Bab 2

1043 Words
Malam terasa panjang, teringat kembali semua kenangan bersama Mas Faiz, hatiku begitu sakit, sungguh aku tak percaya Mas Faiz yang begitu sopan dan baik padaku tega melakukan ini padaku. Aku hanya terus menangis hingga tertidur. Keesokan harinya, aku tak berani ke toko, perasaan hancur dan malu menjadi satu. Aku tak mampu untuk menatap wajah-wajah mereka, aku malu. Rasa malu itu ternyata tak hanya terjadi padaku, tapi ternyata itu terjadi pada ibuku juga. Ibupun malu untuk keluar rumah karena tetangga semakin gencar menggosipkan kami. Akupun merasa kasihan pada ibu dan itu berlangsung selama hampir sebulan, kami hanya keluar jika hendak beli makanan, itupun kami harus buru-buru karena sindiran-sindiran pedas tetangga sungguh membuat kami ingin menangis. Hingga akhirnya keuangan kami menipis karena aku benar-benar tak punya pendapatan lagi. Melihat keadaan ini, ibu memutuskan untuk mengajakku pulang ke kampung dan menjual Rumah ini. Aku menyetujui karena aku rasa cuma ini jalan satu-satunya keluar dari tempat ini. Meskipun berat karena Rumah ini peninggalan Ayah, namun kami tak punya pilihan lain. Di kampung, kami tinggal dengan saudara jauh ibu, namun karena ekonomi yang sangat memprihatinkan, kami berniat pindah dan membeli tanah dan rumah di sini jika Rumah di Kota telah laku terjual. Sebulan kemudian, Alhamdulillah Rumah itu akhirnya laku terjual, ibu langsung membeli tanah dan membangun Rumah kecil, dia juga membuka usaha kecil menjual jajanan anak, sementara aku masih tenggelam dengan kesedihan. Tiga bulan berlalu dan hatiku perlahan mulai bisa menerima semua ini. Hingga suatu hari ketika ibu melihat perubahanku yang nampak mulai tersenyum, dia kemudian menyuruhku untuk kembali ke kota dan kuliah. “Bu, aku gak mau meninggalkan ibu sendiri di sini.” ucapku pelan menolak permintaannya. “Nada, dengar. Sampai kapan kau akan seperti ini, lanjutkan kehidupanmu Nak, bukankah dulu kau sangat ingin kuliah? Uang sisa penjualan Rumah masih cukup untuk biaya kuliahmu. Pergilah dan buat ibu bangga.” Aku menangis dan memeluknya dengan erat, hatiku begitu berat meninggalkannya, namun semua ucapannya benar, selama ini aku selalu membuatnya sedih, namun kali ini aku harus membuatnya bangga. Beberapa hari kemudian aku berangkat kembali ke kota. Akupun langsung mendafatarkan diri. Aku juga mencari kost-kostan yang dekat agar lebih hemat. Agar tak menyusahkan ibu, aku bekerja sambilan di sebuah cafe. ••••• LIMA TAHUN KEMUDIAN Lima tahun telah berlalu, aku telah menyelesaikan kuliahku dan bahkan setahun ini aku sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Sungguh aku sangat bahagia, meskipun gajiku belum sangat besar, namun aku perlahan sudah bisa mengumpulkan sedikit uang untuk membeli Rumah dan bisa mengajak ibuku tinggal bersama. Sungguh aku sangat menikmati hidupku saat ini, aku bisa membahagiakan ibuku dan membuatnya kembali tersenyum. Aku benar-benar lupa akan masa laluku yang menyakitkan. Di kantor aku dianggap salah satu wanita yang cantik, ya itu bisa terlihat dari beberapa pegawai laki-laki yang berusaha mendekatiku, bahkan beberapa sudah menyatakan cintanya, namun rasa trauma mempercayai cinta membuat aku menutup hatiku dan diriku dari laki-laki. Di kantor pagi ini terjadi kehebohan, aku datang dengan perasaan bingung. Beberapa pegawai nampak berbisik-bisik dan tertawa, membuat aku semakin bingung dengan keadaan ini. “Ada apa sih, kok pada rame? tanyaku pada Ayu sahabat di kantorku. “Oh kau baru datang rupanya, ada berita heboh, Pak Adi Direktur kita akan berhenti dan itu akan di gantikan anaknya yang baru kembali dari luar negri.” “Oh ya? Trus kenapa pada heboh, kan wajar, pak Adi sudah tua, jadi anaknya pasti yang akan menggantikannya.” ucapku bingung. Ayu memandangku sambil tersenyum. “Yang bikin heboh, karena ternyata anak pak Adi sangat tampan, kalo kau melihatnya, aku yakin kau akan menyukainya.” “Oh walah, gara-gara itu. Gak mempan bagi aku, laki-laki sama aja semua.” ucapku sambil melepas tasku di meja kerja dan mulai memasang komputerku dan bersiap bekerja. “Yee, kau belum lihat sih, jadinya bisa ngomong seperti itu. Awas aja kalo kau jatuh cinta padanya, aku orang pertama yang akan menertawaimu.” ucap Ayu sambil tertawa. Aku menantapnya sambil balas menertawainya. “Gak bakal.” “Aku heran, kau begitu cantik tapi sangat anti dengan laki-laki. Apa kau …” “Husss sembarangan, aku wanita normal, cuma saat ini aku masih fokus membahagiakan ibuku, laki-laki urusan belakangan.” balasku yang mengerti maksud ucapannya. Pintu ruang Direktur tiba-tiba terbuka, nampak para pegawai langsung berdiri berkumpul seperti sedang siap menyambut. Aku cuma tersenyum, tak ada sedikitpun niatku untuk mencari perhatian-perhatian seperti pegawai wanita-wanita itu. Sebelum pak Adi dan anaknya keluar, Aku langsung bersembunyi di balik komputer agar tak terlihat, toh aku hanya pegawai biasa tak penting untuk di ketahui, kalo anak bos, entar juga aku tahu sendiri. Terdengar suara pak Adi mulai berbicara. “Hari ini, aku sangat bersyukur karena anakku telah kembali dari studynya di luar negri dan bersedia menggantikan aku. Maka dari itu mulai hari ini, anakku akan menjadi Direktur utama di perusahaan ini. Ayok nak perkenalkan dirimu.” Aku sedikit mendengar bisik-bisik wanita yang nampak senang dengan keberadaan anak bos tersebut. Sementara aku masih terus menyembunyikan kepalaku di depan komputer dan berniat akan melakukan itu sampai acara perkenalan itu selesai. “Hallo semua.” ucap laki-laki itu. Aku yang sedang merunduk bersembunyi terkejut mendengar suara itu. Entah kenapa aku merasa mengenal suara itu. Aku perlahan mengangkat sedikit kepalaku untuk meyakinkan perasaanku. Mataku seketika membesar, jantungku berdegub kencang, bahkan tubuhku seluruh bergetar. Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Aku Faiz, karena Ayahku akhir-akhir ini sedang sakit, maka aku akan di sini mengantikannya. Semoga kita semua bisa saling bekerja sama.” ucapnya sambil tersenyum. Lidahku terasa keluh begitu mendengar namanya, dia benar-benar Mas Faiz. Laki-laki yang telah meninggalkan aku di pelaminan, laki-laki yang telah membuat aku dan ibuku harus menahan malu. Aku terus menatapnya, kenapa aku dipertemukan lagi dengannya setelah bertahun-tahun aku berusaha melupakannya, kenapa dia hadir di hadapanku setelah aku tak butuh lagi penjelasannya. Ya, dulu aku ingin bertemu dengannya dan meminta penjelasannya, namun melihat foto itu dan sikapnya yang tak mencariku waktu itu membuat aku tak membutuhkan lagi penjelasannya. Sungguh aku sangat membencinya waktu itu, dengan susah payah aku melupakanya dan kini aku dipertemukan kembali dengannya. Airmataku tertahan di pelupuk mata, aku berbalik dan hendak ke toilet namun tanganku menyentuh gelas minum hingga jatuh, dan membuat semua berbalik dan memandangku. Begitupun dengan Pak Adi dan Mas Faiz. Sesaat kami saling memandang, dan nampak mata laki-laki itu menatapku dengan wajah terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD