“Mas Faiz?” Apa kau membuntutiku?”
“Boleh aku masuk? Selama aku belum menceritakan semuanya, aku tak akan tenang.”
“Pulanglah Mas, kau sudah cukup membuatku terluka.”
“Siapa di luar Nak?” ucap ibuku tiba-tiba keluar. Seketika wajah ibuku berubah pucat, dia memandang Mas Faiz dengan tatapan yang akupun tak mengerti. Dia hanya diam mematung dan terus menatap ke arah laki-laki.
“Ibu.” ucap Mas Faiz yang tiba-tiba langsung masuk dan perlahan jatuh memeluk kaki ibuku. Kulihat ibu hanya diam mematung, nampak air matanya mulai menetes.
“Ibu, maafkan aku. Aku telah sangat menyakiti ibu dan Nada.”
Melihat ibuku hanya diam dan menangis, aku langsung mendekat dan menarik baju laki-laki itu.
“Pulanglah Mas, kami tak menerima Mas di rumah ini lagi. Jangan ganggu Kehidupan kami, cukup semua yang mas lakukan dulu.”
“Ibu, izinkan aku bicara. Aku akan menjelaskan semuanya.”
“Tak ada yang perlu dijelaskan. Saat ini yang kami butuh hanya kepergian mas dari hadapan kami.” ucapku yang juga mulai menangis.
“Ibu, aku mohon.”
“Pergi Mas, jangan ganggu kami lagi!!!” ucapku dengan suara mulai meninggi.
“Antar ibu ke kamar Nada.” ucap ibuku tanpa memperdulikan laki-laki itu.
Aku segera mendorong laki-laki itu hingga membuatnya tersungkur. Perlahan aku membawa tubuh ibuku menuju kamarnya dan membaringkannya.
“Nada, apa kau tak ingin mendengar alasannya? Ibu sangat terkejut melihat dia, namun ibu rasa ada alasan besar yang dia simpan.” ucap Ibuku ketika aku membaringkannya.
Mendengar ucapan ibu, membuat aku sangat terkejut, bagaimana tidak, tadi siang dia telah menjelaskan sedikit alasannya dan itu telah membuat aku tersakiti, bagaimana jika aku mendengar semuanya.
“Tapi Bu …”
“Ibu sangat harap kau mau mendengarkan alasannya.”
“Tapi kenapa Bu? Apa tidak cukup semua yang di lakukannya. Aku tak ingin mendengarkan lagi alasannya.”
“Bertahun – tahun, kau berada dalam tanda tanya dengan sikapnya, jadi bukankah ini saatnya kau mengetahui semuanya.”
“Maafkan aku Bu, aku tak ingin lagi mengetahui alasannya, aku tak ingin membuka lagi luka hatiku karena mendengar alasannya. Rasanya aku tak punya kata Maaf untuknya. Dan mungkin karena saat ini aku sudah cukup bahagia dengan keadaan ini. Sekarang Ibu istirahat saja dulu.” ucapku yang perlahan meninggalkannya.
Aku keluar dan mendapati Mas Faiz yang telah duduk di sofa sembari merunduk.
“Kenapa Mas masih di sini? Bahkan Ibuku pun tak mau bicara dengan Mas”
“Nada, aku mohon. Beri aku waktu untuk menceritakan dan meminta maaf, aku ingin bicara juga dengan ibu. Aku tahu aku laki-laki berdosa, aku ingin meminta maaf pada ibu.”
“Sudah aku katakan, waktu bicara Mas telah habis sejak lima tahun lalu. Sekarang pulanglah. Aku tak ingin membahas apapun.”
“Nada, kau belum mendengar semuanya.”
Aku menatap laki-laki itu dengan wajah emosi.
“Apa yang harus aku dengar Mas?!!! Apaaaa?!!! Inti dari semua ini telah aku ketahui, aku ini cuma bahan permainan Mas, tak lebih. Semua janji-janji indah hanyalah permainan kotor Mas. Tak ada cinta Mas di hubungan kita dulu, yang ada …” aku terdiam karena hatiku bergetar mengucap kata Cinta, entah kenapa perasaanku kembali sakit. Aku kembali bingung dengan perasaan ku saat ini, harusnya tak ada lagi rasa sakit seperti ini, harusnya hanya kecewa yang tersisa, tapi kenapa masih begitu sakit mengucapkan kata cinta. apa aku masih mencintai laki-laki ini?
“Tidak Nada, aku benar-benar memiliki perasaan padamu. Aku benar-benar mencintaimu.”
“Mas memang laki-laki pembohong, jika Mas mencintaiku, Mas tak akan pernah meninggalkanku di hari bahagiaku!! Dan jika Mas benar mencintaiku Mas tak kan membuatku menangis. Tapi yang ada, Mas malah meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain.” ucapku yang mulai menangis.
“Nada, maka dari itu dengarkan. Aku akan menceritakan semuanya sekarang, ayuk duduk dan tenanglah.
“Gak Mas, sekarang Mas pulang. Aku tak punya waktu untuk Mas lagi. Waktu dan kesempatan Mas sudah hilang lima tahun lalu. Yang ada saat ini aku hanya membenci Mas. Mas dengar, Aku membenci Mas, sangat membenci Mas.”
“Tapi Nada …”
“Mas aku mohon, tinggalkan rumah ini sekarang.”
Mas Faiz menatapku dengan perasaan bersalah, dia tau kalo dia tak akan semuda itu mendapatkan Maafku. Aku membuang wajahku dan tak ingin menatapnya lagi. Perlahan dia berdiri dan berjalan keluar. Ketika di pintu di laki-laki itu berbalik dan menatapku.
“Nada, kau tahu, perasaan cintaku padamu masih utuh hingga saat ini. Aku masih sangat mencintaimu.” ucapnya pelan dan berjalan pergi.
Aku terkejut mendengar ucapannya, perlahan air mataku menetes kembali. Kau bohong Mas, kau hanya mencoba mempermainkan aku lagi.
Malamnya aku tidur dengan tidak tenang, bagaimana tidak hari ini aku mendapatkan kejutan yang tak pernah aku duga, bertemu laki-laki itu kembali, semua kenangan itu kembali menari-nari di pikiranku membuat lukaku kembali terbuka. Sejenak ada perasaan bahagia mengingat awal hubungan kami, namun ketika mengingat hari pernikahan itu, air mataku kembali menetes, kenapa kau lakukan ini padaku Mas? Kenapa? Jika hari itu kau tak meninggalkan aku, mungkin saat ini kita sudah sangat bahagia. Dan air mata inipun mengantarkan aku tertidur.
•••••
Keesokan Paginya.
Aku bangun dengan kepalaku yang terasa berat hingga kuputuskan untuk tak pergi ke kantor. Aku kembali teringat kejadian kemarin hingga kembali membuatku menangis. Aku tak bisa seperti ini, tiap hari aku akan bertemu dengannya dan hanya akan membuat lukaku terbuka semakin lebar. Apa aku sebaiknya berhenti dari kantor itu?
DI KANTOR
Faiz tiba di kantor, beberapa wanita mulai nampak mencari perhatiannya.
“Selamat pagi Pak Faiz.” ucap beberapa Wanita dengan suara genit.
Faiz menatap kembali pada mereka dan tersenyum.
“Selamat pagi juga.” balas yang langsung menuju ruangannya.
“Wah senyummnya, gak tahan.” ucap salah satu wanita.
“Eh dia kan belum menikah, jadi masih bisa di perebutkan.”
“Eh tapi sebentar, udah dengar belum gosip kemarin?”
“Apa?” ucap beberapa wanita berbarengan.
“Kemarin kata Diva, dia melihat Nada keluar dari Toilet wanita di ikuti Pak Faiz.”
“Seriusssss?”
“Iya bener, aku sih gak mikir aneh-aneh. Pak Faiz setampan itu dan berpendidikan tinggi pasti tak melakukan apa-apa, tapi …” ucap wanita itu berbisik.
“Tapi, kayaknya si Nada yang keganjenan pengen deketin Pak Faiz.”
“Iya bener tuh, wanita itu kan selalu merasa sok kecantikan.”
Selang beberapa lama Faiz keluar kembali membuat wanita-wanita itu segera membubarkan diri. Namun Faiz keluar hanya untuk mengecek keberadaan Nada. Tak melihatnya diapun kembali masuk ke ruangannya. Jam menunjukan pukul sepuluh, Faiz kembali keluar dan mencari Nada kembali namun tak menemukannya. Ada rasa khawatir dalam dirinya . Dia perlahan berjalan dan menuju ke meja Ayu yang berada di sebelah mejaku.
“Eemmm .. maaf.”
“Eh Pak Faiz, ada apa? Ada yang bisa aku bantu? Kalo Bapak butuh bantuanku, bapak bisa menyuruh Fira seketraris Bapak memanggiku.” ucap Ayu yang terkejut melihat Mas Faiz tiba-tiba berdiri di hadapannya.
“Oh gak, aku cuma ingin tanya, apa kau tau kenapa Nada gak masuk?”
Ayu nampak terkejut mendengar pertanyaan Mas Faiz.
“Oh dia lagi sakit Pak, tadi mengabariku.”
“Sakit? Sakit apa? Apa sakitnya parah?” tanya Mas Faiz dengan wajah khawatir.
Ayu kembali terkejut mendengar ucapan Bosnya itu. Bagaimana mungkin Pak Faiz yang baru dua hari ini ada di kantor ini dan begitu khawatir pada Nada yag baru dikenalnya. Atau apa mereka sebenarnya saling kenal?
“Oh gak Pak, dia cuma sakit kepala aja katanya. Gak pa-pa.”
Faiz nampak sedikit lega, setelah berterima kasih dia kembali ke ruangannya diikuti tatapan Ayu yang bingung dengan sikap Bos barunya.
•••••
“Nada, apa kau sudah bertemu Nak Faiz sebelum-sebelumnya?”tanya ibuku ketika kami sarapan.
“Oh itu, gak Bu, aku baru kemarin bertemu dengannya di Kantor?” Jawabku yang terkejut kalo ibu akan membahas laki-laki itu kembali.
“Di Kantor?”
“Iya Bu, Mas Faiz Bos aku sekarang.”
“Oh ya? Nak Faiz sudah sukses rupanya.”
“Bukan Bu, dia berbohong pada kita dulu, sebenarnya dia anak Direktur Perusahaan tempat aku bekerja.”
“Apa kau yakin Nada?”
“Iya Bu, kemarin Pak Adi memperkenalkan Dia di kantor.”
“Jadi dia berbohong tentang itu juga pada kita? Apa tujuannya sebenarnya?”
“Sudahlah Bu, gak usah dipikirkan. Kita sudah jauh melupakan dia, jadi biarkan semua seperti saat ini.”
“Tapi, bagaimana denganmu?”
“Apa Maksud ibu?”
“Apa kau bisa bekerja sekantor dengan Nak Faiz? Pasti kau sangat berat bekerja dengannya.”
Aku menatap ke arah ibuku yang sedang menunggu jawaban. Ibuku paling mengerti keadaanku. Dia tahu kalo aku pasti merasa berat dengan semua ini.
“Entalah Bu, tadinya aku pikir aku ingin berhenti, tapi aku tak ingin dia melihatku sebagai wanita lemah, aku ingin dia melihat kalo aku bukan wanita bodoh lagi.”
“Nak, ibu mendukung apapapun keputusanmu. Jika nanti kau mulai lelah dengan semua ini, berhentilah segera, ibu akan selalu ada bersamamu.”
Aku tersenyum dan memegang tangannya. Ibu memang yang terbaik.
Aku berbaring kembali di kasurku setelah mandi dan sarapan, ibu tak banyak bertanya lagi, dia tahu aku masih sangat terluka, dan dia akan menunggu waktunya ketika aku siapa bercerita kembali, akupun tahu dia juga cukup terkejut dengan semua ini. Handphone seketika berdering, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.