“Mbak.” Panggil Risa pelan. Setelah dia memastikan Bagas pergi dari rumah Nana, dia menghampiri Nana yang duduk termenung di kamar. Matanya terlihat sembab seperti habis menangis. Bahkan masih terdengar sesenggukan dari Nana. Nana menoleh pelan ke arah Risa. Gadis itu berdiri di ambang pintu kamarnya. Matanya menatap dia begitu lekat, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh gadis itu. Nana tahu jika Risa akan membahas tentang Bagas. “Boleh aku masuk?” tanya Risa lirih. Nana mengangguk pelan sebagai jawaban. Kemudian dia kembali menatap ke depan. Risa berjalan pelan masuk ke dalam kamar Nana setelah dia mendapat persetujuan dari perempuan hamil itu. Dia mengambil duduk di samping Nana. Dia tidak langsung bicara karena dia ingin memilih kata yang tidak menyinggung Nana atau membu

