Bab 9

1379 Words
“Dan sekarang Mas berharap apa dariku?” “Aku tak ingin berharap lebih, aku hanya ingin meminta Maafmu. Maafkan semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tahu tak mudah kau memberikan maaf, tapi setidaknya tolong bukakan sedikit saja pintu maafmu padaku, kau bisa tak menyapaku dan mengacuhkann aku, tapi setidaknya kau sudah memaafkan aku. meskipun sekarang kau tahu, kalo cintaku padamu itu masih utuh namun aku tak berharap kau membalas cintaku lagi. Karena …” “Karena, aku tak mencintaimu lagi Mas. Aku sudah membuang semua cintaku di hari pernikahan kita, di hari di mana kau pergi meninggalkan aku, semuanya telah kau bawah pergi dan tak bersisa.” ucapku pelan sambil menahan air mataku yang akan menetes kembali. “Iya aku tahu, aku tahu kau sudah tak mencintaiku, cintamu dulu padaku hanya bersisa rasa benci yang dalam.” “Mas benar, saat ini aku sudah cukup bahagia dengan hidupku, dan aku tak ingin mengingat semuanya lagi. Mas sekarang sudah punya tunangan, jadi belajarlah mencintainya.” ucapku perlahan, namun entah kenapa aku merasa sakit mengucap semua itu, apa aku benar sudah tak mencintai laki-laki ini? gak, aku gak boleh terbuai lagi dengan perasaan ini. Aku harus kuat dan melupakan semuanya. “Kami baru bertunangan sebulan lalu ketika aku kembali, itupun karena Ayahku yang meminta karena selama ini hanya Dita wanita yang sering bersamaku, apalagi orang tuanya juga adalah patner kerja Ayah.” Kulihat laki-laki itu perlahan berbalik dan menatapku kemudian meraih tanganku. Aku sangat terkejut dan menariknya dengan kasar. “Maaf, aku bukan hendak merayumu, aku hanya ingin tahu apa kau sudah memaafkan aku?” ucapnya dengan wajah memohon. “Aku gak tahu Mas, aku masih sangat terkejut dengan semua ini, bahkan hatiku belum memiliki ruang maaf untukmu. Jadi sekarang bisa antarkan aku pulang. Aku benar-benar lelah.” “Baiklah, aku akan selalu menunggu jawaban maafmu. Terima kasih sudah mendengarkan aku.” jawabnya dengan wajah kecewa. Aku hanya diam dan memandang keluar, rasa benci padanya masih ada di hati, dan aku tak tahu apa bisa semudah itu aku memberikan maaf pada laki-laki ini. Mobil kembali melaju pulang, aku tiba di Rumah dan langsung turun tanpa bicara. “Nada, maaf apa nanti malam kau tetap akan makan malam bersama Mas Gardi?” Seketika aku berbalik dan menatap wajah yang nampak mengiba. “Aku rasa itu bukan urusan Mas, satu lagi, kita bicara tadi bukan bearti Mas bisa kembali masuk ke kehidupanku dan berusaha mengaturku.” Suasana dan tempatnya begitu romantis, hingga aku sedikit tersenyum, karena aku belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya. Aku memandang ke sebuah tempat di mana banyak orang sedang berdansa, namun seketika mataku terhenti pada sosok sepasang kekasih yang sedang berdansa. Ya, pasangan itu Mas Faiz dan wanita itu, mereka sedang berdansa begitu mesra, aku langsung membuang mukaku karena aku tak peduli dengannya dan wanita itu, namun ada aneh yang kurasa, kenapa ada rasa sakit di hati melihat mereka seperti itu? Apa aku cemburu? Gak, ini bukan rasa cemburu, ini cuma rasa khawatir kenapa laki-laki itu bisa berada di sini? Aku memandang kembali ke arah mereka, nampak mereka begitu sangat mesra. DUA JAM SEBELUMNYA Di Rumah Faiz nampak begitu gelisah, meskipun perasaan lega telah dirasanya karena telah menceritakan semuanya pada Nada, namun hatinya tetap gelisah karena Nada sedang membuka hatinya untuk laki-laki lain. Kenapa aku berat melepaskan dia, padahal sangat jelas kalo dia tak mencintaiku lagi karena perbuatannku. Tapi, kalo dia sudah tidak mencintaiku, kenapa sampai sekarang dia belum memulai hidup barunya. Sepertinya aku harus benar-benar mencari tahu, apakah Nada berkata benar kalo dia sudah tak mencintaiku lagi? Ya aku harus memastikannya, gumam Faiz berusaha meyakinkan dirinya. Laki-laki itu kemudian meraih Hpnya dan menghubungi seseorang. “Tolong, cari tahu no telpon Rumah Pak Gardy, dan cari tahu malam ini dia akan kemana.” Setengah jam kemudian, setelah menunggu dengan gelisah, akhirnya sebuah pesan masuk dan membuat Faiz tersenyum bahagia. Nada, aku ingin tahu apa kau masih mencintaiku atau tidak. Faiz kemudian menghubungi seseorang kembali. “Halo, Dita. Maafkan sikapku tadi, malam ini apa kau mau makan malam bersamaku.” “Mas Faiz, Mas serius mengajakku keluar?” “Bersiaplah, aku akan menjemputmu.” Di Restaurant, Faiz dan Dita tiba duluan dari Gardi dan Nada. Faiz kemudian mengecek ke Resepsionist apakah ada pesanan meja atas nama Gardy dan Nada. Setelah mendengar kalo tempatnya benar, Faiz tersenyum senang dan mengajak Dita masuk. Faiz memilih tempat dekat tempat dansa. Sengaja dilakukannya agar Nada bisa melihatnya ketika dia berdansa dengan Dita nanti. “Mas, terima kasih sudah mengajakku makan malam. Tempatnya sangat bagus, aku senang sekali.” ucap Dita ketika mereka duduk di sebuah meja. “Iya, aku cuma mau minta maaf atas sikapku tadi.” “Gak pa-pa Mas, aku tahu perasaan Mas. Pasti Mas masih sangat terkejut karena bertemu dengan wanita itu setelah waktu yang cukup lama.” “Mungkin.” “Tapi Mas, apa aku boleh tau? Apa Mas masih mencintainya?” “Aku tak ingin membahasnya.” “Mas, mungkin ada baiknya Mas memecatnya. Bagaimana Mas bisa melupakannya kalo Mas akan bertemu dengannya lagi setiap hari.” Faiz nampak terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya. Bagaimana mungkin aku memecatnya, sementara aku sangat ingin berada terus di dekatnya, ucap Faiz dalam hati. “Lima tahun Mas berusaha melupakannya, tapi kenapa Mas mau kembali masuk ke masa lalu lagi, dan sepertinya dia juga sudah tak mencintai Mas dan telah melupakan Mas. Buktinya dia sudah memiliki pasangan.” lanjutnya sembari melihat kearah pintu masuk, membuat Faiz seketika berbalik dan menatap dua orang yang masuk sambil tersenyum. Faiz menatap dengan tidak percaya melihat Nada yang begitu cantik dan anggun. Namun hatinya teriris ketika melihat tangan Nada mengalung di lengan Gardy. Nampak senyum terukir di wajahnya. Melihat itu membuat Faiz berpikir kembali, apa iya Nada benar sudah tak mencintaiku lagi? Dia sekarang nampak tersenyum bahagia saat ini. Tidak, aku harus memastikannya lagi agar hatiku tenang. “Mas, Mas, apa Mas sedang terpesona dengannya?” Faiz tersadar dan terkejut dengan panggilan Dita. “Apa Maksudmu?” “Ya, Malam ini aku akui, wanita itu nampak begitu sangat cantik. Mas pasti terpesona padanya. Buktinya Mas tak berkedip menatapnya.” ucap Dita dengan wajah datar. “Sudahlah, gak usah dibahas. Apa kau mau berdansa?” ucap Faiz yang sengaja mengajak Dita untuk memulai aksinya. Dita tersenyum bahagia dan perlahan berjalan mengikuti Faiz. Mereka berdansa dengan perlahan, namun Mata Faiz terus mengamati ke arah Meja Gardy dan Nada. Nampak mereka tersenyum dan tertawa berbahagia. Faiz semakin merasa emosi melihatnya. Dia terus berdansa dan berharap Nada segera melihatnya, namun Nada terus berbicara dengan Gardy dan tak memperdulikan orang-orang di hadapannya. Hingga beberapa saat, Faiz sedikit tersenyum bahagia karena Nada menatap ke arah mereka. Faiz pun pura-pura berdansa dengan bahagia. Maafkan Aku Nada, aku hanya ingin tahu perasaanmu. •••• Aku kembali menatap ke arah pasangan itu dan berusaha meyakinkan hatiku. Apa benar aku cemburu? Apa benar aku masih memiliki perasaan untuknya? Tidak, ini bukan rasa cemburu, ini hanya rasa terkejut saja melihat mereka di sini. Aku tersenyum ketika tiba-tiba Mas Gardy telah duduk kembali di hadapanku. “Mas, maaf, kayaknya aku juga ingin ke toilet sebentar.” ucapku sambil tersenyum, namun sejujurnya aku hanya ingin menenangkan hatiku. Ada apa dengan diriku? Apa karena Mas Faiz mengatakan masih mencintaiku dan aku kembali memikirkannya? Gak, aku tak boleh terjebak dengan perasaanku lagi. Aku kembali dari Toilet dan terkejut karena Mas Faiz dan Wanita itu telah ikut duduk bersama kami. Sungguh dadaku kembali sesak. Bagaimana mungkin aku akan duduk bersama dengan dua orang yang telah menyakitiku. Rasanya aku ingin segera pulang, Namun jelas itu akan membuat Mas Gardy bingung dan bertanya-tanya. Akhirnya perlahan aku duduk kembali dengan perasaan campur aduk. Sedikit ku melirik pada Mas Faiz, dia sedang terus menatapku dengan wajah yang aku tak mengerti, sementara wanita itu malah menatapku dengan tatapan tajam, akupun membalas tatapannya dengan wajah yang menantang, siapa dia yang berani memperlakukanku seperti ini. “Oh Nada, kau pasti terkejut, tadi aku melihat Pak Faiz dan kekasihnya berdansa, terus aku mengajak mereka duduk bersama di sini. Gak pa-pa kan?” ucap Mas Gardy dengan senyum manisnya. “Oh iya Mas, gak pa-pa.” jawabku sembari membalas senyumnya. “Oh iya, apa kau sudah mengenal tunangan Mas Faiz?” tanyanya lagi sembari menatap ke arah Dita. Aku kembali menatap wanita itu dan tersenyum sinis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD