Lidahku terasa keluh begitu mendengar namanya, dia benar-benar Mas Faiz. Laki-laki yang telah meninggalkan aku di pelaminan, laki-laki yang telah membuat aku dan ibuku harus menahan malu. Aku terus menatapnya, kenapa aku dipertemukan lagi dengannya setelah bertahun-tahun aku berusaha melupakannya, kenapa dia hadir di hadapanku setelah aku tak butuh lagi penjelasannya. Ya, dulu aku ingin bertemu dengannya dan meminta penjelasannya, namun melihat foto itu dan sikapnya yang tak mencariku waktu itu membuat aku tak membutuhkan lagi penjelasannya. Sungguh aku sangat membencinya waktu itu, dengan susah payah aku melupakanya dan kini aku dipertemukan kembali dengannya. Airmataku tertahan di pelupuk mata, aku berbalik dan hendak ke toilet namun tanganku menyentuh gelas minum hingga jatuh, dan membuat semua berbalik dan memandangku. Begitupun dengan Pak Adi dan Mas Faiz. Sesaat kami saling memandang, dan nampak mata laki-laki itu menatapku dengan wajah terkejut.
Aku langsung menundukan kepalaku dan berbalik. Langkah kakiku ku percepat agar aku bisa masuk ke tempat di mana aku bisa meluapkan tangisku. Aku masuk ke dalam toilet dan menangis. Apa ini, kenapa dia kembali lagi setelah lima tahun kuanggap laki-laki itu tak pernah ada. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Apakah belum cukup waktu yang lama itu aku berusaha melupakannya, dan kini dia hadir tepat di hadapanku disaat aku sudah bisa melangkah maju dan menikmati hidupku. Tidak, dulu aku ini wanita bodoh yang bisa mempercayainya begitu saja, tapi kali ini aku tak akan mudah jatuh lagi, akan aku tunjukan kalo aku telah melupakannya dan tak peduli dengannya. Ini aku saat ini, dan aku tak akan terjebak lagi dalam permainan masa lalu. Entah berapa lama aku di toilet, setelah menyelesaikan tangisku, aku perlahan keluar dan mencuci tanganku dan wajahku untuk menghilangkan mata sembabku.
“Nada.” ucap sesorang memanggil pelan di belakangku. Aku seketika mengangkat wajahku dan menatap ke cermin, nampak laki-laki itu sedang berdiri dan menatapku. Kakiku perlahan gemetar melihatnya. Laki-laki ini sekarang berada begitu dekat denganku dan Dia masih berani menyebut namaku setelah apa yang dia lakukan dulu?
“Maaf, anda salah orang.” ucapku sembari membuka pintu dan berusaha keluar. Namun pintu rupanya telah dikunci olehnya.
“Nada …”
“Apa-apaan ini. Aku ingin keluar. Sudah aku bilang anda salah orang.” ucapku sambil terus berusaha membuka pintu.
“Nada, aku mohon aku ingin bicara.”
“Berapa kali harus aku bilang kalo anda salah orang.”
Sekuat aku berusaha membuka pintu itu, aku tahu sangat jelas pintu itu takkan terbuka dengan mudah. Aku perlahan berbalik dan menatapnya.
Dia terlihat perlahan mendekat membuat aku sangat terkejut.
“Jangan macam-macam padaku, apakah karena anda seorang bos di sini, jadi anda bisa sesuka hati melakukan apapun.”
“Nada, aku mohon tenanglah, aku hanya ingin bicara.” jawabnya yang perlahan kembali mundur.
“Berhenti terus memanggil namaku. Nama itu tak ingin dipanggil oleh laki-laki penipu sepertimu.”
“Ternyata kau benar Nada. Kau benar-benar sangat berubah sekarang. Sangat cantik dan …”
“Diamlah, aku tak butuh rayuanmu lagi. Dengar, aku tak akan mempan lagi dengan rayuan dan ucapan apapun yang keluar dari mulutmu.”
“Baiklah, aku tahu. Tapi beri aku waktu untuk berbicara.”
Aku menatapnya dengan wajah sangat marah.
“Tapi aku tak ingin bicara dengan Mas.” ucapku tegas, nampak suaraku bergetar berusaha menahan tangis.
“Nada…”
“Untuk apa bicara saat ini? Aku tak butuh penjelasan Mas saat ini!!! Kemana Mas waktu itu saat aku butuh penjelasan. Mas menghilang, pergi dan meninggalkan aku begitu saja. Jika Mas berharap aku memberikan kesempatan bicara saat ini, maaf, silakan Mas bicara pada tembok sebagaimana dulu aku melakukannya ketika tak mendapatkan penjelasan dari Mas.”
“Nada, Aku tahu …”
“Mas laki-laki pembohong, melihat keadaan Mas saat ini, jelas dulu Mas membohongiku. Mas bukan orang miskin sepertiku, Mas nampak seperti orang lain, orang yang sangat berbeda dengan yang aku kenal. Entah apa tujuan Mas melakukan ini padaku.” ucapku dengan pandangan sinis.
“Kau benar Nada, maka beri aku waktu untuk menceritakan semua ini.”
“Waktu Mas untuk bicara denganku telah habis lima tahun yang lalu. Sekarang Tolong buka pintunya atau aku akan berteriak karena Mas mengunciku di sini.” ucapku dengan suara tegas. Ya, Akan aku tunjukan aku tak hancur ketika dia meninggalkanku dulu.
Laki-laki itu nampak bingung, namun dengan tatapn wajahku yang sangat marah membuat dia akhirnya membuka pintu dan membiarkan aku keluar.
Aku langsung keluar ketika pintu terbuka dan terkejut melihat Diva wanita tukang gosip di kantorku yang akan masuk ke toilet. Aku mengacuhkan dia dan berjalan meninggalkannya. Dari jauh aku mendengar dia terkejut mendapati Mas Faiz berada di toilet wanita.
Aku kembali duduk di mejaku, menatap komputerku dan bersiap bekerja, namun entah kenapa, pikiranku tak tenang. Aku sulit berkonsentrasi, padahal pekerjaan hari ini bagian aku yang harus mempresentasikannya di depan klien. Rasanya saat ini aku ingin pulang dan menangis, namun mengingat pekerjaan ini penting, mau tak mau aku harus mengerjakannya. Kau harus kuat Nada, lima tahun waktu yang cukup untuk terluka, jadi jangan pakai hatimu lagi, gumamku untuk menguatkan hatiku.
“Tuh, Pak Faiz, udah lihat kan?” ucap Ayu mengangetkan aku.
Aku sedikit menatap ke arah yang di maksud, laki-laki itu sedang berjalan hendak masuk ke ruangannya, sebelum masuk dia sempat melihat ke arahku. sungguh aku tak yakin apa sanggup bertemu dengannya setiap hari.
“Hei, kok bengong. Ganteng kan?”
“Gaakkk.”
“Ha? Kau serius? Seganteng itu kau bilang gak? Apa kau perlu pake kacamata.”
“Ayu, dengar. Jangan mudah percaya dengan tampilan luar, kau gak tahu dia dalamnya seperti apa.”
Ayu menatapku dengan perasaan bingung.
“Kau bicara, seolah-olah kau mengenalnya.”
“Oh itu, aku gak kenal dengannya, dan gak pernah ingin kenal.” ucapku berbohong.
Ayu mengangguk bingung, akupun meminta dia untuk membantu aku menyelesaikan pekerjaan presentasiku. Selang beberapa jam, Fira sekretaris Pak Adi keluar dan memanggilku. Syukur Ayu membantuku hingga selesai tepat waktu.
“Nada, kau ditunggu Pak Adi dan klien di ruangan Rapat. Dan tolong jangan lambat harus cepat.” ucap Fira dengan wajah sinisnya yang membuatku mendengus dengan jengkel. Fira sekretaris pak Adi, memang dia lebih lama di sini, namun sikapnya sangat sombong, ada yang bilang karena dia iri padaku. Dulu sebelum aku masuk pegawai laki-laki banyak yang mengejarnya, tapi setelah ada aku, dia merasa para laki-laki itu tak mengejarnya lagi. Hmm, padahal kalo dilihat-lihat aku gak ada apa-apa dibanding dia. Bajunya, make upnya semuanya serba mahal, bahkan akupun merasa dia sangat cantik, entah apa yang buat dia iri padaku.