Bagian Lima

1228 Words
Langit masih terlihat cerah. Segerombolan burung pulang ke sangkarnya. Setelah seharian mencari makan atau hanya sekedar bersenang-senang. Udara sejuk menyelimuti kota Yogyakarta sore ini. Jalanan Soekarno-Hatta tampak ramai di padati oleh kendaraan besi dari berbagai merk dan warna. Sudah tak perlu heran lagi jika sore hari suasana sepadat ini. Para karyawan pulang ke rumah setelah mereka seharian bergelut dengan pekerjaan. Siswa-siswi yang ikut bimbingan juga pulang ke rumah setelah seharian berfikir keras dengan pelajaran. Kentara sekali dari ekspresi mereka yang kelelahan, ingin segera sampai di rumah dan bersua dengan keluarga. Nana duduk di salah satu bangku kayu yang ada di bahu jalan. Di temani segelas kopi hangat membuatnya betah untuk berlama-lama di sini. Seketika pikirannya fresh melepaskan penat yang seharian ini menari-nari di pikirannya. Hari ini merupakan hari yang berat untuk Nana. Selain bertemu klien dan mengurus pesta pernikahan, Nana juga bertemu lagi dengan ibu Bagas. Ibu yang dulu dia harapkan akan menjadi mertuanya. Ternyata keinginannya dengan keinginan ibu Bagas sama. Bahkan hingga kini ucapan ibu Bagas tadi masih terngiang di pikiran Nana. Nana hanya perempuan biasa, yang pastinya mempuanyai keinginan dan harapan. Berangan-angan menjadi pendamping dari lelaki pujaan. Bahkan tiap malam nama Bagas selalu dia ucapkan dalam setiap doa-doa yang dia panjatkan. Dia tak ingin menjadi wanita munafik. Dia akui jika hingga saat ini dia masih mengharapkan Bagas kembali. Dering telvon terdengar dari dalam tas kulitnya. Segera diambil handphone itu dan menekan tombol hijau. Suara perempuan terdengar dari seberang telepon. Dari suaranya terdengar jika saat ini dia sedang kuatir. "Hallo, Ma." Jawab Nana begitu dia menekan tombol hijau. "Iya udah di luar." "Kenapa?" "Ok, Nana pulang sekarang". Jawab Nana akhirnya sebelum menutup telepon. Nana segera memasukkan handphone ke dalam tas dan segera beranjak dari duduknya. Memasukkan gelas kopi yang sudah kosong ke dalam tempat s****h yang tak jauh darinya. Dan langsung masuk ke mobil yang tadi di parkirkannya. Nana memacu mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi di bandingkan biasanya. Nana penasaran dengan apa yang tejadi. Karena tak biasanya Mamanya menyuruhnya untuk segera pulang. Puluhan kendaraan besi sudah di salipnya. Tak peduli bunyi bising klakson yang dituju untuknya saat dia dengan amatir menyalip kendaraan lain. Pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya dia bisa segera sampai di rumah. Bertemu Mamanya dan minta penjelasan. Tak butuh waktu lama, Nana sudah sampai di halaman rumahnya. Keluar mobil dengan tergesa dan masuk ke dalam rumah. Di terdiam sesaat. Melihat ada tamu yang tak terduga. Dia tak mengerti dengan situasi saat ini. "Masuk, Na." Kata Mamanya ketika dia melihat Nana berdiri di ambang pintu. Nana sadar dari aktivitas sebelumnya. Melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Menyalami semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Dan Nana mengambil duduk di dekat Mamanya. "Ada apa ini,Ma?" Tanya Nana begitu dia duduk di samping kanan Mamanya. Mamanya hanya diam. Beliau menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan semua orang yang berada di dalam ruangan ini, tak ada yang menjawab pertanyaan Nana. Jangankan menjawab, bersuara pun tak ada. Nana mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan ini. Melihat satu per satu raut wajah orang yang ada di sini. Semuanya tegang, kecuali satu pria yang berwajah dingin. Dia tak melihat raut muka yang tegang ataupun khawatir seperti yang lain. "Jika tak ada yang menjawab Nana. Biar Nana pergi saja, buat apa Nana tetap disini jika tak di butuhkan?" Kata Nana sambil berdiri. Saat dia melangkahkan kakinya, ada seseorang yang memanggilnya. "Nana." Panggil laki-laki yang ditaksir Nana berusia 55 tahun itu. Nana menoleh ke sumber suara. "Ya, Om." Jawab Nana kepada laki-laki tadi. "Bisa kamu duduk kembali? Ada yang akan Om bicarakan kepada mu." Kata laki-laki itu tadi. Nana menganggukkan kepalanya dan langsung duduk kembali ke kursinya. Duduk dengan tenang dan bersiap mendengar ucapan yang ada di lontarkan laki-laki tadi. "Maksud kedatangan kami kemari untuk meminta nak Nana menjadi menantu kami, menjadi istri Bagas, putra kami." Kata laki-laki tadi yang tak lain adalah Ayah Bagas. Nana tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Apa maksud semua ini? Lima hari lagi pernikahan Bagas dan Mira akan terlaksana dan dia sendiri yang menyiapkan semuanya. Lalu mengapa hari ini dia dilamar untuk menjadi istri Bagas? Apa yang sebenarnya terjadi? Ruangan yang di huni oleh 6 orang ini terasa sunyi. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya dentingan jam dinding yang terdengar. Semua mata tertuju pada satu objek. Yaitu perempuan cantik berusia 26 tahun yang tak kunjung merespon ucapan Ayah Bagas. Nana benar-benar bingung harus menanggapi seperti apa. Dalam hati dia begitu bahagia karena harapannya akan terwujudkan. Namun di sisi lain, dia memikirkan perasaan Mira. Pasti Mira akan hancur begitu melihat calon suaminya bersanding dengan perempuan lain. Namun Nana menampik semua pikiran itu. Nana juga penasaran bagaimana bisa keluarga Bagas melamarnya ketika 5 hari lagi pernikahan akan terlaksana. "Bukankah Bagas akan menikah dengan Mira?" Ucap Nana setelah beberapa saat diam. "Mira memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini." Jawab Ibu Bagas menanggapi. "Sedangkan kami tak bisa membatalkan begitu saja. Banyak rekan kerja yang sudah mengetahuinya, dan jika batal keluarga kami akan malu." Tambah Ayah Bagas menjelaskan. Bagas hanya diam saja. Dia tak ambil pusing dengan keadaan ini. Nana mendecakkan lidah. "Lalu kalian memintaku untuk menjadi pengganti?" Ayah dan Ibu Bagas menganggukkan kepala dengan kompak. Sedangkan Bagas menatap Nana dengan sorot mata dingin. Dan Nana menghiraukan tatapan dari Bagas itu. "Keluarga kalian yang malu, kenapa harus aku yang menutupi aib keluarga kalian?" Tanya Nana dengan emosi yang mulai menguasai. Tadi Nana begitu bahagia mendengar jika keluarga Bagas melamarnya. Namun sekarang, setelah mengetahui dia hanya menjadi pengganti membuat Nana begitu emosi. Nana tak yakin jika Bagas masih mencintai nya. Nana ragu jika Bagas akan menyayanginya seperti dulu. Dulu Nana bagaikan ratu yang menguasai seluruh hati Bagas. Namun sekarang ada Mira yang lebih di cintai Bagas. "Aku menolak pernikahan ini." Kata Nana tegas menolak lamaran Bagas dan keluarganya. Ya. Dalam sehari Bagas sudah ditolak dua kali. Pria tampan, gagah, berkharisma yang pastinya akan membuat siapapun jatuh hati, namun hari ini harus di tolak dua kali. Persiapan pernikahan yang hampir final tak membantunya untuk tetap melanjutkan pernikahan. Hari semakin dekat, dan calon pengantin wanita memilih pergi tanpa dia mengetahuinya. Bagas menundukkan kepalanya. Jika dia harus gagal menikah dia tak masalah. Hanya saja dia memikirkan bagaimana kedua orang tuanya. Malu tidak hanya dia yang menanggung, namun semua anggota keluarga nya juga yang ikut merasakan. Dia bingung harus melakukan apa lagi. Mencari pengganti bukan solusi. Sekarang dia hanya mampu pasrah dengan yang kuasa, kepada sang pencipta yang menciptakan skenario hidupnya. "Apa kau sudah tak mencintai Bagas lagi?" Tanya Ibu Bagas tiba-tiba begitu dia mendengar penolakan dari sang mantu idaman. "Apakah cinta akan memberikan kebahagiaan dalam pernikahan?" Tanya Nana bimbang. "Pasti." Jawab Ibu Bagas singkat sambil menganggukkan kepalanya. "Lalu apakah, Bagas mencintai saya?" Tanya Nana tegas. Bagas mendongakkan kepalanya. Dia tak menyangka dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Nana. Ingin menjawab tidak namun dia menjaga perasaan Nana, ingin menjawab iya namun dia tak yakin dengan perasaan nya saat ini. Bagas memilih jalan aman saja. Bagas menganggukkan kepalanya singkat sebagai jawaban. Ayah dan Ibunya tampak mengulas senyum bahagia. Tanpa mereka tau jika saat ini Bagas tak sepenuhnya jujur. Nana yang melihat anggukan kepala Bagas hanya diam. Dia tak yakin jika saat ini Bagas sedang jujur. Nana bimbang. Dia semakin bimbang harus menanggapi seperti apa. Hatinya ingin menerima namun akalnya melarangnya. Bertahun-tahun dia menanti Bagas, namun kunjung datang. Dia malah datang dengan status calon suami orang. Dan sekarang dia meminta Nana untuk menjadi pengganti setelah Mira memilih pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD