Bagian Dua

1696 Words
Hari sudah terang. Matahari sudah kembali bertugas. Nana mencuci wajahnya yang bengkak, terutama bagian mata dan hidung akibat nangis semalaman. Setelah kemarin siang bertemu dengan Bagas dan Mira, malamnya dia mengeluarkan air mata yang banyak. Dia nangis hingga tak terasa dia tertidur. Setelah bangun dia kaget dengan wajahnya sendiri. Bengkak mata dan hidung tak dapat di hindari. Pasti setelah ini dia akan mendapatkan banyak pertanyaan dari Mamanya.  Nana memutuskan untuk mandi sekalian dan bersiap-siap pergi ke kantornya tanpa sarapan terlebih dahulu. Dia fikir dia bisa membeli sarapan diluar daripada meladeni beribu pertanyaan yang akan di lontarkan Mamanya. Tak butuh waktu lama untuk Nana mandi. Dia memilih kemeja marun dan celana hitam panjang. Dia memperhatikan dirinya sendiri, dia teringat akan sesuatu. Ya, dia ingat jika warna marun adalah warna favorit Bagas. Setiap kali mereka berkencan pasti Bagas memakai kostum yang ada warna marunnya, entah itu jaket, switer, ataupun kaos. Bahkan Bagas pernah memakai sneaker warna marun juga. Kecintaannya pada warna marun membuat Nana lambat laun juga menyukai warna marun. Hingga beberapa barang Nana sekarang terdominasi warna marun. "Sadar Nana. Kamu tak boleh memikirkan nya lagi." Kata Nana menyadarkan dirinya sendiri. Tak ingin terus larut dalam masa lalu membuatnya cepat-cepat merapikan rambutnya yang sedikit basah. Memoleskan make up natural ke wajahnya membuatnya semakin cantik. Wajah oval, mata teduh, bibir tipis, pipi sedikit cubby yang dimiliki nya membuat siapapun yang melihat nya akan jatuh cinta. Senyuman manis andalannya berhasil membuat lebih dari sepuluh lelaki patah hati. Sebanyak apapun lelaki yang mendekatinya, tak satupun dapat membuatnya jatuh cinta. Beberapa kali mencoba menjalin hubungan dengan pria lain, malah berakhir dengan rasa bersalah pada pria itu. Cinta yang besar untuk Bagas membuatnya tak mampu untuk mencintai lagi. Rasa rindu yang menggebu-gebu membuatnya tak kuasa memandang pria lain. Dalam hatinya, pikirannya hanya Bagas saja bahkan setiap doanya, nama Bagas tak pernah terlewatkan. Tapi sekarang dia harus melupakan nama itu. Karena dalam hitungan minggu, Bagas akan menjadi milik orang lain. Salah jika dia terus mengharapkan kembali dengan Bagas. Tak pantas rasanya jika dia masih mencintai suami orang, terlebih suami dari sahabatnya sendiri. Seberat apapun melupakan Bagas, Nana percaya jika dia mampu melakukan itu. Sesakit apapun melihat Bagas bersanding dengan perempuan lain, Nana percaya jika dia berhasil melewati semua ini. Nana keluar dari kamar. Jalan perlahan menuruni tangga. Dia lirik sekilas ruang makan, disana sudah kumpul kedua orangtua nya dan kakak lelakinya. Dia ingin melanjutkan langkahnya menuju pintu depan, namun terlanjur ketahuan oleh Mamanya. "Na kamu nggak sarapan dulu ?." Tanya Mama Nana begitu dia melihat putri semata wayangnya. Nana menoleh ke arah Mamanya. Dia mengulas senyum lembut. "Nggak usah Ma, Nana ada pertemuan pagi dengan klien. Nanti sekalian sarapan disana." Jawab Nana berbohong. Dalam hati dia meminta maaf pada Mama nya karena sudah membohonginya. "Owh gitu, yaudah kamu hati-hati ya." Jawab Mama Nana. Dia tahu jika pekerjaan anaknya tak ringan. Perusahaan yang semakin lama semakin berkembang membuat anaknya memiliki lebih sedikit waktu untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Nana mendekati kedua orang tuanya dan kakak lelakinya. Dia mengulurkan tangan nya berpamitan. "Nana jalan dulu ya." Pamit Nana pada orangtuanya dan Kakaknya. "Hati-hati ya Na." "Hati-hati ya dek." "Iya. Assalamualaikum." "Waalaikum salam." Jawab mereka bertiga bebarengan. Nana berjalan keluar rumah. Membuka pintu mobil dan memasukinya. Lama dia memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini, membuatnya tak menjalankan mobil hingga beberapa menit. Handphone yang berada di dalam tasnya berdering. Membuat Nana sadar dari lamunannya. Sebuah nomor tak dikenal membuatnya mengernyitkan dahi bingung. Lantaran tak mengenal nomor tersebut, Nana memutuskan untuk mengabaikannya. Toh jika itu seorang klien yang ingin menyewa jasanya, maka dia akan menelphone ke telepon kantor bukan hanphonenya. Nana menjalankan mobilnya membelah jalanan yang belum terlalu padat. Walaupun terlihat beberapa kendaraan lain juga membelah jalanan. Dikanan kiri jalanan terlihat pedagang kaki lima menjajakan dagangannya. Ada yang ramai, bahkan ada juga yang hanya dikunjungi satu, dua orang saja. Nana begitu pelan menjalankan mobilnya. Tatapan matanya fokus ke ibu paruh baya yang menjual serabi. Tak terlalu banyak pembeli, membuatnya tak kerepotan melayani. Nana meminggirkan mobilnya di dekat pedagang serabi itu. Turun dari mobil dan menghampiri ibu itu. Mengambil kursi kecil dari kayu yang sudah disediakan oleh pedagang dan kemudian memesan satu porsi serabi. "Sa cobain deh, enak tau." Kata Bagas sambil menyuapkan secuil serabi hangat ke Nana. Nana yang sebenarnya enggan menerima suapan dari Bagas namun tak berani menolak, membuatnya membuka mulut. "Gimana enak kan ?." Tanya Bagas dengan wajah sumringah. Nana berusaha mengunyah serabi yang sudah ada dimulutnya. Mengunyah perlahan yang akhirnya membuatnya ketagihan untuk mengunyah terus-terusan. "Enak banget." Jawab Nana bersemangat. Dia langsung meminta serabi ketan yang ada ditangan Bagas dan langsung memakan serabi itu dengan lahap. Bagas yang melihat itu, tertawa bahagia. Bagaimana tidak, Nana yang semula tak mau mencicipi bahkan menyentuh serabi, sekarang dengan lahapnya memakan serabi itu. Nana mengulas senyum di bibirnya. Dia kembali teringat sepuluh tahun yang lalu, dimana saat itu dia dan Bagas menikmati serabi setelah lari pagi di alun-alun kota. Dia yang semula kekeh tak mau mencoba serabi, setelah menerima suapan pertama dari Bagas, membuatnya langsung jatuh cinta. Dan sejak kejadian itu, Nana memasukkan serabi ke daftar list makanan favoritnya. Tapi sayangnya, pedagang yang dulu, sudah tak pernah dia lihat. Entah sudah pindah tempat atau memang sudah tak berjualan lagi. Kemajuan penataan kota yang dilakukan oleh para petinggi membuat sebagian besar pedagang kaki lima harus rela di gusur. Harus rela tempat mencari nafkah mereka di pindah begitu saja. Mereka yang hanya orang kecil tak mampu berbuat apa-apa selain menuruti kemauan para petinggi. "Ini ndok serabinya". Kata pedagang itu sambil memberikan seporsi serabi hangat pesanan Nana. Serabi yang di beri tatakan daun pisang tambah menggugah selera makan. Dari baunya saja, Nana sudah ingin cepat-cepat melahapnya. *ndok = sebutan untuk anak perempuan. Sebagian besar orang jawa memanggil anak perempuan mereka dengan sebutan ndok. "Matur suwun, Mbok". Jawab Nana sopan sambil menerima serabi pesanannya. *Matur suwun, Mbok = terima kasih bu. Nana memasukkan secuil serabi itu ke mulutnya. Menikmati serabi yang masih hangat dalam keadaan cuaca yang dingin membuatnya melupakan kesibukannya sejenak. Baginya untuk mendapatkan hidangan lezat, tak harus mendatangi restoran mahal ataupun menu modern. Cukup menikmati hidangan tradisional ditempat yang sederhana pula. Di puncak karirnya saat ini, membuat Nana tak sombong ataupun lupa diri dari mana dia berasal. Masih hidup dengan kesederhanaan seperti dulu, membuat orang di sekitarnya tak memandang Nana sebagai orang yang lupa kulitnya. Walaupun kesibukannya saat ini seringkali tak diterima oleh keluarga besarnya. Nana sadar, semakin berkembang usahanya akan semakin sedikit waktunya untuk bersantai. Maka dari itu, jika Nana memiliki waktu luang, dia akan menggunakan waktu itu untuk berkumpul dengan keluarga ataupun temannya. Walau hanya sekedar menjenguk. Semua orang tahu, kehidupan tak selalu berada diatas. Seketika kita dapat memiliki semuanya, namun secepat membalikkan telapak tangan kita bisa kehilangan itu semua. Seperti saat ini, di usianya yang masih terbilang muda Nana bisa memenuhi kehidupannya sendiri tanpa meminta bantuan materi dari kedua orang tuanya. Bahkan saat ini Nana bisa memberi jatah bulanan untuk orang tuanya. Tak lupa juga dia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk orang tak mampu. Karena dia ingat ucapan guru ngajinya dulu. "Jika nanti kalian sudah bekerja, sudah mendapat uang sendiri, jangan lupa sisihkan uang kalian untuk fakir miskin. Karena 10% dari pendapatan kalian ada hak mereka". Kata guru ngaji Nana yang sekarang sudah tiada. Nana masih mengingatnya dan mengamalkannya hingga saat ini. Bahkan dia merasa jika uang yang dikeluarkan nya selalu mendapat ganti berlipat ganda dari Allah. Maka dari itu, Nana tak pernah menyesal memberi sebagian pendapatannya untuk bersedekah. "Ehem." Dehem seseorang yang duduk disamping Nana. Nana tak menghiraukan deheman pria itu. Nana masih terus menikmati serabi hangat tanpa terganggu deheman pria di sampingnya. "Nikmat sekali sampai tak menghiraukan sekitar." Suara bariton pria itu mengomentari Nana. Nana menghentikan aktivitas makannya. Dia menoleh ke arah kanan. Disana sudah ada pria yang sangat di rindukan Nana namun tak mampu untuk digapai oleh Nana. Nana menyeruput teh hangat sebelum menjawab perkataan pria tersebut. "Ya, karna serabi lebih nikmat daripada menantikan seorang pengkhianat." Jawab Nana mencoba tegar. Padahal dalam hatinya begitu rapuh. Ingin sekali dia menghambur ke pelukan pria itu, mencurahkan segala kerinduan yang sudah 7 tahun ini di pendamnya. Bagas menyerongkan badannya sehingga sekarang dia menghadap Nana. "Siapa disini yang pengkhianat?." Tanya Bagas dengan wajah tegas nya. Matanya menatap tajam ke arah mata Nana membuat Nana sedikit takut. Namun Nana mampu menyembunyikan ketakutannya. "Siapa lagi kalau bukan kamu." Jawab Nana tak kalah tegas. Nana meletakkan serabinya yang masih tersisa seperempat ke kursi kecil di dekatnya. "Apa dasar kamu menyebutku seorang pengkhianat?." "Kamu meminta ku menanti, namun apa? Sekarang kamu datang sebagai calon suami sahabatku sendiri. Apa itu bukan pengkhianat?." Jawab Nana tak takut. Nana merasa ini saatnya dia mengeluarkan segala amarah yang sejak kemarin di pendamnya. Bagas memicingkan matanya tak mengerti dengan ucapan Nana. "Apa maksud kamu?." Tanya Bagas bingung. "Drama apa lagi yang sedang kau mainkan saat ini?." Belum sempat Nana menjawab pertanyaan menohok dari Bagas, dari arah belakang Bagas datang perempuan yang memakai baju minimalis. Ya, siapa lagi kalau bukan Mira. "Hai, kebetulan kita ketemu disini." Kata Mira begitu dia sampai di dekat Bagas dan Nana. Nana mengulas senyum tipis. Dia merasa terganggu dengan kehadiran Mira saat ini. Bagaimana tidak ? Saat yang seharusnya bisa digunakan untuk Nana mengutarakan semua amarahnya malah terganggu oleh kehadiran Mira. Dan Nana juga merasa ada yang mengganjal dengan pertanyaan menohok yang keluar dari mulut Bagas. "Memang ada perlu apa?." Tanya Nana kepada Mira "Aku mau membicarakan soal katering untuk acara pernikahanku dengan Bagas." Jawab Mira menjelaskan. Lagi-lagi hati Nana kembali sakit saat dia mendengar Bagas akan segera menikah. "Kamu bicarakan saja dengannya, aku menurut padamu saja." Kata Bagas pada Mira. Kemudian dia pergi meninggalkan calon istri dan mantan kekasihnya itu. Eh, apakah Nana pantas disebut mantan jika sampai saat ini belum ada kata putus yang terucap?. "Nanti aku hubungi kamu lagi ya begitu aku selesai menyusun jadwal untuk kita memilih menu apa saja yang kamu inginkan di pernikahan mu." Kata Nana pada Mira. "Sekarang aku ada pertemuan dengan klien." Lanjutnya. Setelah mengucapkan itu, Nana segera pergi dari hadapan Mira. Bahkan dia tak menunggu pedagang serabi memberikan kembalian uangnya. Kata yang Nana ucapkan jika dia ada pertemuan dengan klien, itu semua hanya alasan belaka. Sakit hati yang Nana rasakan membuatnya ingin segera menenangkan fikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD