Godaan Kevin

1765 Words
Jingga Pov. Bagiku, pergi ke rumah nada adalah suatu refreshing bagiku sekaligus pengisi semangat. Dari sini aku tahu jika tak sendiri dalam menghadapi Mei. Membuatku yakin untuk terus maju mencari bukti - bukti meski fisikku kelelahan. Aku tidak boleh menyerah hanya karena kecapean, lagi pula yang Mei lakukan hanya menyuruhku masak, menyapu dan bersih - bersih rumah. Apalah artinya kelelahan yang aku alami dibandingkan dengan bukti untuk membuat Mei dihukum. Semua layak aku lakukan. Untuk pulang ke rumah, aku naik taxi menggunakan uang yang aku miliki. Mei jelas tidak tahu jika ayah mengirimiku uang tiap bulan ketika aku menjalani perawatan pasca ibuku meninggal. Aku bisa saja menyewa pelayan di rumah agar aku tak kelelahan atau membeli makanan di luar sehingga aku tak perlu memasak. Akan tetapi aku tidak mau mengambil resiko ketauan Mei dan akhirnya berkonfrontasi. Memang Mei bisa dengan mudah aku usir dari keluarga Broto, tapi ia akan bebas dari hukuman. Lalu Mei bisa saja mencari pria lain untuk ia jadikan korban, apalagi sekarang ia bersama Kevin. Jika Mei lelah dengan pria itu, aku curiga dia akan meracuni Kevin juga. Di dalam Taxi, pikiranku kembali melayang pada pria itu. Kata - kata Nada dan idenya yang tidak masuk akal membayangiku. 'Jika aku merebut Kevin dari Mei, apa nenek sihir itu juga terguncang?' 'Sepertinya mustahil jika aku merebut pria itu. Belum tentu dia memiliki perasaan padaku,' batinku ragu. Sedetik kemudian aku menertawakan rencanaku yang nampak sangat percaya diri. Lagi pula kenapa Kevin akan melirikku di kala begitu banyak wanita cantik dan menakjibkan di luar sana yang antri untuknya. Rencana Nada terdengar mustahil. Itu pada yang aku pikirkan pada awalnya. Pemikiran itu runtuh dalam sedetik begitu aku melihat Kevin berada di sofa ruang tamu yang mendominasi ruangan ini. Sofa berukuran king, dengan lampu kristal yang menggamtung di atas langit -langit membuat Kevin yang duduk di sana seperti penguasa. "Aku yakin kau belum makan, aku sudah menyuruh beberapa pelayan menyiapkan makanan di meja," ucap Kevin. Dia tidak pulang ke sini dari kantor hanya karena ingin makan siang denganku kan? "Daddy, kenapa menungguku makan. Daddy pasti lapar saat bekerja jadi jangan tunda waktu makan Daddy..." Lihatlah, aku bersikap sok perhatian pada pria yang sedari tadi bergentayangan di otakku. Entah sengaja atau tidak, rupanya aku lebih memilih mengikuti rencana Nada. Kegelapan dalam hatiku menginginkan Mei menderita jika bisa lebih menderita dari ibuku. Kevin mendekat padaku dengan sikap anggun yang alami. Gerak geriknya dalam bersikap tidak bisa aku abaikan. Bagaimana aku bisa mengabaikan wujud impian para wanita yang berada didepanku dan siap untuk memanjakanku? "Kalau begitu ayo kita segera makan." Tangannya yang besar dan kekar memeluk bahuku. Bertindak seolah kami sangat dekat dan memiliki hubungan spesial, padahal aku dan dia tidak sedekat itu. Dan aku tak sekuat itu menghadapi sentuhan seorang pria, pelukan di pundah adalah salah satu hal asing karena ini untuk pertama kalinya seorang pria selain ayahku memeluk bahuku. Aku sangat serogi, wajahku memanas. Aku benar - benar berkeringat. Perlahan aku melepas tangannya yang berada di pundakku dan berlari kecil menuju meja. Dengan senyum yang amat sangat dipaksakan, kupuji sajian yang memang terlihat enak. "Woah, empal daging. Pasti sangat enak." Kevin terkekeh seolah menyadari aku melarikan diri darinya. Dia pasti berpikir aku sangat norak dan memalukan. Yah, bagaimana lagi, Nada benar - benar ngawur menyuruhku merayu Kevin. Jangankan merayu, dia pegang saja aku seperti disengat listrik. Rencana Nada benar - benar harus aku lupakan. Merayu Kevin yang tak ada bedanya seperti mesin pemicu jantung bukan hal yang bisa diterima oleh logika. Grep. "Akh---" Aku hampir berteriak kala Kevin mengulangi tindakannya lagi dengan meletakkan tangannya di bahuku. Tidak hanya itu, dia mendekatkan tubuhnya sehingga dadanya menempel pada punggungku. "Kau melarikan diri dariku, Cerry?" Aku menoleh ke arahnya secara spontan, panggilan Cerry untukku memang terdengar manis. Namun reaksi tubuhku sangat buruk karena wajahku semakin memanas. Apalagi dia menatapku dari jarak sedekat ini. Demi Tuhan, aku tak sanggup mengendalikan jantungku yang terus memukul dadaa ku dengan keras. "Da- daddy... aku hanya ingin segera makan karena lapar," ucapku yang bodohnya terdengar terbata - bata. Oh, kenapa aku mempermalukan diriku sendiri. Ini siksaan yang menyiksa jiwa. "Tapi kau harus mengikuti aturanku sebelum makan," ucap Kevin. Kali ini aku berkedip untuk mencerna ucapannya. 'Apa dia ingin aku membayar semua makanan yang akan aku makan? Tidak apa - apa yang penting aku makan.' "Apa aturannya Daddy?" tanyaku bingung. Pria ini memang sangat pandai membuat emosi orang jungkir balik. Setelah dengan lembut dan penuh perhatian mengajakku makan, sekarang dia menyuruhku membayar. Benar- benar menyebalkan. "Aturannya adalah saat kau makan makananmu, kau harus menyuapiku juga." Ya ampun, ternyata permintaannya jauh lebih gila dari yang aku duga. Kenapa dia tidak mau berhenti untuk mengodaku. Apa dia memanfaatkan kepergian Mei ke kantor hanya untuk ini. Timbul kecurigaan jika Kevin sengaja mengirim Mei ke kantor agar dia bisa pulang dan mengodaku dengan leluasa. Karena aku memang lapar meski di rumah Nada tadi sudah makan, aku menerima aturan Kevin. Kuambil nasi, empal daging, tempe dan sop yang berisi jamur, cumi dan sayuran kainnya. Aku mengambil dua porsi, satu untukku dan satu untuk Kevin. "Nyam... nyam..." Aku makan dua suap lalu mengambil sendok untuk menyuapi Kevin satu suap. Kemudian aku makan lagi, kegiatan ini seperti ibu yang menyuapi anaknya. Aku begitu asyik hingga ketika bibir Kevin belepotan, secara tak sadar aku mengusap dengan tisu untuk membersihkannya. Dan tubuhku membeku kala ia mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Maaf, aku , aku sungguh tak sadar..." ucapku yang entah dengan ekspresi apa. Yang pasti urat maluku sudah menjerit memakiku yang bodoh hanya karena dekat dengan pria semenakjubkan dia. "Hei, aku justru menyukai perhatianmu. Kau benar- benar membuat siapapun nyaman di dekatmu ya?" puji Kevin. Tatapannya tak lagi tajam seperti biasanya, binar kelembutan di irisnya yang gelap mampu aku tangkap. "Aku tak seperti itu Daddy. Tadi hanya kebetulan saja." "Tidak, itu bukan kebetulan. Tindakanmu adalah tindakan spontan yang hanya bisa dilakukan gadis yang perhatian dan penuh kasih sayang." Aku kembali terpana dengan pujian Kevin sehingga tidak menyadari Jari - jari tangan suami dari Mei, sudah berada di pipiku dan membelai di sana. Aku terpana tak bisa bergerak, sampai akhirnya aku memilih mundur sehingga pria ini tidak menganggapku murahan. "Daddy, aku tak sebaik itu." Kini perasaan gerogi digantikan perasaan yang berdebar. Aku merasakan debaran yang berbeda dari yang tadinya aku rasakan. Yang mana tak bisa aku kendalikan agar tetap tenang. "Baiklah. Itu pendapat Daddy. Sekarang jam istirahat sudah akan habis, Daddy akan ke kantor. Daddy pamit ya," pamit Kevin dengan lembut. Tak ada reaksi yang bearti dariku selain mengangguk dan menyembunyikan wajahku yang pastinya sudah memerah. "Oh, ya. Rumah sudah bersih, baju- baju juga sudah dicuci, para pelayan sudah aku suruh membereskannya sebelum kamu datang tadi. Kamu sekarang tak perlu bersih - bersih lagi, okey?" pesan Kevin lagi. Lagi - lagi dia membuatku serasa diistimewakan. Hanya saja Kevin tidak sadar sudah membuka salah satu kepura - puraannya. Dia sejak pagi bersikap seolah tidak tahu jika aku bekerja keras membersihkan rumah ini bersama dengan Mang Asep. Ucapannya yang tadi menunjukkan jika pria itu tahu apa yang diperbuat istrinya padaku. "Siapa kau sebenarnya Kevin. Kenapa sikapmu begitu manis tapi juga mencurigakan." Sembari memikirkan semua kemungkinan yang ada, aku mengambil piring bekas makan siangku dengan Kevin. Semuanya aku taruh di wastafel dan ku cuci bersih. Setelah itu aku menuju ke kamarku dan bersitirahat. Syukurlah aku tak perlu merasakan pinggangku pegal karena harus membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Jingga Pov End. Normal Pov. Setelah kembali ke kantor Kevin menuju ke perusahaan milik Karim yang ini diperiksa oleh Mei. Itupun jika wanita itu bisa melakukannya. Namun Kevin sangsi wanita seperti Mei bisa mengerti pembukuan dan juga laporan perusahaan. Bagi Kevin Mei seperti wanita lain yang bisanya hanya menghabiskan uang tanpa menggunakan otaknya untuk bisa menghasilkan uang. Dengan ditemani oleh beberapa orang yang termasuk sekretaris dan asisten pribadinya, Kevin mendatangi perusahaan Karim. Langkah tegasnya seolah menuntut rasa hormat. Ia berjalan menuju kantor di mana tempat yang dulu Karim berada. "Apa kau bisa melakukan tugasmu?" tanya Kevin. Mei memucat melihat Kevin yang sudah berada di depan mejanya dan menatapnya dengan sorot mata dingin. Sejujurnya ia sama sekali tidak mengerti apa arti semua laporan yang ditunjukkan oleh manajer keuangan dan lainnya. "Kevin. Aku sama sekali tidak tahu apa arti semua ini. " "Jika demikian buat apa kau ada di sini. Lebih baik Jingga yang mengawasi perusahaan ini. " "Kok Jingga sich. Dia kan cuma---" "Dia lulusan diploma, jadi aku yakin dia bisa mengerti pembukuan. Rupanya kamu memang suka menganggap remeh orang lain ya." "Bukan begitu..." Mei bingung membuat alasan kalau ia tak mau membiarkan Jingga ke perusahaan karena tidak ingin gadis itu menguasai perusahaan. Sayangnya ia tak mau terlihat buruk di depan pria yang sudah lama ia puja. Karma rupanya sudah mulai memainkan perannya. Jika dulu Karim begitu tergila - gila pada Mei sehingga membuatnya tak bisa berpikir jernih, sekarang Kevin yang membuat Mei begitu tergila - gila sampah tak perduli segala ucapan pedas dari pria di depannya. "Kenapa kau selalu membela dia, Kevin. Ingat, yang memiliki hubungan dengamu itu aku bukan Jingga," protes Mei. Dia membuat wajah memelas disertai mata yang berkaca - kaca. Kevin dengan dingin menatap Mei. "Apa aku perlu mengingat Kenapa kita bisa memiliki hubungan?" Desis Kevin. Mei terdiam seribu bahasa. Dia tahu jika semua ini adalah hasil dari kelicikannya sehingga Kevin mau menjalin hubungan dengan dirinya. Namun semua yang ia lakukan adalah atas dasar cinta. Bahkan demi pria itu Mei rela mengotori tangannya dengan darah Karim. Dia ingin menjadi wanita sederajat dengan Kevin lalu mengikatnya hubungan dengannya meski mengunakan cara licik. Semua yang ia lakukan dengan harapan agar Kevin bisa mencintainya. "Kevin, " lirih Mei. Dia mencoba menjangkau lengan Kevin tapi ditepis olehnya. Hati Mei berdenyut sakit merasakan penolakan tanpa henti dari Kevin. "Jangan menyentuhku Mei. Aku sudah menetapkan batasannya padamu kan?" peringat Kevin. "Cobalah untuk mencintaiku Kevin. Kumohon... hiks." Kevin sudah muak dengan akting dan tangisan wanita ini. Dia memilih meninggalkan kantor. Sebelum itu ia mengatakan sesuatu pada Mei yang membuat hati Mei semakin sakit. "Besok kau tidak perlu datang. Jingga yang akan menggantikan Karim. Atau kau mau perusahaan ini jatuh dan bangkrut karena dananya diselewengkan pegawaimu?" Mei tentu tidak menginginkannya. Dia mulai menimbang - nimbang keuntungan dam kerugian kalau Jingga berada di sini. 'Jinggakan orangnya gampang diatur, pasti dia tidak akan berani macam - macam. Beda dengan pegawai sini. Jika mereka menggelapkan dana dan perusahaan rugi maka aku tidak akan dapat apa - apa.' "Baiklah," putus Mei pada akhirnya. Kevin tahu Mei tidak memiliki pilihan lain selain memberi kepercayaan pada Jingga untuk mengelolah perusahaan. Sudut bibirnya terangkat sempurna. Dia tidak sabar membayangkan bisa bersama dengan Jingga dan tidak diganggu oleh Mei. 'Aku tak sabar menunggu hari esok.' Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD