Bab 8

1140 Words
Aku yang saat itu begitu emosi, memilih meninggalkan rumah dan kabur tinggal di tempat sahabatku Doni. Hingga suatu hari adik Doni, Dita pulang dalam keadaan menangis. Dia kemudian menceritakan suatu hal yang membuat semua ini bermula.” “Apa Maksudnya? Oh jadi dia adik sahabat Mas? Terus Kenap aku menjadi bahan taruhan Mas? Dasar kalian orang-orang kaya, kalian hanya memikirkan kesenangan kalian saja.” “Tenanglah Nada, akan kuceritakan semuanya lengkap. Apa kau mau minum? Atau makan? Aku akan membelikannya untukmu.” ucapnya yang terlihat bingung. “Gak Mas, lanjutkan saja ceritamu.” “Baiklah. Atau Apa kau ingin kita pindah ke Cafe atau Restaurant? “Sudah kubilang gak. Mau dilanjutkan gak? Kalo gak, aku mau pulang sekarang.” ucapku yang mulai jengkel. “Oke baiklah. Kau sudah tahu kau Dita itu siapa?” “Iya, dia tunangan Mas bukan? Dan dia menyuruh mas mendekatiku, membuatku jatuh cinta dan meninggalkan aku bukan?” “Apa yang kau katakan Nada, bukan seperti itu. Dita itu adik sahabatku Doni, tempat aku tinggal ketika kabur dari rumah. Dan saat itu aku tak bertunangan dengannya.” Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Laki-laki ini berbohong lagi. “Mas, jangan berbohong padaku. Jika Mas bukan tunangannya waktu itu, terus kenapa Mas mau ketika dia menyuruh Mas mendekatiku?” “Makanya, aku akan menceritakan semuanya dengan lengkap.” Aku menatap laki-laki di sampingku. “Waktu itu Dita pulang dalam keadaan menangis, dan ku rasa kau tau ceritanya, karena tadi kau nampak sudah berbicara dengannya dan mengenalinya lagi.” “Iya, dia mencuri di toko kami.” “Dia tak mungkin mencuri, aku mengenalnya.” “Oh ya? Jadi dia bercerita pada kalian kalo dia tak mencurinya, padahal jelas-jelas aku menemukan sendiri beberapa buku di dalam tasnya.” “Apa Kau serius?” tanya Faiz dengan wajah terkejut. “Kau mengenalku dulu, apa aku pernah berbohong padamu?” jawabku ketus karena jujur aku agak emosi melihat laki-laki ini tak percaya padaku. Padahal dari dulu aku tak pernah sekalipun berbohong padanya. “Iya, bearti saat itu aku yang di bohonginya.” “Bagus bukan, pembohong dan pembohong memang pantas bersama.” “Nada …” “Dan setelah Mas mendengar semuanya, Mas niat membalasku dengan membuatku jatuh cinta dan meninggalkanku bukan?” “Nada, waktu itu tak ada niatku untuk membantunya, karena Doni Kakaknya berniat untuk datang menemuimu dan bertanya tentang semua itu. Namun karena saat itu aku juga masih dipenuhi pikiran yang labil karena Ayahku, aku mengajak Doni dan salah satu temanku bertaruh, kalo aku bisa membalas tindakanmu pada adiknya. Dan tujuan awalnya adalah membuat kau jatuh cinta, kemudian aku akan meninggalkanmu. Saat itu akupun mencari tahu dan melamar pekerjaan di situ dan juga salah satu tujuanku kenapa aku mau melakukan hal ini, itu karena saat itu aku juga butuh uang, karena Ayahku benar-benar tak memberikan aku uang lagi sejak aku kabur. Setelah mendapatkan pekerjaan itu, aku pun mulai menjalankan niatku, mencari kontrakan dekat toko dan mulai mendekatimu. Makanya ketika setiap kau bertanya kenapa aku menyukaimu, aku hanya bisa menjawab kalo kau berbeda. Ya, karena aku tak punya jawaban lain.” Aku terkejut Mendengar semua cerita Mas Faiz, air mataku kembali menetes. “Jadi ide rencana itu semuanya dari Mas?” ucapku pelan dengan suara bergetar. Laki-laki itu nampak menatapku dengan perasaan bersalah. “Iya Nada, maafkan aku. Niat aku dan teman-temanku hanya ingin mengerjaimu membuat kau jatuh cinta dan meninggalkanmu begitu saja, namun …” “Namun apa? Namun Mas malah mengajakku menikah dan membohongi aku dan ibuku.” “Nada, aku tahu, aku sangat bersalah. Aku telah melangkah terlalu jauh dengan mengajakmu menikah. Aku tahu aku tak pantas untuk mendapatkan maaf darimu maupun dari ibu, tapi kau tau seiring kebersamaan kita, aku tak tahu kalo ternyata aku telah jatuh cinta padamu. Doni dan Dita sudah memintaku untuk mengakhirinya namun entah kenapa hatiku ingin memilikimu. Akupun melamarmu, dan itu murni keinginan hatiku. Saat aku menceritakan pada Doni dan Dita, mereke sangat terkejut. Dita kemudian menghubungi ayahku dan mengatakan kalo aku akan menikah. Dua hari sebelum pernikahan aku tak berada di kost lagi, aku tinggal di Rumah Doni kembali. Disana Ayah menelponku dan meminta maaf, dan berjanji akan mengikuti semua mauku. Mendengar itu rasa egoisku muncul, aku masih membutuhkan semua yang dimiliki Ayahku, namun aku juga mencintaimu. Dua hari aku terus memikirkannya sampai malam dimana besok kita akan menikah aku masih bimbang. Hingga akhirnya Dita berusaha memberiku pandangan masa depan yang membuat aku berubah pikiran. Dan pagi itu akupun memutuskan meninggalkanmu. Tadinya aku pikir toh cintaku padamu hanya sekedar bermula dari iseng, jadi pasti akan mudah melupakanmu. Tapi ternyata aku salah. Aku jatuh cinta padamu. Aku pulang ke Rumah. Ayah mulai berubah, dia tak banyak mengaturku, bahkan dia malah sering meluangkan waktu untukku, seperti ingin menebus kesalahannya yang dulu. Aku sangat bahagia dengan perubahan sikapnya, namun apa kau tahu, aku malah merasakan kehampaan, ada rasa rindu dan rasa bersalah menyatu di dalam hati. Namun lagi-lagi Dita hadir menguatkan aku agar melupakan semuanya. Aku akhirnya memilih kuliah agar memiliki kesibukan dan melupakan semuanya. Setahun berlalu namun ternyata aku belum bisa melupakanmu. Rasa itu terus membayangiku setiap malam hingga aku memutuskan untuk pulang dari luar negri dan mencarimu, namun aku terkejut karena ternyata Rumah yang kau tempati bukan milikmu lagi. Aku berusaha mencarimu namun tak ada yang tahu keberadaanmu. Akhirnya aku kembali melanjutkan kuliahku. Namun lagi-lagi empat tahun setelah aku mencarimu aku benar-benar tak bisa melupakanmu. Dan kau tahu, semakin aku berusaha melupakanmu ternyata aku semakin mencintaimu.” "Mas mengingatku bukan karena masih mencintaiku, tapi Mas mengingatnya karena Mas memiliki rasa bersalah padaku dan ibuku.” jawabku sembari menghapus air mataku. Tak perlu lagi ada airmata. Hari ini semua telah jelas. Hubungan dulu hanya sebuah kebohongan. “Tadinya aku berpikir seperti itu, bahwa mungkin rasa yang kumiliki saat ini hanya rasa bersalah meninggalkanmu, namun kemarin aku barusan menyadari kalo aku benar-benar mencintaimu bukan hanya sekedar rasa bersalah.” “Apa maksud Mas kemarin?” “Ya, waktu aku bertemu denganmu di Kantor, aku begitu bahagia, hingga semua tubuhku gemetar melihatmu. Aku seperti melihat sebuah berlian yang lama aku cari.” “Mas, jangan berusaha membohongiku lagi.” “Aku tahu kau tak akan percaya padaku dengan mudah, namun itu kenyataan yang aku rasa, bahkan ketika melihat kau dengan Mas Gardy, emosiku keluar. Rasanya aku begitu cemburu melihat ada laki-laki berusaha mendekatimu.” Aku mendengar semuanya dengan perasaan yang aku tak tahu apa yang ku rasa saat ini. Semuanya seperti sebuah cerita buku yang sering k****a. Tapi ini nyata dan aku mengalaminya. “Selesai kuliah aku kembali, namun aku tak berani mencarimu lagi, aku khawatir karena mungkin kau sudah menikah dengan orang lain. Namun saat aku bertemu denganmu aku sangat bersyukur terlebih ketika di Toilet aku melihatmu belum menggunakan cincin pernikahan. Kau belum menikah dan aku masih berkesempatan bertemu denganmu untuk menceritakan semua ini serta meminta maaf.” lanjutnya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD