-Nina- Pukul empat pagi aku terjaga dengan napas tersengal. Sepertinya semalam aku mimpi buruk, tapi aku tidak ingat hal apa yang membayangi tidurku sampai terbangun dengan tubuh penuh peluh. Padahal pendingin kamar ini senantiasa menyala sepanjang malam. Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarku. Kepala pelayan kepercayaan papi hendak membangunkanku. Wanita paruh baya itu tersenyum kala melihatku membuka pintu kamar tanpa membuatnya menunggu terlalu lama. "Meme udah mandi? Sebentar lagi periasnya datang," ujar kepala pelayan itu dengan lembut. "Iya, bi. Lima menit lagi Meme mandi. Oya, temen Meme yang namanya Anya udah datang belum ya?" "Sepertinya belum. Apa yang Meme perlukan? Biar bibi Ani yang siapkan." "Nggak usah, Bi. Nanti kalau Anya sudah datang suruh langsung ke kamar Mem

