Aku kembali menatap wanita itu dan tersenyum sinis.
“Oh kenal. Bahkan sangat mengenalnya.”
Wanita itu sedikit tersenyum mengejek dan pura-pura senang dengan jawabanku.
“Mas Gardy, pacarnya Nada?” tanya wanita itu tiba-tiba, yang membuat aku terkejut dan kembali menatap tajam padanya.
Mas Gardy sedikit tersenyum sembari melirikku, sementara Mas Faiz hanya diam menatap ke arahku.
“Belum sih, kami baru berkenalan dua hari lalu, aku klien di kantor Mas Faiz, kami sedang merencanakan sebuah Proyek.”
“Oh begitu. Waw beruntung ya wanita yang dekat dengan Mas Gardy, udah kaya, tampan dan baik. Aku harap Mas mendapatkan kekasih yang pantas.” jawab Dita menyindirku yang membuat aku menahan emosi. Apa maksudnya pantas? Bearti aku dianggap wanita yang tak pantas bagi Mas Gardy? Akan aku tunjukan kalo aku pantas mendapatkan siapa saja.
“Ya, kuharap ada wanita yang mau padaku.” jawab Mas Gardy sembari menatapku. Jujur ada rasa sesak dengan keadaan ini. Aku kembali pamit izin ke toilet membuat Mas Gardy menatapku bingung
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Mas Gardy dengan wajah khawatir.
“Aku gak pa-pa Mas.” jawabku sembari perlahan berdiri dan berjalan menuju toilet.
“Hei, kita ketemu lagi.” ucap Dita yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku ketika aku keluar dari toilet. Aku menatapnya dengan tatapan tajam, kali ini aku tak akan diam saja.
“Ya, kita ketemu lagi. Tapi sepertinya tidak ada yang perlu di bahas.” ucapku sembari sedikit mendorong tubuhnya dan mencuci tanganku.
“Iya tadinya seperti itu, tapi sejak kau hadir kembali di hadapan Mas Faiz, kita jadi banyak pembahasan.”
“Oh ya? Pembahasan apa yang kau harapkan? Aku sudah mendengar semuanya dari Mas Faiz.”
“Oh ya? Baguslah kalo gitu. Sekarang kau tau kenapa aku melakukan semua itu.”
“Hei, setelah apa yang kau dan Mas Faiz lakukan padaku, kau masih bisa berbicara seperti itu. Beruntung aku tak memukulmu dan menamparmu atas perbuatanmu padaku.” ucapku dengan wajah marah dan suara yang tinggi.
“Terus kau akan melakukan apa padaku sekarang? Ha? dengar ya. Saat ini Aku adalah tunangan Mas Faiz, Bos Kau di kantor, jadi ….”
“Jadi apa? Kau akan melakukan apa padaku? Menyuruh Mas Faiz memecatku? Silakan aja kalo bisa. Atau kau akan melakukan kejahatan apa lagi padaku?Oh iya, aku lupa, Kau adalah wanita jahat yang bisa melakukan apapun.”
“Hei, beraninya kau bicara seperti itu. Apa kau lupa, kenapa aku sampai melakukan itu padamu?”
kembali aku teringat kejadian dulu, ya mungkin memang dulu aku sangat berlebihan, berteriak dan menunjukan pada orang-orang kalo aku menemukan seorang pencuri. Aku sangat ingat, sebenarnya aku tak ingin melakukan itu, tapi Bosku waktu itu memaksaku untuk melakukannya. Sebenarnya waktu itu aku kasihan dan tak tega mempermalukannya, namun akupun tak mampu menolak permintaan bosku sebagai alasan untuk memberi jera pada orang yang mencuri.
“Kenapa kau mencuri waktu itu? Dilihat penampilanmu sepertinya tak mungkin kau mencuri” tanyaku penasaran.
“Aku bukan ingin mencurinya, aku cuma bercanda dengan teman-temanku kalo aku akan berhasil membawa buku dari toko tanpa mengeluarkan uang.”
“Permainan lagi rupanya? Kenapa kalian orang-orang kaya suka bermain seperti itu? Kalian lihat hasilnya, kau dan aku sama-sama mendapatkan hal yang menyakitkan bukan.”
“Itu tidak akan terjadi, kalo waktu itu kau tidak mempermalukanku.”
“Tapi …” pembicaraan kami seketika terhenti karena Mas Gardy menelponku dan mengakhawatirkan aku. Aku perlahan berjalan keluar meninggalkan wanita itu yang masih berdiam diri di sana. Tak berapa lama setelah aku duduk, nampak wanita itu keluar, dari wajahnya nampak aku tahu dia habis menangis. Menangis? Dulu aku melakukan itu cukup lama. Mas Gardy nampak tersenyum ketika aku sudah berada di hadapannya.
“Oh ya, mau berdansa denganku?” ucap Mas Gardy membuyarkan lamunanku sembari perlahan berdiri seolah berharap aku tak menolakknya. Aku sedikit terkejut dan sedikit melirik pada Mas Faiz yang sedari tadi hanya diam, nampak dia menatapku tanpa senyum dan sedikit menegang. Apakah dia marah? Oh sungguh aku tak perduli. Aku perlahan mengangguk dan berdiri mengikuti Mas Gardy menuju tempat dansa.
Di kejauhuan Mas Faiz terus menatap kami, entah apa yang di pikirkannya, apa dia cemburu? Hmm, biarkan saja, tadi dia juga berdansa mesra dengan wanita itu. Eh sebentar, ada apa ini? Kenapa aku berpikir seperti ini? Apa aku sedang berusaha membalas yang dilakukan Mas Faiz tadi? Gak, gak, aku gak punya rasa lagi padanya.
“Mas, kenapa terus menatap padanya?” ucap Dita membuyarkan pandangan Faiz.
“Ayuk kita pulang, aku lelah.”
“Tapi Mas, ada apa? Kita belum makan, dan gak sopan kan meninggalkan teman Mas begitu saja?”
“Terserah, kau mau pulang denganku atau dengan mereka?” ucapnya sambil berdiri dan berjalan keluar. Dita kemudian hanya bisa ikut berdiri dan berjalan cepat mengejar Faiz yang telah lebih dulu berjalan. Aku menatap bingung pada mereka, dan mengatakan hal itu pada Mas Gardy.
“Gak pa-pa Nada, mungkin mereka gak enak menganggu kita. Lagian mereka juga sudah tunangan, mungkin mereka ingin berdua juga.” jawab Mas Gardy dengan santai.
Berdua? Mereka akan berdua? Kenapa cemburu itu datang lagi? Sejak Mas Faiz mengatakan masih mencintaiku, perasaanku sekarang jadi tak karuan.
•••••
“Mas, ada apa sih, kenapa kita pulang seperti ini?” tanya Dita ketika mobil melaju pulang.
“Bukan urusanmu.”
“Jelas ini urusanku, Mas tunanganku, dan Mas yang mengajakku ke Restaurant itu, hingga bertemu dengan mereka, dan makan malam kita bearkhir seperti ini, kemudian Mas masih bilang ini bukan urusanku?” jawab Dita dengan suara meninggi.
“Maafkan aku, aku hanya lelah dan ingin pulang.”
“Mas bukan lelah, Mas cemburu !!!”
Faiz terkejut mendengar ucapan Dita yang sangat benar. Aku cemburu melihat Nada bermesraan dengannya. Aku hanya ingin tahu perasaan Nada padaku namun kenapa aku yang malah sakit, gumam Faiz dalam hatinya.
“Iya aku cemburu, sangat cemburu.”
“Mas!!! tega Mas mengatakan itu. Berarti Mas masih mencintai wanita itu?”
“Ya, aku masih sangat mencintainya. Aku tak bisa melupakannya.” jawab Faiz sembari menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
“Mas, dengar. Sudah kukatakan, Mas bukan mencintainya, Mas hanya memiliki rasa bersalah saja karena telah menyakitinya. Lima tahun sangat tidak mungkin perasaan cinta itu masih ada.”
“Tapi kenyataannya aku masih merasakannya.”
“Mas, jangan terus berpikir seperti itu.”
“Itu bukan ada di pikiranku, itu berada di sini. Di hatiku.” jawab Faiz sambil memegang dadanya dengan suara bergetar.
“Mas, kita sudah bertunangan, aku mohon belajarlah mencintaiku.”
“Beri aku waktu dengan semua ini.”
“Sampai kapan Mas? Aku telah menunggu ini bertahun-tahun. Aku menyukai Mas cukup lama, aku berusaha mendekati Mas agar aku bisa membantu Mas melupakan semua itu.”
“Aku tak tahu sampai kapan perasaanku akan terus ada.”
“Cobalah Mas, aku sangat berharap kali ini, aku mohon. Aku ingin malam ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kita. Bagaimanapun kita sudah bertunangan dan enam bulan lagi akan menikah.”
Faiz nampak terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya.
“Tapi aku belum menyetujui waktu pernikahan kita, aku baru menyetujui pertunangan kita saja bukan?”
“Iya benar, tapi itu adalah persetujuan antara Ayah Mas dan Ayahku. Apa Ayah Mas belum menceritakannya?”
“Kita yang akan menikah, kenapa mereka yang menentukan.”
“Ya itu karena Mas terus diam dan seolah tak peduli.”
Faiz hanya diam dan tak melanjutkan pembicaraannya. Dia memilih mengantar Dita pulang dan kembali ke Rumah untuk beristirahat. Setelah mengantar Dita pulang, di jalan wajah bahagia Nada dan Gardy terbayang kembali membuat Faiz menahan emosi. Dia segera berbalik arah dan menuju kerumah Nada. Cukup lama dia menunggu di kejahuan hingga yang ditunggupun pulang. Dari jauh dia melihat Nada turun dan melambaikan tangan sambil tersenyum pada laki-laki di mobil tersebut. Ahh sungguh itu menyakitkan bagiku, gumam Faiz. Dia perlahan turun ketika melihat mobil Gardy telah berlalu.
“Nada.”
Aku terkejut mendengar panggilan itu, sangat jelas aku hafal suara itu. Perlahan aku berbalik dan menatap ke arah laki-laki itu yang berdiri dengan wajah tanpa senyum dan berdiri agak jauh dariku, karena aku langsung memintanya untuk tak mendekat.
“apa yang Mas Faiz lakukan di sini?” ucapku dengan wajah terkejut.
“Nada, aku …”
“Mas mau apa lagi?”
“Nada, aku cuma ingin meyakinkan hatiku. Apa kau akan membuka hatimu untuk Mas Gardy?”
“Ohh, jadi itu yang membuat Mas menungguku di sini? Dengar, aku dan Mas tak ada urusan apapun lagi. Ya, yang Mas katakan benar, aku sedang berusaha membuka hatiku untuk orang lain.”
“Apa kau benar-benar tak mencintaiku lagi?” tanya Faiz pelan dengan wajah penuh harap.
Aku sedikit menarik nafas panjangku dan menatapnya dengan penuh keyakinan.
“Ya, aku sedikitpun tak memiliki cinta di hati ini untuk Mas.” ucapku pelan, namun ada yang aneh kurasa lagi, kenapa aku sakit mengucapkan itu.
Kulihat dia menatapku dengan wajah kecewa.
“Baiklah, setidaknya sekarang aku sudah mendengarnya dua kali bahwa kau tak mencintaiku lagi. Namun kau perlu tahu, kalo aku masih sangat mencintaimu.”
Mendengar ucapan itu, seketika aku langsung emosi, bagaimana mungkin dia bisa berkata seperti itu lagi setelah yang dia lakukan barusan di Restaurant dengan wanita itu.
“Dasar Mas pembohong!!! Mas masih bisa mengatakan mencintaiku padahal tadi Mas berdansa dengan wanita itu dengan sangat dekat.”
“Nada, kau …”
“Kalo Mas mencintaiku Mas tak kan bermesraan seperti itu dengannya!! Kalo Mas mencintaiku Mas tak akan bersama dengan wanita itu!!” ucapku dengan suara tinggi. Namun seketika aku tersadar kenapa kata-kata itu bisa aku katakan? Kenapa aku bisa berbicara semarah ini.
Faiz perlahan mendekat dan menatapku.
“Nada, apa kau cemburu????”
Bersambung.