-Nina- Sampai siang ini, aku masih belum mau mengajak Cris berbicara setelah dia dengan lancang mencium bibirku di depan orang banyak. Padahal bisa saja dia hanya mencium pipiku atau tidak perlu adanya acara cium-ciuman. Itu sungguh menyebalkan dan membuat kepalaku mendidih rasanya menahan marah sekaligus malu. Laki-laki yang baru saja membuatku ngedumel dalam hati itu masuk ke kamarku. Entah dia dari mana, karena sesampainya di rumah ini beberapa waktu yang lalu, Cris sudah diajak papi mengobrol secara pribadi di ruang kerja papi. Sehebat apa Cris di mata papi, sampai papi begitu menganggapnya lebih dari seorang menantu. Menantu abal-abal lebih tepatnya. Dari ekor mata aku bisa melihat gerakan Cris sedang membuka jas, dasi, dua kancing teratas kemejanya, kancing lengan kemeja kemudian

