Bab11

1046 Words
“Kalo Mas mencintaiku Mas tak kan bermesraan seperti itu dengannya!! Kalo Mas mencintaiku Mas tak akan bersama dengan wanita itu!!” ucapku dengan suara tinggi. Namun seketika aku tersadar kenapa kata-kata itu bisa aku katakan? Kenapa aku bisa berbicara semarah ini. Faiz perlahan mendekat dan menatapku. “Nada, apa kau cemburu????” Aku terkejut mendengar ucapan laki-laki itu. Seperti aku juga sangat terkejut dengan sikap dan ucapan diriku sendiri. Kenapa aku bisa bicara seperti itu dengan perasaan emosi? Apa benar aku cemburu? Apa benar Mas Faiz masih berada di sudut hatiku hingga saat ini. Dia adalah laki-laki yang pertama kali membuat aku jatuh cinta. Tapi tidak, sekalipun aku masih mencintainya, tapi aku tak mau tersakiti lagi. “Pulanglah Mas, aku lelah.” ucapku mengalihkan pembicaraan sembari berbalik. “Nada …” “Aku mohon, pulanglah Mas. Apa Mas lupa dengan semua yang Mas lakukan padaku?” ucapku sembari berabalik kembali. “Maaf, aku tahu Nada, aku tak pantas mendapatkan maaf apalagi perasaanmu lagi, tapi aku tak bisa memungkiri perasaanku padamu. Rasa ini masih ada untukmu. Aku tak bisa melupakanmu.” “Itu bukan urusanku. Perasaan Mas bukan lagi bagian dari dari perasaanku. Perasaanku telah mati untuk Mas. Jadi kumohon pergilah.” ucapku dengan berbalik dan berjalan meninggalkannya. “Gak, kau bohong. Kau Masih memiliki rasa itu padaku. Aku tahu kau cemburu tadi. Ya kau terlihat sangat marah atas apa yang kulakukan di Restaurant tadi. Kau cemburu melihatku bersama Dita. Kau masih mencintaiku Nada, akuilah Nada.” Aku perlahan berbalik kembali dan menatapnya. “Dengar Mas, aku katakan sekali lagi, dan ini yang ketiga kalinya Mas akan dengar, dan besok hingga seterusnya aku akan terus mengatakan hal yang sama. Aku tidak mencintai Mas sama sekali. Cintaku pada Mas sudah habis lima tahun yang lalu. Mas dengar, aku tidak mencintai Mas lagi sedikitpun.” jawabku dengan tatapan tajam. “Tapi kenapa kau begitu marah ketika melihatku bersama Dita? Aku bisa melihatnya di matamu, kau cemburu.” “Aku bukan cemburu, aku cuma tak suka mas terus mengatakan masih mencintaiku. Jangan sakiti lagi hatiku Mas, jangan usik lagi hatiku yang telah aku tata kembali. Jangan berusaha masuk lagi ke hatiku, aku sudah menutupnya untuk Mas, dan hanya akan kubuka untuk orang lain.” ucapku sambil merunduk, entah kenapa aku tak mampu menatapnya ketika mengucap semua itu. “Nada, lihat aku. Tatap mataku, Apa kau benar dan serius dengan semua yang kau katakan barusan? Katakan itu dengan menatap mataku.” Perlahan aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, kemudian menarik nafas panjangku. “Aku tak mencintai Mas lagi.” Kulihat dia membalas tatapan dengan pandangan pasrah. “Baiklah, jika kau merasakan seperti itu, meskipun aku sangat ragu karena tadi aku melihatmu begitu emosi berbicara tentang aku dan Dita. Namun, kau sudah memberikan keputusanmu. Mulai saat ini, aku akhiri semuanya. Kutinggalkan hatiku di sini dan aku melepaskanmu untuk bahagia.” “Ya, memang itu yang seharusnya Mas lakukan. Pergi jauh dari hidupku.”ucapku sembari berbalik dan meninggalkan laki-laki itu yang terdiam. Aku masuk dan mengunci pintu kemudian masuk ke kamar. Ku duduk di depan cermin dan menatap wajahku, kemudian perlahan akupun menangis. Kenapa dia kembali lagi? Kenapa dia datang lagi setelah aku sudah menata hatiku yang hancur. Kenapa dia masih ingin menyakitiku. ••••• Keesokan paginya Pagi ini aku masuk ke kantor dengan perasaan tak menentu. Dari jauh aku sudah melihat Diva wanita gosip yang sedang berbicara dengan beberapa pegawai wanita, aku yakin pasti ada berita heboh lagi yang di besar-besarkan waniita itu. Aku perlahan melepaskan tasku di atas meja dan mulai menghidupkan komputerku. “Hei Nada. Bagaimana kencan semalam?” tanya Ayu tiba-tiba mengagetkan aku. “Kencan?” tanyaku bingung. “Iya, semalam kau berkencan dengan Pak Gardy kan ya? Wah, wah, wah. Beruntung sekali kau bisa mendapatkannya.” “Oh itu, gak. Itu bukan kencan, itu hanya makan malam biasa saja. Dari mana kau tahu?” “Dari mana lagi kalo bukan dari Diva. Tapi kalo bukan kencan masa harus berdansa mesra.” “Ya Allah, kau masih percaya padanya? Mesra bagaimana? Aku hanya berdansa biasa aja.” “Ha ha ha, gosip Diva selalu benar, cuma bumbunya selalu salah. Tapi apa kau benar tak ada perasaan pada Pak Gardy?” “Entahlah, aku gak mau mengatakan tidak, takut besoknya aku jatuh cinta padanya, tapi aku juga tak mau mengatakan iya, takut aku terhempas seperti dulu.” “Nada, maafkan aku jika mengingatkanmu pada masa lalu, tapi apa kau mau cerita semuanya padaku? Kau hanya bilang kalo kau dulu disakiti oleh laki-laki, tapi kau tak mau cerita padaku dengan lengkap.” “Bukan aku tak mau cerita, tapi aku tak mau mengingatnya lagi. Cukup aku menyimpannya sendiri.” Ayu hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. “Oh iya, berita heboh satunya, ternyata Pak Faiz juga sudah mempunyai kekasih, dan mereka ternyata semalam mereka ada di restaurant yang sama denganmu. Apa kau tak bertemu dengan mereka?” “Pasti Diva lagi yang menceritakannya? Heran, gak di kantor di luarpun dia bisa tahu. Lagian memang Diva gak menceritakan semuanya? Aku bertemu dengan mereka dan sempat ngobrol. Iya, dia bersama tunangannya.” “Kau serius? Bearti berita itu juga benar. Wah bakal banyak yang patah hati ini. Padahal dulu aku berharap kau bisa merebut hatinya.” “Aku?” tanyaku bingung. “Iya, kamu. Soalnya aku merasa Pak Faiz sering melirik dan mencuri-curi pandang ke arahmu, aku sering kok memergokinya. Jadi kurasa dia memiliki hati padamu.” “Itu cuma perasaanmu saja.” Tak lama terdengar bisik-bisik beberapa pegawai, ternyata itu karena Mas Faiz tiba dan membuat beberapa pegawai wanita mulai beraksi menarik perhatiannya. Kulihat dia tersenyum dan membalas sapaan mereka, kemudian tiba-tiba dia menatap ke arahku membuat aku langsung membuang mukaku kembali. Siangnya Mas Gardy datang dan melakukan pertemuan denganku dan Mas Faiz. Tadinya aku mengkhawatirkan pertemuan itu, takut Mas Faiz akan melakukan hal aneh lagi, memaksaku untuk berbicara tentang perasaan kami, namun setelah pembicaraan kami semalam, ternyata aku salah menduga, laki-laki itu memegang ucapannya, kalo dia tak akan mengangguku lagi, bahkan ketika Mas Gardy berbicara dekat denganku dia memilih berdiri dan meninggalkan kami berdua seolah tak ingin menganggu kami. Ada rasa lega di hati, namun juga terselip rasa sakit, entah itu rasa sakit karena apa, tapi ku yakinkan diriku kalo semua akan berlalu. •••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD