya Nana begitu beruntung menjadi istri Bagas.
Bagas berjalan melewati Nana begitu saja. Pergi menuju luar rumah untuk sholat berjamaah di masjid yang tak jauh dari apartemen. Nana hanya tersenyum kecut dengan perlakuan Bagas. Ini bukan pertama kalinya bagi Bagas memperlakukan Nana dengan dingin, dan Nana sudah biasa menerimanya. Setelah merapikan selimut, Nana segera pergi ke kamar untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslim.
***
"Aku sudah siapkan sarapan untuk kita." Kata Nana begitu membuka pintu kamar.
"Aku tak biasa sarapan pagi."
"Aku juga sudah membuatkan mu kopi." Kata Nana lagi.
"Aku berangkat sekarang." Jawab Bagas ketus. Kemudian pergi meninggalkan Nana yang masih termenung di dalam kamar.
Entah sengaja atau tidak, Bagas menutup pintu kamar dengan sedikit keras hingga membuat Nana sadar dari lamunannya. Nana langsung mengikuti Bagas dari belakang. Dia ingin mengantarkan Bagas hingga di depan pintu. Melepas Bagas saat akan berangkat bekerja dan mencium tangan Bagas agar Bagas lebih semangat bekerja. Namun itu semua hanya keinginannya, dan bukankah keinginan tak selamanya terpenuhi ?.
"Gas hati-hati ya di jalan." Kata Nana pada Bagas sambil mengulurkan tangannya untuk mencium tangan suaminya. Namun Bagas menepis tangannya dan berlalu begitu saja. Nana hanya melongo tak percaya.
Langkah kaki semakin jauh dari pendengaran Nana, dan punggung tegap semakin tak terlihat oleh Nana. Semakin lama bayangan Bagas semakin jauh, kaki yang panjang memudahkan Bagas untuk mengambil langkah yang lebar.
Nana menutup pintu apartemen mewah itu. Dinding ber-cat putih dengan beberapa foto yang terpajang di sana menjadi saksi tangis Nana pagi ini. Ya, Nana memutuskan untuk ikut kemana pun Bagas pergi. Dan Bagas sudah memutuskan untuk tinggal terpisah dengan mertua dan orang tuanya sendiri. Dia lebih memilih memboyong Nana ke apartemen yang sudah di belinya 2 tahun yang lalu. Walaupun Mertua dan orangtuanya meminta Bagas untuk tinggal dengan salah satu dari mereka, namun Bagas tetap menolak dengan alasan ingin hidup mandiri dengan istrinya.
Nana memasuki kamar mereka. Duduk di tolet dan mengambil sebuah pigura. Air matanya kembali menetes. Bagaimana bisa dia menahan air matanya jika di dalam kamar mereka masih terpajang rapi foto suaminya dan Mira. Rasanya dia ingin sekali melempar pigora itu dan membakar fotonya. Namun dia tak ingin membuat Bagas semakin marah dan dingin padanya.
"Semua ini akan segera berakhir. Aku yakin pasti bisa membuat Bagas kembali mencintaiku lagi." Kata Nana pelan sambil memegang pigura dengan erat.
Setelah mengatakan itu, Nana meletakkan kembali pigora foto itu di tempatnya. "foto ini akan terganti dengan foto pernikahan kami". Nana kembali tersenyum saat mengatakan itu. Dia benar-benar yakin jika dia mampu membuat Bagas kembali mencintainya seperti dulu dan tak ada lagi perlakuan dingin dan cuek yang biasa dia dapatkan.
Nana bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar mandi. Dia sudah membuat list untuk kesehariannya. Di mulai dari bangun tidur dia akan membangunkan Bagas, kemudian memasak untuk sarapan dan setelah itu akan memilihkan setelan baju kantor untuk Bagas selagi Bagas berada di kamar. Walaupun selama ini Bagas tak pernah memakai baju yang sudah di pilihkan istrinya, namun Nana tak pernah putus asa untuk terus menyiapkan pakaian untuk sang suami. Setelah Bagas berangkat kerja, dia akan berangkat ke supermarket dekat apartemen untuk belanja bahan masakan. Namun setelah dia kembali bekerja dia akan berangkat bersama Bagas, dan menjelang makan siang dia akan belanja dan memasak makan siang. Saat sore hari dia akan menanti Bagas pulang bekerja dengan keadaan yang sudah cantik. Bahkan setelah dia kembali bekerja dia akan pulang lebih dulu dari Bagas agar dia bisa menyambut kepulangan Bagas. Semua rencana nya sudah dia atur dengan rapi. Dan Nana pun sudah siap untuk menjalankan peran barunya. Yaitu menjadi istri Bagas Argantara.
Hari ini Nana memakai fashion yang terlihat sangat sederhana. Celana jins dan atasan berlengan pendek berwarna navy menjadi pilihannya. Rambut yang dia kuncir kuda dengan kuncir berbentuk pita membuatnya seperti anak kuliahan. Make up yang tak mencolok dan terkesan natural sudah terpoles rapi di wajah ayu nya. Jika begini dia lebih terlihat seperti anak kuliahan daripada wanita yang sudah bersuami. Mengambil tas slempang dan mengisi dengan dompet dan handphone. Setelah itu berjalan keluar apartemen. Namun sebelum melangkah lebih jauh dia mengirimkan pesan untuk Bagas yang berisi pamit untuk pergi ke supermarket.
Nana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dari gedung parkir dia belok ke arah kanan menyusuri jalan Kartini setelah itu belok ke kiri ke jalan Merdeka. Dan tak butuh waktu lama untuk Nana sampai di tempat tujuan.
Nana memarkirkan mobilnya di halaman yang tak terlalu jauh dari pintu masuk. Setelah itu dia memasuki supermarket dan mengambil troli. Menuju ke stand sayuran dan mulai mengambil sayuran segar dan sayuran yang di butuhkannya. Beberapa sayuran yang semula berjajar rapi di stand supermarket sudah berpindah ke troli Nana. Tak banyak yang diambil olehnya, karena Nana sengaja untuk tidak menimbun banyak sayuran di lemari es. Dia akan membeli sayuran setiap hari.
Setelah di stand sayuran, dia menuju ke frezer sosis. Mengambil 2 bungkus sosis ayam dan memasukkan ke troli nya. Setelah itu Nana menuju ke lorong kebutuhan sehari-hari. Dia mengambil saus, kecap, minyak goreng, minyak wijen, bubuk cabai dan kebutuhan dapur lainnya. Setelah di rasa sudah lengkap, Nana menuju ke lorong di sebelah nya. Mengambil kopi, teh, s**u, dan gula. Berjalan lurus untuk mengambil roti dan selai. Nana memilih beberapa varian selai karena jika sedia satu varian saja dia kuatir jika Bagas akan bosan. Jadi dia mengambil selai satu-satu sesuai banyak varian yang tersedia di sana.
Nana berhenti sejenak. Berpikir apa lagi yang belum diambil. Dan setelah meneliti belanja yang ada di troli, Nana teringat jika dia belum membeli cemilan dan minuman. Tanpa berfikir panjang Nana segera menuju ke lorong yang bersangkutan dan mulai memilih cemilan apa yang akan dia beli. Dan kuaci adalah tujuan utama nya. Karena dia tahu, kuaci adalah jajanan kesukaan Bagas. Dulu saat mereka masih duduk di bangku sekolah, Bagas selalu membeli kuaci saat jam istirahat. Menghabiskan kuaci sambil ngobrol dengan Nana.
"Aaaaa ... " Kata Bagas sambil menyodorkan kuaci ke mulut Nana.
Nana yang melihat itu segera membuka mulutnya dan akan menerima suapan dari Bagas. Namun belum sampai kuaci itu ke mulut Nana, Bagas manarik suapannya dan memberikan itu ke Nana. "Kamu makan sendiri lah, udah gede masih minta di suapin."
"Biar sweet gitu." Jawab Nana sambil memanyunkan bibirnya. Dia tak mengambil kuaci yang di sodorkan oleh Bagas. Malah dia kembali fokus ke novel yang di bacanya sedari tadi.
"Nih makan. Enak loh."
"Nggak. Nggak mau makan kalau nggak di suapin." Jawab Nana ketus.
Bagas tersenyum melihat Nana yang sedang ngambek. Entah mengapa dia suka melihat ekspresi Nana yang seperti ini. Baginya, Nana lebih menggemaskan jika sedang ngambek begini.
"Buka mulutnya. Aku suapin."
Nana menoleh ke arah Bagas, menatap Bagas dengan pandangan curiga. Dia takut jika sudah membuka mulut namun Bagas hanya menggodanya saja.
"Serius ini. Kamu mau nggak?" Tanya Bagas sambil senyum tak luntur dari bibirnya.
Tanpa berfikir lagi, Nana membuka mulutnya dan memakan kuaci yang ada di tangan Bagas. Bagas tertawa kecil dengan tingkah manja Nana. Semua orang di sekitar memperhatikan mereka, namun mereka tak menghiraukan hal itu. Selama gaya pacaran mereka masih wajar kenapa harus pusing mikirin orang lain.
Lagi-lagi Nana hanya mampu tersenyum jika mengingat kenangan manisnya dengan Bagas. Dulu dia berfikir jika dia dan Bagas selamanya akan tetap bersama. Dan itu memang sudah terwujudkan, hanya saja perlakuan dan sikap Bagas tak lagi sama. Nana kangen dengan masa lalu. Andai saja dia bisa memutar waktu, dia ingin kembali ke masa putih abu-abu nya dan menghentikan waktu. Supaya dia bisa merasakan setiap perhatian yang di berikan oleh Bagas.
Nana tersadar dari lamunannya setelah dia merasa ada seseorang yang tepat di belakangnya sedang mengambil minuman yang tempat lebih tinggi dari tinggi badannya. Nana yang kaget langsung reflek balik badan. Namun yang di lihatnya adalah d**a bidang seorang pria. Pria itu menundukkan wajahnya dan bertepatan saat Nana mengangkat wajah. Jadi mereka bisa melihat wajah satu sama lain. Pria itu tersenyum manis kepada Nana, sedangkan Nana tampak bengong. Tanpa mereka sadari, posisi mereka begitu intim hingga membuat seseorang tampak marah dan memilih untuk pergi.
"Maaf." Kata Nana sambil mendorong orang itu pelan.
"Saya yang harusnya minta maaf." Jawab pria itu dengan senyum yang terus terukir di wajahnya.
Nana tersenyum kikuk sambil mengambil beberapa minuman dengan asal, kemudia mendorong troli belanjaannya dengan terburu-buru menjauhi pria tersebut.
"Tunggu." Kata pria itu.
Nana tak menghiraukan ucapan pria itu. Dia terus saja berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Yang ada du fikirannya, dia ingin segera menjauh dari pria yang tak di kenalnya itu.
"Anda Nana bukan?" Kata pria itu dengan nada tanyanya.
Nana berhenti. Merasa jika dia di panggil. Menoleh lagi ke arah pria itu dengan ekspresi bingung. Bagaimana bisa pria itu mengenalnya sedangkan dia tak kenal dengan pria itu.
"Kamu lupa dengan saya?" Tanya pria itu setelah dia mendekat ke Nana.
Nana tak menjawab. Namun tatapan matanya mengisyaratkan jika dia ingin penjelasan. Siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya ini.