Bab 7

1063 Words
Aku hanya terus diam dan berpikir dengan semua ini. Sungguh aku tak mengerti dengan semua ini? “Kau tahu, aku akan memberitahukan kau suatu rahasia. Aku adalah tunangan Mas Faiz.” Bisiknya pelan di telingaku yang membuat Mataku membesar dan tubuhku bergetar. Air mataku tertahan di pelupuk mata, aku tidak percaya semua yang baru aku dengar. Jadi wanita ini adalah biang dari semua ini, dia yang menyebabkan sakit hatiku selama ini. Ternyata Dia yang merencakan semua ini, dan Mas Faiz melakukan semua itu karena perintah wanita ini? Sungguh aku tak menyangkah Mas Faiz melakukan semua ini karena seorang wanita. Aku hendak pergi dan berlalu dari situ, namun hati kecilku melarangku untuk pergi, Tidak, aku tak boleh terlihat seperti wanita lemah, aku tak boleh menunjukan pada wanita jahat ini kalo dia telah berhasil menyakitiku dulu. “Rupanya kau adalah penyebab semua ini?” ucapku berusaha menunjukan rasa tegar. “Iya, dan kau bisa apa?” “Apa kau tak punya perasaan melakukan itu? Kau seorang wanita dan kau bisa melakukan itu dengan tenang?” “Ya, kau juga mempermalukan aku dulu tanpa rasa bersalah? “ “Tapi kau Memang pantas mendapatkannya. Karena kau memang bersalah.” ucapku sambil menatap tajam. “Dan aku rasa kau juga pantas mendapatkan hal yang sama.” balasnya. “Dita, apa yang kau lakukan di sini?” ucap Faiz tiba-tiba muncul di hadapan kami. “Ohh, hai sayang. Aku datang menemuimu. Kau tak mengabariku beberapa hari ini.” ucapnya sembari bergelayut manja di lengan Faiz. “Apa yang telah kau katakan padanya?” ucap Faiz sambil menatapku. “Oh, aku gak mengatakan apa-apa, aku hanya menceritakan sedikit tentang masa lalu yang kita lakukan padanya.” “Kenapa kau bisa selancang itu bercerita padanya, aku yang berhak bercerita padanya.” “Tapi Mas, Mas ingat kan tujuan awalnya.” “Dan kaupun harusnya ingat dengan akhirnya juga.” Melihat mereka seperti itu membuat aku semakin muak dengan semua ini. Aku berbalik dan berjalan meninggalkan mereka, namun tangan Mas Faiz tiba-tiba menarikku hingga membuat aku terkejut. “Nada, ayuk kita bicara.” ucapnya yang masih memegang lengan tanganku. “Mas Faiz!! Apa yang Mas lakukan? Kenapa memegang tangan wanitanya?” ucap Dita tiba-tiba sambil menatapku tajam. “Nada, ikut denganku sekarang juga, kau mau mendengarkan atau tidak, hari ini semua akan aku ceritakan.” “Mas Faiz, Kenapa Mas mengacuhkan aku? Mas masih mengingat wanita ini rupanya.” ucap Dita sembari mendekat dan berusaha melepaskan pegangan tangan Faiz dari lenganku. “Maaf Mas, aku tak punya waktu dengan semua ini. Aku sekarang tau kenapa Mas meninggalkanku, penyebabnya karena wanita ini bukan?” ucapku sambil menatap marah. “Nada, dengar memang dia penyebab semua ini, tapi kau belum mendengar semuanya dengan jelas.” “Lepaskan aku Mas, aku mau pulang.” “Mas, lepaskan dia, kita sudah tak ada urusan dengannya lagi.” lanjut Dita. “Iya, lanjutkan saja rencana kalian, laki-laki dan wanita yang punya hati jahat memang pantas bersama.” ucapku yang semakin dibuat marah dengan sikap Mas Faiz dan wanita itu. Aku kemudian menghempas pegangan tangan laki-laki itu dengan kasar. “Diam kau. Siapa kau bisa bicara seperti itu pada kami. Ayuk Mas, kita naik ke atas, kita sudah tak punya urusan lagi dengan wanita ini.” ucap wanita itu dengan pandangan marah. Kulihat Mas Faiz tak memperdulikan wanita itu. Dia malah meraih jemariku dan mengenggam tanganku dan menarikku berjalan meninggalkan wanita itu. Terdengar suara wanita itu berteriak memanggil namun Faiz tetap terus berjalan. Aku sangat terkejut dengan sikap Faiz, namun kali ini aku sengaja membiarkan laki-laki ini melakukannnya. Bukankah aku tak mau terlihat kasihan di depan wanita itu. Faiz melepas pegangan tangannya dan menyuruhku masuk ke mobilnya. Mobil perlahan mulai melaju pelan, melaju kearah yang aku tak tahu akan kemana. “Kita akan ke mana?” “Kita akan bicara.” “Maaf Mas, aku tak mau. Antarkan aku pulang.” “Maaf Nada, kali ini aku tak akan mengikuti maumu. Suka tidak suka, aku ingin kau mau mendegarkan semuanya. Dan Jika nanti kaupun akan tetap marah dan membenciku aku ihklas, tapi setidaknya aku sudah menceritakan semuanya.” Aku hanya diam dan tak menanggapi ucapannya. Apa sebaiknya aku mendengarkan penjelasannya? Wanita tadi telah membuat aku terkejut dengan semua ini. Dia sudah cukup becerita padaku yang membuat aku terluka. Aku teringat ucapan ibu, lima tahun aku hidup dalam tanda tanya, mungkin ini saatnya aku mengetahui alasannya. Aku akhirnya hanya diam membiarkan dia membawaku. Tak beberapa lama Perlahan mobil berhenti di sebuah taman. Laki-laki itu kemudian mematikan mesin mobilnya, menatapku dan mulai bicara. “Nada aku …” “Langsung aja Mas, gak usah berbasa-basi.” Aku terus memandang ke depan tanpa mau melihatnya, dekat dengannya saat ini sungguh membuat lukaku kembali terbuka ditambah dengan keadaan tadi membuat aku semakin merasa sakit. Terlihat Mas Faiz menarik nafas panjangnya. “Baiklah. Nada, pertama, yang kau katakan kemarin semuanya benar, aku bukan orang miskin yang selama ini kau tahu. Seperti yang kau lihat saat ini, itulah keadaan keluarga dari dulu sampe sekarang. Aku hidup hanya bersama Ayahku, ibuku meninggal saat aku masih SMP. Saat itu aku benar-benar merasa kehilangan. Di Rumah yang besar, aku tinggal sendiri dengan semua pelayan dan fasilitas yang lengkap, namun aku tak merasakan kenyamanan itu. Aku kesepian, sangat kesepian, dan mungkin itulah yang membuat aku menjadi anak yang tak bisa di kontrol. Aku sangat membenci keadaanku saat itu, dan itu berlangsung sampai aku lulus SMA, dan keadaan itu yang membuat aku menjadi anak yang mungkin kau tak akan percaya jika ku ceritakan sikap dan kelakuanku. Aku terus mendengarnya, namun perasaan iba padanya mulai muncul, ya, iba karena sama-sama hanya hidup dengan satu orang tua, jika aku tanpa Ayah, Mas Faiz tanpa seorang ibu, tapi aku buru-buru menghalau rasa ibaku, laki-laki ini telah menyakitiku dan aku tak ingin ceritanya membuat aku memaafkannya. Lagian akupun sangat ingin tahu tentang hubungan wanita itu secara jelas dari mulut Mas Faiz. “Semenjak Ibu meninggal, Ayahku menjadi orang sibuk. Aku tahu Dia juga sama terlukanya sepertiku, namun aku kecewa, dia tak mau tahu lagi dengan diriku, dia terus sibuk dengan bisnisnya, dan tak perduli dengan keaadanku yang kesepian, baginya pelayan dan fasilitas lengkap itu sudah cukup bagiku. Hingga ketika aku lulus SMA dia memaksaku untuk kuliah, namun aku yang kecewa padanya tak punya keinginan sedikitpun untuk membuatnya bangga, dia terus memaksaku dan mengancam tak akan memberikan fasilitas apapun padaku jika tak mengikuti maunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD