Bab12

841 Words
DUA BULAN KEMUDIAN Dua bulan berlalu, ternyata Mas Faiz tetap memegang ucapannya untuk tak menganggu hidupku lagi. Tak pernah lagi dia berusaha mendekatiku, aku hanya sering mendapatinya sedang meliriku, tapi ketika aku menatapnya, dia langsung membuang mukanya dan pura-pura seolah tak melihatku. Sejujurnya ada rasa rindu melihatnya, namun aku tak mau hatiku tersakiti lagi dengan cintanya tapi tak bisa dipungkiri juga, hatiku masih ingin melihatnya, meskipun secara diam-diam. Akupun meminta dipindahkan ke bagian lain dimana aku tak harus selalu bertemu dengan Mas Faiz kecuali saat rapat proyek dengan Mas Gardy. Itu agar perasaan aku tak terusik lagi. Sementara Dita tunangannya tak pernah terlihat bersamanya setelah pertemuan malam itu, entah kemana dia. Dan Mas Gardy semakin dekat denganku. Bahkan aku telah memperkenalkan dia pada ibuku. Dia juga telah menyatakan cintanya padaku, namun aku masih belum memberikan jawabannya karena aku masih bingung dengan perasaanku. “Nada, apa kau pernah terluka hingga kau sepertinya sulit menerimaku?” tanyanya dengan pelan seolah takut aku akan marah dengan pertanyaannya. “Mas Gardy, maaf aku tak ingin membahas masa lalu, biarkan kita jalani seperti ini. Aku belum mengenal Mas dengan baik. Jadi berikan aku sedikit waktu untuk mengenal Mas.” “Aku sudah cukup mengenalmu Nada, bahkan orang tuaku sudah mengetahui tentang dirimu. Bukalah sedikit tentang masa lalumu agar aku bisa berusaha menjadi terbaik bagimu.” Aku menatap laki-laki di hadapanku dengan wajah bingung. Ya, Mas Gardy memang sangat baik, dua bulan bersamanya aku tak pernah merasakan kesedihan, dia selalu tahu membuatku tersenyum. Kita mungkin belum ada ikatan, namun yang dikatakannya benar, aku mungkin bisa sedikit jujur padanya. “Aku …” “Tak apa Nada, jika kau belum siap menceritakan. Aku akan menunggu sampai kau siap.” “Gak Mas, aku akan sedikit menceritakan tentang masa laluku, kenapa aku belum bisa menerima laki-laki hadir kembali di hatiku. Itu karena aku …., aku dulu pernah ditinggal menikah Mas.” ucapku pelan, karena memang sangat berat menceritakan luka masa lalu. Kulihat wajah Mas Gardy begitu terkejut. “Kau serius Nada. Maaf, Apa dia pergi meninggalkanmu karena wanita lain?” Air mataku tak terasa mulai menetes. Mas Gardy nampak merasa bersalah, namun aku sudah terlanjur becerita. “Dia, meninggalkanku di hari pernikahan kami. Dia pergi dan menghilang.” Nampak Mas Gardy semakin terkejut dengan ucapanku, dia tak percaya ada laki-laki seperti itu yang tega mempermainkan wanita hingga ke pelaminan. Melihat aku menangis Mas Gardy mengambil sapu tangannya dan perlahan mengahapus air mataku. “Maaf, kalo aku telah membuatmu menangis. Sudah, tak perlu dilanjutkan karena hanya akan membuka luka dan menyakiti hatimu.” “Maafkan aku Mas, aku belum bisa menceritakan semuanya.” “Iya Nada, aku mengerti. Aku akan menunggu waktu itu dimana hatimu telah siap untuk menceritakannya.” ucapnya sambil tersenyum. “Oh iya, proyek ini kan berhasil, aku berniat merayakannya dengan mengajakmu menginap di Vilaku.” ucapnya untuk mengalihkan pembicaraan. Aku menatapnya dengan bingung. “Maksud Mas apa?” ucapku dengan nada khawatir. “Oh gak, maksudnya aku mengajak tim yang membantu hingga proyek ini berhasil. Kau pasti berpikir aku akan melakukan hal aneh. Gak Nada, aku akan menunggumu dengan sabar.” “Iya Mas, maaf. Soalnya Mas mengatakan akan mengajak aku …” “Aku mengajak Mas Faiz juga dan tunangannya. Kalian tenang aja, kamar kalian terpisah dari kami. Aku akan menjagamu.” Mataku membesar seketika? Setelah aku berusaha menjauh, kini Aku akan bersama di satu acara dengan laki-laki itu lagi. Kenapa semakin aku berusaha menghindar, ada saja sesuatu hal yang membuat aku harus bersamanya. “Mas, berapa lama acaranya?” “Dua hari aja. Aku udah izin kok sama Mas Faiz dan dia gak masalah.” Aku hanya sedikit tersenyum. Mas Gardy kemudian menawarkan untuk mengantarkan aku pulang. Di rumah, Mas Gardy tak langsung pulang karena ibu memintanya untuk bicara, sementara aku ke kamar dan membersihkan diri. “Nak Gardy, apa kau benar-benar menyukai Nada?” tanya ibu pelan ketika melihatku telah pergi. Gardy nampak tersenyum senang mendengar pertanyaan ibu. “Iya, Ibu. Aku bahkan sudah melamarnya, cuma Nada belum menerima lamaranku.” “Oh ya? Apa dia menceritakan alasannya?” “Dia hanya bilang minta sedikit waktu untuk mengenalku, mungkin karena trauma masa lalunya.” “Apa Nada menceritakan tentang masa lalunya?” tanya Ibu yang terkejut mendengar Gardy mengatakan seperti itu. “Iya Bu, tadi dia sedikit menceritakan tentang masa lalunya, tentang pernikahan itu.” “Apa dia menceritakan siapa laki-laki yang meninggalkannya?” tanya ibu khawatir, mengingat Nada pernah bercerita kalo Gardy patner kerja Faiz di kantor. “Gak Bu, aku gak mau memaksanya bercerita. Biarkan semua mengalir seperti ini. Akan aku tunggu waktunya dimana Nada akan menceritakan semuanya atas keinginannya sendiri.” “Nak Gardy, kau sepertinya anak baik, ibu percaya padamu Nak. Ibu titip Nada ya. Maafkan jika dia masih bersikap acuh terhadap perasaan Nak Gardy. Ibu hanya minta satu hal, jika nanti dia menerima Nak Gardy, tolong jangan sakiti dia, jaga dan perlakukan dia dengan baik.” Gardy tersenyum bahagia mendengar dia mendapatkan restu dari ibunya Nada. Setelah berbincang cukup lama, Gardypun pamit pulang. •••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD