Hujan baru saja mereda, namun tangis Nana tak kunjung berhenti juga. Air mata dan kesedihan seakan-akan menjadi teman setia untuk Nana, sakit hati selalu dia rasakan setiap hari hingga dia terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Namun Nana selalu menangis seorang diri, dia berusaha tegar dan tegas di depan suaminya walau sebenarnya hatinya benar-benar rapuh. Nana memasukkan handphonnya ke dalam tas kerjanya. Dia merapikan make up nya kembali yang tadi sempat luntur karena tangisnya dan setelah itu keluar ruangan dengan langkah kaki pelan. Rasa pusing menghampirinya, namun Nana berusaha tidak merasakannya. Dia tetap meneruskan langkahnya untuk menuju parkiran. Namun dia tak tahu harud kemana, pulang ke apartemen rasanya dia tak sanggup karena di sana dia akan bertemu dengan Bagas. Laki-laki

