Bab 4

1736 Words
Aku masuk ke ruang rapat dan mempersiapkan semuanya. Nampak pak Adi sedang berbicara di sofa dengan klien kami Pak Gardi dan beberapa bawahannya. Setelah melihatku selesai menyiapkan, pak Adi langsung mengajak Pak Gardi untuk duduk di meja Rapat. Selang beberapa lama, pintu terbuka dan terlihat Mas Faiz dan Fira masuk hingga membuat aku sedikit menelan air liurku karena tiba-tiba tubuhku kembali lemas dan tak bisa melakukan apa-apa. Kenapa laki-laki ini ada di sini saat ini, memang dia akan mengantikan ayahnya, tapi jangan saat aku akan mempresentasikan kerjaanku. “Baiklah, pak Gardi. Seperti yang aku ceritakan tadi. Mulai hari ini semua akan di kerjakan oleh anakku Faiz.” Pak Gardi tersenyum dan mengangguk. “Ayuk Nada, dimulai presentasinya.” ucap Pak Adi sambil tersenyum. Aku sedikit menatap pada laki-laki itu, dia sedang menatapku dengan pandangan yang aku tak mengerti. Aku perlahan berdiri dan memulainya. Dan seperti yang kutakuti, aku benar-benar tak mampu bicara, hari ini sangat membuat aku shock hingga aku tak bisa berkonsentrasi dengan semua ini. Semua mata sedang menatapku dan menunggu aku bicara, namun aku benar-benar tak bisa melakukan ini, semua ini gara-gara laki-laki di hadapanku yang datang dan mengorek luka hatiku. Sepertinya aku harus keluar dari ruangan ini dan meminta Ayu untuk melanjutkannya. “Aku …” “Mungkin Nada sedang tidak enak badan, jadi biar aku yang mempresentasikannya.” ucap Mas Faiz tiba-tiba. Aku menatap dirinya dengan tidak percaya, apa ini? Dia mencoba menolongku? Tidak aku tak butuh bantuanya, dia hanya ingin menyakiti hatiku lagi. “Tapi Mas, eh Pak, aku …” “Tak apa-apa Nada, kau duduklah aku yang akan melakukannnya.” lanjutnya lagi sembari mendekat ke tempatku. Aku seketika langsung duduk untuk menjaga jarak darinya. Aku tak bisa menolaknya karena Pak Adi mengangguk dan membiarkan anaknya melakukannya. Presentasi berjalan dengan baik, Mas Faiz melakukannya dengan sangat bagus dan lancar, entah bagaimana dia bisa sangat mengerti tentang semua ini, padahal bukan dia yang mengerjakannya. Selesai presentasi, aku melanjutkannya dengan menjelaskan lebih detail lagi pada pak Gardi. Namun ada yang aneh, Pak Gardi terus menatapku dengan pandangan yang membuat aku bingung. “Nada namamu bukan? bisa kita bicara sebentar?” ucap Pak Gardi sambil tersenyum. Aku menatap bingung sembari mengangguk karena tak mungkin aku menolaknya. Aku perlahan mengikutinya menuju sofa, nampak Mas Faiz menatap kami dengan wajah bingung. Pak Adi dan Fira telah keluar terlebih dulu, namun Mas Faiz masih duduk di kursi dan mengutak atik laptopnya. “Apa ada yang salah Pak dengan presentasinya?” tanyaku bingung. Pak Gardi menatapku sambil tersenyum “Gak ada yang salah kok, oh iya panggil aku Mas Gardi aja ya, apa aku terlalu tua hingga harus dipanggil Pak?” ucapnya sambil tertawa. Aku sedikit menatap bingung padanya, namun benar, Pak Gardi masih muda, wajahnya juga lumayan tampan, murah senyum dan sepertinya baik. Eh kenapa aku jadi menganguminya. Gak, saat ini gak boleh lagi ada cerita laki-laki. “Gak Pak, bukan begitu. Pak Gardi kan klien kami jadi panggilan Pak untuk lebih menghormati.” “Gak pa-pa. Aku gak suka di panggil pak. Panggil aja Mas Gardi. Oh ya aku suka hasil presentasimu, meskipun tadi harapanku kau yang mempresentasikannya, tapi entah kenapa tadi kau hanya diam. Apa kau benar sakit?” “Eh, gak pak. Aku gak pa-pa, aku tadi cuma gugup.” ucapku berbohong. Setelah cukup lama berbincang dengannya, dia pamit karena semua telah selesai dikerjakan di sini. “Kita akan sering bertemu Nada. Aku senang bekerja dengan wanita sepertimu.” ucapnya sambil pamit dan meninggalkan aku dan Mas Faiz. Aku bergegas langsung berdiri untuk menghindari keadaan seperti pagi tadi, namun lagi-lagi laki-laki itu i begitu cekatan dan langsung mengunci pintunya. “Mas mau apa lagi sekarang?!!!”ucapku dengan suara meninggi sembari menatapnya. “Nada, aku cuma ingin bicara dan meminta maaf padamu.” ucapnya dengan wajah bersalah. Aku menatapnya dengan pandangan sinis. “Maaf? lima tahun aku melewati semua ini dan segampang itu kata Maaf Mas ucap dan berharap aku terima?” “Nada, waktu itu aku …” “Waktu itu apa? Waktu itu Mas meninggalkan aku di hari pernikahan!!!” ucapku yang mulai menangis. “Iya, aku tahu Nada, aku memang jahat meninggalkanmu saat itu.” “Jahat? Label jahat, pembohong, bre***ek, itu cuma sebuah label di luar, tapi hatiku yang sakit dan hancur semua berada di dalam d**a ini.” ucapku sambil memegang dadaku yang terasa sakit. “Nada, aku tahu itu memang sangat menyakitkanmu. Aku tak menyangka niatku malah ternyata menyakitiku juga.” “Niat??? Apa maksud Mas dengan niat?” Kutatap wajahnya yang nampak merasa bersalah. “Iya Niatku untuk …” “Oh aku ingat, aku nenerima pesan di hari pernikahanku dan katanya, aku adalah taruhan Mas dan teman Mas? Apa itu benar?” ucapku dengan wajah menyeledik, ya aku masih ingat dengan jelas semua kejadian pada hari itu. Mas Faiz nampak menarik nafas panjangnya. “Nada itu …” “Jawab saja pertanyaanku!! Apa aku taruhan Mas dan teman-teman Mas?” “Nida, maafkan aku, itu semua benar. Kau adalah objek taruhan aku dan teman-temanku waktu itu.” Seketika darahku mendidih mendengarnya, tega-teganya ada manusia seperti ini mempermainkan perasaan wanita hingga ke pernikahan. Sungguh aku tak percaya mendengar ucapannya, bagaimana mungkin laki-laki ini menjadikan aku objek taruhan selama berbulan-bulan. Terbayang kembali semua kenangan kebersamaan kami, semua kata-kata cintanya dan ucapan mesranya dulu ternyata semua palsu. Dia benar-benar manusia tak punya perasaan. Aku menatapnya dengan perasaan marah dan benci, kemudian perlahan mendekat padanya. Plaaak sebuah tamparan mendarat di wajah putihnya, dia terkejut melihat apa yang aku lakukan namun dia hanya diam dan tak berbuat apa-apa. “Mas tahu, di seumur hidupku aku tak pernah menyesal bertemu dengan orang, tapi kali ini, Mas adalah orang pertama yang membuat aku sangat menyesal telah mengenal Mas.” “Nada, aku tahu aku pantas mendapatkan tamparanmu.” “Pantas? Itu belum seberapa dengan semua yang Mas lakukakan padaku!!!” “Tolong dengarkan aku.” “Laki-laki macam apa Mas ini? Yang tega menyakiti perasaan wanita dan seorang ibu? Kenapa Mas tega menjadikan aku objek permainan Mas, padahal aku tak mengenal Mas sama sekali.” “Iya aku tahu, maka dari itu kau harus mendengarkan kenapa aku mau melakukan itu?” “Aku baru mendengar sedikit penjelasan Mas, hatiku sudah begitu sakit. Bagaimana jika aku telah mendengar semuanya?” “Nada, ayuk kita duduk dan berbicara. Akan aku ceritakan semuanya padamu.” “Gak Mas, Aku menyesal telah membuang waktuku mendengar alasan ini. Sungguh ini bukan membuatku menjadi lebih baik, namun ini membuat aku semakin terluka. Aku membencimu Mas. Kau dengar aku semakin membencimu!!!” “Nada, dengarkan dulu …” “Buka pintunya, aku mau keluar atau aku akan berteriak.” ucapku menatap tajam sembari menghapus air mataku. Kulihat dia menatapku dengan wajah sedih, namun aku tak peduli, dia perlahan membuka pintu dan membiarkan aku keluar. Aku kembali ke kursiku dan duduk sembari membanting berkas-berkas Rapat tadi ke meja. Sungguh kejujurannya semakin membuat aku terluka. Kenapa semua terjadi padaku. Aku hanya wanita taruhan baginya? Jadi dulu semua cinta yang diucapnya adalah bohong. Laki-laki macam apa dia tega mempermainkan aku dan ibuku hingga sampai ke pernikahan, alasan apapun aku tak terima. Bagiku laki-laki itu tak pantas untuk dimaafkan. “Hei ada apa? Bagaimana presentasinya?” tanya Ayu yang tiba-tiba muncul. Aku terkejut dan menatapnya dengab wajah malas. “Berhasil, tapi bukan aku yang mempresentasikannya, Pak Faiz yang melakukannya.” “Apa? Kok bisa?” “Ya, tadi aku agak pusing jadi dia berusaha membantuku.” “Hmm Pak Faiz membantumu. Baik ya dia padamu, apa ada hubunganya dengan cerita si Diva?” “Cerita apa?” “Katanya tadi dia melihat kau keluar dari toilet dan diikuti Pak Faiz. Apa benar?” Sial, wanita itu memang biang gosip. Entah ke siapa aja dia sudah menceritakannya, dan pasti dia sudah membumbuhinya lebih dulu. “Oh itu, tadi Pak Faiz hanya sekedar membantuku, pintu Toilet tadi rusak dan dia menolongku.” ucapku berbohong yang bingung harus beralasan apa. “Oh ya? Berati benar yang dikatakan Diva kau bersama Pak Faiz tadi.” “Kau jangan begitu percaya dengan wanita itu.” ucapku yang mulai jengkel. “Sebenanrnya semua ceritanya benar, cuma ya itu, bumbunya yang gak benar.” ucap Ayu sambil tersenyum. Aku mengangguk dan menyandarkan tubuhku di kursi, kepalaku sekarang benar-benar terasa pusing. Ayu yang melihatku seperti itu menyuruhku istirahat sebentar, tapi sepertinya pulang dan berbaring adalah hal paling tepat saat ini. Dan kesempatan itu benar-benar datang di waktu yang tepat, ku lihat Pak Adi keluar dan bilang akan pulang. Sungguh aku begitu lega, setidaknya aku bisa kabur setelah kepergiannya. Berlama-lama di sini hanya membuat luka hatiku semakin terbuka. “Aku pulang dulu, mau istirahat, mumpung pak Adi sudah pulang.” ucapku pada Ayu setelah selang beberapa saat kepergian Pak Adi. “Lho, tapi kan ada Pak Faiz.” ucap Ayu. “Gak pa-pa. Dia kan bos baru, jadi belum punya hak sepenuhnya di sini.” “Ih kau jangan bercanda begitu. Kalo dipecat bagaimana. Kita ini team inti perusahaan lho, bukan pegawai biasa seperti yang lain.” “Bodoh amat, mau dia pecat kek, atau dikeluarkan. Aku gak peduli.” “Kau jangan bercanda begitu. Aku gak mau kehilangan teman sepertimu.” ucap Ayu khawatir. Aku menatap Ayu yang sedang cemberut. “Tenang aja, Pak Faiz gak akan pernah bisa memecatku.” ucapku sembari pamit dan meninggalkannya yang nampak bingung mendengar ucapanku. Motorku tiba di Rumahku, entahlah kenapa hari ini, Rumah dan Kamarku sangat aku rindukan, ya karena kejadian tadi membuat aku hanya ingin berbaring. Aku mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Kemana ibu jam segini? Biasanya dia akan bilang kalo keluar. Aku berusaha mengintip dari jendela namun aku tak menemukan sosok ibu. Aku mencari kunci duplikat dan membuka pintu dengan wajah khawatir. Ketika aku masuk aku langsung menuju kamarnya dan ternyata ibuku sedang sholat hingga dia tak menjawab panggilanku. Aku sedikit tersenyum tenang, kemudia berbalik hendak mengunci pintu karena tadi aku begitu panik dan lupa menguncinya, namun di pintu aku terkejut mendapati sesorang yang sangat jelas aku kenal sedang berdiri menatap ke arahku. “Mas Faiz?” Apa kau membuntutiku?” “Boleh aku masuk? Selama aku belum menceritakan semuanya, aku tak akan tenang.” “Pulanglah Mas, kau sudah cukup membuatku terluka.” “Siapa di luar Nak?” ucap ibuku tiba-tiba keluar. Seketika wajah ibuku berubah pucat, dia memandang Mas Faiz dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Dia hanya diam mematung dan terus menatap ke arah laki-laki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD