"Saya terima nikah dan kawinnya Afsana Ghania Rawnie binti Hadianto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 20 juta rupiah dibayar tunai." Ucap Bagas dengan suara lantang saat mengucapkan ijab qabul. Dan setelah itu semua orang yang ada dalam ruangan ini serentak mengucapkan "Sah."
Ya. Hari ini adalah hari sakral bagi Nana. Hari dimana dia memutuskan menikah dengan Bagas. Memang awalnya dia bersikukuh menolak lamaran Bagas, namun pada akhirnya dengan bujukan Ayah dan Ibu Bagas membuatnya berubah pikiran. Dia menerima lamaran Bagas dan melaksanakan pernikahan hari ini. Ijab qabul di gelar di salah satu masjid besar di kota Yogyakarta. Dan setelah itu mereka langsung pergi ke Hotel Candi untuk melangsungkan acara resepsi. Acara resepsi di laksanakan sampai sore saja. Mengingat malam hari waktunya mereka untuk beristirahat setelah acara pernikahan digelar sehari penuh.
Setelah Bagas mengucapkan janji suci mereka, Naib memberikan doa yang di aamiin i oleh seluruh orang yang ada di dalam masjid ini, kecuali Bagas. Bagas tak mengucapkan apapun. Dan setelah itu Bagas memasangkan cincin kawin mereka di jari manis Nana dan begitu sebaliknya. Foto bersama sekilas dan kemudian langsung menuju ke hotel Candi untuk menggelar acara resepsi.
“Bukakan pintu untuk istri mu dong, Gas." Tegur Ibu Eni kepada Bagas begitu melihat Bagas membuka pintu mobil untuknya sendiri. Bagas tak menghiraukan ucapan Mamanya. Dia tetap masuk ke dalam mobil.
"Nana bisa sendiri kok, Bu." Kata Nana menengahi. Dia tak ingin acara yang seharusnya menjadi acara bahagia malah berubah menjadi acara yang tegang.
Nana membuka pintu mobil sendiri dan langsung masuk ke dalam. Duduk dengan tak nyaman karena kebaya pengantin yang dikenakannya. Kain jarik yang sempit dan kebaya panjang membuatnya kerepotan memposisikan duduk dengan tenang dan nyaman. Berkali-kali dia merubah posisi dan bergerak ke sana sini, sedikitpun Bagas tak membantu. Jangankan membantu, menghiraukan ‘pun tidak. Sedari tadi Bagas hanya menatap ke luar jendela. Entah apa yang dia tatap. Dia lebih memilih menatap keluar jendela sedangkan di sampingnya ada bidadari yang tak kalah cantik dari bidadari surga.
Nana memanyunkan bibirnya tanpa bisa berkata. Ingin minta tolong tak berani. Melihat bagaimana sikap acuh Bagas padanya membuatnya memilih diam daripada meminta tolong dan mendapat jawaban yang membuatnya sakit hati.
Mobil menyusuri Jalan Sudirman yang hari ini tak terlalu ramai. Berhenti sejenak karena lampu merah dan setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Gedung tempat mereka menggelar resepsi pernikahan. Dari lampu merah belok kanan ke jalan Soekarno-Hatta. Mobil terus bergerak melintasi jalan Soekarno-Hatta yang kondisi jalannya lebih ramai dibandingkan jalan Sudirman tadi. Memang di sepanjang jalan Soekarno-Hatta banyak kantor-kantor dan restauran yang berdiri di sana. Hal itu membuat banyak sekali kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang memenuhi jalan ini.
Hotel megah berdesain modern dengan aksen ukiran kayu disamping kanan dan kiri pintu masuk menambah kesan mewah dan megah Hotel itu. Hotel bergaya modern namun tak meninggalkan gaya bangunan Jawa membuatnya menjadi Hotel yang berbeda dari Hotel kebanyakan, Hotel yang terlihat begitu istimewa.
Nana masuk dengan tangan melingkar di lengan kekar milik suami nya. Menuju salah satu kamar yang di gunakan untuk berganti pakaian. Gaun berlengan panjang dengan potongan d**a yang rendah menjadi pilihannya. Bagian d**a sampai pinggang dan lengan di penuhi dengan payet sederhana. Gaun hasil rancanganmya sendiri yang akan dipakainya hari ini. Ya, gaun yang sudah di siapkannya sejak tiga tahun yang lalu akhirnya akan dikenakannya hari ini. Sesuai harapannya, dia memakai gaun itu dihari pernikahannya dengan Bagas, laki-laki yang hingga saat ini masih abadi di hatinya. Hanya saja, sikap manis dan cinta Bagas sudah tak lagi untuknya, membuat kebahagiaannya sedikit berkurang.
Rambut di gelung kecil dengan menyisakan anak rambut di samping kanan dan kiri membuatnya jadi lebih cantik. Polesan make up natural di wajahnya membuat Nana semakin cantik bak bidadari. Senyum terus terukir di bibir kecilnya. Mungkin saat ini semua orang yang melihat senyumannya berfikir jika itu senyum kebahagiaan, namun mereka salah, dibalik senyum lebar itu ada senyum kesedihan pula. Menutupi kesedihan dengan senyuman bukan hal yang sulit bagi Nana.
Sepatu dengan hak tinggi yang berwarna senada dengan pakaiannya sudah tersemat apik di kedua kakinya. Saat ini semua orang yang melihatnya pasti akan setuju jika Nana tak kalah cantik dari putri raja. Sifat anggun, sikap ramah, wajah ayu, otak cemerlang membuat para jejaka merasa iri dengan Bagas. Namun hal itu tak benar bagi Bagas. Nana hanyalah serpihan kaca yang menggores hatinya hingga terluka. Dan sebuah kaca tak pantas untuk di pertahankan
***
"Selamat ya, Bro." Kata salah satu laki-laki memberi selamat pada Bagas. Nana mengira jika laki-laki itu adalah salah satu teman Bagas. Karena Nana melihat kedekatan mereka yang melebihi teman biasa.
"Makasih ya udah nyempetin hadir." Jawab Bagas menerima jabatan tangan dari lelaki itu.
"Istri lo lebih cantik dari mantan lo." Bisik lelaki itu. Nana tak bisa mendengar bisikan itu dengan jelas, namun pandangan mata lelaki itu terus tertuju kepada Nana. Nana hanya mengulas senyum sambil mengangguk ragu membalas tatapan mata lelaki itu.
Bagas yang mendengar itu merasa tak suka. Apalagi melihat Rey menatap Nana dengan pandangan mengagumi. Rasanya Bagas ingin sekali mencolok mata Rey karna sudah berani memandang istrinya. Bukan berarti Bagas sudah kembali menerima Nana, tapi bagi Bagas apa yang sudah menjadi miliknya tak boleh di nikmati oleh orang lain.
"Biasa aja dong, Bro, gua nggak bakal rebut dia dari lo kok kecuali lo yang ngabaikan dia, gua rela jadi pengganti lo". Kata Rey saat melihat tatapan tajam Bagas ke arahnya. Perkataan Rey barusan semakin membuat Bagas menggeram. Tangannya mengepal erat ingin melayangkan pukulan ke wajah tampan rival nya ini.
Nana mengenggam tangan suaminya, dan mengelus lengan suaminya. Nana tau apa yang terjadi dengan suaminya. Terlihat jelas jika saat ini Bagas sedang memendam amarah. Bagas yang merasa tangannya digenggam hanya menengok ke kanan. Di sana dia melihat senyum manis istrinya. Perempuan yang baru di nikahinya beberapa jam yang lalu. Pelan namun pasti, kepalan tangan Bagas sudah mengendur. Setelah itu Nana melepas genggamannya di tangan suaminya.
"Inget ucapan gue, mungkin lo bakal jadi jejaka tua kalau ngarepin istri gue." Kata Bagas tak kalah sengit sambil memeluk pinggang ramping istrinya. Nana yang mendapat perlakuan itu kaget, tak pernah menyangka jika Bagas akan memeluknya. Rasa panas sudah mampir di wajahnya. Mungkin saat ini wajahnya sudah memerah, pipi yang sedari tadi merona karna blush on sekarang jadi tambah merah. Nana memilih untuk menundukkan wajahnya.
"Ya kita lihat aja." Jawab Rey sambil pergi. Sebelum benar-benar pergi, Rey masih sempat mengedipkan sebelah matanya kepada Nana. Nana merespon itu dengan menundukkan matanya. Sedangkan Bagas kembali mengepalkan tangannya.
Lampion berwarna putih menggantung indah memnuhi atap ballrom hotel Candy. Bunga lili tersusun rapi di sepanjang karpet merah yang di gelar dari pintu masuk hingga dekorasi. Semebak wangi mawar memenuhi ruangan itu. Pesta yang bertema modern menjadi pilihan mereka berdua. Karena perbedaan budaya membuat mereka memutuskan untuk mengambil jalan tengah yaitu tidak memakai adat daerah. Ibu Bagas yang berdarah sunda mengingkan pernikahan mereka memakai adat sunda. Sedangkan orang tua Nana yang asli Yogyakarta mengingkan mereka menggelar acara dengan adat Jawa. Sama-sama tak ada yang mau mengalah membuat kedua mempelai meneruskan konsep pernikahan yang semula sudah di usung oleh Bagas dan Mira. Hanya saja Nana mengubah sedikit hiasan bunga. Dan Bagas tak mempermasalahkan hal itu.
Pernikahan yang membuat semua orang iri karena keserasian mereka. Perempuan cantik dan lelaki tampan duduk bersanding di pelaminan. Pasti semua orang mengira jika mereka dua insan yang saling mencinta, dua orang yang akan menjadi keluarga yang bahagia, menjadi keluarga yang membuat orang lain iri. Namun nyatanya, dalam pernikahan ini hanya Nana yang memberikan cinta, dan Bagas mungkin saja akan memberikan luka.
Kedua mempelai terus mengukir senyum di wajah mereka, hanya saja senyum yang mereka cetak tak sama. Nana tulus mengukir senyum, sedangkan Bagas hanya membuat suasana menjadi normal saja. Mana ada acara pernikahan dimana pengantinnya menampilkan wajah yang murung.
Pukul 4 sore acara sudah selesai. Nana dan Bagas pergi ke kamar hotel yang sudah di siapkan. Sebenarnya Nana sendiri yang menyiapkan kamar itu. Karena kamar itu yang rencana nya akan di gunakan Bagas dan Mira malam pertama, namun malah dia yang akan menempati. Nana sedikit pun tak mengubah konsep dekorasi kamar pengantin itu.
Bagas berjalan lebih dulu meninggalkan Nana yang jalan tertatih-tatih karena gaun panjang yang di kenakannya. Bagas membuka kamar tersebut dan seketika bau mawar menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Mawar merah yang sudah di bentuk hati tertata rapi di atas ranjang. Lilin dalam gelas tersusun rapi atas nakas. Selain lilin, terdapat beberapa peralatan mandi yang sudah di bentuk indah. Dua handuk putih yang dibentuk menjadi sepasang angsa yang sedang berciuman. Sabun mandi yang sengaja di ukir menjadi bunga teratai di letakkan di sekitar handuk angsa tersebut. Dan beberapa peralatan mandi telah lengkap di atas nakas. Nana sampai di ambang pintu, di samping Bagas. Melihat Nana yang sudah ada di sampingnya, membuat Bagas melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Tanpa bicara Bagas meniup semua lilin yang nyala tersebut. Mengambil salah satu handuk dan peralatan mandi kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Nana yang melihat itu hanya tersenyum kecut. Sakit memang, namun dia sudah menyiapkan hatinya karna dia sudah menduga jika hal ini akan terjadi.
Nana mengangkat gaunnya dan masuk ke dalam kamar. Menutup pintu pelan dan menuju sofa panjang yang berada tak jauh dari ranjang. Melepas sepatu yang sejak beberapa jam lalu tersemat indah di kakinya. Rasanya begitu ringan saat sepatu itu sudah terlepas dari kakinya. Namun gaun yang lumayan berat masih menempel di tubuhnya. Rasanya dia ingin segera melepas gaun ini. Tapi dia tak berani melepas di sini karena dia takut jika dia melepas dan Bagas keluar dari kamar mandi. Tak bisa membayangkan bagaimana rasa malunya.
Nana mengambil handphone yang ada di dalam tas. Membuka tampilan pesan dan melihat banyak sekali pesan yang masuk untuk memberinya selamat. Nana membaca dan membalas satu persatu ucapan dari temannya. Hingga tak sadar jika Bagas sudah keluar dari kamar mandi.
"Ehemm." Dehem Bagas saat istrinya lebih fokus ke handphone hingga tak sadar kehadirannya.
Nana sedikit terperanjat dan menoleh ke sumber suara. Disana sudah ada Bagas yang mengenakan baju santai. Kaos putih polos dan celana pendek selutut berwarna hitam. Rambutnya terlihat masih basah karena sehabis mandi tadi. Tak bisa membohongi diri jika Bagas jauh lebih tampan dari biasanya. Mungkin karena efek baru mandi.
"Mau sampai kapan kau seperti itu?" Tanya Bagas sambil melihat Nana yang masih memakai gaun lengkap. Hanya saja polesan make up di wajahnya sudah bersih.
"I ... Iya aku akan mandi sekarang." Jawab Nana gugup. Entah mengapa hatinya berdegup begitu kencang.
Nana segera bangkit dari duduknya menuju kamar mandi. Menutup pintu dan menuju bath up. Mencoba melepas kancing gaun yang ada di punggungnya. Namun tangan kecilnya tak mampu melepas kancing itu satu persatu. Masih ada beberapa kancing gaun yang belum terlepas.
"Susah banget." Kata Nana sambil terus berusaha melepas kancing gaunnya. Namun sebesar apapun usahanya untuk melepas itu tetap saja tak berhasil. "Apa aku meminta tolong Bagas saja ya." Gumam Nana pelan.
Tak ada pilihan lain selain meminta bantuan Bagas. Nana membuka pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya keluar pintu.
"Gas bisa minta tolong lepaskan kancing gaunku. Aku tak bisa melepasnya sendiri." Kata Nana takut-takut kepada Bagas.
Bagas menengok ke arah kamar mandi. Di sana ada Nana yang memandangnya dengan wajah memohon. Bagas meletakkan handphone nya dan bangkit dari duduk setengah tiduran santainya. Melangkahkan kakinya mendekati Nana dan melepaskan kancing itu. Baru satu kancing yang terlepas, Bagas sudah bisa melihat bagaimana mulusnya kulit Nana. Jika dia melanjutkan bisa saja dia menerjang saat ini juga. Namun Bagas masih menjaga image untuk tak peduli dengan Nana.
Pintu diketuk oleh seseorang. Bagas segera menjauhkan tangannya dari punggung Nana. Segera saja dia mendekati pintu dan membuka pintu untuk orang yang mengetuk tadi. Setelah pintu terbuka, muncul seorang pelayan perempuan yang mengantarkan makan malam untuk mereka berdua.
"Maaf tuan mengganggu waktunya sebentar. Saya hanya ingin mengantar makan malam untuk tuan dan nyonya." Kata pelayan itu sopan.
Bagas hanya mengangguk dan menepi untuk memberi akses jalan kepada pelayan itu. Pelayan itu masuk ke dalam kamar dan menata makanan di atas nakas. Tak butuh waktu lama untuknya menyelesaikan kerjaan itu. Bagas yang melihatnya sudah selesai menata makanan segera mengeluarkan suara.
"Bisa aku minta tolong padamu?" Tanya Bagas dingin.
"Bisa tuan." Jawab pelayan itu ramah.
"Tolong bantu dia melepas gaunnya." Kata Bagas sambil mengangkat dagu ke arah Nana. Pelayan itu mengikuti arah dagu Bagas. Di sana di ambang pintu kamar mandi ada seorang perempuan yang masih mengenakan pakaian pengantin dengan lengkap.
"Baik tuan." Jawab pelayan itu sambil menghampiri Nana. Bagas menutup pintu kamar dan kembali duduk di tempatnya semula.
Nana yang menghadap samping kiri Bagas membuat Bagas dengan mudah melihat punggung Nana yang semakin lama semakin terlihat. Hingga tersisa 2 kancing lagi. "Bisa diteruskan di dalam saja, Mbak." Kata Nana pada pelayan itu. Kemudian mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi.
Bagas hanya melongo tak percaya. Harusnya saat ini dia bisa melihat punggung mulus istrinya. Namun sepertinya Nana mengetahui jika sedari tadi Bagas terus melirik punggungnya hingga memutuskan melepas sisa kancingnya di kamar mandi. "s**l padahal tinggal sedikit saja." Kata Bagas frustasi.