"Dengan Nona Bianca dan Tuan Rendy ?" Tanya Nana begitu dia sampai di salah satu meja yang ada di kafe Orizon.
Pasangan yang disapa Nona dan Tuan oleh Nana segera bangkit dan menyunggingkan senyum. Nana membalas senyum mereka dan mengulurkan tangan menyalami kedua pasangan itu. Kedua orang berbeda kelamin itu menyambut uluran tangan Nana sambil mempersilahkan Nana untuk duduk.
Nana duduk di kursi yang sudah di sediakan. Membuka obrolan seputar pekerjaan dan kesibukan sebelum tiba di topik utama. Apalagi topik nya kalau buka konsep pernikahan.
Inilah kesibukan Nana, keluar kesana sini, menemui para calon pengantin untuk membahas tentang pernikahan yang mereka dambakan. Membantu para calon pengantin untuk mewujudkan konsep pernikahan impian mereka.
Sama seperti mereka, Nana juga memiliki konsep pernikahan impian sendiri, namun hingga saat ini dia belum bisa mewujudkannya. Jangankan mewujudkannya, mengutarakan ke orang lain saja dia belum pernah. Semua impian tentang pernikahan masih tersimpan rapat dalam pikirannya.
"Jadi kita menginginkan pernikahan kita di gelar di gedung yang dekat dengan Masjid. Soalnya kita ingin ijab qabulnya di masjid dan langsung dilanjutkan acara resepsi. Jadi biar kita nggak kejauhan menjangkau tempat resepsi dengan masjidnya." Kata Nona Bianca mengutarakan keinginannya.
"Kami akan menyediakan tempat seperti yang saudara inginkan. Tapi sebelumnya, maaf jika kami nantinya tak mampu menyediakan gedung sesuai tujuan kalian." Jawab Nana menanggapi. "Soalnya biasanya gedung yang seperti itu, lebih banyak di sewa. Apalagi ini acara pernikahan kalian bertepatan dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad, jadi banyak sekali gedung-gedung yang disewa untuk acara pengajian." Lanjut Nana menjelaskan.
"Untuk dimana gedungnya, kami tak menentukan. Kami juga sadar, untuk menjadwalkan waktu juga sulit. Jadi kami menerima gedung manapun asalkan dekat dengan Masjid besar". Jawab Tuan Rendy.
Nana mengulas senyum. Ini adalah type klien yang disukai nya. Tak egois dan mampu diajak bekerja sama. "Baik pak, kami akan menyediakan gedungnya. Untuk konsep dekorasinya bagaimana ?"
"Kami sepakat untuk mengusung tema modern saja. Karena kami beda adat, saya dari aceh sedangkan mas Rendy dari Jawa dan kedua keluarga kami tak ada yang mau mengalah soal adat. Jadi kami ambil jalan tengahnya saja, kami mengusung konsep modern." Jawab Nona Bianca menjelaskan.
Nana tampak mengeluarkan beberapa sample dekorasi modern yang sudah pernah di kerjakannya. Lebih dari 35 model dekorasi modern dilihat oleh pasangan pengantin tersebut. "Ini adalah contoh dekorasi yang berkonsep modern. Mulai dari yang terlihat mewah, elegan, sampai yang terkesan sederhana. Kalian bisa memilih atau kalian punya ide sendiri tentang dekorasi yang kalian inginkan ?" Kata Nana menjelaskan. Nana merupakan orang yang terbuka menerima saran. Walaupun perusahaannya sudah besar, namun dia tak menutup atau membatasi klien nya untuk mengutarakan imajinasi tentang pernikahan yang mereka inginkan. Malahan Nana sangat senang jika mendapat klien yang mengeluarkan imajinasi tentang dekorasi yang mereka impikan.
Pasangan pengantin itu memperhatikan satu per satu sample dekorasi yang diberikan oleh Nana. Beberapa kali salah satu dari mereka mengeluarkan pendapatnya. Dan jarang pula mereka berdebat karena perbedaan pendapat. Nana hanya tersenyum simpul melihat interaksi mereka berdua.
"Oh iya ini masih ada satu sample lagi." Kata Nana mengambil notes nya dari dalam tas. Saat dia membuka notes nya, selembar foto lama ikut keluar dari notes itu.
Nana segera memungut foto itu. Namun belum sempat dia mengambil, sudah diambil Rendy dulu. "Ini bukannya, Bagas?" Tanya Rendy ragu-ragu.
Nana mendongakkan kepalanya. Berfikir bagaimana mungkin Rendy mengenali Bagas? Apa mereka berteman? Tapi teman apa? Mengapa Nana tak tahu? Karena hampir semua yang ada dalam diri Bagas, Nana mengetahuinya.
"Iya. Apa kalian saling mengenal?" Tanya Nana penasaran.
Rendy tersenyum pada Nana sambil mengembalikan foto itu ke Nana. Nana menerima kembali foto itu dan kemudian di simpannya ke dalam tas.
"Kami berteman sejak awal kuliah, dan sejak kami lulus kami belum bertemu lagi. Ya jika di hitung sekitar 5 tahun kami tak bertemu lagi". Jawab Rendy menjelaskan. Dia bercerita sambil membayangkan masa-masa pertemanannya dengan Bagas.
"Owh jadi Anda kuliah di Jakarta juga?" Tanya Nana.
Rendy mengernyitkan dahinya bingung. "Bukan. Saya kuliah disini dengan Bagas juga." Jawab Rendy tenang.
"Bukankah Bagas kuliah di Jakarta?" Tanya Nana lagi. Nana merasa ada yang aneh di sini. Dulu Nana diminta Bagas untuk menunggu selama dia menyelesaikan kuliahnya di Jakarta. Dan Nana menunggunya hingga sekarang.
"Bukan. Bagas kuliah di sini bersamaku. Di Universitas Nusantara." Jawab Rendy yakin.
Nana terdiam sejenak. Lalu apa maksudnya Bagas dulu mengatakan jika dia diterima disalah perguruan tinggi negeri yang ada di Jakarta. Apa dia ingin menghindar dari Nana? Lalu jika iya, mengapa dia menyuruh Nana untuk menunggu nya? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin Nana tanyakan kepada Bagas, namun melihat bagaimana sikap Bagas saat ini membuat Nana bingung bagaimana cara menanyakannya.
Nana terus saja mencoba untuk berpikiran positif. Mungkin ada sesuatu yang belum bisa di jelaskan oleh Bagas. Karena dia percaya jika Bagas tak mungkin melakukan sesuatu tanpa ada alasan yang jelas. Seperti Bagas mengkhianati Nana dengan Mira. Pasti Bagas memiliki suatu alasan yang mungkin akan sulit diterima oleh Nana.
"Oh iya bagaimana kabar Bagas sekarang?" Tanya Rendy tiba-tiba. Membuat Nana sadar dari lamunannya.
"Eh di ... dia baik kok iya dia baik." Jawab Nana gugup. "Malah dua minggu lagi dia akan menikah." Lanjutnya. Nana mencoba tegar untuk mengatakan jika Bagas akan menikah, namun setegar apapun dia, dalam hatinya pun tetap terasa sakit.
"Dengan siapa? Pasti Mira ya?" Tanya Rendy menebak.
"Iya. Kok kamu tau? Katanya sudah lama tak berjumpa?" Tanya Nana penasaran.
"Ya soalnya Mira selalu mengejar Bagas sejak dulu masih kuliah, dan aku lihat sepertinya Mira tipe orang yang ambisius, apapun yang di inginkan harus dia dapatkan." Jawab Rendy menjelaskan.
Nana semakin bingung. Semuanya tak sesuai dengan apa yang Bagas katakan di surat dulu. Nana segera sadar dari pemikirannya. Dia ingat jika saat ini dia sedang bekerja, walaupun kliennya kali ini teman dari orang yang dicintainya namun dia tak bisa mengabaikannya begitu saja.
Mereka segera membuat kesepakatan tentang konsep pernikahan mereka. Memberi tahu Nana kapan acara di selenggarakan, berapa tamu undangan yang akan datang dan juga rangkaian acara yang akan di tempuh. Semuanya sudah tercatat rapi di buku kerja Nana. Dan setelah itu mereka berpisah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
***
"Sejak kapan kamu, Na bertemu klien dengan makan di pinggir jalan?" Tanya Santi (Mama Nana) tiba-tiba.
Nana yang mendengar pertanyaan Mamanya menghentikan acara ngemil malamnya. Sebenarnya apa yang di lontarkan oleh Mamanya tak sepenuhnya pertanyaan namun sebuah sindiran. Nana mengambil air dingin di atas meja dan meneguknya.
"Ya Nana hanya mengikuti apa yang di inginkan oleh klien, Ma." Jawab Nana mencoba untuk tenang.
"Lalu apa tadi itu juga ketemu dengan klien?" Tanya Santi lagi.
"Iya itu klien Nana". Jawab Nana singkat seperti tanpa beban, namun sebenarnya hatinya terasa sakit.
"Bagaimana rasanya menyiapkan pesta pernikahan mantan pacar?" Tanya Santi sarkasme. "Apalagi kalau masih cinta". Lanjutnya.
Nana hanya diam saja. Rasanya dia ingin memaki seseorang yang ada di depannya ini. Namun untungnya dia masih ingat jika perempuan ini adalah perempuan yang melahirkannya.
"Nana baik-baik aja kok. Lagian Nana juga sudah nggak ada rasa lagi sama Bagas". Jawab Nana berbohong. Apa yang dia katakan sebenarnya lawan kata dari yang dia rasakan.
"Apa kamu yakin?" Tanya Santi sekali lagi.
Nana mengangguk sebagai jawaban. Ternyata Nana pandai sekali berbohong. Dilihat dari anggukan kepala mantap yang di lakukannya membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan percaya jika dia sedang baik-baik saja. Tapi yang namanya seorang ibu pasti tidak akan bisa dibohongi oleh anaknya.
"Tapi, Mama nggak yakin". Kata Santi lagi. Dia tau jika anaknya saat ini sedang berbohong. Membohongi nya dan juga membohongi hatinya sendiri. "Mama udah ngira kalau akan jadi seperti ini. Kamunya aja yang terlalu bodoh, mau aja disuruh nunggu dia sampek kembali. Lihat sekarang, dia memang kembali tapi sebagai calon suami orang." Kata Santi lagi memberi omelan pada anak putrinya. Sudah berkali-kali dia membujuk Nana untuk melupakan Bagas dan mencari pengganti, namun tak pernah di hiraukan. Bahkan beberapa kali, Santi pernah menjodohkan Nana dengan anak temannya namun itu semua berakhir dengan perpisahan.
Nana hanya diam saja. Apa yang di katakan oleh Mamanya ada benarnya. Dia terlalu bodoh hingga tak mampu mencari pengganti. Bahkan hingga saat ini saat Nana tau Bagas akan menikah, dia masih tak mampu mencari pengganti Bagas. Jangankan mencari pengganti, melupakannya saja masih sulit. Banyak sekali kenangan-kenangannya bersama Bagas. Itu semua yang membuatnya tak bisa melupakan Bagas begitu saja. Banyak juga janji-janji yang Bagas ucapkan, tapi namanya janji tak selalu harus di tepati. Dan inilah yang dirasakan Nana, semua janji Bagas hanya bualan saja.
"Sekarang apa lagi yang mau kamu tunggu? Bagas akan menikah dengan perempuan lain, dan kamu masih mau menunggunya? Apa kamu mau jadi perawan tua?"
Lagi-lagi Nana hanya diam. Bingung mau menjawab apa. Bersikeras untuk tetap menunggu juga sudah tak ada gunanya. Bagas sebentar lagi akan menikah, sudah tak pantas jika dia tetap menunggu.
Menunggu Bagas bagaikan menanam kaktus di musim penghujan. Akan sia-sia tak ada hasilnya. Hanya membuang waktu saja. Saat ini, dia memutuskan untuk menyerah dan pasrah. Menyerah untuk tak menanti Bagas lagi dan pasrah menyerahkan semuanya pada Allah.